Indonesia, Traveling

Jalan-jalan (lagi) ke Jogja

Sudah pernah ke Jogja dan ingin ke Jogja lagi? (Baca: Jalan-jalan di Jogja) Saatnya memikirkan destinasi baru yang akan dikunnjungi. Membahas destinasi wisata di Jogja memang seakan tidak ada habisnya. Sekali berkunjung ke Jogja, biasanya rindu ingin berkunjung lagi. Bagi sebagian orang, Jogja sangatlah berkesan dan penuh kenangan. Selain yang dulunya mungkin pernah tinggal atau berkuliah di Jogja, banyak pula yang terkesan dengan Jogja karena keramahan warganya, kulinernya yang murah meriah, dan yang paling penting dari semuanya adalah tempat wisata menarik dan beragam, salah satunya wisata alam.

Continue reading “Jalan-jalan (lagi) ke Jogja”

Advertisements
Indonesia, Traveling

Jalan-Jalan di Jogja

Jogja pastilah bukan destinasi wisata yang asing bagi banyak orang. Bagi yang sudah sering ke Jogja pun, liburan ke Jogja untuk yang ke sekian kalinya mungkin tetap tidak membosankan. Selain beragam sajian kuliner dan suasana yang relatif lebih nyaman dibandingkan dengan kota besar seperti Jakarta, Jogja memang menawarkan banyak tempat wisata menarik. Dari gunung sampai pantai ada di Jogja. Komplit.

Semenjak menetap di Jogja pada akhir 2014, saya dan suami biasanya menyempatkan untuk berjalan-jalan pada akhir pekan. Terlebih lagi setelah media sosial makin ngehits, rasanya ada saja destinasi wisata baru. Oleh karenanya, meskipun kami tinggal di Jogja, kami seperti tak kehabisan tujuan untuk refreshing. Hehe. Apalagi banyak destinasi wisata dengan tiket masuk yang sangat terjangkau, bahkan gratis.

Continue reading “Jalan-Jalan di Jogja”

Indonesia, Traveling

Nostalgia Dieng

Sudah cukup lama saya ingin ke Dieng (lagi). Kali pertama saya ke sana adalah tahun 2010 (baca: Menembus Dinginnya Dieng). Saya penasaran, seperti apa ya Dieng sekarang?

Dulu saya dan seorang teman pergi ke Dieng dengan modal nekad dan benar-benar dadakan. Kami naik travel dari Jogja sampai Wonosobo dan lanjut dengan kendaraan umum. Itu pun kami baru mendapat travel pada malam sebelumnya, karena kebanyakan travel sudah penuh untuk keberangkatan paling pagi esoknya.

Continue reading “Nostalgia Dieng”

Indonesia, Traveling

Artotel: Suasana Baru di Surabaya

Surabaya merupakan salah satu kota terbesar di Indonesia yang cukup populer sebagai pusat bisnis dan perekonomian. Selain itu, banyak hal menarik di kota ini, dari mulai wisata kota sampai wisata kuliner. Sebagai penyuka museum, saya tentu tak melewatkan Museum House of Sampoerna, Tugu Pahlawan, dan Museum Kapal Selam. Bangunan bersejarah pun masih banyak yang terawat di kota ini. Kalau soal wisata kuliner, saya rindu menikmati hidangan sambal Bu Rudy, rawon kalkulator (di Taman Bungkul), lontong balap, Sate Klopo Ondomohen, dan lainnya.

Continue reading “Artotel: Suasana Baru di Surabaya”

Indonesia, Traveling

Minggu Membatik

“It’s like magic!” kata Season saat melihat proses pewarnaan batik.

Minggu pagi itu mungkin terasa seperti Minggu pagi biasanya, tetapi tidak bagi saya. Meskipun badan sedang kurang fit sejak sehari sebelumnya, pagi itu, 27 Maret 2016, saya bersemangat untuk memulai Batik Tour bersama Eksplorasik. Area Parkir Bank Indonesia yang tak jauh dari area Malioboro menjadi titik kumpul kami pagi itu.

Ada lima peserta yang bergabung, yang terdiri dari tiga orang Indonesia dan dua orang asing yang berasal dari Amerika Serikat dan Prancis. Kami memang menargetkan pesertanya berjumlah antara 5 – 10 orang saja agar proses belajar membatik lebih efektif. Selain itu, dengan grup yang kecil, setiap orang diharapkan bisa saling mengenal dan berbaur satu sama lain.

Continue reading “Minggu Membatik”

Indonesia, Traveling

Belajar Membatik

Sering pakai baju batik tapi belum pernah mencoba membuat batik sendiri? Daripada penasaran, coba yuk membuat batik sendiri. Ternyata mengaplikasikan lilin/malam di atas kain itu cukup menantang karena butuh kecermatan dan kesabaran.  Belum lagi pencelupan warnanya yang bisa berkali-kali untuk memeroleh perpaduan warna yang diinginkan.

Dengan mengetahui dan mengalami sendiri proses pembuatan batik, kita dapat lebih menghargai helaian kain batik yang kita kenakan. Kenapa? Karena kita mengetahui kisah dan proses di baliknya.

Nah, selain pembuatan batik di kain, ternyata proses membatik juga bisa dilakukan di media kayu. Pembuatan batik kayu ini bisa untuk bermacam-macam produk, seperti topeng, gantungan kunci, tatakan gelas, dan tempat tisu.

Untuk teman-teman yang di Jogja atau berencana akan berlibur ke Jogja, save the date yaa untuk ikutan workshop batik dan wisata kuliner di Bantul: 27 Maret 2016. 🙂

Jika kalian peduli akan budaya Indonesia, sila bagikan informasi ini. Terima kasih.

***

 

E-poster Batik Tour

Ingin merasakan pengalaman membuat batik sendiri?
Mari jalan-jalan ke Bantul dan eksplor serunya membatik di media kain dan kayu bersama Eksplorasik.
Cicipi juga lezatnya sajian kuliner ayam ingkung yang otentik.

Minggu, 27 Maret 2016
Titik kumpul: Malioboro

MARI MEMBATIK DAN MENJAGA WARISAN BUDAYA

Info lebih lanjut
WA 085643510707, 085643388197
Facebook: Eksplorasik

**Hasil karya dapat dibawa pulang sebagai souvenir.

Indonesia, Traveling

Menjelajah Glagah

Jalan kecil menuju Pantai Glagah itu dipenuhi kios di kanan kirinya. Ada yang menjual baju bertuliskan ‘Jogja’ atau ‘Glagah’, ada yang menjual buah-buahan, dan yang paling banyak adalah yang menjajakan makanan khas Glagah, yaitu undur-undur goreng krispi yang oleh para penjualnya ditulis dengan beragam: ada Kentucky undur-undur, Kentucki undur-undur, sampai Kentuchi undur-undur. Aneka penulisan itu cukup membuat saya dan Chendra terhibur sepanjang jalan kenangan itu.

Ini dia Kentuchi undur-undur :D
Ini dia Kentuchi undur-undur 😀 (foto: Chendra)
Ramainya Glagah di hari terakhir liburan sekolah (foto: Chendra)
Ramainya Glagah di hari terakhir liburan sekolah (foto: Chendra)

Continue reading “Menjelajah Glagah”

Indonesia, Traveling

Menyambangi Gili-gili di Lombok

Bercerita tentang Lombok rasanya kurang lengkap tanpa membicarakan gili (pulau kecil), pantai, dan keindahan bawah lautnya. Sebelumnya, saya sudah sering mendengar tentang Gili Trawangan, salah satu gili yang paling banyak dikunjungi turis serta paling banyak dinikmati pantainya. Namun pada kunjungan pertama ke saya ke Lombok, ternyata saya belum berkesempatan berjumpa dengan Gili Trawangan. Meskipun demikian, saya tak terlalu menyesal karena saya dan rombongan Travel Writers Gathering 2015 justru diajak menjelajahi gili-gili yang terbilang lebih sepi, bahkan serasa milik pribadi karena tidak ada turis lainnya di sana. 😀

Dari Mataram, kami bertolak menuju pelabuhan Tanjung Luar. Kalau dilihat di peta Pulau Lombok, maka kita akan menemukan pelabuhan ini terletak di bagian tenggara pulau. Kawasan Tanjung Luar juga merupakan pusat kesibukan untuk aktivitas jual beli ikan. Beragam hasil tangkapan laut ada di sana. Karena ikan-ikan yang dijual adalah hasil tangkapan laut langsung (belum melewati jalur distribusi yang panjang), maka harga jualnya pun cukup miring.

DSC00676
Pelabuhan Tanjung Luar
DSC00688
Keramba
DSC00691
“Hiduplah Indonesia Raya…”

Ditemani seorang pemandu lokal dan dua pemandu dari panitia, yaitu Pak Man dan Pak Hadi, kami memulai perjalanan dari Tanjung Luar. Di tengah laut, kami melintasi beberapa bangunan bambu yang ternyata merupakan keramba lobster. Terlihat sekelompok burung camar yang sedang bersantai di sana. Sebagian terlihat hendak terbang bertualang menikmati keindahan birunya laut Lombok. Selain keramba lobster, kami menemukan pemandangan unik di tengah laut. Bendera merah putih terlihat berkibar dengan gagahnya. Ternyata di sekeliling tiang bendera tersebut terhampar pasir putih yang menghubungkan dua pulau, yaitu Gili Maringkik dan Gili Kambing.  Hamparan pasir itu akan terlihat saat air sedang surut. Di sepanjang pasir itu terdapat pula jejeran tiang listrik sebagai sumber penerangan Gili Maringkik. Saat air tinggi, bagian bawah tiang listrik itu pun ikut terendam air laut.

Hari itu kami habiskan dengan island hopping dan snorkeling di beberapa spot menarik. Berikut cerita keseruannya.

Gili Sunut

Setelah beberapa lama di laut, kapal kami merapat di sebuah pulau tak berpenghuni. Kami begitu tak sabarnya ingin segera turun dari kapal dan bermain-main di pantai dan pasirnya yang putih. Dari kejauhan, saya melihat sisa-sisa bangunan yang menandakan dulunya area ini adalah area pemukiman. Saya dan beberapa teman berjalan ke sana, menyusuri pasir, bebatuan, dan ranting-ranting pohon yang mengering. Saya membayangkan bagaimanakah dulunya kehidupan di pulau ini? Begitu memasuki salah satu reruntuhan rumah, terbayang bahwa dulunya ada sebuah keluarga yang hidup dengan suka cita di sana. Temboknya masih kokoh di beberapa bagian, namun sudah tak berpintu dan berjendela.

Saya tidak memeroleh cerita yang pasti mengapa pulai ini kini tak lagi berpenghuni. Namun kebanyakan cerita menyebutkan bahwa penduduknya direlokasi dengan alasan sulitnya akses serta minimnya fasilitas umum di pulau ini. Entahlah.

Sisa waktu di Gili Sunut kami habiskan dengan menikmati keindahan pemandangan di sekelilingnya serta berfoto ria. Gradasi warna laut yang bertemu dengan biru langit rasanya takkan membuat saya bosan.

Pink Beach

Nama Pink Beach atau Pantai Pink tentu sudah familier di telinga kita. Ternyata Lombok memiliki banyak pantai dengan pasir berwarna merah muda, namun jika disebut Pantai Pink biasanya nama itu merujuk ke Pantai Tangsi. Warna pink pada pasirnya terbentuk karena butir-butir pasir aslinya yang berwarna putih bercampur dengan serpihan karang merah muda. Jadilah perpaduan itu memberikan warna pasir baru yang indah.

Siang itu kawasan Pantai Tangsi terlihat sepi. Warung-warung pun kebanyakan kosong tanpa penjual maupun pembeli. Sepinya aktivitas wisata di pantai ini tidak mengherankan karena Bandara Internasional Lombok baru saja dibuka kembali setelah ditutup selama seminggu lebih akibat aktivitas vulkanik Rinjani.  Mungkin dalam beberapa hari ke depan aktivitas di pantai ini baru akan kembali seperti semula.

Pak Man dan tim pemandu kami ternyata sudah menyiapkan bekal makan siang. Bekal itu diangkut dari kapal dan dibawa ke sebuah (mungkin satu-satunya) warung yang buka. Begitu perbekalan dibuka, rasanya lidah ini langsung menari-nari. Di atas meja sudah tersaji aneka menu boga bahari: ada sotong, ikan bakar, dan ikan kuah kuning. Kelezatan menu itu bertambah nikmat dengan kehadiran plecing kangkung khas Lombok yang rasanya menyegarkan.

Usai makan siang, kami berjalan-jalan ke bukit yang terletak tak jauh dari pantai. Ada beberapa rumah penduduk yang hidup sebagai nelayan dan juga beternak ayam dan kambing. Menikmati pantai pink dari ketinggian memberi kesan yang berbeda. Meresapi alam dalam diam selalu membuat saya begitu kecil dan mengagumi kebesaran Sang Pencipta.

Hujan sempat mampir di Pantai Tangsi siang itu. Kami yang sedang menikmati pemandangan dari bukit pun buru-buru mencari tempat berteduh. Syukurlah ada semacam saung kecil milik sepasang kakek dan nenek yang tinggal di sana. Sejenak kami duduk menanti hujan reda sementara sang kakek dan nenek menyantap makan siang dengan nikmat.  Keduanya pun menawari kami, namun kami hanya mengucapkan terima kasih karena kami sudah makan. Sepiring nasi dan lauk ikan laut nampak dinikmati dengan penuh syukur oleh keduanya.

Sebelum meninggalkan Pantai Tangsi, Pak Hadi mengajak kami menengok sebuah goa. Konon ini adalah goa yang dibangun oleh Jepang. Saat melihat goanya, sebenarnya saya enggan masuk. Dari luar sudah terlihat sampah plastik berserakan. Sayang sekali ya. Namun karena penasaran akhirnya saya masuk. Gelap dan pengap seketika menyeruak. Menurut Pak Hadi, warna pasir di dalam goa lebih bagus daripada pasir di luar sana. Saya sendiri tidak terlalu menyadari perbedaannya. Hehe.

 

Snorkeling

Ada dua lokasi snorkeling yang kami singgahi hari itu, yang pertama adalah Teluk Semangkok. Saat hendak menceburkan diri ke laut, saya baru tahu bahwa tidak ada fin atau kaki katak. Yah semoga saja arusnya tidak deras, pikir saya. Namun ternyata arus di Teluk Semangkok ini cukup kuat. Rasanya kok saya berenangnya nggak maju-maju ya. Huaaa… Tetapi lucunya ternyata tim pemandu membawa semacam rakit kecil. Satu orang duduk di atasnya sambil mendayung kemudian beberapa orang bergantian berpegangan ke bagian belakang rakit. Haha.. Singkat kata, kami mengambang sambil ditarik oleh rakit tersebut. Untuk sementara, kami pun tinggal berleha-leha menikmati kekayaan bawah laut Teluk Semangkok tanpa terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

Sebelum hari beranjak terlalu sore, kami menuju lokasi snorkeling selanjutnya yang bernama Gili Petelu. Di sini, kami bisa snorkeling dengan lebih santai karena arusnya terbilang tenang. Lautnya juga tidak terlalu dalam dan di beberapa titik bahkan sebenarnya kaki kami bisa menyentuh dasarnya. Pada kondisi seperti ini justru kita harus lebih berhati-hati agar kaki kita tidak mengenai dan merusak terumbu karang.

 

Menikmati Sunset

Masih ingat bendera merah putih yang terlihat saat kami baru berangkat dari Tanjung Luar? Pada sore hari menjelang matahari terbenam, kapal kami singgah ke sana dan kini kami seolah menemukan daratan yang hilang. Sore itu laut sudah kembali surut dan kami dapat berjalan-jalan di pasirnya yang putih. Di barat sana, matahari tenggelam untuk menyapa kembali keesokan harinya.

Terima kasih untuk hari yang menyenangkan, Lombok. 🙂

1865143963390123180513

Indonesia, Traveling

Memeluk Kenangan dari Pergasingan

Sebelum berangkat ke Lombok untuk event Travel Writers Gathering 2015, jujur saja saya tidak sempat memelajari secara mendalam semua tujuan yang tertera di itinerary. Saya sempat berselancar di Google dan memasukkan beberapa kata kunci tujuan wisatanya, namun saya hanya melihat-lihat sekilas dalam pencarian foto, bukan artikel website. Salah satu tujuan yang menarik hati saya adalah Bukit Pergasingan. Foto yang muncul saat pencarian adalah foto-foto puncak bukit dengan pemandangan pedesaan, kebun, dan sawah yang ijo royo-royo. Ditambah lagi pemandangan pegunungan indah yang menjadi latarnya. Dalam itinerary tour disebutkan bahwa kami akan trekking ke bukit tersebut pada 14 November 2015.

Pada 13 November 2015, kami baru tiba di Sembalun sekitar pukul 11 malam. Sembalun adalah sebuah kecamatan di kabupaten Lombok Timur. Begitu keluar dari mobil, saya dapat merasakan udara dingin khas wilayah pegunungan. Wajar saja, desa-desa yang berada di Sembalun memiliki ketinggian antara 800 hingga 1.200 meter diatas permukaan laut. Malam itu Mas Teguh sebagai koordinator acara memberi arahan mengenai kegiatan trekking ke Pergasingan. Kami diminta berkumpul di ruang makan pada pukul 04.00. Saya melihat jam tangan dan tersadar bahwa kami hanya memiliki waktu beberapa jam untuk tidur dan mengumpulkan energi untuk mendaki.

***

Langkah-langkah kaki memecah keheningan pagi di gerbang kawasan Bukit Pergasingan. Tak lama setelah memulai perjalanan, kami berhadapan dengan tangga. Baiklah… tanjakan pertama. “Ini baru permulaan,” kata pemandu kami, Riyal. Tangga, tangga, dan tangga lagi. Cukup tinggi sepertinya. Beberapa saat kemudian barulah kami menapaki tanah berumput dan berbatu. Jalan pun semakin lama semakin menyempit dan terjal.

Kami belum sampai puncak ketika matahari mulai hadir malu-malu. Sambil terus menyusuri jalur pendakian, sesekali saya dan teman-teman seperjalanan berhenti untuk istirahat sekaligus menyapukan pandangan ke sekeliling bukit. Dari bukit, terlihat Sembalun yang baru bangun dan memulai geliat paginya. Rumah-rumah, petak-petak kebun, dan jalan terlihat semakin jauh dan kecil.

Untuk pagi sedingin itu, saya tidak punya cukup persiapan. Saya tidak membawa jaket tebal, alih-alih saya hanya memakai cardigan. Selain itu, saya juga tidak menduga bahwa medan pendakian di Pergasingan tak bisa dibilang santai dan main-main. Saya kala itu mengenakan sepatu jalan sehari-hari karena saya pikir ‘hanya’ trekking cantik lalala yeyeye.

Pemandangan yang menjadi penyemangat kala mendaki
Pemandangan yang menjadi penyemangat kala mendaki

Ternyata saya salah besar. Beberapa kali saat mendaki, saya dan teman-teman merasa agak kesulitan. Mungkin karena musim kemarau yang terlampau panjang tahun ini, tanah kering dan berbatu itu terasa makin menyulitkan. Setiap menanjak satu langkah, kaki kami merosot lagi diikuti kerikil yang berjatuhan. Mencari pijakan yang ajeg menjadi sebuah tantangan tersendiri. Ditambah lagi, di sepanjang jalur itu tak ada pepohonan di kanan-kiri untuk berpegangan. Syukurlah pada saat demikian Riyal sang pemandu membantu kami satu per satu dengan sabar.

“Masih bisa lah ya naiknya walaupun jalanya begini… Tapi nanti gimana turunnya ya?” saya masih cuap-cuap sambil terus berusaha mendaki. Beberapa teman mengemukakan kekhawatiran yang sama. Tetapi saat itu yang ada dalam benak kami adalah: naik dahulu saja, turunnya pikirkan nanti. Ditambah lagi dari kejauhan kami melihat sapi-sapi yang berkelana mencari makan di kaki bukit. Kami jadi tidak mau kalah dengan sapi-sapi itu. Menurut  info dari Riyal, sapi-sapi di Sembalun memang sering dilepas oleh pemiliknya. Mereka akan mencari makan dengan mandiri. Entah bagaimana naik dan turunnya, yang jelas saya lihat mereka makan dengan bahagia di ketinggian. *padahal hanya melihat dari jauh* :p

Dalam perjalanan, Riyal juga sempat bercerita mengenai asal nama Pergasingan. Konon nama itu disematkan karena dahulunya bukit ini menjadi tempat untuk pertandingan gasing oleh penduduk Sembalun. Eh, serius? Kami pun nyeletuk, “Mau main gasing usahanya lumayan juga ya kalau harus mendaki kayak gini.” Kami kemudian tertawa.

DSC00870
Sapi-sapi sedang bersantai sambil mencari makan (nge-zoom kamera sampai pol hehe)
Selamat pagi, matahari!
Selamat pagi, matahari!

Begitu selesai dengan jalur yang bisa dibilang paling sulit, kami hampir saja bahagia karena akhirnya sampai di puncak. HAMPIR BAHAGIA. Karena ternyata tempat kami berdiri bukanlah puncak. Kami menatap sebuah bukit di balik ranting-ranting pepohonan kering di punggung bukit yang kami pijak itu.

“Itu puncaknya, bukan di sini,” kata-kata Riyal seolah menampar saya dari euforia sesaat.

Hah, bagaimana bisa bukit dan puncak itu tidak terlihat dalam pendakian tadi? Kami tidak mengira bahwa di sanalah puncaknya. Terasa masih tinggi dan cukup jauh. Kami bisa saja puas dengan sampai di titik ini. Toh pemandangan sudah terlihat begitu cantik dari sini. Matahari yang tadinya malu-malu kini mulai terlihat jelas. Rasanya sudah sempurna.

Tetapi apakah sampai sini saja batas kemampuan dan tekad kami?

Kami diam-diam menjawabnya dengan kaki yang terus melangkah dan mendaki. Dan beginilah hadiah dari usaha kami untuk sampai di puncak Pergasingan, 1700 mdpl. Gunung Rinjani tampak menjadi latar utama beserta pemandangan desa di Sembalun yang menghijau. Setelah sebelumnya sempat terbatuk-batuk untuk beberapa saat, Rinjani kala itu sudah kembali beraktivitas normal. Tak ada abu dan asap sehingga pemandangan terlihat cerah. It was indeed a rewarding view. Alhamdulillah.

Pemandangan dari puncak
Pemandangan dari puncak
Full team di puncak (foto oleh Riyal)
Full team di puncak (foto oleh Riyal)
Numpang selfie dari puncak (foto oleh Zahra)
Wajah lelah yang telah terbayarkan oleh puncak Pergasingan (foto oleh Zahra)

***

Seperti sudah diduga, perjalanan turun dari puncak Pergasingan jauh lebih menantang daripada perjalanan mendaki. Baru kali ini saya merasa agak gentar saat turun gunung. Rasanya salah sedikit langkah saja akan berakibat fatal. Terkadang bisa berjalan, namun selebihnya saya seperti main perosotan namun dengan bonus terjun bebas ke dasar bukit jika tak hati-hati. Riyal mengingatkan agar mencari batu yang berada ajeg di tanah untuk pijakan dalam setiap langkahnya. Sama halnya dengan kaki, tangan pun senantiasa mencari sesuatu untuk berpegangan, sekecil apapun benda itu. Begitulah kesibukan saya dan teman-teman saat turun dari Pergasingan. Tentunya sambil dalam hati berdoa agar selamat sampai di bawah.

DSC00888
Hampir sampai di bawah namun harus melewati jalur ekstrim ini terlebih dahulu

Sementara kami bersusah payah untuk turun, kami berpapasan dengan beberapa orang porter yang memikul banyak beban di pundaknya. Mereka terlihat begitu cekatan dalam memilih jalur yang ditapaki. Jalannya tak melambat meski jalan semakin menanjak. Terlihat bahwa mereka sudah begitu akrab dengan jalur pendakian ini. Pada beberapa jalur yang sempit, porter terpaksa menanti beberapa saat agar kami bisa lewat dan kemudian mereka bergantian menapaki jalur tersebut. Pada raut wajah mereka tak terlihat ada keluhan. Mereka tersenyum sambil menyemangati kami dan berkata bahwa kami akan baik-baik saja.

Bagaimanapun… mendaki (dan turun) gunung itu selalu tentang mengenal diri sendiri. Sejauh apa kita bisa mendorong diri kita sampai batas yang kita mampu, sejauh apa kita bisa bersyukur, sejauh apa kita bisa bertoleransi dan saling menghargai dengan sesama pendaki. Dan satu pelajaran lagi yang saya petik dari perjalanan ke Pergasingan ini adalah pentingnya sadar dengan keadaan lingkungan sekitar (misalnya memerhatikan jalur) dan senantiasa mawas diri (fokus dan berhati-hati). Pelajaran ini sebenarnya bisa diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan memerhatikan sekitar, kita jadi tahu lingkungan dan orang-orang seperti apa yang kita hadapi. Kita kemudian belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan baru serta membawa diri kita dengan baik.

AgobHLJxMiKrCaF1PodIjHiCMlKAdA7ulYUMpeO_XwSK
Terima kasih Pergasingan untuk segala kenangannya. :”) (foto oleh Riyal)

Mungkin saya bukanlah anak gunung tetapi selama ini saya selalu menikmati kegiatan trekking dan mendaki. Ingatan saya melayang ke beberapa tahun silam – kalau tidak salah awal 2006 – saat kali pertama saya selesai membaca buku 5 cm karya Donny Dhirgantoro (yang kemudian difilmkan pada 2012). Entahlah apakah pada usia sekarang saya masih tetap mengidolakan buku itu. Hehe… Namun pada masanya (masa darah muda, darahnya para remaja :p) saya dibuai oleh cerita persahabatan anak muda, motivasi, indahnya mendaki, dan nasionalisme yang ditawarkan buku tersebut. Lewat buku itulah untuk kali pertama keinginan saya untuk mencoba mendaki muncul.

Yang kita butuhkan untuk sampai ke PUNCAK adalah…..

…Kaki yang akan berjalan lebih jauh dari biasanya

…Tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya

…Mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya

…Leher yang akan lebih sering melihat ke atas

…Lapisan tekad yang seribu kali lebih keras dari baja

…Dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya

…Serta mulut yang akan selalu berdoa…

(‘5 cm’ karya Donny Dhirgantoro)

Dan pagi itu, sesampainya di bawah, saya diliputi rasa syukur. Saya banyak berterima kasih kepada pemandu luar biasa dan teman-teman seperjalanan yang saling menguatkan.

Sampai kapanpun saya akan terus memeluk kenangan ini. Kenangan dari Pergasingan.

#twgathering2015 #holidayisLombokSumbawa

1865143963390123180513

 

Indonesia, Traveling

Lombok Bukan Cabe

Saya teringat sebuah kaus oblong milik suami yang tersimpan rapi di lemarinya. Kaus hitam dengan gambar cabe merah itu bertuliskan ‘Lombok bukan cabe’, sebuah oleh-oleh saat ibu mertua dinas ke Lombok. Meskipun di Jawa kata lombok berarti cabe, namun nama pulau Lombok di provinsi Nusa Tenggara Barat memang tidak ada hubungannya dengan cabe.

“Lombok itu berasal dari kata lomboq (baca: lumbu) yang berarti lurus,” kata Riyal, pemandu kami di Desa Sembalun, Lombok Timur. Melalui Wikipedia, saya mencari tahu lebih lanjut tentang asal nama Lombok yang ternyata tertuang dalam kitab Negara Kertagama. Kata Lombok ditulis berdampingan dengan kata ‘sasak’ yang merupakan nama suku asli Lombok. Lombok Sasak Mirah Adhi, begitu yang tertulis dalam kitab karya Mpu Prapanca tersebut.

Dalam tradisi lisan warga setempat kata sasak dipercaya berasal dari kata ‘sa’-saq’ yang artinya yang satu. Kemudian Lombok berasal dari kata ‘lomboq’ yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa’ Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. Banyak juga yang menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus. (Wikipedia)

Demikianlah saya berharap bahwa perjalanan pertama saya ke Lombok ini adalah sesuatu yang lurus yang membawa suatu kebaikan.

***

Perjumpaan pertama saya dengan Lombok mungkin terlalu larut. Karena penerbangan yang tertunda selama dua jam dari Yogyakarta, saya dan kawan baru saya Pungky baru menginjakkan kaki di Bandara Internasional Lombok Praya pada pukul 22.00 WITA. Kala itu bandara sudah sepi, toko-toko di dalamnya pun sudah tutup.

Saya dan Pungky adalah dua dari sepuluh peserta yang akan mengikuti Travel Writers Gathering yang diselenggarakan oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Nusa Tenggara Barat. Sambil menunggu pihak panitia yang menjemput, kami duduk di sekitar area pintu keluar bandara. Terdengar obrolan orang-orang setempat dengan bahasa yang masih asing di telinga. Mereka berbicara dalam bahasa Sasak.

Sejak dahulu saya mengenal bandara, stasiun, maupun terminal bis sebagai tempat yang membahagiakan sekaligus melankolis. Tempat-tempat itu telah sejak lama menjadi saksi banyak perjumpaan maupun perpisahan. Berbicara tentang perjumpaan, saya pun rasanya tak sabar ingin bertemu dengan rekan-rekan peserta lainnya. Mereka ada yang berasal dari Jakarta, Bandung, Batam, dan Sumbawa. Hampir semuanya sudah berada di hotel karena jadwal kedatangan mereka lebih awal.

Malam itu kami dijemput oleh Pak Man. Selama perjalanan dari Praya menuju Mataram, Pak Man banyak bercerita tentang Lombok. Ternyata Pungky pun baru kali pertama mengunjungi Lombok sehingga kami berdua khusyuk mendengarkan cerita Pak Man. Beberapa hal yang diceritakan di antaranya tentang macam-macam bahasa Sasak dan tradisi kawin culik suku Sasak. Sambil bercanda, Pak Man sempat menyebutkan bahwa mungkin inilah satu-satunya penculikan di dunia yang tujuannya untuk kebaikan.

Dalam tradisi Sasak, jika seorang wanita dan pria lajang sudah saling menyukai, mereka akan bersepakat mengenai waktu penculikan. Rencana ini bersifat sangat rahasia karena jika ada yang tahu, dikhawatirkan ada pihak lain yang berusaha menggagalkan rencana (misalnya pria lain yang mengincar wanita tersebut). Oleh karenanya, penculikan biasanya dilakukan pada malam hari. Saat diculik, wanita tersebut tinggal bersama keluarga pria atau calon suaminya. Barulah setelah itu keluarga pria mendatangi keluarga wanita untuk mengabarkan bahwa anaknya diculik dan mengutarakan maksud melamar.

Tak terasa kami hampir memasuki Mataram. “Nanti makan malamnya ayam taliwang ya, Mbak.” ujar Pak Man. Saya dan Pungky mengiyakan. Apapun akan kami terima saja karena sudah selarut itu dan kami kelaparan. Apalagi mendengar menu ayam taliwang yang merupakan makanan khas Lombok, tentu kami semakin bersemangat. Ayam taliwang adalah ayam kampung utuh yang digoreng atau dibakar dan diberi bumbu pedas berbahan utama cabe merah. Biasanya ayam taliwang disajikan bersama plecing kangkung yang juga merupakan makanan khas Lombok.

Sesampainya di warung makan, Pak Man langsung memesan dua porsi ayam untuk kami. Saya dan Pungky mengusulkan agar memesan satu porsi saja, khawatir masing-masing dari kami tidak bisa menghabiskan satu ekor ayam utuh.

“Yakin? Ayamnya nggak besar lho,” kata ibu penjual. Namun kami keukeuh memesan satu untuk berdua saja.

Begitu ayam taliwang disajikan…

Jpeg
Ayam taliwang dan kawan-kawannya

Ternyata memang kecil ya ayamnya. Hehehe… Kami baru tahu bahwa ayam kampung yang dimasak untuk membuat ayam taliwang adalah yang berumur tiga sampai lima bulan. Karena melihat gambar di kertas menu, kami salah paham menyangka ayam utuhnya berukuran besar. Sepertinya pemilik warung hanya asal ambil foto dari Google. 😀 Kami pun kemudian setuju untuk memesan satu porsi lagi.

Nama Taliwang sebenarnya berasal dari nama salah satu kampung di Mataram, yaitu Karang Taliwang. Kampung ini berada di wilayah kecamatan Cakranegara. “Kampungnya hanya di belakang sana, Mbak. Dekat kok,” ujar Pak Man sambil tangannya menunjuk ke arah belakang warung. Saya dan Pungky memberi anggukan.

Tak banyak percakapan yang keluar saat prosesi makan malam itu. Nampaknya kami sama-sama menghayati. Saya juga hanya sempat mengambil sedikit gambar menggunakan ponsel dengan pencahayaan yang minim. Sesekali Pak Man memberikan penjelasan ini-itu mengenai sajian yang ada di hadapan kami. Ada nasi, ayam taliwang, plecing kangkung, sambal beberuk terong, serta dua macam sambal cocolan ayam yaitu pedas dan manis. Sebagai orang Sunda, saya merasa sangat cocok dengan salah satu sajian khas Lombok ini. Pasalnya, rasa pedasnya mengingatkan saya akan kampung halaman. It feels like home.

Hari-hari berikutnya di Lombok, saya dan tim Travel Writers Gathering 2015 bertualang dari pantai sampai ke gunung. Tak lupa jelajah kota Mataram di sela-selanya. Selain itu, yang tidak terlewatkan adalah wisata kuliner. Saya menemukan bahwa kebanyakan makanan di Lombok memang tak jauh dari yang pedas-pedas. Meskipun Lombok bukanlah cabe, namun nampaknya Lombok tak bisa dipisahkan dengan cabe. 😀

Ps. Keseruan bertualang bersama tim Travel Writers Gathering 2015 akan diceritakan dalam tulisan selanjutnya ya. ;)

#twgathering2015 #holidayisLombokSumbawa

1865143963390123180513