Other Stories

Menyapih dengan Cinta: Beneran Bisa?

Kalau ditanya cerita tentang proses menyapih K, saya selalu bilang, “Allah yang mudahkan.. semua karena Allah yang izinkan.”

WhatsApp Image 2022-07-09 at 1.54.36 PM
Not a baby anymore :”)

Disclaimer: sama seperti proses menyusui, proses menyapih setiap ibu dan anak mungkin berbeda, namun tetap istimewa dengan caranya masing-masing.

***

In a nutshell, begini pengalaman kami:

1. Bertahap
Pengalaman kami, proses sapih tidak tiba-tiba dimulai saat anak menjelang usia dua tahun. Secara alamiah, seiring jam tidur anak yang semakin berkurang di siang hari, frekuensi dan durasi menyusu perlahan dikurangi dari berbulan-bulan sebelumnya.

Ps. Ada masanya K suka sekali sama sebuah buku (judulnya Buku Tenang, terbitan Rainbow Castle) yang di dalamnya ada cerita tentang anak dan ibu yang sepakat membatasi durasi menonton TV dengan menggunakan alarm. Nah, K juga malah seneng kalau pas menyusu dikasih alarm. Saat alarm bunyi, dia sukarela berhenti. 😁

2. Sleep training
Sejak akhir 2021, ketika K berusia 19 bulan, kami mulai latihan untuk tidur terpisah. Nggak kok.. dia nggak tidur sendirian, tapi berdua sama ayahnya. Tujuan utama tidur pisah ini untuk melatih agar dia nggak menyusu di malam hari. Jadi sebelum tidur, saya masih menyusui dan ngelonin K. Tapi setelah itu, serah terima sama ayahnya dan sepanjang malam berlatih untuk tidak menyusu.

Apakah K menerima perubahan itu begitu saja? Tentu tidaak.. Bayi yang terbiasa ngelilir dan nyari mimik dari ibunya, tiba-tiba tidak mendapatkan yang ia inginkan. Pastilah ia menangis. Tapi, poin penting dari sleep training adalah anak belajar self soothing alias menenangkan diri sendiri. Saya dan suami sempat ikut sesi ‘Sleep Training’ nya Klinik Kecil dan itu membantu sekali untuk memberikan pengetahuan (dari sudut pandang dokter spesialis anak maupun psikolog) serta memupuk keberanian ortu untuk memulai prosesnya.

Karenaaa.. sebenarnya seringkali yang susah mulai itu ortunya. Saya pun dulu terbiasa kalau K ngelilir dan bangun, langsung lah menyusui biar dia diam dan tidur lagi. Tapi dalam jangka panjang, saya sendiri yang pusing karena kualitas tidur yang berantakan.

Oh ya, proses sleep training kami tidak mungkin berhasil tanpa peran ayah K yang sabar menghadapi tangisan K, berusaha mencari cara untuk menenangkannya, dan selalu meyakinkan saya, “Gapapa.. K sama aku aja. Ibu gak usah ke sini,” tiap saya khawatir, ingin intervensi, dan hampir menggagalkan misi sleep training. 😅

Ada juga kok malam-malam ketika kami merasa kewalahan dan hilang kendali menghadapi kerewelan K. Tapi, banyak juga keberhasilan kecil yang kami syukuri dan rayakan.

3. Tidak sounding berlebihan dari jauh-jauh hari

Waktu K usia 21 bulan, saya beberapa kali bilang, “Nanti kalau usia K sudah 2 tahun, K nggak mimik lagi ya.. Kata Allah dalam Alquran, kalau sudah dua tahun, nggak mimik lagi karena anak dua tahun itu sudah besar.”

Eh dia malah merengek, “Nggak mau.. nggak mau kata Allah..”

Saya jadi ingat, mungkin lebih dari setahun lalu, saya baca salah satu unggahan dr. Pinan yang cerita bahwa ketika anak terlalu sering diceritakan tentang sapih jauh sebelum usia 2 tahun, justru si anak bisa jadi malah insecure dan makin tidak mau lepas.

Apalagi, saya juga tidak mau kalau K jadi marah atau tidak suka sama aturan Allah. Ingat lagi sama materi beberapa kajian bahwa untuk anak usia dini, kenalkan Allah dan islam lewat kelembutannya, bukan memulai dari larangan atau ancaman (mungkin bagi usia K, nggak mimik adalah sebuah ancaman ya).

Sejak saat itu, ya saya jarang bahas tentang sapih. Saya dan suami berusaha konsisten saja untuk mengurangi frekuensi dan durasi menyusui K secara bertahap (kembali ke poin pertama).

4. Memfasilitasi kegiatan yang menyenangkan

Saya amati bahwa seringkali K meminta mimik di luar waktunya menyusu karena dia terlihat bosan. Mungkin sama seperti orang dewasa yang buka-buka kulkas dan cari camilan bukan karena lapar, melainkan lagi bosan atau mati gaya mau ngapain. Hehe.

Meskipun saya dan suami bukan orang tua yang amat rajin dan telaten membuat material DIY dan/atau membuat jadwal kegiatan yang terstruktur untuk K, kami selalu mengusahakan untuk bisa menemaninya bermain dan menikmati kegiatannya. Entah bermain di pikler, membaca buku, bermain peran, menggambar/coret-coret di kertas, atau melibatkannya dalam berbagai pekerjaan rumah (menyapu, menyiram tanaman, mengajak menjemur baju, dsb).

Tidak selalu berjalan mulus kok, apalagi ketika kami sama-sama sedang ada kerjaan dan tidak punya pengasuh. Namun yaa.. tetap dengan sadar mengusahakan. 😊 Termasuk juga tidak membiarkan anak keasyikan dengan gawai tanpa pengawasan dan pendampingan orang tua. Karena nanti malah jadi masalah baru ya kalau anak jadi kecanduan.

***

SAYA SEMPAT KHAWATIR SEMUA YANG SUDAH DIUSAHAKAN DI ATAS ITU GAGAL KETIKA…

Saat usianya menginjak tepat dua tahun, K sakit dan harus rawat inap di RS selama beberapa hari. Selama seminggu lebih (sebelum dan saat dirawat inap), K susah makan. Karenanya, pelariannya adalah menyusu. Frekuensi menyusunya bertambah, termasuk di malam hari (padahal beberapa bulan sebelumnya sudah berhenti). Terjadilah proses tawar menawar dan tangisan di sana-sini (termasuk rasa frustrasi dan tangisan ibunya juga :”)).

Dengan izin Allah, sepulang K dari RS, perlahan dia mau makan lagi. Berat badan yang sebelumnya turun drastis, perlahan naik. Daaan.. karena setelah sakit dia maunya tidur pelukan sama ibunya, akhirnya kami tidur bareng lagi. Jadi terpaksa berlatih dan menahan diri untuk tidak menyusui walaupun tidur sekamar. Ini tantangan juga buat K, karena masih terbawa suasana saat sakit, saat ngelilir maunya menyusu ke ibunya.

Suatu malam, dia menangis sampai meraung-raung selama sekitar satu jam di tengah malam karena ingin menyusu sama Ibu, tapi kami orangtuanya bersepakat untuk tidak mengabulkan keinginannya. Kami tawarkan alternatif lain, seperti minum air putih dan susu UHT. Namun dia bersikeras ingin ASI. Kami tetap bersikukuh sambil tetap membuatnya merasa nyaman, dengan dipeluk dan digendong.

Capek nggak? Capek dong.. masa enggak. :p

Frustrasi nggak? Yaa.. lumayan. Tapi, ada harga yang harus dibayar ya untuk suatu pembiasaan baru.

Setelah malam itu, kalau malam terbangun, K biasanya minta minum air putih dan makan biskuit (karena dia belajar dari pengalaman bahwa tangisan yang melelahkan itu tak akan membuahkan hasil :”)). Pernah juga dia minta makan roti. Mungkin sekitar satu sampai dua minggu, kami selalu menyiapkan ‘bekal’ sebagai antisipasi jika K terbangun di malam hari. Sampai.. kemudian K hanya perlu dipukpuk atau minta minum air putih ketika terbangun, tidak pernah menanyakan makanan lagi. Hehe. Alhamdulillaah. Bahkan sekarang hanya sesekali ia ngelilir di malam hari.

Lumayan panjang ya tulisan ini. Hehe.. Tentu banyak ups and downs di antara periode tersebut yang mungkin tidak tergambarkan di sini. Namun, semoga cerita kami bisa bermanfaat untuk para orang tua yang akan memulai atau sedang dalam proses menyapih. You are not alone. ❤

Selain berusaha membekali diri dengan ilmu ini itu dari para dokter dan ahli, jangan lupakan kekuatan doa. Karena semua atas izin Allah. 🙂

signature

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s