Indonesia, Traveling

Minggu Membatik

“It’s like magic!” kata Season saat melihat proses pewarnaan batik.

Minggu pagi itu mungkin terasa seperti Minggu pagi biasanya, tetapi tidak bagi saya. Meskipun badan sedang kurang fit sejak sehari sebelumnya, pagi itu, 27 Maret 2016, saya bersemangat untuk memulai Batik Tour bersama Eksplorasik. Area Parkir Bank Indonesia yang tak jauh dari area Malioboro menjadi titik kumpul kami pagi itu.

Ada lima peserta yang bergabung, yang terdiri dari tiga orang Indonesia dan dua orang asing yang berasal dari Amerika Serikat dan Prancis. Kami memang menargetkan pesertanya berjumlah antara 5 – 10 orang saja agar proses belajar membatik lebih efektif. Selain itu, dengan grup yang kecil, setiap orang diharapkan bisa saling mengenal dan berbaur satu sama lain.

Continue reading “Minggu Membatik”

Advertisements
Asia, Traveling

Kehidupan sebagai Muslim di Korea

Saya pernah mendengar beberapa orang berkomentar kira-kira seperti ini, “Yah… gitu deh, kalau udah kelamaan tinggal di luar negeri (yang bukan mayoritas muslim – pen) lama-lama bisa jadi liberal.”

Pertama, perlu dijelaskan liberal yang dimaksud itu seperti apa.

Kedua, sebenarnya saya tidak bermaksud membahas tentang liberal, moderat, maupun konservatif. Islam adalah islam (baca: Don’t Call Me a Moderate Muslim).  Melalui tulisan ini, saya sekadar ingin menceritakan pengalaman saya di Korea sebagai seorang muslim. Perjalanan setiap orang itu unik dan berbeda antara satu dan lainnya. Dalam perjalanan itu pula ada proses belajar, berpikir, dan pengalaman langsung yang tak tergantikan oleh sekadar teori. Continue reading “Kehidupan sebagai Muslim di Korea”

Indonesia, Traveling

Belajar Membatik

Sering pakai baju batik tapi belum pernah mencoba membuat batik sendiri? Daripada penasaran, coba yuk membuat batik sendiri. Ternyata mengaplikasikan lilin/malam di atas kain itu cukup menantang karena butuh kecermatan dan kesabaran.  Belum lagi pencelupan warnanya yang bisa berkali-kali untuk memeroleh perpaduan warna yang diinginkan.

Dengan mengetahui dan mengalami sendiri proses pembuatan batik, kita dapat lebih menghargai helaian kain batik yang kita kenakan. Kenapa? Karena kita mengetahui kisah dan proses di baliknya.

Nah, selain pembuatan batik di kain, ternyata proses membatik juga bisa dilakukan di media kayu. Pembuatan batik kayu ini bisa untuk bermacam-macam produk, seperti topeng, gantungan kunci, tatakan gelas, dan tempat tisu.

Untuk teman-teman yang di Jogja atau berencana akan berlibur ke Jogja, save the date yaa untuk ikutan workshop batik dan wisata kuliner di Bantul: 27 Maret 2016. 🙂

Jika kalian peduli akan budaya Indonesia, sila bagikan informasi ini. Terima kasih.

***

 

E-poster Batik Tour

Ingin merasakan pengalaman membuat batik sendiri?
Mari jalan-jalan ke Bantul dan eksplor serunya membatik di media kain dan kayu bersama Eksplorasik.
Cicipi juga lezatnya sajian kuliner ayam ingkung yang otentik.

Minggu, 27 Maret 2016
Titik kumpul: Malioboro

MARI MEMBATIK DAN MENJAGA WARISAN BUDAYA

Info lebih lanjut
WA 085643510707, 085643388197
Facebook: Eksplorasik

**Hasil karya dapat dibawa pulang sebagai souvenir.

Indonesia, Traveling

Lombok Bukan Cabe

Saya teringat sebuah kaus oblong milik suami yang tersimpan rapi di lemarinya. Kaus hitam dengan gambar cabe merah itu bertuliskan ‘Lombok bukan cabe’, sebuah oleh-oleh saat ibu mertua dinas ke Lombok. Meskipun di Jawa kata lombok berarti cabe, namun nama pulau Lombok di provinsi Nusa Tenggara Barat memang tidak ada hubungannya dengan cabe.

“Lombok itu berasal dari kata lomboq (baca: lumbu) yang berarti lurus,” kata Riyal, pemandu kami di Desa Sembalun, Lombok Timur. Melalui Wikipedia, saya mencari tahu lebih lanjut tentang asal nama Lombok yang ternyata tertuang dalam kitab Negara Kertagama. Kata Lombok ditulis berdampingan dengan kata ‘sasak’ yang merupakan nama suku asli Lombok. Lombok Sasak Mirah Adhi, begitu yang tertulis dalam kitab karya Mpu Prapanca tersebut.

Dalam tradisi lisan warga setempat kata sasak dipercaya berasal dari kata ‘sa’-saq’ yang artinya yang satu. Kemudian Lombok berasal dari kata ‘lomboq’ yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa’ Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. Banyak juga yang menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus. (Wikipedia)

Demikianlah saya berharap bahwa perjalanan pertama saya ke Lombok ini adalah sesuatu yang lurus yang membawa suatu kebaikan.

***

Perjumpaan pertama saya dengan Lombok mungkin terlalu larut. Karena penerbangan yang tertunda selama dua jam dari Yogyakarta, saya dan kawan baru saya Pungky baru menginjakkan kaki di Bandara Internasional Lombok Praya pada pukul 22.00 WITA. Kala itu bandara sudah sepi, toko-toko di dalamnya pun sudah tutup.

Saya dan Pungky adalah dua dari sepuluh peserta yang akan mengikuti Travel Writers Gathering yang diselenggarakan oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Nusa Tenggara Barat. Sambil menunggu pihak panitia yang menjemput, kami duduk di sekitar area pintu keluar bandara. Terdengar obrolan orang-orang setempat dengan bahasa yang masih asing di telinga. Mereka berbicara dalam bahasa Sasak.

Sejak dahulu saya mengenal bandara, stasiun, maupun terminal bis sebagai tempat yang membahagiakan sekaligus melankolis. Tempat-tempat itu telah sejak lama menjadi saksi banyak perjumpaan maupun perpisahan. Berbicara tentang perjumpaan, saya pun rasanya tak sabar ingin bertemu dengan rekan-rekan peserta lainnya. Mereka ada yang berasal dari Jakarta, Bandung, Batam, dan Sumbawa. Hampir semuanya sudah berada di hotel karena jadwal kedatangan mereka lebih awal.

Malam itu kami dijemput oleh Pak Man. Selama perjalanan dari Praya menuju Mataram, Pak Man banyak bercerita tentang Lombok. Ternyata Pungky pun baru kali pertama mengunjungi Lombok sehingga kami berdua khusyuk mendengarkan cerita Pak Man. Beberapa hal yang diceritakan di antaranya tentang macam-macam bahasa Sasak dan tradisi kawin culik suku Sasak. Sambil bercanda, Pak Man sempat menyebutkan bahwa mungkin inilah satu-satunya penculikan di dunia yang tujuannya untuk kebaikan.

Dalam tradisi Sasak, jika seorang wanita dan pria lajang sudah saling menyukai, mereka akan bersepakat mengenai waktu penculikan. Rencana ini bersifat sangat rahasia karena jika ada yang tahu, dikhawatirkan ada pihak lain yang berusaha menggagalkan rencana (misalnya pria lain yang mengincar wanita tersebut). Oleh karenanya, penculikan biasanya dilakukan pada malam hari. Saat diculik, wanita tersebut tinggal bersama keluarga pria atau calon suaminya. Barulah setelah itu keluarga pria mendatangi keluarga wanita untuk mengabarkan bahwa anaknya diculik dan mengutarakan maksud melamar.

Tak terasa kami hampir memasuki Mataram. “Nanti makan malamnya ayam taliwang ya, Mbak.” ujar Pak Man. Saya dan Pungky mengiyakan. Apapun akan kami terima saja karena sudah selarut itu dan kami kelaparan. Apalagi mendengar menu ayam taliwang yang merupakan makanan khas Lombok, tentu kami semakin bersemangat. Ayam taliwang adalah ayam kampung utuh yang digoreng atau dibakar dan diberi bumbu pedas berbahan utama cabe merah. Biasanya ayam taliwang disajikan bersama plecing kangkung yang juga merupakan makanan khas Lombok.

Sesampainya di warung makan, Pak Man langsung memesan dua porsi ayam untuk kami. Saya dan Pungky mengusulkan agar memesan satu porsi saja, khawatir masing-masing dari kami tidak bisa menghabiskan satu ekor ayam utuh.

“Yakin? Ayamnya nggak besar lho,” kata ibu penjual. Namun kami keukeuh memesan satu untuk berdua saja.

Begitu ayam taliwang disajikan…

Jpeg
Ayam taliwang dan kawan-kawannya

Ternyata memang kecil ya ayamnya. Hehehe… Kami baru tahu bahwa ayam kampung yang dimasak untuk membuat ayam taliwang adalah yang berumur tiga sampai lima bulan. Karena melihat gambar di kertas menu, kami salah paham menyangka ayam utuhnya berukuran besar. Sepertinya pemilik warung hanya asal ambil foto dari Google. 😀 Kami pun kemudian setuju untuk memesan satu porsi lagi.

Nama Taliwang sebenarnya berasal dari nama salah satu kampung di Mataram, yaitu Karang Taliwang. Kampung ini berada di wilayah kecamatan Cakranegara. “Kampungnya hanya di belakang sana, Mbak. Dekat kok,” ujar Pak Man sambil tangannya menunjuk ke arah belakang warung. Saya dan Pungky memberi anggukan.

Tak banyak percakapan yang keluar saat prosesi makan malam itu. Nampaknya kami sama-sama menghayati. Saya juga hanya sempat mengambil sedikit gambar menggunakan ponsel dengan pencahayaan yang minim. Sesekali Pak Man memberikan penjelasan ini-itu mengenai sajian yang ada di hadapan kami. Ada nasi, ayam taliwang, plecing kangkung, sambal beberuk terong, serta dua macam sambal cocolan ayam yaitu pedas dan manis. Sebagai orang Sunda, saya merasa sangat cocok dengan salah satu sajian khas Lombok ini. Pasalnya, rasa pedasnya mengingatkan saya akan kampung halaman. It feels like home.

Hari-hari berikutnya di Lombok, saya dan tim Travel Writers Gathering 2015 bertualang dari pantai sampai ke gunung. Tak lupa jelajah kota Mataram di sela-selanya. Selain itu, yang tidak terlewatkan adalah wisata kuliner. Saya menemukan bahwa kebanyakan makanan di Lombok memang tak jauh dari yang pedas-pedas. Meskipun Lombok bukanlah cabe, namun nampaknya Lombok tak bisa dipisahkan dengan cabe. 😀

Ps. Keseruan bertualang bersama tim Travel Writers Gathering 2015 akan diceritakan dalam tulisan selanjutnya ya. ;)

#twgathering2015 #holidayisLombokSumbawa

1865143963390123180513

 

Indonesia, Traveling

Abang yang Gersang

Penampakan Candi Abang (Foto: Chendra)
Penampakan Candi Abang (Foto: Chendra)

Ekspektasi dan realita memang tak selalu sejalan ya.

Sebelum dilempar pertanyaan, “Mana candinya?” baiklah saya beri tahu. Candi Abang berada di antara gundukan tanah yang sekarang sudah menjadi bukit seperti terlihat pada gambar. Bagi yang paham bahasa Jawa pasti sudah tahu bahwa ‘abang’ berarti merah (bukan abang – adek ya :p). Ya, candi yang terletak di kecamatan Berbah, Sleman, ini memang unik karena konstruksinya menggunakan bata merah alih-alih batu andesit seperti kebanyakan candi hindu yang ditemukan di Jawa. Karena kontur bukitnya ini Candi Abang juga dikenal dengan sebutan Bukit Teletubbies. 😀

Continue reading “Abang yang Gersang”

Indonesia, Traveling

[SumateraTrip-3] Museum yang Terabaikan

Mendengar orang sekeliling berbahasa Minang, saya beberapa kali harus menyadarkan diri sendiri bahwa saya sedang berada di Padang, Sumatera Barat. Iya, tentu sebelumnya saya pernah mendengar juga orang berbahasa Minang, namun tidak masif seperti ini. Hehe… Bagi saya, mendengar orang bercakap-cakap dengan bahasa daerah ini menyenangkan. Nadanya yang khas rasanya enak didengar.

Continue reading “[SumateraTrip-3] Museum yang Terabaikan”

Asia, Traveling

Korea Banget!

Dear Readers,

Tulisan ini saya repost dari blog lama saya di Multiply. Awalnya tulisan ini berjudul ‘Hal-hal SEPELE di Korea yang Jarang (atau mungkin tidak) Ditemukan di Indonesia‘. Hehe.. Tapi rasanya sudah capek duluan membaca judulnya. Selama setahun tinggal di Korea (2007), setidaknya saya jadi tahu beberapa kebiasaan yang ada di Korea yang jarang atau mungkin tidak ditemukan di Indonesia. Hal-hal ini bisa jadi bukan hal penting, tapi bisa jadi penting juga. Bisa dikira sepele, tapi berarti juga. 😀 Let’s check it out!

Continue reading “Korea Banget!”

Other Stories

Bahasa yang Serupa Tapi Tak Sama

Kali pertama punya teman orang Malaysia adalah sewaktu pertukaran pelajar di Korea 2007 lalu. Sebelumnya sudah pernah dengar sih orang berbicara bahasa Melayu. Kedengarannya hampir sama dengan Bahasa Indonesia, tapi akhirannya banyak pake huruf “e” istead of “a”.

Saya kira hanya itu perbedaannya.

Continue reading “Bahasa yang Serupa Tapi Tak Sama”