Other Stories

Bahagia, Takut, dan Syukur

photo6109174831044996348
Berdua jadi bertiga (Kiri: April 2020, Kanan: Des 2020)

Beberapa tahun silam, saya pernah melihat sebuah unggahan yang muncul di explore Instagram. Ada seorang influencer, ibu dengan satu anak, yang curhat karena sempat merasa terkejut, sedih, dan belum siap dengan kehamilan anak kedua. Waktu itu anak pertamanya belum genap berusia dua tahun.

Katanya, ia masih ingin mencurahkan rasa sayangnya untuk si anak pertama.
Katanya, ia punya berbagai rencana yang ingin ia wujudkan dengan anak pertamanya.
Dan sebagainya..

Sebagian komentar menyemangati dan memvalidasi perasaan si Ibu. Lainnya? Bisa ditebak ya, jempol warganet kadang kejamnya sungguh luar biasa. Tapi, intinya, banyak juga yang bilang ibu itu tidak bersyukur. Padahal di luar sana, masih banyak ibu yang mendambakan hadirnya keturunan.

Continue reading “Bahagia, Takut, dan Syukur”

Other Stories

Akhirnya punya asisten rumah tangga

Sebelum punya anak, memiliki asisten rumah tangga (ART) yang menginap di rumah tidak pernah masuk daftar kebutuhan kami. Kami pernah punya ART yang pulang-pergi, bekerja seminggu 2-3 kali. Mungkin hanya sekitar setahun, sisanya ya kami mengerjakan segala pekerjaan rumah berdua (catatan: baju yang perlu disetrika kami kirimkan ke jasa laundry terdekat haha..).

Pilihan memiliki asisten yang menginap mulai muncul ketika:
1) putri pertama kami lahir,
2) situasi sedang pandemi (tidak berani mempekerjakan asisten yang pulang pergi karena sulit mengontrol kegiatan di luar dan protokol kesehatannya).

Kami maju-mundur untuk memutuskan hal tersebut. Sampai dengan usia K tujuh bulan, dengan segala jungkir baliknya, kami masih sanggup mengelola kehidupan sehari-hari kami, yaitu bekerja dari rumah (WfH), mengurus bayi, dan melakukan pekerjaan domestik.

Continue reading “Akhirnya punya asisten rumah tangga”
Other Stories

Apa Kabar Selama Pandemi?

Sempat galau waktu cuti melahirkan mau selesai beberapa bulan lalu. Rencana sebelumnya, K akan dititipkan di day care dekat kantor selama saya bekerja. Tapi dengan kondisi pandemi, tentu daycare langsung dicoret dari rencana (kebanyakan daycare tutup, tapi ada juga beberapa yang sudah kembali buka). Saya dan suami juga belum mantap untuk punya asisten rumah tangga (ART) di rumah, jadi ya semua dikerjakan berdua.

2018 & 2020 – berfoto di pinggir sawah yang sama dekat rumah

Alhamdulillah.. kabar baik datang pada akhir Juni lalu. Meskipun kantor saya sudah mulai menerapkan bekerja di kantor lagi dengan sistem shift, ibu hamil dan ibu yang punya anak kecil boleh tetap bekerja dari rumah. ❤ Jadilah selama empat bulanan ini, kegiatan di rumah aja makin heboh dengan saya dan suami yang work from home (WFH) sambil mengasuh bayi. Semoga bisa cerita tentang up and down WFH with baby di tulisan terpisah ya.

Continue reading “Apa Kabar Selama Pandemi?”

Other Stories

Hamil dan Melahirkan di Masa Pandemi

Saat hamil 32 minggu

Beberapa pekan terakhir sebelum melahirkan, rumah sakit telah memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat. Cek suhu tubuh sebelum masuk, physical distancing, dsb, termasuk dokter pun mengenakan APD saat memeriksa pasien. Kontrol ke rumah sakit rasanya menjadi saat yang mendebarkan. Kontrol yang seharusnya sepekan sekali, akhirnya agak dikurangi, selama pergerakan bayi di dalam perut masih aktif. Dalam periode tersebut, saya juga periksa ke bidan alih-alih ke rumah sakit untuk menghindari keramaian.

Continue reading “Hamil dan Melahirkan di Masa Pandemi”

Other Stories

Sudah Bahagia?

“Waah udah bahagia ya, sekarang udah punya anak.”⁣⁣

Beberapa kali kami mendapat komentar yang kurang lebih sama. Kami percaya, tidak ada maksud yang tidak baik dari kalimat tersebut.
⁣⁣
Alhamdulillaah.. sebelum dikaruniai anak pun kami berusaha untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang Allah berikan, karena sejatinya rezeki itu berbagai macam bentuknya. ⁣⁣
⁣⁣
Alhamdulillah dikaruniakan kesehatan, pasangan yang baik, keluarga yang suportif, pekerjaan, waktu luang untuk melakukan hal-hal yang semoga bermanfaat, dan masih banyak lagi.⁣⁣

Continue reading “Sudah Bahagia?”
Other Stories

Silent, please…

Grateful to start this year with the opportunity to learn another language: sign language. A few years ago, I watched a video of Jenny, one of Couchsurfing (https://www.couchsurfing.com/) members, who have traveled around to the world and learned various sign languages along the way (search on YouTube: ‘Couchsurfing through a silent world’). She herself is deaf and of course traveling solo is not as easy as for common travelers (I’ve also shared about her video in this post). ⁣

Continue reading “Silent, please…”

Other Stories

Jalan

IMG_0342-2

Dulu sewaktu kuliah di Jogja selama empat tahun, saya pernah punya cita-cita suatu saat bisa menetap di kota ini.⁣

Ya, suatu saat. Entah berapa tahun lagi. Dua puluh lima tahun mungkin. Setelah saya menjalani karier yang saya impikan. Setelah saya keliling dunia. Setelah saya lelah dengan hiruk-pikuk kota metropolitan, saya ingin kembali ke Jogja.⁣

Nyatanya, jalan membawa saya kembali ke Jogja hanya empat tahun setelah saya meninggalkan kota ini. Saya pindah bersama suami, menanggalkan KTP lama dan resmi menjadi penduduk Jogja. ⁣

Continue reading “Jalan”

Other Stories

Tips Gagal

WhatsApp Image 2019-02-10 at 22.21.18Pada akhir 2017, saya membaca beberapa artikel yang menginspirasi dan membuat saya merenung, salah satunya tulisan yang berjudul ‘A Year of Buying Nothing’. Sang penulis mempraktikkan hidup setahun dengan hanya membeli barang-barang yang dibutuhkan (umumnya kebutuhan rutin seperti sabun, sampo, dsb), membuat daftarnya sejak awal tahun, dan konsisten pada daftar tersebut.

Wah, boleh juga nih dicoba, pikir saya. Meskipun, pikir saya lagi, agak sulit menerapkan batasan untuk pembelian buku. Selalu saja ada buku yang menarik setiap saat. Ya sudah, kita mulai dari pembelian pakaian saja bagaimana?⁣

Continue reading “Tips Gagal”

Asia, Other Stories, Traveling

Makkah dan Madinah: Dua Persinggahan

img_20181015_055924_hdr-01.jpeg
Ka’bah di Masjidil Haram

Suatu siang, di antara lautan manusia di Masjidil Haram, air mata ini tertahan. Kemudian tak lama, tangis pecah. Tangis dalam sunyi. Tangis di antara entah berapa puluh ribu manusia yang terpekur menunduk ke tempat sujud di sekeliling Ka’bah.

Sunyi di antara takbir, i’tidal, dan sujud. Tangis di antara lantunan ayat-ayat Alquran dan bacaan-bacaan shalat yang dilafalkan lirih. Rasa sedih yang seringkali datang membuncah ketika mengingat bahwa semua ini takkan lama. Bahwa Makkah dan Madinah ini hanyalah persinggahan untuk kemudian kami melanjutkan hari-hari sebagaimana biasa.

Continue reading “Makkah dan Madinah: Dua Persinggahan”