Books, Review

I am Sarahza

whatsapp-image-2018-05-03-at-17-16-08-e1525343579403.jpegDi mana ada harapan, di situ ada kehidupan.

 

Sekitar tahun lalu, saya pernah membaca salah satu post Hanum Salsabiela di akun instagramnya. Ia bercerita singkat tentang bagaimana ikhtiarnya dan suaminya, Rangga Almahendra, menanti keturunan selama lebih dari sepuluh tahun. Di akun instagramnya, pernah juga saya membaca cerita tentang sepasang nenek dan kakek yang tidak sengaja mereka temui di Kaliurang. Waktu itu, Hanum baru saja menjalani program kehamilan, namun belum berhasil. Kepada kakek dan nenek tersebut, Rangga, suami Hanum, memberikan sedekah beberapa lembar rupiah, yang ternyata sebagian dari uang tersebut disedekahkan lagi oleh nenek dan kakek ke kotak amal masjid. Allah Mahatahu dari mana jalan kita mendapatkan rezeki. Bisa jadi dari sedikit harta yang kita sedekahkan, mungkin juga dari doa tulus orang-orang tak dikenal yang kita bantu.

Continue reading “I am Sarahza”

Advertisements
Other Stories

Makan Tanpa Gadget

Dahulu kala, makan tanpa gadget adalah hal yang wajar. Namun saat ini gadget biasanya ‘dibutuhkan’ entah itu untuk mengambil foto makanan, check in di media sosial, dan lain sebagainya. Penggunaan gadget seperti ponsel juga tak hanya dilakukan sebelum makan, bahkan saat makan pun terkadang sesekali tangan kita menggapai ponsel demi membalas pesan teks, update status, melihat-lihat newsfeed media sosial, atau berselancar di internet untuk kepentingan lain. Kita melakukannya seolah hal itu tidak bisa ditunda. Padahal semua itu bisa menunggu kan? Lagipula sebenarnya pesan di chat atau isi di media sosial juga tak selalu hal penting. Terlebih lagi, di depan kita ada orang di dunia nyata yang bisa diajak mengobrol. Kenapa nggak ngobrol sama orang beneran aja?

Saat melihat iklan IKEA ini, saya jadi teringat kebiasaan saya dan suami dulu saat belum menikah.

Setiap pergi jalan-jalan atau makan di luar, kami bersepakat untuk membayar masing-masing (hal ini pernah saya ceritakan juga di tulisan The Heart Inside The Heart). Terkadang memang membayar sendiri-sendiri, tapi tidak jarang juga kami bayarnya bergantian. Misalnya hari ini dia yang bayar, maka saya akan membayar saat kita makan di luar selanjutnya. Yah jadinya kesadaran aja sih. Hehe..

Pada suatu hari kami menyadari bahwa kami sudah menjadi korban gadget. Meskipun kami sedang bertemu dan makan bersama, kami sibuk dengan ponsel masing-masing. Padahal kami bertemu seminggu sekali aja belum tentu ya. Kemudian kami memutuskan membuat tantangan untuk menaruh ponsel di atas meja makan. Ponsel itu tidak boleh digunakan (kecuali kalau ada panggilan masuk) selama kami makan dan duduk di meja itu. Maksudnya supaya kami memanfaatkan waktu untuk mengobrol alih-alih asik dengan ponsel masing-masing.

Konsekuensinya, siapapun yang memegang (dan menggunakan) ponsel duluan saat makan, maka dia yang harus membayar makan. 😀

Walaupun pasti ikhlas aja sih bayarin makan, tapi kami jadi merasa tertantang. Dan hal itu setidaknya cukup membantu kami untuk punya waktu yang berkualitas.

Kalau melihat hari-hari kami sekarang, ya terkadang masih suka asik dengan gadget masing-masing. Namun, salah satu dari kami tidak sungkan untuk mengingatkan atau meminta menaruh gadget demi mengobrol atau sekadar fokus menonton film atau acara TV yang sedang ditonton bersama.

Karena sudah menikah, tantangan zaman dulu udah nggak berpengaruh lagi. Hehe.. Soalnya dompetnya sekarang udah digabung cyiiin… :p

Nah kalau kamu, berani coba tantangan semacam phone-less table ala IKEA ini nggak?

1865143963390123180513

Movies, Review

Married at First Sight?

Rasanya kita sudah tak asing ya dengan ungkapan love at the first sight atau cinta pada pandangan pertama. Tetapi bagaimana kalau menikah pada pandangan pertama?

Married at First Sight adalah nama program televisi yang saat ini sedang tayang di Lifetime Asia. Tayangan musim pertama yang ditayangkan adalah Married at First Sight Australia dan Married at First Sight US. Setelah pada awalnya saya tak sengaja menonton, saya jadi dibuat penasaran untuk menonton kelanjutannya. Acara ini sebenarnya bukan sekadar acara perjodohan melainkan merupakan eksperimen sosial (bahkan beberapa pihak menyebutnya extreme social experiment) dimana beberapa ahli di bidang Psikologi dan Hubungan menjodohkan beberapa pasangan untuk menikah berdasarkan kriteria yang telah mereka pelajari sebelumnya. Will it work?

Continue reading “Married at First Sight?”

Other Stories

Udah ‘isi’?

Foto: http://www.telegraph.co.uk/
Foto: http://www.telegraph.co.uk/

“Kapan hamil?” Tanya seseorang sambil tiba-tiba memegang perut saya. Kejadian itu berlangsung di sebuah acara pernikahan seorang kerabat.

“Kalau tahu sih pasti saya kasih tahu. Sayangnya saya nggak tahu.. karena itu kan kehendak dan rahasia Allah,” jawab saya sambil tersenyum.

Si Mbak yang bertanya pun langsung terdiam.

Beberapa detik setelah mengucapkan kalimat itu saya langsung heran pada diri saya sendiri. Dari mana saya mendapat keberanian untuk bicara seperti itu? Saya biasanya hanya tersenyum dan berkata, “Doakan saja ya.”

Continue reading “Udah ‘isi’?”

Other Stories

Wedding and Marriage

Tadi siang sambil menyantap hidangan makan siang di suatu simposium, muncullah sebuah diskusi tentang pernikahan antara saya dan dua rekan saya yang juga hadir pada acara tersebut. Pada awalnya Ine yang duduk di sebelah saya membahas betapa inginnya ia mengadakan pesta pernikahan bertema alam, unik, private, dan tentunya khidmat. Saya? Tentu saya juga mau. Hehe.. Tetapi bagi saya kehebohan persiapan sekaligus pelaksanaan resepsi pernikahan itu sudah lewat.

Continue reading “Wedding and Marriage”

Other Stories

LDR Lintas Zaman

10177309_10151931271382396_2012512049181598479_n
Foto: Erin

“Cha, sama suami biasanya komunikasi pakai apa? Skype?”  Kira-kira begitulah pertanyaan salah seorang teman saya beberapa bulan lalu, saya lupa tepatnya kapan. Saat itu saya masih berkuliah di Groningen, Belanda.

Percakapan via whatsapp mengalir setelah itu. Ia bercerita bahwa suaminya akan ditugaskan ke luar negeri dan ia sedang bersiap untuk menjalani Long Distance Relationship alias LDR. Pertanyaan-pertanyaan seputar platform berkomunikasi, perbedaan waktu, dan lainnya, dibahas santai tapi serius. Untuknya, ini adalah kali pertama mereka LDR. Saya tahu ini pasti tidak mudah. Ada rasa sedih dan khawatir. Terlebih ia dan suaminya sudah memiliki buah hati.

Ngomong-ngomong tentang LDR, dalam sebuah tulisan yang saya tulis awal tahun ini, saya sedikit bercerita bagaimana saya dan suami (sejak sebelum menikah) selalu akrab dengan jarak, sampai akhirnya kami menikah dan harus berpisah lagi. Tetapi, saat sudah pernah bersama kemudian berpisah, rasanya memang lebih berat.

Continue reading “LDR Lintas Zaman”

Other Stories

Dua Jam

IMG-20140803-WA0024-1 (1)
Bersama suami di kereta menuju Groningen

Menurut jadwal penerbangan, hari ini suami saya tiba di Amsterdam pukul 06.45 pagi. Ditambah menunggu bagasi dan lain-lain, perkiraan saya ia akan keluar dari terminal kedatangan sekitar pukul 07.30. Saya tahu saya pasti tidak bisa on time tiba di sana meskipun naik kereta paling pagi dari Groningen. Yah menunggu satu jam tidak apa-apa deh ya, semoga ia tidak keberatan.

Yang lupa saya perhitungkan adalah bahwasanya pada akhir pekan, kereta paling pagi adalah pukul 06.46. Ditambah lagi ada perbaikan jalan kereta sehingga penumpang harus naik bus yang disediakan pihak NS (perusahaan kereta Belanda) sampai stasiun Assen kemudian baru dari sana naik kereta sampai Zwolle dan ganti kereta dari Zwolle menuju Schiphol. Oleh karenanya, total perjalanan yang biasanya 2,5 jam menjadi tiga jam.

Continue reading “Dua Jam”

Other Stories

Pergi untuk Kembali (Catatan Cinta untuk Mama & Papa)

Mama dan Papa pada akad nikah saya dan Chendra, 28 Desember 2013
Mama dan Papa pada akad nikah saya dan Chendra, 28 Desember 2013

Membaca buku “Long Distance Love” karya Mbak Imazahra dkk sedikit banyak membuat saya bercermin akan hal-hal yang juga terjadi dalam kehidupan saya. Salah satunya lewat tulisan Mas Alan (suami Mbak Shanty dan papanya Iyog) yang berjudul “Saat Sang Anak Pergi”.

Sungguh…sebelumnya memang tak terpikirkan dalam benak saya bahwa kepergian seorang anak bisa berarti sangat mendalam bagi orang tua. Kepergian seorang anak bisa menjadi adegan yang benar-benar dramatis, bukan sekadar sesuatu yang didramatisasi.

Continue reading “Pergi untuk Kembali (Catatan Cinta untuk Mama & Papa)”