Makan Tanpa Gadget

Dahulu kala, makan tanpa gadget adalah hal yang wajar. Namun saat ini gadget biasanya ‘dibutuhkan’ entah itu untuk mengambil foto makanan, check in di media sosial, dan lain sebagainya. Penggunaan gadget seperti ponsel juga tak hanya dilakukan sebelum makan, bahkan saat makan pun terkadang sesekali tangan kita menggapai ponsel demi membalas pesan teks, update status, melihat-lihat…

Married at First Sight?

Rasanya kita sudah tak asing ya dengan ungkapan love at the first sight atau cinta pada pandangan pertama. Tetapi bagaimana kalau menikah pada pandangan pertama? Married at First Sight adalah nama program televisi yang saat ini sedang tayang di Lifetime Asia. Tayangan musim pertama yang ditayangkan adalah Married at First Sight Australia dan Married at…

Udah ‘isi’?

“Kapan hamil?” Tanya seseorang sambil tiba-tiba memegang perut saya. Kejadian itu berlangsung di sebuah acara pernikahan seorang kerabat. “Kalau tahu sih pasti saya kasih tahu. Sayangnya saya nggak tahu.. karena itu kan kehendak dan rahasia Allah,” jawab saya sambil tersenyum. Si Mbak yang bertanya pun langsung terdiam. Beberapa detik setelah mengucapkan kalimat itu saya langsung…

Wedding and Marriage

Tadi siang sambil menyantap hidangan makan siang di suatu simposium, muncullah sebuah diskusi tentang pernikahan antara saya dan dua rekan saya yang juga hadir pada acara tersebut. Pada awalnya Ine yang duduk di sebelah saya membahas betapa inginnya ia mengadakan pesta pernikahan bertema alam, unik, private, dan tentunya khidmat. Saya? Tentu saya juga mau. Hehe…..

Perfect

“We come to love not by finding a perfect person, but by learning to see imperfect person perfectly.” (‘Up’ movie) Krakow – Poland, Spring 2014 Love is in the air…

LDR Lintas Zaman

“Cha, sama suami biasanya komunikasi pakai apa? Skype?”  Kira-kira begitulah pertanyaan salah seorang teman saya beberapa bulan lalu, saya lupa tepatnya kapan. Saat itu saya masih berkuliah di Groningen, Belanda. Percakapan via whatsapp mengalir setelah itu. Ia bercerita bahwa suaminya akan ditugaskan ke luar negeri dan ia sedang bersiap untuk menjalani Long Distance Relationship alias…

Dua Jam

Menurut jadwal penerbangan, hari ini suami saya tiba di Amsterdam pukul 06.45 pagi. Ditambah menunggu bagasi dan lain-lain, perkiraan saya ia akan keluar dari terminal kedatangan sekitar pukul 07.30. Saya tahu saya pasti tidak bisa on time tiba di sana meskipun naik kereta paling pagi dari Groningen. Yah menunggu satu jam tidak apa-apa deh ya, semoga…

Pergi untuk Kembali (Catatan Cinta untuk Mama & Papa)

Membaca buku “Long Distance Love” karya Mbak Imazahra dkk sedikit banyak membuat saya bercermin akan hal-hal yang juga terjadi dalam kehidupan saya. Salah satunya lewat tulisan Mas Alan (suami Mbak Shanty dan papanya Iyog) yang berjudul “Saat Sang Anak Pergi”. Sungguh…sebelumnya memang tak terpikirkan dalam benak saya bahwa kepergian seorang anak bisa berarti sangat mendalam…

Hidup Susah

Istri: “Tenang aja… Aku bisa diajak hidup susah.” Suami: “Iya.. kalau soal itu udah nggak diragukan lagi kok. Tapi nggak ada kan orang yang mau hidup susah terus.” Hehehe… good point! 😀

Summer Days

The postcard I’m gonna send to my hubby was reprinted from this painting by Paul Gabriël titled ‘In de maand juli’: een molen aan een poldervaart (‘In the Month of July’: a Windmill on a Polder Waterway). This painting caught my attention because it was among other paintings with gloomy colors — mostly gray —…

Random Facts about My Wedding

Seminggu setelah hari pernikahan saya dan Chendra pada 28 Desember 2013, saya sudah harus terbang lagi ke Belanda. Hal itu memang sudah direncakan sejak lama dengan mengacu pada kalender akademik kampus. Tanggal 6 Januari 2014 kegiatan perkuliahan dimulai kembali dan mengingat sudah mendekati ujian, rasanya riskan untuk memperpanjang libur. Saya mengenal Chendra sejak 2002, kami…

Menunggu

“Menjadi jelas bagiku, Amba. Soal menunggu, maksudku. Ketika kita bicara tentang menunggu, kita tidak berbicara tentang berapa jam, berapa hari, berapa bulan. Kita berbicara tentang titik di mana kita akhirnya memutuskan untuk percaya.” (Surat Bhisma kepada Amba dalam novel ‘Amba’ karya Laksmi Pamuntjak, 2012)