Asia, Other Stories, Traveling

Makkah dan Madinah: Dua Persinggahan

img_20181015_055924_hdr-01.jpeg
Ka’bah di Masjidil Haram

Suatu siang, di antara lautan manusia di Masjidil Haram, air mata ini tertahan. Kemudian tak lama, tangis pecah. Tangis dalam sunyi. Tangis di antara entah berapa puluh ribu manusia yang terpekur menunduk ke tempat sujud di sekeliling Ka’bah.

Sunyi di antara takbir, i’tidal, dan sujud. Tangis di antara lantunan ayat-ayat Alquran dan bacaan-bacaan shalat yang dilafalkan lirih. Rasa sedih yang seringkali datang membuncah ketika mengingat bahwa semua ini takkan lama. Bahwa Makkah dan Madinah ini hanyalah persinggahan untuk kemudian kami melanjutkan hari-hari sebagaimana biasa.

Continue reading “Makkah dan Madinah: Dua Persinggahan”

Advertisement
Other Stories

Narasi Hidup

Setiap kita punya cerita masing-masing, termasuk tentang masa kecil dan bagaimana kita tumbuh dan dibesarkan. Saat awal menikah, salah satu tantangan terbesar bagi saya adalah bagaimana dua manusia yang punya latar belakang berbeda harus tinggal dan hidup bersama. Dari mulai perbedaan dalam hal ‘remeh temeh’, sampai bangaimana cara masing-masing dalam resolusi konflik. Dan ternyata.. banyak sekali pengaruh dari pengasuhan keluarga.

Continue reading “Narasi Hidup”

Books, Review

[BacaBuku] Potret Keluarga

Tidak banyak buku yang saya baca tahun lalu, apalagi yang berhasil diselesaikan hehe..

Sejak hamil, lalu melahirkan dan berkutat mengurus anak (sekarang usianya 2,5 tahun), rasanya buku adalah ‘hiburan’ di urutan ke sekian. Setelah lelah dengan berbagai aktivitas, saya lebih banyak lari ke media sosial dan Netflix. Dari sedikit buku yang saya baca tahun lalu, salah satunya adalah buku karya Reda Gaudiamo yang berjudul Potret Keluarga. Bukunya tidak terlalu tebal, dan karena ini adalah kumpulan cerpen, jadi bacanya lebih santai.. selesai satu cerita, saya biasanya rehat dulu untuk melanjutkan baca di lain waktu.

Continue reading “[BacaBuku] Potret Keluarga”

Other Stories

Cerita Tengah Tahun

289182303_176378724761624_7046811009430601010_n

Makin ke sini, selain belum banyak menyempatkan diri untuk membuat tulisan di sini, ternyata saya suka overthinking soal menulis di blog. Seringkali sudah mencatat di aplikasi Keep tentang topik yang mau ditulis, tetapi merasa perlu duduk di depan laptop, meluangkan waktu khusus, untuk kemudian serius menulis. Padahal seringkali juga, waktu saya untuk itu tidak banyak. Hehe.

Continue reading “Cerita Tengah Tahun”

Other Stories

Pulang ke Bekasi

PXL_20211019_235126633

Salah satu highlight tahun 2021 adalah mudik ke Bekasi. Ini adalah kali pertama sejak pandemi, sekaligus kali pertama sejak K lahir. Qadarullah eyang K sakit. Siang kami mendapat kabar kondisi beliau, sorenya tes antigen ke lab, malam packing, dini hari berangkat pukul 01.30. Kala itu rasanya campur-campur: senang mau pulang setelah sekian lama, namun sedih juga mengingat kami pulang karena orang tua sakit.

Karena kali pertama perjalanan jauh dengan K, deg-degan juga, bisa nggak ya dia anteng duduk di car seat? Ribet nggak ya di jalan? Maklum, untuk kedua orang tuanya, ini pun kali pertama melakukan perjalanan darat yang terbilang jauh dengan anak. Saat itu usia K baru menginjak 17 bulan.

Continue reading “Pulang ke Bekasi”

Movies, Review

Kotaro Lives Alone: Tontonan Ringan yang Sarat Makna

kotaro 2

Sebuah apartemen sederhana tiba-tiba kedatangan warga baru: Kotaro Sato (Eito Kawahara), seorang anak berusia lima tahun yang tinggal sendirian. Shin Karino (Yu Yokoyama), seorang seniman manga yang menjadi tetangga sebelahnya, merasa heran akan kehadiran Kotaro. Terlebih lagi, sebetulnya pemilik apartemen tersebut melarang adanya anak kecil.

Lagi pula, mengapa Kotaro tinggal sendirian? Di manakah orang tuanya? Misteri itu pelan-pelan terkuak pada tiap episodenya.

Continue reading “Kotaro Lives Alone: Tontonan Ringan yang Sarat Makna”

Other Stories

Bahagia, Takut, dan Syukur

photo6109174831044996348
Berdua jadi bertiga (Kiri: April 2020, Kanan: Des 2020)

Beberapa tahun silam, saya pernah melihat sebuah unggahan yang muncul di explore Instagram. Ada seorang influencer, ibu dengan satu anak, yang curhat karena sempat merasa terkejut, sedih, dan belum siap dengan kehamilan anak kedua. Waktu itu anak pertamanya belum genap berusia dua tahun.

Katanya, ia masih ingin mencurahkan rasa sayangnya untuk si anak pertama.
Katanya, ia punya berbagai rencana yang ingin ia wujudkan dengan anak pertamanya.
Dan sebagainya..

Sebagian komentar menyemangati dan memvalidasi perasaan si Ibu. Lainnya? Bisa ditebak ya, jempol warganet kadang kejamnya sungguh luar biasa. Tapi, intinya, banyak juga yang bilang ibu itu tidak bersyukur. Padahal di luar sana, masih banyak ibu yang mendambakan hadirnya keturunan.

Continue reading “Bahagia, Takut, dan Syukur”

Books, Review

[Buku] Lebih Senyap dari Bisikan

lebih senyap dari bisikan

Ada hal yang tidak diberitahukan orang kepadamu tentang menjadi orang tua: kau akan merasakan kegembiraan luar biasa, rasa cinta yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun juga, tapi pada saat yang sama, dirimu menjadi rentan.

Seluruh eksistensimu bukan lagi milikmu sendiri. Ukuran kebahagiaanmu tiba-tiba berubah. Kau akan bahagia saat anakmu gembira, merana saat dia terluka, dan apa pun yang dia rasakan, kau akan merasakannya dua belas kali lipat. Kau mencoba melakukan segalanya dengan benar tapi kau bakal sering gagal.”

(Lebih Senyap dari Bisikan, halaman 58)

Ketidaksengajaan membawa saya pada sebuah cuitan @andinadwifatma di Twitter yang membahas tentang novel barunya. Setelah saya klik dan membaca utas tersebut, saya tak ragu untuk memesan bukunya melalui salah satu platform belanja daring.

Begitulah awal mula perjumpaan saya dengan novel ‘Lebih Senyap dari Bisikan’ yang baru terbit dan dicetak kali pertama bulan Juni lalu. Tanpa saya sadari, ternyata novel yang saya beli adalah edisi bertanda tangan penulisnya. Rupanya saya masuk barisan sejumlah pembaca pertama novel ini. Hehe..

Continue reading “[Buku] Lebih Senyap dari Bisikan”

Other Stories

Akhirnya punya asisten rumah tangga

Sebelum punya anak, memiliki asisten rumah tangga (ART) yang menginap di rumah tidak pernah masuk daftar kebutuhan kami. Kami pernah punya ART yang pulang-pergi, bekerja seminggu 2-3 kali. Mungkin hanya sekitar setahun, sisanya ya kami mengerjakan segala pekerjaan rumah berdua (catatan: baju yang perlu disetrika kami kirimkan ke jasa laundry terdekat haha..).

Pilihan memiliki asisten yang menginap mulai muncul ketika:
1) putri pertama kami lahir,
2) situasi sedang pandemi (tidak berani mempekerjakan asisten yang pulang pergi karena sulit mengontrol kegiatan di luar dan protokol kesehatannya).

Kami maju-mundur untuk memutuskan hal tersebut. Sampai dengan usia K tujuh bulan, dengan segala jungkir baliknya, kami masih sanggup mengelola kehidupan sehari-hari kami, yaitu bekerja dari rumah (WfH), mengurus bayi, dan melakukan pekerjaan domestik.

Continue reading “Akhirnya punya asisten rumah tangga”