Menjelajahi Rijksmuseum Amsterdam

Dengan kartu ‘sakti’ bernama Museumkaart, selama 2013 – 2014 saya berkesempatan mengunjungi lebih dari sepuluh museum di Belanda. Dari semuanya, saya sangat menikmati setiap kunjungan karena masing-masing museum menawarkan cerita dan keunikan tersendiri. Kali ini saya mulai dengan salah satu museum di Amsterdam dan salah satu museum yang menjadi icon Belanda, yaitu Rijksmuseum.

Rijksmuseum (tampak luar) pada musim panas 2014 (foto: Chendra)
Rijksmuseum (tampak luar) pada musim panas 2014 (foto: Chendra)

Pernah melihat orang-orang foto di depan tulisan I Amsterdam saat bertamasya ke Belanda? Kalau bukan di bandara Schiphol, berarti ia berfoto di depan Rijksmuseum Amsterdam. Museum ini terletak di Museumstraat 1. Jika berangkat dari Stasiun Amsterdam, menuju museum ini sangat mudah karena tinggal sekali naik tram, salah satunya tram nomor 5. Atau jika gemar berjalan kaki, opsi ini pun bisa dipertimbangkan.

Museum ini sudah berusia lebih dari 200 tahun. Sebelum berlokasi di gedung yang hingga saat ini digunakan, Rijksmuseum pernah beberapa kali berpindah tempat. Gedung bergaya neo-Renaissance yang saat ini berdiri adalah hasil karya arsitek Belanda Petrus J. H. Cuypers. Kawasan sekitar Rijksmuseum hampir selalu ramai oleh seniman jalanan dan orang-orang yang bersantai di rerumputan maupun mengobrol di pinggiran kolam. Ditambah lagi sepeda, becak, dan kendaranaan tak bermotor lainnya yang kerap lalu lalang.

Biaya masuk ke museum ini adalah 15 euro. Tiket dapat dibeli langsung di loket di dalam museum. Jika memiliki Museumkaart, kita tinggal menunjukkan kartunya agar langsung dipindai oleh petugas. Meskipun saya tidak pernah antre untuk membeli tiket, namun jika sedang musim liburan atau akhir pekan, biasanya saya tetap harus antre untuk terlebih dahulu menitipkan tas dan jaket di loket penitipan barang. Antrean ini terkadang sama panjangnya dengan antrean penjualan tiket.

Tentu yang terpenting dari sebuah museum adalah isinya. Secara keseluruhan terdapat 80 ruang yang menampilkan 8.000 karya seni dan sejarah di museum ini. Saya beruntung mengunjungi Rijksmuseum setelah museum ini selesai dipugar pada April 2013. Kabarnya pemugaran itu memakan waktu sekitar sepuluh tahun. Dari peta museum yang diperoleh di bagian informasi, dapat terlihat bahwa ruang-ruang di museum ini dibagi berdasarkan wilayah (misalnya Asia dan Eropa) dan periode waktu. Beberapa karya seni yang menjadi sorotan di antaranya ialah lukisan ‘The Night Watch’ atau de Nachtwacht (Rembrandt van Rijn, 1642) dan Self-portrait (Vincent Van Gogh, 1887).

DSC00577n
Five Javanese Court Officials

Bagi saya sendiri, yang paling menarik adalah melihat beberapa koleksi yang berkaitan dengan Indonesia. Di salah satu ruangan, terdapat lukisan berjudul ‘Five Javanese Court Officials’ (Anonim, 1820 – 1870). Lukisan tersebut bukan dilukis dari model/tokoh sebenarnya, melainkan merupakan gambaran tipikal pakaian pejabat Jawa pada saat itu. Dijelaskan di lukisan tersebut bahwa istilah ‘clothes make the man’ juga berlaku di Indonesia. Motif batik yang dikenakan seseorang menunjukkan tidak hanya asal daerah namun juga kedudukan seseorang dalam masyarakat. Di ruangan yang sama, ada pula lukisan Raden Saleh dan Pangeran Diponegoro. Selain lukisan, koleksi dari Indonesia yang dipamerkan di Rijksmuseum adalah beberapa peninggalan seperti arca, salah satunya adalah Makara. Bagaimana benda-benda bersejarah itu bisa ada di tangan Belanda? Itu merupakan suatu isu tersendiri yang menarik untuk didiskusikan.

Beranjak dari koleksi terkait wilayah jajahan Belanda (selain Indonesia atau Hindia Timur, Belanda juga dahulu menguasai Suriname), masih banyak lagi ruang lain yang menyajikan beragam koleksi. Pada sebuah ruangan yang memamerkan lukisan era Hague School or Gray School (1860-1890), saya terpana pada salah satu lukisan berjudul ‘In de maand juli’: een molen aan een poldervaart (‘In the Month of July’: a Windmill on a Polder Waterway). Lukisan tersebut pernah saya ceritakan di tulisan berjudul Summer Days. Saat berada di toko souvenir di lantai dasar, saya menemukan kartupos bergambar lukisan tersebut dan mengirimkannya untuk suami saya yang saat itu berada di Indonesia.

Menjelajahi Rijksmuseum tidak cukup jika hanya satu – dua jam. Jika ingin benar-benar menjelajahi keseluruhan bagian dari museum, saya rasa sehari penuh pun belum tentu cukup. Saya tiga kali mengunjungi museum ini dan merasa masih kurang. Tidak hanya koleksinya yang lengkap, penyajiannya yang tertata rapi, deskripsi yang informatif, dan berbagai fasilitas yang mendukung juga membuat kunjungan ke museum ini menyenangkan. Ditambah lagi, interior gedung museum yang apik menjadi satu point of interest tersendiri.

Beberapa referensi:

http://www.nesoindonesia.or.id/berita/2013/april/rijksmuseum-amsterdam-kembali-dibuka

https://www.rijksmuseum.nl/en/

1865143963390123180513

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Bagus mbak ……Wah…sudah tiga kali ya ke Rijkmuseum-nya. Saya sudah lama di sini malah baru sekali ke sana. Itu pun sebelum dipugar. Jadi pengin ke sana lagi euy!

    Like

  2. maisya says:

    Iya, Mbak. Boleh tuh ke sini lagi untuk lihat koleksi dan bangunannya yang sudah lebih bagus. 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s