Udah ‘isi’?

Foto: http://www.telegraph.co.uk/
Foto: http://www.telegraph.co.uk/

“Kapan hamil?” Tanya seseorang sambil tiba-tiba memegang perut saya. Kejadian itu berlangsung di sebuah acara pernikahan seorang kerabat.

“Kalau tahu sih pasti saya kasih tahu. Sayangnya saya nggak tahu.. karena itu kan kehendak dan rahasia Allah,” jawab saya sambil tersenyum.

Si Mbak yang bertanya pun langsung terdiam.

Beberapa detik setelah mengucapkan kalimat itu saya langsung heran pada diri saya sendiri. Dari mana saya mendapat keberanian untuk bicara seperti itu? Saya biasanya hanya tersenyum dan berkata, “Doakan saja ya.”

***

Saya sadar, kalimat tadi bagi sebagian orang terdengar tidak terlalu ramah walaupun kalau ditelaah kata per kata, tidak ada kesalahan faktual di sana. Pertama, bahwa hidup, mati, dan rezeki itu Allah yang mengatur, termasuk rezeki untuk mempunyai anak. Kedua, saya hanya manusia yang bisa berikhtiar namun tidak bisa mencampuri kehendak Allah.

Is that clear?

Okay.

Sebelumnya saya pernah menulis tentang pertanyaan “Kapan nikah?” dan tulisan itu menciptakan diskusi yang seru baik di blog maupun di Facebook. Banyak yang merasa senasib, khususnya mereka yang usianya 20 – 30 tahunan. Mungkin karena golongan usia inilah yang sedang mendapatkan banyak ‘serangan’ pertanyaan ini bertubi-tubi dan dari segala arah. Hehe.. Bukan bermaksud berlebihan, tetapi persoalan ini memang  sudah cukup dramatis dan meresahkan (kami yang ditanya).

Lingkaran Istimewa

Setiap orang biasanya memiliki lingkaran orang-orang yang mereka anggap dekat. Kalau hubungan sosial dan interaksi diumpamakan sebagai lapisan-lapisan lingkaran di mana kita ada di tengahnya, maka lapisan pertama biasanya terdiri dari keluarga inti (dan keluarga lain yang dianggap dekat) dan sahabat terdekat. Kepada orang-orang yang ada di kelompok ini, kita tidak ragu untuk bercerita dan berbagi keluh kesah.

Sahabat saya, Yani, tidak sungkan bertanya kepada saya via WhatsApp.

“Cha, apa kabar? Udah hamil?

Hahaha.. pertanyaan gw annoying banget ya.”

Dan saya tidak merasa terganggu. Saya santai saja ditanya seperti itu. Saya senang karena merasa diperhatikan. Saya tahu Yani sayang sama saya dan itu adalah suatu bentuk perhatian. *ciyeeeh ge-er*

Dan setelah pertanyaan itu percakapan kami pun mengalir.

Pada hari yang lain, Hari, sahabat saya juga, mengirim pesan lewat WhatsApp.

“Cha, udah hamil ya?”

Ternyata dia menebak-nebak setelah melihat salah satu foto saya di Instagram yang katanya sih terlihat lebih chubby. Ya Allah.. memang sih berat badan saya naik seiring dengan naiknya kurs dollar terhadap rupiah :p. Tapi saya belum hamil dan semoga hamil pada saat yang menurut Allah tepat. Insya Allah. Setelah tahu sebenarnya saya belum hamil, Hari buru-buru minta maaf. Padahal sih saya juga tidak merasa marah atau kesal sama sekali. Hehe.. Malah merasa lucu. *kemudian ngaca dan berpikir besok harus mulai rutin lari lagi* *dan besoknya saya tidak lari*

Kembali ke lapisan-lapisan tadi ya. Setelah lapisan pertama, lapisan selanjutnya bisa jadi adalah teman biasa (tidak terlalu dekat), saudara (selain keluarga inti), tetangga, teman orang tua, dan orang-orang lainnya di luar kelompok pertama. Bisa jadi, ada rasa kurang nyaman ketika ditanyai hal-hal pribadi oleh orang yang tidak masuk ke dalam lingkaran terdekat kita.

Bukankah itu hal yang wajar?

Berpikir Positif

Sering sekali dinasihati orang tua dan bahkan saya menasihati diri saya sendiri. “Udah… berpikir positif aja. Itu tandanya mereka perhatian”. Jika ada yang bertanya, “Udah hamil belum?” Saya juga selalu berusaha merespon dengan cara yang baik, yaitu dengan tersenyum sambil bilang, “Belum.. Doakan saja ya..” Apalagi kalau sedang berbicara dengan orang yang lebih tua. Tentu sopan santun harus tetap dikedepankan.

Kemudian kalau ditanya, “Udah isi?” ya jawaban defaultnya adalah menjawab sambil cengengesan, “Udah.. isi comro, isi bandros, isi misro, isi surabi..” *lah jadi bikin daftar makanan sunda yang saya kangenin*

Intinya saya (dan saya yakin semua yang pernah mendapatkan pertanyaan itu) sudah berusaha berpikir positif, bersabar, dan merespon sebaik mungkin. Yang perlu diketahui adalah bahwa pertanyaan itu bukan muncul dari satu atau dua orang saja dan bukan ditanyakan satu atau dua kali saja.

Setelah dilempar pertanyaan itu berkali-kali, apakah boleh kalau kami juga meminta pengertian dari pemirsa semuanya? Dari mbak-mas, bapak-ibu.. om-tante.. dan semua yang ada di sini. Pengertian untuk tidak perlu menanyakan hal-hal yang kami sendiri pun belum mengetahui jawabannya. Atau kalaupun memiliki situasi tertentu (misalnya ada pasangan yang sengaja menunda hamil karena alasan tertentu), merasa tidak perlu dan tidak ingin berbagi dengan kelompok orang yang bukan orang terdekat.

Empati

em·pa·ti /émpati/ n Psi keadaan mental yg membuat seseorang merasa atau mengidentifikasi dirinya dl keadaan perasaan atau pikiran yg sama dng orang atau kelompok lain;

ber·em·pa·ti v melakukan (mempunyai) empati: apabila seseorang mampu memahami perasaan dan pikiran orang lain, berarti ia sudah mampu ~

(Sumber: http://badanbahasa.kemdikbud.go.id/kbbi/index.php)

Ada baiknya setiap kita merenungkan makna kata yang satu ini: empati. Indah sekali ya maknanya. Try to put ourselves in others’ shoes. Tahukah bahwa di balik jawaban “Belum.. Doakan saja ya..” dan atau “Udah.. isi comro, isi bandros, isi misro, isi surabi..” serta di balik senyum manis dan wajah cengengesan itu mungkin sudah banyak sekali sujud dan doa yang dipanjatkan dan sudah banyak ikhtiar yang dilakukan pasangan tersebut? Bahkan ada yang sampai ke dokter kandungan berkali-kali dan menghabiskan biaya yang tidak sedikit dalam rangka berikhtiar untuk mendapatkan keturunan. Apakah hal tersebut perlu diumumkan ke semua orang?

Sebagian orang diberikan Allah rezeki sekaligus amanah berupa keturunan tak lama setelah mereka menikah. Sebagian lainnya diberikan ujian kesabaran dan ujian syukur atas banyak rezeki lain yang Allah berikan. Mengapa? Karena Allah sayang kepada setiap hamba-Nya dan Allah Mahatahu waktu terbaik untuk memberikan rezeki dan ujian.

Jangan Lupa Bahagia dan Bersyukur

Kalau kita sampai lupa bahagia, itu gawat. Kalau kita sampai lupa bersyukur, itu lebih parah lagi. Ya, rasa syukur sudah selayaknya ada dalam diri kita sejak pertama kita membuka mata pada pagi hari.

Menjelang dua tahun usia pernikahan saya, kalau ditanya apakah saya bahagia, maka jawabannya adalah alhamdulillah bahagia. Alhamdulillah saya didampingi suami yang baik yang kalau ditulis satu per satu kebaikannya maka tulisan ini akan menjadi sangat panjang. Alhamdulillah saya masih hidup berkecukupan, ada tempat berteduh, bisa makan, dan punya pakaian yang layak. Alhamdulillah untuk semua karunia yang saya dapat dari Allah yang Mahapengasih dan Mahapenyayang.

“Menjelang dua tahun usia pernikahan tetapi belum dikaruniai anak?”

Mengapa kita harus fokus pada apa yang tidak atau belum kita miliki? Banyak sekali nikmat yang kita rasakan sampai dengan hari ini yang tidak terhitung jumlahnya. Mungkin ada satu nikmat yang belum kita rasakan, namun jangan sampai kita melupakan banyak nikmat lainnya.

Saya menulis semua ini bukan untuk menggurui. Apalah saya ini.. hanya remah-remah gula aren (tetep pengen yang enak :D). Ilmu saya masih cetek, masih banyak sekali ilmu dari universitas kehidupan ini yang tak boleh bosan untuk dipelajari. Saya menulis ini setidaknya supaya saya terus ingat bahwa saya juga harus bisa berempati kepada orang lain dalam situasi apapun.

Satu lagi, jangan sampai pertanyaan kita menyakiti atau membuat orang lain tidak nyaman dan bahkan bersedih. Mungkin maksudnya sekadar basa-basi karena tidak ada topik lain atau memang ingin memperlihatkan rasa perhatian. Sudah saatnya kita mempertimbangkan jenis pertanyaan basa-basi dan cara memperlihatkan perhatian. Jangan sampai kita mengusik apa yang belum orang lain miliki dan malah membuat orang itu tidak mensyukuri apa yang sudah dimilikinya.

Banyak orang yang berikhtiar dalam diam. Oleh karenanya, alangkah baiknya jika kita mengetahui ada orang-orang yang belum mendapatkan rezeki tertentu, kita turut mendoakan dalam diam. Bukankah itu indah? 🙂

 1865143963390123180513

Advertisements

81 Comments Add yours

  1. omnduut says:

    Sebagian memang bilang pertanyaan itu bentuk perhatian (semacam pendapat pemakluman atau penghiburan) namun bagiku pertanyaan2 semacam itu sangat mengganggu. :p

    “Yan kapan kawin?”
    “Duh aku lupa latihan kesurupan nih”

    …………hening :p

    Kalau di Indonesia mah orang yang nanya gitu gak betul-betul care, lebih ke kepo, kurang kreatif nyari bahan obrolan atau apalah nggak jelas :p

    Liked by 2 people

    1. maisya says:

      Hahaha.. aku ngakak dong bacanya.

      “Duh aku lupa latihan kesurupan nih” << ini epic banget. 😀

      Kayaknya kita perlu berkolaborasi nih untuk bikin postingan tentang topik2 seru untuk membuka percakapan. Serius.. dari kemarin aku kepikiran.

      Like

      1. omnduut says:

        Bikin deh Cha hahaha, biar tak aku share dan mention orang-orang yang kurang kreatif itu #eerr hehehe

        Like

    2. sasa says:

      ya nih si omnduut kece banget jawabnya. Ngakak….
      Instagramnya apa nih om psti seru.hhahahah

      Like

      1. omnduut says:

        Hwhwhw.

        Sayangnya aku gak punya instagram mbak Sasa 🙂

        Pasca hening, respon omku pas aku bilang kesurupan, “lha kok kamu gitu? gak boleh ngomong gitulaaah”

        Aku hanya melengos pergi :p

        Like

  2. denaldd says:

    Aku pernah menulis diblog tentang hal serupa dengan tulisanmu ini Icha. Pada saat itu aku sedang LDM an. Dan yang sering nanya “sudah hamil belum?” Itupun orang2 yang paham betul aku dan suami LDM sampai 5 bulan. Kan sinting. Dikira aku hemaprodit apa yang bisa hamil sendiri. Mulutnya itu lho nanya tapi otaknya ga ikutan mikir. Apalagi sampai ada justifikasi segala macam. Dan yang paling kesal itu mereka sampai menasehati ibuku. Bayangkan bagaimana perasaan ibu dibilang “kasihan ya Bu deny jauh dari suami, makanya belum hamil. Jadinya ibu juga lama punya cucu dari deny. Semoga hamilnya nanti ga lama ya. Mumpung ibu masih sehat jadi bisa gendong cucunya nanti” untungnya sekarang jauh dari Indonesia, jadi ga terlalu diricuhkan urusan pertanyaan begini. Tapiii orang2 Indonesia disinipun mulutnya ga kalah usil. Kirain tinggal di Belanda cara berpikir sudah berubah. Ternyata sama saja masih suka ngurusin orang.
    Tetap semangat, berusaha dan berdoa buat kita berdua ya Cha. Bersyukur dan istiqomah 🙂 Insya Allah semua akan datang pada saat yang Allah lebih tau kapan terbaiknya.

    Liked by 1 person

    1. maisya says:

      Mbak Deny, makasih sharingnya ya. 🙂
      Baca cerita Mbak Deny ini ada senyumnya, ada ngangguk2nya, dan ada ketawanya. Pas bagian ini, “Dikira aku hemaprodit apa yang bisa hamil sendiri.” LOL.
      Makasih ya, Mbak. Kita saling mendoakan. Kiss and hug from Jogja to Den Haag. xoxo.

      Liked by 1 person

  3. ayanapunya says:

    Aku juga kalau di kantor papasan sama sesama rekan kantor ditanyainnya biasanya “udah hamil belum?” Padahal sebenarnya nggak terlalu akrab sama dia. Mungkin sebagai basa basi aja kali ya. Heu

    Like

    1. maisya says:

      Iya.. kayaknya kekurangan bahan. -_-”
      Semangat dan keep positive ya Mbak! 🙂

      Like

  4. Dita says:

    Hahaha kenyang bgt cha sama pertanyaan kyk gini, apalagi udah 3 tahun. Tapi yaudahlah org Indonesia sih susah diubah habitnya…dicuekin aja.

    Like

    1. maisya says:

      Iyaa.. semacam pertanyaan wajib buat basa-basi atau sekadar kepo. Tapi aku tetep berusaha nulis ini dengan harapan semoga rantai pertanyaan seperti ini bisa putus di gererasi kita. Entahlah mungkin atau tidak. Hehehe..

      Like

  5. Ledie says:

    Yaaa sabar aja.. apalagi kl d tanya mertua dan menanyakan di saat adik ipar yg nikah belakangan lalu hamilnya duluan… positif ajaa lha ya… mana bisa di paksa hamil buru buru

    Like

    1. maisya says:

      Alhamdulillah selama ini orang2 terdekat termasuk orang tua dan mertua saya pengertian. Di situ saya merasa bersyukur. 🙂
      Justru orang2 yang tidak terlalu dekat yang biasanya tanya-tanya.

      Like

  6. Dewi says:

    Hehehe… Ternyata bukan saya saja yg merasakan pedihnya mendapatkan pertanyaan simple tp nyakitin macem “belom hamil juga ya, si itu baru nikah udah tekdung tuh”…

    Kalo udh mentok nih, saja jawab “ntr aku tanyain sm Alloh yaa” dan trakhir dijawab pake senyuman aja, pas nyampe rumah baru deh sesenggukan ngadep tembok.

    Begitu teganya mereka. Padahal mreka ga tau sebanyak apa kita udh nyoba berusaha, mskipun sama Alloh disuruh sabar dulu nunggu giliran…

    Like

  7. ipeh says:

    wah mba icha sama bangeeeeet…

    aku biasanya santai aja lho ditanyain, sampe ada yang nyeletuk
    “kok kamu ga isi isi sih ? suamimu ga pinter ya ? sini kuajarin”
    laaaaahh… dia kira punya anak itu skill *bete*

    aku sih bilang ke beberapa orang yg kepo kalo aku ga nyaman ditanya2 kayak gitu
    seolah kita dinilai dari situ aja

    but anywaaaaay, kuncinya memang di bersyukur dan tawakal ya mbak
    semangat mba icha 😆😆

    Like

  8. adhiti.larasati says:

    Thanks for writing it brilliantly Icha! :):):)

    Like

  9. Mindy says:

    Been there, done that. Aku pikir ini kepoisme punya orang kita aja, ternyata orang amerika latin sama aja cyin…

    Setelah nunggu 8 tahun, dan divonis ga bisa hamil alami, aku dan misua pasrah dan berserah. Eh malah hamilda secara alami. Pertanyaan berikutnya adalah, kapan kasih adik. Ih gemes!

    Like

    1. ahhhh…iyes, betul banget, pertanyaan yg mencecarku adalah ‘kapan adiknya nih ?’ atau ‘program jaga jaga nya udahan dulu, anak pertama kan udah gede’ sampai yg kasih tau (atau lebih ke kepo) ‘ke dokter gih, periksa periksa, minta program’

      aduhhh…kelewat usilnya orang-orang itu emang menggemaskan ya, aga chubby dikit dibilang ‘isi lagi ya ?’ dijawab ngga ntar dia yg nanya nyerocos panjang, dibilang ‘iya’ masa mau bo’ong, padahal kalo liat teman atau tetangga yg terlihat lebih subur sedikit aku berusaha ngerem dan ngga bilang ‘isi lagi ya?’ biar ngga tersinggung kalau ternyata ngga hamil kan berarti gendutan, sampai akhirnya benar benar tau kalau ibu itu hamil, tapi kenapa orang lain ngga melakukan rule yg sama denganku yaa

      Like

  10. Ardiyah Rasfie says:

    “Di, udah isi?”

    *lupa ngasah golok*

    Dari senyum, meringis sampe manyun udah dilakonin. Hiks…

    Ujung-ujungnya pengen nabok pake golok. Lagian kalo emang udah “isi” pasti keliatan dari “penampakan”-nya.

    Semangat terus untuk yg masih menunggu rezeqi itu 🙂

    Like

  11. haneefaa erphine says:

    Hidup ga pernah lepas dr pertanyaan” penting. Kpn lulus? Kpn nikah? Kpn hamil? Pas udah hamil n lahiran sc, lah napa kok sc? Bukan wanita seutuhnya tuuhhh….. hadeeeehh……ga ada ceritanya seorang ibu mendadak jd transgender gr” lahirannya sc keleeessss :/
    blm lg perbandingan” yg menyertai pertanyaan” diatas yg katanya sbg bentuk perhatian tp lbh banyak yg mengandung maksud tersembunyi sbg kepo n nyinyir…… misal si anu udah gini, kok kamu blm? Atau si itu udah gini, kamu kpn? Bagi sy itu pertanyaan” yg ga asik n ga kreatif. Sesekali kasi pertanyaan yg asik dong…. misal, mau diisiin pulsa? Atau, mau ditransfer brp jeti ke rekeningmu? 😛

    Like

  12. imah says:

    sama sepetti saya.. tiap ktmu org pasti prtnyaan ny “udh hamil bu”…? “kb kah bu kok blm hamil”..pertanyaan yg sllu bikin saya sedih

    Like

  13. Reny Afriani says:

    Sama ya mbak..pertanyaan yg tiap ketemu org d tnyain gitu,,padahal kan kalo ud isi pasti nampak ya… Hehe 🙂
    Tetep berusaha dan positif thinking aja deh sama Allah swt mungkin masih nunggu waktu yg pas buat dapetinnya..

    Like

  14. dian furqaani says:

    Hufft sama..sudah 4 tahun nikah dan setiap ketemu teman atau keluarga di suatu acara pasti ditanyain keg gitu..”kapan hamil”?? Dan dengan enteng sy sering jawab “besok” belum lagi yg ngomong kek gini “kok belum hamil juga??padahal udah lama nikah..mungkin kamu mandul” ya allah enteng banget ya mereka ngomong..bukannya doain baik.baik malah ngatain kek gitu..sakitnya berasa dihati dan di jiwa..hhihhihhi

    Like

  15. rara says:

    tulisan yg bermanfaat mba..
    karena aku pun pernah merasakannya..
    semoga banyak hikmah setelah membaca ini, baik dari sisi penanya (biar tau moment kapan bisa ditanyakan) dan sisi yg ditanya (tambah semangat ikhtiar).
    karena sesungguhnya jika momentnya ga tepat,akan malah membuat org ga respect dengan si penanya,hub pun renggang..
    tl

    Like

  16. nyonyasepatu says:

    Aku apalagi, udah umur segini belon isi2 hehe

    Like

  17. irma rahyuda says:

    keren dan telah melewati perjalanan yang panjang juga . inspiring.. tetap bersyukur untuk menjadi bahagia
    xoxo
    Irma

    Like

  18. bekti says:

    Cha thankss sharingnya, sebagai orang muslim kita yakin banget rencana Allah paling baik dan terbaik. Amiin.

    Like

  19. Ren says:

    Sama…sudah dua tahun juga belum ada baby, sementara adik sudah dikasih. Kembar pula. Makanya sering bercanda kalau ditanyain sudah punya baby atau belum, bilang kalau Mama udah punya cucu dua, jadi aku ga usah ngasih dulu.

    It’s hurt. Tapi ya berusaha positif. Manusia berusaha, Allah yang menentukan. Berdoa yang terbaik juga buat Mba Maisya 🙂

    Like

  20. devi says:

    I know that feeling.. bahkan sampai sekarang..
    kadangterasa sangat malas kalo ada acara keluarga ato kumpul2… yang di tanya selalu “udah isi?? ” dijawab dgn senyum “belum nih.. ya semoga secepatnya”
    Eehh.. bukan nya berhenti nanya.. malah di lanjutin “kok bisa belum isi.. waaahh bikin nya kurang canggih nihh.. ga pinter yaa.. kok bisa sampe skrg belum isi.. kamu jangan bla bla bla bla bla.. ”
    Duuhh.. pengen rasa nya nyumpel tu mulut orang2 yang suka nanya begitu ke saya..
    bahkan sekali pernah pas saking sumpek hati.. di tanya begitu. Di judge macem2.. saya jawab aja “kalo mau tau tanya ama tuhan.. kan situ beragama kan ya.. tanyain.. kapan saya hamil..” hahahaha.. kicep deh orang nya..
    Kok rasanya kayak ga ngerti perasaan orang ya.. padahal sama2 perempuan..
    Nama nya kehamilan tiap orang juga beda2.. ada yg cepet ada yg enggak..
    toh saya dan suami juga udah berusaha ke dokter kandungan sana sini.. abis biaya juga..
    hehehe.. tapi sekarang memutuskan untuk berhenti dulu ke dokter2 nya.. soalnya bikin saya semakin terbebani.. semakin stress.. ga bisa tidur dll..
    hehehe.. jadi curhat deh..

    Like

  21. Mei says:

    Nice post, Mbak….
    Saya juga kalo ada yang nanya “Kapan lu hamil?” dari temen-temen yang kepo, saya jawabnya, “Et… dah. Lu nanya gitu sama kayak nanya kapan gue mati. Gue kagak tau jawabannya.” Biasanya mereka cuman nyengir-nyengir.

    Like

  22. Ratna Dewi says:

    Di tahun pertama menikah banyak banget yang nanyain “udah hamil belum?” bahkan sampai keluarga inti yg bikin saya jg jadi risih. Daann ketika saya hamil setelah 11 bulan pernikahan lalu anak saya meninggal dalam kandungan trus hamil lagi trus keguguran lagi, si orang2 kepo yang suka nanya “udah isi belum?” itu tak ada satu pun yg nengok. Bahkan kasih support pun ngga. Yah, mereka cuma segelintiran orang kepo yang nyinyir. Anak kan hak Allah. Yang penting kita udah berdoa dan berusaha tak pernah putus. Semangat terus ya mbak dan suami. Jangan diambil hati orang2 yang kayak gitu nanti malah buang energi.

    Like

    1. fibri says:

      Saya tiga tahun 3 Bulan. Berbagai pertanyaan dtg.
      Ada temen kantor mpe bilang “wah km dibalah ya ma si xxx”
      Lgsg spontan saya jwb ” lha kan saya g balapan bu”
      Nyesek rasanya lgsg nunduk ke meja nangis ketutup laptop.
      Ada jg pertanyaan yg paling aneh. Temen lama tiba2 chat nanya “anak km brp dan dah bisa apa? ” lhak gubrak. Dia tahu gt sya lahiran. “Saya jwb aja “anak saya 5 dah bisa naik motor”.
      Pakai ditanya balik”seriusan? ”
      Ckckckckc….
      Kdg kita dah berusaha menutupi rasa sedih itu dg menyemangati diri. Tp lingkungan yg suka menggoyahkan..
      Semangat!!!

      Like

  23. cerita4musim says:

    Disini juga beberapa kali sering ditanyain jg lho Cha sama bule-bule ini, tp emang gak separah di Indonesia, biasanya sih yang nanya orang yang udah deket ama kita yang tahu kita lagi usaha, dan dari nada nya memang lebih ke care ya dan bukan kepo 🙂

    Like

  24. Piet says:

    Sy juga merasakan hal yg sm mba icha..kpn hamil?knp blm juga hamil?kb ya?umur nya udh brp tuh blm jg punya anak? Arrrrrgh..😬emg jd rada males kmna2..tp ya gmn..kan itu kuasa Allah..bkn gk berusaha ya kan..lagipula sy hampir 9bln ni LDM an sm suami..😂..oia sy pernah ke seminar ttg infertilitas jg loh..dikatakan oleh bbrp prof ahli kandungan org yg slalu mendapat pertanyaan kepo itu cenderung mjd menarik diri dan bs sj kearah “suicide” naudzubillah..yg perlu diketahui..bila pasangan menikah lbh dr 1 thn blm juga dikaruniai putra atw putri yg pertama kali dperiksakan adalah analisa sperm* suami..bru stlh sdh ada hasilnya baik/tdk bru dilakukan pemeriksaan thdp istri..
    Smoga ttp bersabar ceria dan ttp istiqomah..amin

    Like

  25. tiwi says:

    bener mba…sodara sendiri ada lg yg manas2in di status bbm….”keluarga saya sudah sempurna lengkap cewek cowok” kadang statusnya: punya anak itu tidak digaji bla2….haduhhhh….seolah2 dia mau menunjukkan hanya dia yg punya anak di dunia ini. trus dia pernah bilang gini: ayo saya bawa klian berobat bla2….dlm hati duh ini orang yah benar2 dikirain kali dia malaikat. emang saya slama ini gak berobat….siapa sih yg gak pengen punya anak? saya keguguran 2x dia gak pernah jenguk dan gak nanya kabar…jd curcol deh

    Like

  26. sri lestari says:

    saya sangat setuju sekali dgn postingan ini semoga orang2 yg kepo* itu d kasih kesadaran saya nikah udah jalan 4thn cukup bikin kuping lebar dgn ucapannya kl kaya gini hati selalu melow kl hati lg gk enak d tanya jawaban y senyum sabil nahan air mata. ini kejadian baru2 ini saya alami saya memenuhi udangan pernikahan teman yg bertanya pengantin nya sendiri “mana dede nya ko gk d ajak” padah dia tau saya blm d kasih kepercaan olh Allah seolah2 mengolok2 saya… sampai rumah nagis kejerr sakit hati y ampe 1 minggu baru sembuh… 🙂 inti y tetap bersabar dan ikhlas…

    Like

  27. Hita says:

    Mbak…jujur saya percis mengalami apa yg mbk tulis di atas, dan yg saya rasakan jg sperti itu, kalo orang trdekat yg tanya bs dianggap perhatian, tp klo org br dikenal, bru ketemu, mulai trsinggung ktika brtanya sampai mengarah ke hal silsilah keluarga kandung apa sudah memiliki keturunan apa belum. Keluarga sy normal n baik2 saja, memang ada hal yg tdk mgkn diceritakan knapa saya belum dan itu privasi kami. Heran, knapa ya msh ada org22 keppo sedalam itu, pdahl dlu sya ga pernah nanya yg smpe menyinggung kpd org2 yg kondisinya mirip, sy msh mikir jg apa menyinggung mreka atau tidak. Mungkin klo sy bisa cerita percis seperti artikel ini yg ingin sy ungkapkan. Terima kasih mbak sudah memberi pencerahan bagi saya.

    Like

  28. Hita says:

    Mbak…jujur saya percis mengalami apa yg mbk tulis di atas, dan yg saya rasakan jg sperti itu, kalo orang trdekat yg tanya bs dianggap perhatian, tp klo org br dikenal, bru ketemu, mulai trsinggung ktika brtanya sampai mengarah ke hal silsilah keluarga kandung apa sudah memiliki keturunan apa belum. Keluarga sy normal n baik2 saja, memang ada hal yg tdk mgkn diceritakan knapa saya belum dan itu privasi kami. Heran, knapa ya msh ada org22 keppo sedalam itu, pdahl dlu sya ga pernah nanya yg smpe menyinggung kpd org2 yg kondisinya mirip, sy msh mikir jg apa menyinggung mreka atau tidak. Mungkin klo sy bisa cerita percis seperti artikel ini yg ingin sy ungkapkan. Terima kasih mbak Maisya sudah memberi pencerahan bagi saya dan smua yg mmberi komen2 yg kreatif udh memberi smangat hidup sy hehehe…smangat bwt smuanya!!

    Like

  29. ervina galuh says:

    “Kpn hamil. Lamanya sdh nikah blom hamil jg?” *jlejepp*
    Aku cuman jawab “yakalii buu bikin anak ky bikin kue. tepung, gula, telor, baking powder adukk2 rata langsung ngembangg” sambil cengengesann…
    Nda tau ajja perjuangan loh wara wiri gonta ganti dokter. Mnum obat ini itu. Klo emang blom rezeki diksih sama alloh, kita mau apa… yg penting iktiar & doa…
    Denger pertanyaan gitu. mau nangis? Nangis model kaya apa sdh djabanin.
    Ada wktu itu mbak2 sy jg gg kenal, dy blng “sabar mba klo blom d kasih rezeki anak. Insha alloh sblum dkasih rezeki anak, mbanya dkasih rezeki yang lain sama alloh”
    Andaikan semua org mengerti keadaan kita seperti ituu. Indahnya duniaa…

    Like

  30. alisa says:

    Hihi baca koment masndutt lucuu 😝
    Aq dah 5thn nikah masih ada jg yg nanyain gt. Ditanya “kapan hamil?” Ku jawab “maunya kapan?”

    Like

  31. wahyudp_17 says:

    Yaaa, 99% tidak akan bisa dihindari, selama bumi indonesia ini dipijak, pasti, dan pasti akan ada yang bertanya seperti itu, senyumin aja…

    Like

  32. Mby says:

    hahaha sama bgt mbak
    Desember ini jg 2 taun
    Saling mendoakan aja ya
    Izin share

    Like

  33. egha says:

    Setuju bgt deh mba,saya pun mengalaminya.malah ada tmn cwo yg sengaja ngirim foto babynya yg baru lahir cuma buat bilang kamu kpan bisa pasang Dp kaya aq gini..sakit sih bacanya tp cuma bs bilang Allah lagi mencari waktu yg tepat dan aq percaya tu setelah stahun nikah baru tau kalo ada kista.Allah syg dgn umatNya dan lebih mengetahui yg terbaik buat umatNya…😊

    Like

  34. darlaoct says:

    Kalo ada orang yang nanya “Udah hamil belum?” saya jawabnya “Minta doanya aja…”, tapi saya paling sebel sama yang langsung nembak “Kamu udah ngisi ya?” maksud lo gue gendut? -_-

    Like

  35. novsabatini says:

    *dan besoknya saya tidak lari*
    LoL 😀

    #gagalfokus

    Like

  36. Siska says:

    14 years waiting…. let’s pray for all of us….
    Iyaaahh pengen nonjok, nangis kejer, jawab ngawur, jawab sopan udah semuah… sekarang…? Pasrah sepasrah2nya rizki tdk melulu anak kan? Hikmahnya buanyak sx. bersyukur dan berusaha jg berdoa (btw ad lhoo yg temenan jd renggng krn temen yg lbh akhir nikah lgsg isi, eh didiemin tuh temen saya yg hamil.. lah masak mo digugurin? gila aja n org sampe sgitunya.. lha wg sy aja yg bthn2 g sewot malah seneng dpt mainan lg tanpa nggembol n mbrojolin hehehe) anak 1000% hak Alloh سبحانه و تعالى‎… salam kenal semuanyah *hugkiss

    Like

  37. nita says:

    Setaun ngrasain gitu tuh mbak icha… dan… tahun2 berikutnya mendadak mereka yg makin keliatan kepo aja. Karena….. skrg aku hamil 7 bulan, si kakak umur 14 bulan. Tenang, rejeki emang hak prerogatif Alloh. ^^

    Like

  38. mone says:

    saya bgt bgt itu mba. apalagi sempat menjadi guru biologi, olok-olokan buat saya “pinter teori doang, prakteknya payah”. sebenarnya males jawab pertanyaan-pertanyaan kepo yg sbnrnya cmn basa basi itu. setelah sekitar 4 tahun kosong, saya lbh santai… saya biasanya jawab “babynya sdg waiting list di surga, doakan cpt datang ya?”. setelah 7 tahun baru hamil, bkn berarti saya bebas, “harus cepet pny adik, umur kamu sdh ga muda”… oyeee bgt ga sih hihi. semangat tmn-tmn, jgn biarkan pertanyaan-pertanyaan ga penting itu membuat anda bersedih berlarut-larut.

    Like

  39. jasmine says:

    hehehehehe ternyata pada senasib, saya pun sering ditanya begitu..memang saya dan suami memutuskan untuk menunda dulu kurang lebih setahun, karena sekarang saya masih melanjutkan studi, inginnya cepet beres studinya terus bisa fokus ngurus anak..ngambil keputusan ini bukan karena ga dipikir dulu loh padahal 😦 saya dan suami ga mungkin menitipkan anak keorang tua krn org tua kami juga masih dlm umur produktif dan sibuk bekerja, kami berdua pun sudah konsul ke dokter kandungan dan tentunya dikasih solusi yang ga sembarangan…tp tetep banyak yang ngomong “cepet hamil atuh, lepas aja KB nya, anak mah titipin di ortu aja kalo kuliah” saya cuma bisa ngomong dalem hati..”WHAAAAAT???” atau ada yg ngomong “jangan di KB ih pertama kali mah nanti kering nanti malah ga punya anak!jangan pake alasan kuliah dulu, si A juga dulu gitu awalnya di KB ehh bertahun2 malah ga punya anak, jangan nolak rezeki” owoooowooowoooow kadang suka pengen ngomong balik “buk, mau jadi baby sitter anak saya selama sy kuliah?beliin popok, gantiin popok, nyuci popok,dll?plis lah buk kalo ga mau mah doain aja jangan makza makzaaaa” ……………. balada ibu ibu yah hahahaha nanti siap2 kalo lepas KB tetep ditanyain “udah lepas kan, udah isi belum?” hahahahaha

    Like

  40. reANNfi says:

    Hello…
    Membaca cerita kamu seperti berkaca pada pengalaman saya sendiri.. (Sudah mau posting hal yang sama lagi di wordpress) Hehehe…
    Sudah 2 tahun menikah tapi belum dikasih kepercayaan juga sama Allah.. Not that we (me & hubby) didn’t do anything ya kan… Sesabar-sabarnya (atau cuek ya?) saya kadang pertanyaan & komen2 kayak yg diatas, emang bikin hati acak kadul.
    Kadang cuma bisa senyum dan bilang didoakan saja. Tapi kalau isengnya lagi kumat biasanya saya jawab “anak itu hak prerogative nya Allah. Saya mah apah atuh..” Karena saya mikir orang macam gini tuh kadang harus dikasih “pelajaran”.. Hohoho…. *tanduk setannya keluar*
    Anyway.. Let’s throw all their comments to trash bin. Tetep semangat kaka.. Dan teman-teman yang lain yang senasib 🙂

    Like

  41. dede says:

    Suka banget tulisan ini, mbak… saya sendiri heran kalau ada yg tb tb kirim message ke fb saya nanya sudah isi belum? Cuman kenal doang, plis deh lebih baik ga usah basa basi, ga suka saya. Biasanya saya ga jawab, biar tambah kepo/semoga merasa bersalah haha… Thanks sharingnya ya!

    Like

  42. syofi says:

    Mba, aku jg sering sebel sm kk2 ipar yg aku rasa gak care, tapi kepo.. malah kesan sinis.. hehe
    Soalnya pd bilg gini “ada tetangga kk lama jg bru hamil, dia gendut, trus dokter saranin dia kirisin badannya, trus diet dia.. ga lama sdh itu alhamdulillah hamil”

    Saya tau sih mksdnya nyindir.. krn BB saya naik drastis slma 2 thn nikah ini mba, tp ini jg naiknya sejak mulai promil & terapi hormon..

    Sedih dengernya ya mba,, kan mereka ga tau gmn perjuangan saya, tp seolah2 nuduh krn saya gendut makanya susah hamil.. 😅😅

    Like

  43. Bellinda Lucky says:

    Been there done that.
    6 bulan pertama masih santai. Masuk setaun belum hamil mulai pada khawatir sodara nanya2. Periode pernikahan jalan 2 tahun, yang nanya makin banyak, yg sekedar basa basi jg banyak. Apalagi yg nikahnya belakangan trus pampangin poto baby2nya mengisi 80% timeline sosmed, suka mewek sendiri. Etapi kan kita cm bs doa dan ikhtiar dan sabaaarrr.
    Yang suka bikin stres kalo yg nanyain terus itu mertua, tiap ketemu nanyanya halus banget, “gimana ikhtiarnya…. ikhtiar hamilnya”.. Udah struggle kesono kemari padahal mah.
    Sampe pada momen tertentu saya blg dg halus, “saat ini sy rehat dl dr tritmen dan progmilnya. Biar badannya istirahat dl..”, dibalas mertuaku dg “loh kok gitu? Inget umur loh! Kalo ketuaan malah gak bs punya anak…”
    Ahjleeeebbb…
    semoga yang bernasib sama diberi sabaar dan ditambahin rejeki lain sama Allah sebelum anaknya datang dr surga 😀

    Like

  44. Suka banget tulisan ini, secara ngalami beginian.. Alhamdulillaahh skrg sudah biasa dan kadang2 pertanyaan itu malah menjadi ladang syukur yang tak terhingga.. Karena blm dikaruniai anak artinya kesempatan membahagiakan suami dan orang tua menjadi lebih banyak..

    Like

  45. santy says:

    Aaahh..iya banget lah itu bikin kesye3eell n esmosi jiwa raga… Semuaaa pada nanyain.. Kapan..kapan..udah coba ini..udah coba itu???? Seandainya mereka tau yg eike alami..gimana paitnya..gimana ga enaknya buat Bertahan dlm pernikahan ini mungkin mereka ga bakal bertanya knp blm hamil sampe skr!? *ataujangan2malahtambahpanjangpertanyaañnya..haha ortu sendiri sih bisa lebih mengerti..yg masih suka ga ngerti dan mengajukan pertanyaan yg menohok sih mertua, terakhir nanyain dgn pertanyaan yg bikin pengen terjun bebas ” neng ga bakal hamil gitu???” Dayyyymmmmnnn…dan aku menjawab dgn sedikit judes ” aku mah gimana Allah aja mah ” dia ga tauuu gmn anaknya memperlakukan menantunya ini..Tapi ya sudahlah..pasrah aja..serahkan semuanya sama Allah, da kita mah hanya bisa menjalankan kehidupan sebaik mungkin..
    Tetap semangaaat buat ibu2 soleha nan geulis dimana pun berada 😆😊😆😘😘

    Like

  46. omnduut says:

    Temen-temen, nih ada tulisan yang kece banget dari Uni Dian Onasis. “Anak itu Hak Allah” 🙂 http://www.dianonasis.com/2015/06/anak-itu-hak-allah.html

    Like

    1. maisya says:

      Makasih mas yaaan.. nanti baca ahh.

      Like

  47. dinadave says:

    Here are Question of Life:
    Belum punya pacar ditanya: kapan punya pacar?
    Udah punya pacar ditanya: kapan kawin?
    Udah kawin ditanya: kapan punya momongan?
    Udah ngegedein anak ditanya: kapan mantu?
    Udah mantu ditanya: kapan punya cucu?
    Udah punya cucu kok nggak ditanya sekalian: kapan mati?
    Capek ngeladenin pertanyaan penuh basa-basi kayak gitu. BTW saling mendoakan ajalah, gue juga belum dikasih momongan.

    Like

  48. dinadave says:

    Here are Questions of Life:
    Belum punya pacar ditanya: kapan punya pacar?
    Udah punya pacar ditanya: kapan kawin?
    Udah kawin ditanya: kapan punya momongan?
    Udah ngegedein anak ditanya: kapan mantu?
    Udah mantu ditanya: kapan punya cucu?
    Udah punya cucu kok nggak ditanya sekalian: kapan mati?
    Capek ngeladenin pertanyaan penuh basa-basi kayak gitu. BTW saling mendoakan ajalah, gue juga belum dikasih momongan.

    Like

  49. Hallo mbak Miasya, salam kenal. Nemu tulisan ini dari facebook mbak Deny di DenHaag. Pas baca iyaa manggut-manggut setuju. Sambil nggumun juga kenapa ya begitu?
    Beberapa kali setelah saya pindah ke Itali, beberapa teman yang tidak dekat tiba-tiba mengirim pesan di fb, bukan nanya apa kabar? Gimana setelah pindah ke Itali? lhaaah pertanyaan pertama yang muncul? “Nggi, udah hamil ya?” Jreeng jreeeng petir menyambar hahaha. Perasaan ingin tahu mereka sudah melewati batas urusan pribadi orang lain. Seperti yang mbak tulis, ada lapisan-lapisan yang kita masih masih bisa menerima kalau ditanya seperti itu. Tapi lapisan jauh ini agak bikin gimanaaa gitu ya..
    Segala tahap merespon sudah dilewati, mulai dari dijawab, dijudesin, didiemin dsb tergantung siapa yang bertanya .
    Kadang mikir sih, itu yang nanya mikir nggak ya kalau yang ditanya tersinggung atau nggak. Tapi yah semua rahasia Allah, kita cuma bisa ikhtiar, berdoa dan berusaha.
    Semangaat mbak, ayo cari jawaban kreatif lainnya hehehehe
    salam dari sesama penduduk Jogja yang lagi merantau 🙂

    Like

  50. shanti says:

    Mmmm pas tau saya blom hamil, mereka yg bertanya itu tiba2 berubah menjadi spikolog handal, memberikan nasehat2, merekomendasikan obat2an dari kimia sampe herbal yg bagus biar cpt hamil, sampe dokter Sp.OG yg di anggap tokcer utk mengatasi masalah blom hamil ini… Hmmm benaar kita hrs positif thingking aja deh utk semua org yg penuh perhatian tsb… (。’▽’。)♡ semoga diriku bs cpt hamil dlm waktu dekat ini aamiin..

    Like

  51. Devi says:

    Aku jg ngalamin kayak begini.. pernah tmn kantor lg ngasih ucapan ke temen yg br aj nikah sambil blg “jangan2 nanti Devi kebalap punya momonganny”..lha emang balapan mobil apa.. ak kesel bgt waktu dia blg gitu,emangny punya anak itu ajang balapan ap,kl iya mah mending cr d sentul banyak kali..
    kn keturunan itu rahasia yg d atas..orang lain cm bs menilai dr luar..asal basabasi yg basi bgt..

    Like

  52. enniko says:

    I love this…
    And kalo boleh ikutan nimbrung crita
    Aq paling sebel dg pertanyaan yg kaya judulnya tulisan ini di pernikahan tahun ke tiga, daripada sebel lebih ke depresi sbnernya. Skrg udah tahun ke empat, udah kebaaaallll, anggap saja mereka fans kita yg kurang kreatif.
    Always thanks to God, and stay positif yaaaa

    Like

  53. eRDe says:

    Iya, ngerasain juga 😦 kadang ada orang yang ngomong “diet, kalo gendut susah punya anak, sholat, sulu aku sholat duha n tahajud awal awal nikah pingin punya anak,alhamdulillah aku langsung hamil.” Kesannya seperti saya yang pernah sholat 😦 . Atau kalimat “kenapa kok belum punya anak?KB ya?nanti kadungannya kering,jangan KB2 loh.”Padahal g KB 😦 emang belum dikasih 😦 kenapa eh kenapa tanyanya makjleb di hati, ini hati woee 😦 semoga kita semua d paringi hati yang lapang dan segera di paringi momongan. Semangaattt!!

    Like

  54. Septyana says:

    Saya malah belom terlepas dari pertanyaan pertama.
    Nyesek bgt rasanya..

    Like

  55. gaya says:

    Iyaaa… i feel you mbaa.. 2 thn ngalamin hal yg sama.. apalagi klo ada yg baru nikah lgsg hamil trs sebar di sosmed.. rasanya seneng liat cepet hamil tapi miris.. 😢 difikir kita ga mau apa kaya gt.. blm kalo suka ada yg lebay di sosmed kalo mereka lg hamil ya mual lah ya ngidam ini itu lah.. smpe ngmgin berkali2 hal yg sama di deket kuping kita pas dikantor. Brasa pengen resign.. tp ya thats life.. disyukuri aja dikasih ujian sm Allah utk lebih brusaha dlm doa dan ikhtiar, insyaAllah kalo sudah saatnya tiba nanti diberi juga.. anak itu hak Allah.. sllu brskyukur..

    Like

  56. aku juga pernah merasakan kondisi seperti ini, ditanya kapan hamil? dari jawaban judes sampai sopan juga udah pernah. Alhamdulillah keluarga suami dan keluargaku semua baik-baik tidak ada yang ribut tanya2. Justru dari orang-orang yang agak jauh yang selalu kepo nanya kapan hamil. 4 tahun setelah itu hamil, dikira udah lepas dari pertanyaan eeeh masih ada yang nanya… kapan mau dikasih adek … halllah… padahal saat itu anakku baru umur 3 bulan

    Like

  57. maulidacita says:

    Just found this post and I couldn’t agree more, “that question” is so Damn Truly Annoying 😥
    Izin share link ini di blogku ya 🙂

    maulidacita.blogspot.com

    Like

  58. ika zurria says:

    Kalau ada yg tanya kapan nikah/ kapan hamil, balik tanya aja Kapan Mati? Hehehe. Ekstrim sih. Tapi itu semua (rezeki, jodoh, mati) merupakan rahasia Allah, kita manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Sya memang masih bergelut dengan pertanyaan “kapan nikah?”, ntar kalau udah nikah baru level pertanyaannya naik jadi “kapan hamil?” Hihihi. Semangat semua!!

    Like

  59. etha says:

    Sama kak icha..
    aku jg udah bosennn dgr org nanya2 gitu..mana tmn2 yg meritnya 1thn setelah aku udah pd hamidun semua.
    rasanya gimanaaaa gitu…😔

    Aku gendong2 keponakanku,,malah disindir buat anak sendirilah..masak gendong anak org trs
    apa gak minta sobek2 tuh mulut!!
    hahahaha

    malah aku nya yg udah hopeless duluan punya anak secara ‘normal’..pengen cpt2 punya dgn cara Bayi Tabung!!!!
    walaupun suami msh semangat utk cara alami.
    hihihi

    semangat utk kita semua ya..
    TUHAN pasti memberi anak2 utk kita utk melengkapi sukacita kita.
    aminn
    😊

    Like

  60. nenglis says:

    Quote :

    “Banyak orang yang berikhtiar dalam diam. Oleh karenanya, alangkah baiknya jika kita mengetahui ada orang-orang yang belum mendapatkan rezeki tertentu, kita turut mendoakan dalam diam. Bukankah itu indah? 🙂 ”

    Saya dulu nyesel jadi orang kepo..
    Sekarang udh ngerasain, ga mau lagi jadi orang kepo..
    Cukuplah saya, suami dan Allah yg tahu..
    Do’a2 kami, Ikhtiar kami, airmata kami..

    Bunda2 semua,
    Sabar yaa… dan.
    Bersyukur..

    Like

  61. Laila Muthia says:

    Hai Cha..
    I’ve been ur silent reader from quite long time ago hehee.. Nah sekarang mau ikutan komen karena kebetulan mengalami sekali dengan apa yang kamu tulis ini.

    Well, aku dan suamiku menikah pada Maret 2012, dan sampai sekarang berarti udah hampir 4 tahun kita belum dititipin adik bayi sama Allah. Udah kenyang sama yang namanya dapet pertanyaan “udah isi”, dari berbagai kalimat pertanyaan yang tulus beneran nanya, yang sambil bercanda, yang kepo banget, sampai yang terlalu frontal mengatakan “wah belom hamil juga lo…” Yang ngomongnya gitu juga adaaaaa hheehehe.. Padahal yang nanya itu temennya suami, yang mana gak deket sama sekali.

    Kalau cuman nanya sih gak apa-apa ya, yang bikin males (dan sedih tentunya) adalah yang pake pertanyaan lanjutan, seperti “kenapa emangnya, kok belom hamil2?”, “sengaja nunda ya?”, sampe pertanyaan ajaib yang sumpah gak tau mau jawab apa karena emang gak tau apa jawabannya, yaitu “kapan dong nih hamilnya??” Whaaatt.. Dan biasanya aku akan jawab “tolong tanyain sama Allah dong, saya juga pengen tau jawabannya”, dan biasanya itu cukup mujarobb membuat si penanya terdiam.

    Idem sama Icha, aku juga merasa gak nyaman jika yang bertanya-tanya adalah orang yang tidak dekat, seperti bukan keluarga dekat, temen-temen yang udah jarang banget ketemu atau saling bertukar kabar, atau mungkin temen satu lingkungan (bisa kantor, rumah, kelompok olahraga, dll,dll) tapi yang nggak deket2 banget. Aku pun juga memilih-milih kepada siapa bercerita tentang ikhtiar yang selama ini aku dan suamiku lakukan, karna only few people cares, the rest are just curious, right?

    Kalo di case ku nih Cha, yang bikin sedih adalah kehamilanku itu diharapkan dan ditunggu-tunggu oleh satu keluarga besar suamiku. Secara suamiku adalah cucu tertua di keluarga besarnya, yang menikah paling pertama diantara semua adek-adek sepupunya. So otomatis anakku akan jadi cucu pertama untuk keluarga inti suamiku, dan akan jadi cicit pertama di keluarga besar. Karna itu, mereka semua jadi perhatian sekali ngasih banyak rekomen tempat alternatif ini-itu (in fact mertuaku malah ngajakin ke dokter obgyn kepercayaannya) yang dipercaya bisa membantu mempercepat datangnya kehamilan. Kalau suasana hati lagi oke sih nggak masalah yaa.. Nahhh kalo mood lagi gak beres, lagi PMS, atau lagi ada masalah2 yang bikin hati gundah gulana, dikasitau rekomendasi tmpt ini-itu yang ada malah jadi terasa sebagai pressure. Padahal kan ya, kalau mau cepat hamil, hati sama pikiran gak boleh stres, biar hormonnya stabil. Tapi kenyataannya, sebagai pasangan menikah yang belum punya anak, menghadapi dunia itu suliiittt sodara-sodaraaa !! Hehehee…

    Nah kalau sensitipnya lagi kumat nih, aku coba inget-inget kalimatmu di bawah ini nih Cha :
    “Mengapa kita harus fokus pada apa yang tidak atau belum kita miliki? Banyak sekali nikmat yang kita rasakan sampai dengan hari ini yang tidak terhitung jumlahnya. Mungkin ada satu nikmat yang belum kita rasakan, namun jangan sampai kita melupakan banyak nikmat lainnya.”

    Thanks a lot Cha, untuk 3 penggal kalimat diatas, yang bisa jadi penyemangat diri dan pengingat walau belum ada buah hati, kita tidak kekurangan suatu apapun.

    Till we meet again ya Cha,.. See youuu 🙂

    Like

    1. maisya says:

      Mbak Muuuth.. Terima kasih ya sudah berbagi. I feel you jugaaa hehe.. Sama2 Mbak. Sebenarnya tulisan ini juga buat mengingatkan diri sendiri supaya nggak lupa mensyukuri yang udah dimiliki. See you when I see you. :*

      Like

  62. Hallo mba maisya,,baru baca judulnya menarik hati untuk dibaca. Suka sama tulisannya mba maisya, tetep berpikir positif dan semangat berusaha. budhe saya juga gtu, sama dengan mba maisya disuruh sabar sama Allah, dan ternyata disuruh sabarnya hampir 14 tahun. Alhamdulillah buah kesabaran, doa dan usahanya pun dikasih juga ^_^. Buat mba maisya tetep semangat dan semoga Allah menjawab doa mba.
    Salam :))

    Like

  63. intanrawits says:

    salam kenal mba Maisya, iya mba saya ngalamin hal kayak gni persiss, persoalannya memang terletak pada bodi dan perut saya yang mengembang hadehh jadi orang-orang sering tanya “eh, hamil ya?” yang terparah sambil nanya sambil megang perutku yah langsung deh esmosi. Ya itu tadi karena ga cuma sekali dua kali orang nanya, tapi berkali-kali dan tiap orang nanya hal yang sama ya lama2 bikin bete juga. Hihihi

    Like

  64. Asop says:

    Saya setuju dengan pendapat Mbak. 🙂
    Saya sebagai laki2 aja juga ga suka kalo ditanya soal kapan nikah (apalagi wanita). Oleh karena itu, saya mencoba tahu diri dengan TIDAK PERNAH bertanya hal serupa pada orang lain. Well, kecuali pada sahabat saya. 😆 *teuteup* Kalo sama sahabat saya sih semua pertanyaan saya lontarkan dengan candaan. :mrgreen:

    Dan saya rasa benar bahwa EMPATI adalah hal yang harusnya dimiliki oleh orang2. Cobalah mengerti bagaimana rasanya kalau kita menjadi orang yang ditanya pertanyaan seperti demikian. Prinsipnya sih sederhana, seperti “kalau kita ga mau disakiti orang lain, jangan menyakiti orang lain.”

    Posting-an ini wajib dibaca sama orang2 yang nggak punya empati. 🙂

    Like

  65. neng ayu says:

    Mbaa.. *peluk
    bersyukurlah, karena masih ada aku yang di umur 3* ini masih berusaha melewati tahap “KAPAN-NIKAH?” *nangis sambil make lipstik

    Like

    1. maisya says:

      Mbak Ayu.. Iya..apapun disyukuri ya, Mbak. Karena kalau kita itung2 nikmat-Nya udah banyaaak bgt dan gak ada alasan buat mengeluh. 🙂
      Semua akan tiba pada saatnya. :*

      Like

  66. Kiki says:

    Saya baru 4 bulan menikah dan sudah banyak mampir pertanyaaan kyk gt mb 😀

    Like

  67. tetehiik says:

    Hmmm Saya 3 tahun sudah menikah. Subhanallah sedih. Iyah. Sampai menjauhi beberapa Komunitas agar tidak terlalu sering ditanya.
    Nyatanya Saya memang punya alasan yang tidak bisa di jelaskan pada halayak ramai. 🙂 soal kesehatan, keluarga Besar, pendidikan… Komplit lah…
    Alhamdulillah semua orang sudah Ada bagian Ujian Dan rizkinya. Positif thinking.
    Hi yaaaaaaah!!!!
    well kita memang harus Positif thinking. Cara paling cepat merubah Dunia di depan kita adalah merubah kacamata kita.
    Kita sadari saja pertanyaan2 “sensitive” itu adalah keramah tamahan yang biasa di bangsa kita… Walaupun dari sisi kita itu pertanyaan yang mengorek ngorek sanubari…heuheuheuuuuuuww
    Walau sedih T^T mareee bersabar Dan berdoa ledies 😀 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s