Asia, Traveling

Lost in Chinese Garden

Singapura bukanlah destinasi wisata favorit saya. Namun ketika ada ekstra satu hari setelah bekerja di sana, tentu saya tak ingin menyia-nyiakannya.

Setelah beberapa malam menginap di hotel ‘spektakuler’ (cerita sebelumnya di SINI), Sabtu sore setelah pekerjaan selesai, saya turun kasta dengan menginap di backpacker hostel di daerah Lavender. Saya sebelumnya sudah berencana untuk ke suatu tempat di hari Minggu.

Chinese Garden.

Itulah tujuan saya. Awalnya saya browsing di section ‘nature & wildlife’ di website Your Singapore. Sampailah saya di halaman tentang Chinese Garden. Setelah membaca penjelasan singkat, saya memutuskan untuk ke sana. Chinese Garden ini tempatnya asri dan cocok untuk jogging (sayangnya ada larangan bersepeda). Jadi bisa berolahraga sekaligus menikmati keindahan arsitektur yang sarat akan budaya China. Yang perlu dicatat juga, tidak ada biaya masuk alias gratis. ๐Ÿ˜€

Continue reading “Lost in Chinese Garden”

Advertisements
Asia, Traveling

Mabuhay, Manila!

Pertama-tama, jangan nodong oleh-oleh dulu ya. ๐Ÿ˜‰

Jadi ceritanya kemarin itu business trip ke Manila pada tanggal 19-23 Januari dalam rangka meeting suatu organisasi kerjasama regional (sebut saja namanya Bunga #eh). Peran saya di situ adalah pembantu umum, jadi pikir-pikir dulu kalau mau merasa kagum. :p (siapa juga yang kagum?)

Continue reading “Mabuhay, Manila!”

Asia, Traveling

[AseanTrip] EPILOG

PULANG!

Lalu lintas sore itu padat. Apakah kemacetan jam pulang kantor berlaku juga disini? Taksi kami melaju menuju Tan Son Nhat International Airport, Ho Chi Minh City, Vietnam. Sementara di luar sana motor dan mobil saling klakson seolah siapa yang klaksonnya paling keras ialah yang berkuasa di jalanan. Ketidaksabaran pengendara di kota ini seringkali memakan korban. Saat itu saja, saya melihat kecelakaan motor tak jauh dari taksi yang kami tumpangi.

Hari ini tepat dua puluh hari sejak keberangkatan saya dan Pupu dari Jakarta. Dua puluh hari memang tak cukup bagi saya untuk mengenal dengan sebaik-baiknya semua tempat yang saya singgahi. Pun dua puluh hari ini tak cukup dirangkum dengan kata-kata. Dua puluh hari yang akan selalu saya ingat. Dua puluh hari yang suka dukanya akan terus membekas di hati.

Continue reading “[AseanTrip] EPILOG”

Asia, Traveling

[AseanTrip-23] Downtown Ho Chi Minh City

Cerita sebelumnya di SINI

———————————-

[15 Oktober 2010]

Kalau sudah di Ho Chi Minh City (HCMC), atau dikenal juga dengan sebutan Saigon, ya tentu saja berjalan-jalan juga di pusat kotanya. Hari-hari sebelumnya, sesudah ikut paket tur, saya juga nyicil berjalan-jalan di sekitar hostel. Asyiknya, tempat wisata utama di kota ini banyak mengumpul di Distrik 1 yang bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Enaknya kemana aja selama di HCMC? Berikut rekomendasi saya.

Continue reading “[AseanTrip-23] Downtown Ho Chi Minh City”

Asia, Traveling

[AseanTrip-22] Menyusuri Mekong Delta di My Tho

Cerita sebelumnya di SINI

——————————–

[14 Oktober 2010]

Mekong lagi?? Iya, betul. Saya di Vietnam dan lagi-lagi bertemu dengan sungai yang melewati enam negara ini. Setelah di hari sebelumnya pergi ke Cu Chi dengan jasa agen perjalanan, kali ini saya dan Pupu ke My Tho, juga dengan jasa tersebut. Bisa jadi kami memang sudah malas berpikir. Haha.. Tetapi kalau ada paket yang murah meriah dan memudahkan, mengapa tidak? Lagipula My Tho kan cukup jauh dari pusat kota HCMC, kira-kira 1,5 jam perjalanan (72 km).

Apa yang ditawarkan dari paket wisata ke My Tho ini? Wisatawan bisa mendapatkan pengalaman berperahu di Mekong Delta, trekking, sajian kesenian, dan menikmati suasana pedesaan Vietnam. Oh ya, termasuk juga di dalam tur adalah mencicipi penganan tradisional Vietnam dan mengunjungi pusat oleh-oleh.

Continue reading “[AseanTrip-22] Menyusuri Mekong Delta di My Tho”

Asia, Traveling

[AseanTrip-21] Lorong-Lorong Gelap Cu Chi Tunnel

[13 Oktober 2010]

Saya berjalan menyusuri lorong gelap, lebarnya satu setengah kali lebar tubuh saya, sedangkan tingginya tak cukup untuk berdiri, maka siapapun yang masuk harus berjalan sambil jongkok. Udara di dalamnya tentu sangat pengap, cahaya pun nyaris tak ada. Keadaan tersebut membuat beberapa wisatawan yang sudah masuk mengurungkan niat dan naik meninggalkan terowongan tersebut untuk menghirup kembali udara segar.

Itulah kondisi di Cu Chi Tunnel, sebuah area yang di bawah tanahnya terhubung lorong-lorong sempit dan gelap tempat tentara Vietnam (lebih lanjut baca: Viแป‡t cแป™ng) berlindung dari serangan bom dan bertahan melawan Amerika Serikat (AS) pada perang Vietnam (1959 โ€“ 1975). Pada masa itu, terowongan dibuat dengan ukuran yang sangat sempit, tentu lebih sempit daripada terowongan yang sekarang dibuka untuk wisatawan.

Continue reading “[AseanTrip-21] Lorong-Lorong Gelap Cu Chi Tunnel”

Asia, Traveling

[AseanTrip-20] Tiba di Ho Chi Minh City

[12 Oktober 2010]

Pagi itu, saya dan Pupu berangkat ke terminal bus Phnom Penh diantarkan Somarika dan ibunya. Beruntung sekali selama di Phnom Penh kami berdua ditemani oleh teman-teman Cambodia yang begitu baik. Perjalanan bus kali ini akan membelah perbatasan Cambodia dan Vietnam. Kami berangkat dengan penuh harap semoga hal-hal buruk di Poipet Border tidak terulang lagi.

Bus Phnom Penh – HCMC

Continue reading “[AseanTrip-20] Tiba di Ho Chi Minh City”

Asia, Traveling

[AseanTrip-19] Phnom Penh and Very Good Friends

[11 Oktober 2010]

Reuni

Pukul 9 pagi saya dan Pupu turun ke lobi. Ternyata disana sudah duduk manis tiga orang gadis Cambodia: Seylene, Thanine, dan Somarika. Ketiganya adalah teman saya dan Pupu. Kami bertemu Thanine pada November 2009 di Jepang saat mengikuti sebuah Student Conference yang diadakan ASEAN dan JICA. Sedangkan dengan Rika dan Seylene, kami baru bertemu tiga bulan sebelumnya di Yogyakarta. Mereka adalah peserta DREaM UGM International Summer School dimana saya dan Pupu adalah panitianya. Dan kebetulan juga bahwa mereka bertiga adalah teman kuliah. Kami saling melepas rindu, bertanya kabar satu sama lain. Tak lama setelah itu, Nary datang. Ternyata Nary adalah senior ketiga teman saya tadi di Royal University of Phnom Penh. What a small world!

Continue reading “[AseanTrip-19] Phnom Penh and Very Good Friends”

Asia, Traveling

[AseanTrip18] Mendadak ke Phnom Penh

10 Oktober 2010

Sebetulnya saya dan Pupu memang sudah merencanakan ke Phnom Penh. Kenapa disebut mendadak? Karena keberangkatan kesana lebih cepat dari rencana awal kami.

Siang itu, di perjalanan pulang dari Angkor Wat, Tina, sang supir tuk-tuk memberi tahu kami lokasi sebuah gedung kesenian. Katanya kalau malam hari disana ada pertunjukan tari tradisional Cambodia, Apsara Dance. Tina bersedia mengantarkan kalau kami mau kesana, tanpa perlu membayar lagi untuk sewa tuk-tuknya. Kami berterima kasih kepada Tina dan akan memikirkannya kemudian.

Continue reading “[AseanTrip18] Mendadak ke Phnom Penh”

Asia, Traveling

[AseanTrip-17] Angkor Wat dan Kejayaan Masa Silam

[10 Oktober 2010]

Sebelum matahari terbit, kami sudah siap di lobi guesthouse. Setelah pengalaman buruk dalam perjalanan Bangkok-Siem Reap di hari sebelumnya, rasa-rasanya berada di gueshouse ini membuat saya dan Pupu merasa aman. Orang-orangnya ramah dan dapat dipercaya. Pada pagi buta itu kami diperkenalkan dengan seorang supir tuk-tuk bernama Tina. Namanya feminin ya? Hehe… Tapi dia laki-laki kok.

Tentu misi kami pagi itu adalah berburu sunrise di Angkor Wat. Tuk-tuk melaju menembus dinginnya udara pagi. Sesampainya di loket, ternyata sudah berbaris rapi beberapa rombongan turis yang juga akan memasuki area Angkor Wat. Sebelum masuk, masing-masing pengunjung difoto terlebih dahulu untuk mendapatkan tiket masuk Ada beberapa pilihan tiket masuk ke komplek candi ini. Ada tiket untuk satu hari (20 USD), tiga hari (40 USD), dan 6 hari (60 USD).. Wisatawan yang memilih tiket lebih dari sehari biasanya mereka yang ingin mengeksplor Angkor Wat lebih jauh dengan bersepeda. Komplek candi ini memang terbilang sangat luas dan terdiri dari banyak candi berbeda.

One-day pass to Angkor Wat

Angkor Wat dibangun oleh Raja Suryavarman II pada pertengahan abad ke-12. Pembangunannya konon memakan waktu 30 tahun lamanya. Candi-candi di Angkor Wat ini ternyata merupakan perpaduan candi Hindu dan Buddha karena pada masa pemerintahan kerajaan saat itu sempat ada perubahan kepercayaan, agama Buddha menggantikan agama Hindu yang sebelumnya dianut oleh para raja disana.

Continue reading “[AseanTrip-17] Angkor Wat dan Kejayaan Masa Silam”