Other Stories

Bahagia, Takut, dan Syukur

photo6109174831044996348
Berdua jadi bertiga (Kiri: April 2020, Kanan: Des 2020)

Beberapa tahun silam, saya pernah melihat sebuah unggahan yang muncul di explore Instagram. Ada seorang influencer, ibu dengan satu anak, yang curhat karena sempat merasa terkejut, sedih, dan belum siap dengan kehamilan anak kedua. Waktu itu anak pertamanya belum genap berusia dua tahun.

Katanya, ia masih ingin mencurahkan rasa sayangnya untuk si anak pertama.
Katanya, ia punya berbagai rencana yang ingin ia wujudkan dengan anak pertamanya.
Dan sebagainya..

Sebagian komentar menyemangati dan memvalidasi perasaan si Ibu. Lainnya? Bisa ditebak ya, jempol warganet kadang kejamnya sungguh luar biasa. Tapi, intinya, banyak juga yang bilang ibu itu tidak bersyukur. Padahal di luar sana, masih banyak ibu yang mendambakan hadirnya keturunan.

Saat itu, saya belum punya anak. Saya dan suami masih menanti setelah beberapa tahun menikah.

Mungkin sekelebat ada pikiran itu, “Dikasih rezeki hamil kok malah sedih?” Ah, tapi, apakah saya berhak menghakimi? Saya hanya tidak ada di posisinya sehingga tidak sepenuhnya paham.

Dan toh si Ibu juga kemudian berefleksi bahwa ia butuh waktu, dan ia menyadari cintanya kepada si janin sama seperti ia mencintai anak pertamanya.

***

Beberapa tahun berlalu. Banyak hal yang mengajarkan saya bahwa yang kita inginkan, belum tentu sama dengan yang orang lain dambakan. Yang membuat kita bahagia, belum tentu menjadi syarat kebahagiaan orang lain.

Ketika kita begitu mendambakan anak, kita tak bisa serta merta mencerca mereka yang tidak ingin memiliki anak atau belum berencana memiliki anak lagi.

Sama halnya dengan orang yang mungkin dulu iba pada saya, “Sudah bertahun-tahun menikah tapi belum punya anak ya..” Padahal saya dan suami berusaha tidak menyandarkan kebahagiaan pada apa yang tidak atau belum kami miliki. Apalagi sampai merasa iri pada rezeki orang lain.

Menengok ke belakang, setelah kini memiliki buah hati, rasanya saya makin bisa memahami perasaan si ibu di cerita sebelumnya. Mengandung, melahirkan, membesarkan, dan mencintai buah hati, kadang dianggap sesuatu yang alamiah dan terjadi begitu saja. Namun nyatanya, perlu banyak usaha dan perjuangan dalam prosesnya.

Empat puluh minggu bersama Kamila dalam kandungan, ditambah lima belas bulan menemaninya di dunia, hidup saya tak lepas dari takut dan khawatir.

Ketika saya habis merasa jengkel pada Kamila, saya pernah bilang kepada suami, “Aku takut kalau punya anak lagi.. Takut aku nggak bisa mencintai dengan baik, takut aku nggak bisa kontrol emosi dan malah menyakiti anak-anakku.. Aku takut Kamila harus menanggung banyak hal dan berkorban untuk adiknya padahal ia juga masih kecil.”

Belakangan, dalam sebuah kajian, saya tercerahkan: bahwasanya rasa takut adalah fitrah ibu. Kita takut dan khawatir karena kasih sayang kita. Dalam porsi yang wajar, rasa itu membentuk kita menjadi pribadi yang lebih kuat dan terus mengusahakan agar bisa melakukan yang terbaik untuk anak.

Jadi, bukannya ibu tidak bersyukur. Dalam banyak hal, kami ‘hanya’ butuh waktu untuk mengenali dan memahami perasaan kami, lalu melangkah lagi untuk menjadi lebih baik. Tentu diiringi rasa syukur atas kebaikan Allah yang begitu melimpah.

signature

2 thoughts on “Bahagia, Takut, dan Syukur”

    1. Perihal rencana memiliki anak memang perlu didiskusikan juga ya dengan suami. Semoga dapat rezeki di waktu yang terbaik. 🙂

      Ps. Baru ngeh ttg perubahan statusnya. Selamat ya!

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s