Indonesia, Traveling

Jalan-jalan (lagi) ke Jogja

Sudah pernah ke Jogja dan ingin ke Jogja lagi? (Baca: Jalan-jalan di Jogja) Saatnya memikirkan destinasi baru yang akan dikunnjungi. Membahas destinasi wisata di Jogja memang seakan tidak ada habisnya. Sekali berkunjung ke Jogja, biasanya rindu ingin berkunjung lagi. Bagi sebagian orang, Jogja sangatlah berkesan dan penuh kenangan. Selain yang dulunya mungkin pernah tinggal atau berkuliah di Jogja, banyak pula yang terkesan dengan Jogja karena keramahan warganya, kulinernya yang murah meriah, dan yang paling penting dari semuanya adalah tempat wisata menarik dan beragam, salah satunya wisata alam.

Continue reading “Jalan-jalan (lagi) ke Jogja”

Advertisements
Indonesia, Traveling

Jalan-Jalan di Jogja

Jogja pastilah bukan destinasi wisata yang asing bagi banyak orang. Bagi yang sudah sering ke Jogja pun, liburan ke Jogja untuk yang ke sekian kalinya mungkin tetap tidak membosankan. Selain beragam sajian kuliner dan suasana yang relatif lebih nyaman dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta, Jogja memang menawarkan banyak tempat wisata menarik. Dari gunung sampai pantai ada di Jogja. Komplit.

Semenjak menetap di Jogja pada akhir 2014, saya dan suami biasanya menyempatkan untuk berjalan-jalan pada akhir pekan. Terlebih lagi setelah media sosial makin ngehits, rasanya ada saja destinasi wisata baru. Oleh karenanya, meskipun kami tinggal di Jogja, kami seperti tak kehabisan tujuan untuk refreshing. Hehe. Apalagi banyak destinasi wisata dengan tiket masuk yang sangat terjangkau, bahkan gratis.

Continue reading “Jalan-Jalan di Jogja”

Indonesia, Traveling

Nostalgia Dieng

Sudah cukup lama saya ingin ke Dieng (lagi). Kali pertama saya ke sana adalah tahun 2010 (baca: Menembus Dinginnya Dieng). Saya penasaran, seperti apa ya Dieng sekarang?

Dulu saya dan seorang teman pergi ke Dieng dengan modal nekad dan benar-benar dadakan. Kami naik travel dari Jogja sampai Wonosobo dan lanjut dengan kendaraan umum. Itu pun kami baru mendapat travel pada malam sebelumnya, karena kebanyakan travel sudah penuh untuk keberangkatan paling pagi esoknya.

Continue reading “Nostalgia Dieng”

Indonesia, Traveling

Artotel: Suasana Baru di Surabaya

Surabaya merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia yang cukup populer sebagai pusat bisnis dan perekonomian. Selain itu, banyak hal menarik di kota ini, dari mulai wisata kota sampai wisata kuliner. Sebagai penyuka museum, saya tentu tak melewatkan Museum House of Sampoerna, Tugu Pahlawan, dan Museum Kapal Selam. Bangunan bersejarah pun masih banyak yang terawat di kota ini. Kalau soal wisata kuliner, saya rindu menikmati hidangan sambal Bu Rudy, rawon kalkulator (di Taman Bungkul), lontong balap, Sate Klopo Ondomohen, dan lainnya.

Continue reading “Artotel: Suasana Baru di Surabaya”

Indonesia, Traveling

Minggu Membatik

“It’s like magic!” kata Season saat melihat proses pewarnaan batik.

Minggu pagi itu mungkin terasa seperti Minggu pagi biasanya, tetapi tidak bagi saya. Meskipun badan sedang kurang fit sejak sehari sebelumnya, pagi itu, 27 Maret 2016, saya bersemangat untuk memulai Batik Tour bersama Eksplorasik. Area Parkir Bank Indonesia yang tak jauh dari area Malioboro menjadi titik kumpul kami pagi itu.

Ada lima peserta yang bergabung, yang terdiri dari tiga orang Indonesia dan dua orang asing yang berasal dari Amerika Serikat dan Prancis. Kami memang menargetkan pesertanya berjumlah antara 5 – 10 orang saja agar proses belajar membatik lebih efektif. Selain itu, dengan grup yang kecil, setiap orang diharapkan bisa saling mengenal dan berbaur satu sama lain.

Continue reading “Minggu Membatik”

Indonesia, Traveling

Belajar Membatik

Sering pakai baju batik tapi belum pernah mencoba membuat batik sendiri? Daripada penasaran, coba yuk membuat batik sendiri. Ternyata mengaplikasikan lilin/malam di atas kain itu cukup menantang karena butuh kecermatan dan kesabaran.  Belum lagi pencelupan warnanya yang bisa berkali-kali untuk memeroleh perpaduan warna yang diinginkan.

Dengan mengetahui dan mengalami sendiri proses pembuatan batik, kita dapat lebih menghargai helaian kain batik yang kita kenakan. Kenapa? Karena kita mengetahui kisah dan proses di baliknya.

Nah, selain pembuatan batik di kain, ternyata proses membatik juga bisa dilakukan di media kayu. Pembuatan batik kayu ini bisa untuk bermacam-macam produk, seperti topeng, gantungan kunci, tatakan gelas, dan tempat tisu.

Untuk teman-teman yang di Jogja atau berencana akan berlibur ke Jogja, save the date yaa untuk ikutan workshop batik dan wisata kuliner di Bantul: 27 Maret 2016. 🙂

Jika kalian peduli akan budaya Indonesia, sila bagikan informasi ini. Terima kasih.

***

 

E-poster Batik Tour

Ingin merasakan pengalaman membuat batik sendiri?
Mari jalan-jalan ke Bantul dan eksplor serunya membatik di media kain dan kayu bersama Eksplorasik.
Cicipi juga lezatnya sajian kuliner ayam ingkung yang otentik.

Minggu, 27 Maret 2016
Titik kumpul: Malioboro

MARI MEMBATIK DAN MENJAGA WARISAN BUDAYA

Info lebih lanjut
WA 085643510707, 085643388197
Facebook: Eksplorasik

**Hasil karya dapat dibawa pulang sebagai souvenir.

Indonesia, Traveling

Menjelajah Glagah

Jalan kecil menuju Pantai Glagah itu dipenuhi kios di kanan kirinya. Ada yang menjual baju bertuliskan ‘Jogja’ atau ‘Glagah’, ada yang menjual buah-buahan, dan yang paling banyak adalah yang menjajakan makanan khas Glagah, yaitu undur-undur goreng krispi yang oleh para penjualnya ditulis dengan beragam: ada Kentucky undur-undur, Kentucki undur-undur, sampai Kentuchi undur-undur. Aneka penulisan itu cukup membuat saya dan Chendra terhibur sepanjang jalan kenangan itu.

Ini dia Kentuchi undur-undur :D
Ini dia Kentuchi undur-undur 😀 (foto: Chendra)
Ramainya Glagah di hari terakhir liburan sekolah (foto: Chendra)
Ramainya Glagah di hari terakhir liburan sekolah (foto: Chendra)

Continue reading “Menjelajah Glagah”

Indonesia, Traveling

Menyambangi Gili-gili di Lombok

Bercerita tentang Lombok rasanya kurang lengkap tanpa membicarakan gili (pulau kecil), pantai, dan keindahan bawah lautnya. Sebelumnya, saya sudah sering mendengar tentang Gili Trawangan, salah satu gili yang paling banyak dikunjungi turis serta paling banyak dinikmati pantainya. Namun pada kunjungan pertama ke saya ke Lombok, ternyata saya belum berkesempatan berjumpa dengan Gili Trawangan. Meskipun demikian, saya tak terlalu menyesal karena saya dan rombongan Travel Writers Gathering 2015 justru diajak menjelajahi gili-gili yang terbilang lebih sepi, bahkan serasa milik pribadi karena tidak ada turis lainnya di sana. 😀

Dari Mataram, kami bertolak menuju pelabuhan Tanjung Luar. Kalau dilihat di peta Pulau Lombok, maka kita akan menemukan pelabuhan ini terletak di bagian tenggara pulau. Kawasan Tanjung Luar juga merupakan pusat kesibukan untuk aktivitas jual beli ikan. Beragam hasil tangkapan laut ada di sana. Karena ikan-ikan yang dijual adalah hasil tangkapan laut langsung (belum melewati jalur distribusi yang panjang), maka harga jualnya pun cukup miring.

DSC00676
Pelabuhan Tanjung Luar
DSC00688
Keramba
DSC00691
“Hiduplah Indonesia Raya…”

Ditemani seorang pemandu lokal dan dua pemandu dari panitia, yaitu Pak Man dan Pak Hadi, kami memulai perjalanan dari Tanjung Luar. Di tengah laut, kami melintasi beberapa bangunan bambu yang ternyata merupakan keramba lobster. Terlihat sekelompok burung camar yang sedang bersantai di sana. Sebagian terlihat hendak terbang bertualang menikmati keindahan birunya laut Lombok. Selain keramba lobster, kami menemukan pemandangan unik di tengah laut. Bendera merah putih terlihat berkibar dengan gagahnya. Ternyata di sekeliling tiang bendera tersebut terhampar pasir putih yang menghubungkan dua pulau, yaitu Gili Maringkik dan Gili Kambing.  Hamparan pasir itu akan terlihat saat air sedang surut. Di sepanjang pasir itu terdapat pula jejeran tiang listrik sebagai sumber penerangan Gili Maringkik. Saat air tinggi, bagian bawah tiang listrik itu pun ikut terendam air laut.

Hari itu kami habiskan dengan island hopping dan snorkeling di beberapa spot menarik. Berikut cerita keseruannya.

Gili Sunut

Setelah beberapa lama di laut, kapal kami merapat di sebuah pulau tak berpenghuni. Kami begitu tak sabarnya ingin segera turun dari kapal dan bermain-main di pantai dan pasirnya yang putih. Dari kejauhan, saya melihat sisa-sisa bangunan yang menandakan dulunya area ini adalah area pemukiman. Saya dan beberapa teman berjalan ke sana, menyusuri pasir, bebatuan, dan ranting-ranting pohon yang mengering. Saya membayangkan bagaimanakah dulunya kehidupan di pulau ini? Begitu memasuki salah satu reruntuhan rumah, terbayang bahwa dulunya ada sebuah keluarga yang hidup dengan suka cita di sana. Temboknya masih kokoh di beberapa bagian, namun sudah tak berpintu dan berjendela.

Saya tidak memeroleh cerita yang pasti mengapa pulai ini kini tak lagi berpenghuni. Namun kebanyakan cerita menyebutkan bahwa penduduknya direlokasi dengan alasan sulitnya akses serta minimnya fasilitas umum di pulau ini. Entahlah.

Sisa waktu di Gili Sunut kami habiskan dengan menikmati keindahan pemandangan di sekelilingnya serta berfoto ria. Gradasi warna laut yang bertemu dengan biru langit rasanya takkan membuat saya bosan.

Pink Beach

Nama Pink Beach atau Pantai Pink tentu sudah familier di telinga kita. Ternyata Lombok memiliki banyak pantai dengan pasir berwarna merah muda, namun jika disebut Pantai Pink biasanya nama itu merujuk ke Pantai Tangsi. Warna pink pada pasirnya terbentuk karena butir-butir pasir aslinya yang berwarna putih bercampur dengan serpihan karang merah muda. Jadilah perpaduan itu memberikan warna pasir baru yang indah.

Siang itu kawasan Pantai Tangsi terlihat sepi. Warung-warung pun kebanyakan kosong tanpa penjual maupun pembeli. Sepinya aktivitas wisata di pantai ini tidak mengherankan karena Bandara Internasional Lombok baru saja dibuka kembali setelah ditutup selama seminggu lebih akibat aktivitas vulkanik Rinjani.  Mungkin dalam beberapa hari ke depan aktivitas di pantai ini baru akan kembali seperti semula.

Pak Man dan tim pemandu kami ternyata sudah menyiapkan bekal makan siang. Bekal itu diangkut dari kapal dan dibawa ke sebuah (mungkin satu-satunya) warung yang buka. Begitu perbekalan dibuka, rasanya lidah ini langsung menari-nari. Di atas meja sudah tersaji aneka menu boga bahari: ada sotong, ikan bakar, dan ikan kuah kuning. Kelezatan menu itu bertambah nikmat dengan kehadiran plecing kangkung khas Lombok yang rasanya menyegarkan.

Usai makan siang, kami berjalan-jalan ke bukit yang terletak tak jauh dari pantai. Ada beberapa rumah penduduk yang hidup sebagai nelayan dan juga beternak ayam dan kambing. Menikmati pantai pink dari ketinggian memberi kesan yang berbeda. Meresapi alam dalam diam selalu membuat saya begitu kecil dan mengagumi kebesaran Sang Pencipta.

Hujan sempat mampir di Pantai Tangsi siang itu. Kami yang sedang menikmati pemandangan dari bukit pun buru-buru mencari tempat berteduh. Syukurlah ada semacam saung kecil milik sepasang kakek dan nenek yang tinggal di sana. Sejenak kami duduk menanti hujan reda sementara sang kakek dan nenek menyantap makan siang dengan nikmat.  Keduanya pun menawari kami, namun kami hanya mengucapkan terima kasih karena kami sudah makan. Sepiring nasi dan lauk ikan laut nampak dinikmati dengan penuh syukur oleh keduanya.

Sebelum meninggalkan Pantai Tangsi, Pak Hadi mengajak kami menengok sebuah goa. Konon ini adalah goa yang dibangun oleh Jepang. Saat melihat goanya, sebenarnya saya enggan masuk. Dari luar sudah terlihat sampah plastik berserakan. Sayang sekali ya. Namun karena penasaran akhirnya saya masuk. Gelap dan pengap seketika menyeruak. Menurut Pak Hadi, warna pasir di dalam goa lebih bagus daripada pasir di luar sana. Saya sendiri tidak terlalu menyadari perbedaannya. Hehe.

 

Snorkeling

Ada dua lokasi snorkeling yang kami singgahi hari itu, yang pertama adalah Teluk Semangkok. Saat hendak menceburkan diri ke laut, saya baru tahu bahwa tidak ada fin atau kaki katak. Yah semoga saja arusnya tidak deras, pikir saya. Namun ternyata arus di Teluk Semangkok ini cukup kuat. Rasanya kok saya berenangnya nggak maju-maju ya. Huaaa… Tetapi lucunya ternyata tim pemandu membawa semacam rakit kecil. Satu orang duduk di atasnya sambil mendayung kemudian beberapa orang bergantian berpegangan ke bagian belakang rakit. Haha.. Singkat kata, kami mengambang sambil ditarik oleh rakit tersebut. Untuk sementara, kami pun tinggal berleha-leha menikmati kekayaan bawah laut Teluk Semangkok tanpa terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

Sebelum hari beranjak terlalu sore, kami menuju lokasi snorkeling selanjutnya yang bernama Gili Petelu. Di sini, kami bisa snorkeling dengan lebih santai karena arusnya terbilang tenang. Lautnya juga tidak terlalu dalam dan di beberapa titik bahkan sebenarnya kaki kami bisa menyentuh dasarnya. Pada kondisi seperti ini justru kita harus lebih berhati-hati agar kaki kita tidak mengenai dan merusak terumbu karang.

 

Menikmati Sunset

Masih ingat bendera merah putih yang terlihat saat kami baru berangkat dari Tanjung Luar? Pada sore hari menjelang matahari terbenam, kapal kami singgah ke sana dan kini kami seolah menemukan daratan yang hilang. Sore itu laut sudah kembali surut dan kami dapat berjalan-jalan di pasirnya yang putih. Di barat sana, matahari tenggelam untuk menyapa kembali keesokan harinya.

Terima kasih untuk hari yang menyenangkan, Lombok. 🙂

1865143963390123180513

Indonesia, Traveling

Memeluk Kenangan dari Pergasingan

Sebelum berangkat ke Lombok untuk event Travel Writers Gathering 2015, jujur saja saya tidak sempat memelajari secara mendalam semua tujuan yang tertera di itinerary. Saya sempat berselancar di Google dan memasukkan beberapa kata kunci tujuan wisatanya, namun saya hanya melihat-lihat sekilas dalam pencarian foto, bukan artikel website. Salah satu tujuan yang menarik hati saya adalah Bukit Pergasingan. Foto yang muncul saat pencarian adalah foto-foto puncak bukit dengan pemandangan pedesaan, kebun, dan sawah yang ijo royo-royo. Ditambah lagi pemandangan pegunungan indah yang menjadi latarnya. Dalam itinerary tour disebutkan bahwa kami akan trekking ke bukit tersebut pada 14 November 2015.

Continue reading “Memeluk Kenangan dari Pergasingan”

Indonesia, Traveling

Lombok Bukan Cabe

Saya teringat sebuah kaus oblong milik suami yang tersimpan rapi di lemarinya. Kaus hitam dengan gambar cabe merah itu bertuliskan ‘Lombok bukan cabe’, sebuah oleh-oleh saat ibu mertua dinas ke Lombok. Meskipun di Jawa kata lombok berarti cabe, namun nama pulau Lombok di provinsi Nusa Tenggara Barat memang tidak ada hubungannya dengan cabe.

“Lombok itu berasal dari kata lomboq (baca: lumbu) yang berarti lurus,” kata Riyal, pemandu kami di Desa Sembalun, Lombok Timur. Melalui Wikipedia, saya mencari tahu lebih lanjut tentang asal nama Lombok yang ternyata tertuang dalam kitab Negara Kertagama. Kata Lombok ditulis berdampingan dengan kata ‘sasak’ yang merupakan nama suku asli Lombok. Lombok Sasak Mirah Adhi, begitu yang tertulis dalam kitab karya Mpu Prapanca tersebut.

Continue reading “Lombok Bukan Cabe”