Other Stories

Narasi Hidup

Setiap kita punya cerita masing-masing, termasuk tentang masa kecil dan bagaimana kita tumbuh dan dibesarkan. Saat awal menikah, salah satu tantangan terbesar bagi saya adalah bagaimana dua manusia yang punya latar belakang berbeda harus tinggal dan hidup bersama. Dari mulai perbedaan dalam hal ‘remeh temeh’, sampai bangaimana cara masing-masing dalam resolusi konflik. Dan ternyata.. banyak sekali pengaruh dari pengasuhan keluarga.

Di antara ratusan (bahkan kini ribuan) hari, ada waktu-waktu ketika kami — saya dan suami — bercerita tentang kenapa kami begini, kenapa kami begitu… yang setelah dirunut ternyata ada kaitannya dengan bagaimana kami dibesarkan. Terkadang ada percakapan-percakapan sulit yang menguras air mata. Bukan, bukan berarti masa kecil kami tidak bahagia. Banyak sekali hal yang kami syukuri, banyak sekali teladan yang kami peroleh dari orangtua. Namun, ada pula hal-hal yang ingin kami lakukan dengan lebih baik lagi ketika kami menjadi orangtua.

Kebutuhan untuk belajar parenting atau pengasuhan sebenarnya dimulai dari kebutuhan untuk memahami dan menerima kisah kita sendiri. Dalam buku The Whole-Brain Child karya Daniel J. Siegel dan Tina Payne Bryson disebutkan betapa pentingnya hubungan orangtua dengan anak, yang nantinya akan mempengaruhi masa depan anak secara signifikan. Namun untuk mencapai hal tersebut, kita (sebagai orangtua) perlu memahami pengalaman-pengalaman kita dengan orangtua kita sendiri. Daniel dan Tina menyebutnya: narasi hidup.

“Narasi hidup yang belum diperiksa dan dimengerti bisa membatasi kita di masa kini, dan bisa juga mengakibatkan kita untuk mengasuh anak secara reaktif dan meneruskan pada anak-anak kita warisan menyakitkan yang sama yang secara negatif mempengaruhi masa kanak-kanak kita sendiri.”

The Whole-Brain Child

Dalam buku tersebut, penulis mencontohkan kondisi ketika ayah kita memiliki pengalaman masa kecil yang sulit. Baginya, rumah dan keluarga bukan tempat yang aman dan nyaman. Alih-alih menengangkannya saat ia merasa takut dan sedih, orangtuanya membiarkannya menghadapi hal itu sendirian. Maka ia tumbuh dengan membawa banyak luka dan akhirnya kesulitan menjalin hubungan dan membangun kedekatan. Ketika kemudian ia menjadi orangtua, sangat mungkin ia mewariskan pola asuh yang sama.

Dari kasus di atas, jika kita sebagai anak mampu memahami kondisi orangtua kita dan segala keterbatasannya dalam menjalin hubungan, maka kita akan memiliki ruang untuk mematahkan siklus warisan luka tersebut. Bukan berarti kita membenarkan, namun kita dapat merefleksikan bagaimana hal tersebut berdampak pada pengasuhan sehingga kita berusaha untuk tidak meneruskan ke generasi selanjutnya.

***

Membahas masa kecil dengan pasangan menurut saya adalah langkah yang krusial untuk memulai sebuah keluarga. Dengan demikian, kita dapat memahami perspektif dan latar belakang satu sama lain yang membentuk diri kita saat ini. Jujur saja, ini bukan hal yang saya tahu dan sadari sejak awal, namun saya pelajari seiring waktu hidup bersama.

Mungkin ada pasangan yang dibesarkan dalam suasana keluarga yang hangat, yang terbiasa mengungkapkan afeksi dan apresiasi, sehingga ketika sudah berkeluarga, ia pun bersikap demikian. Mungkin ada pula situasi di mana kita merasa pasangan kita tidak hangat. Dia biasa membantu tanpa diminta, berpartisipasi dalam pekerjaan rumah, misalnya, namun dia jarang menyampaikan rasa sayang secara verbal dan fisik, sungkan memberikan apresiasi dan pujian. Selain memang ada pengaruh dari bahasa cinta yang dominan, yaitu act of services, bisa jadi memang di keluarganya hal itu tidak lumrah, hubungan cenderung formal dan tidak biasa menunjukkan afeksi secara verbal maupun fisik (seperti pelukan).

Atau pada situasi lainnya, ada saat ketika kita merasa sedang ada masalah, namun pasangan kita terasa menghindar dan banyak diam. Bisa jadi, cara merespons terhadap konflik memang berbeda antarkeluarga. Ada yang terbiasa membicarakannya secara terbuka, ada yang lebih banyak diam dan menganggap semua akan mereda dengan sendirinya.

Oleh karenanya, sangat perlu untuk memahami bagaimana masing-masing dibesarkan. Setelah itu, perlu kita diskusikan bagaimana kita bisa saling membantu untuk dapat menjadi lebih baik dan bersinergi sebagai sebuah tim. Hal ini makin penting ketika kita dan pasangan berencana mempunyai anak. Kesepakatan dalam pengasuhan amat diperlukan agar anak tidak bingung dengan inkonsistensi antara ayah dan ibunya. Tentang nilai-nilai utama keluarga, tentang bagaimana memvalidasi emosi anak, tentang bagaimana menyampaikan perasaan dan aspirasi, dan sebagainya, yang nantinya bisa diturunkan ke banyak hal teknis sehari-hari.

Pemahaman akan narasi hidup kita sendiri nantinya akan membawa kita pada suatu kebutuhan: BELAJAR. Belajar untuk terus memahami diri, belajar pengasuhan, dan belajar menjalani berbagai peran kita – sebagai anak dan menantu, sebagai pasangan, sebagai orangtua, dan sebagainya.

Senada dengan hal itu, ketika belajar Basic Parenting dalam program pelatihan relawan Rangkul Keluarga Kita, saya menemukan bab pertama adalah tentang Hubungan Reflektif yang dimulai dari Manajemen Emosi Diri. Dalam materi ini, diingatkan kembali bahwa pengalaman menjadi anak jauh lebih lama daripada menjadi orangtua. Bahkan saat sudah menjadi orangtua pun, kita tetaplah anak untuk orangtua kita. Jadi, sebegitu pentingnya untuk mengenal diri sendiri dan memahami narasi hidup kita agar kita dapat menjalani peran kita dengan lebih baik.

signature

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s