Other Stories

Pulang ke Bekasi

PXL_20211019_235126633

Salah satu highlight tahun 2021 adalah mudik ke Bekasi. Ini adalah kali pertama sejak pandemi, sekaligus kali pertama sejak K lahir. Qadarullah eyang K sakit. Siang kami mendapat kabar kondisi beliau, sorenya tes antigen ke lab, malam packing, dini hari berangkat pukul 01.30. Kala itu rasanya campur-campur: senang mau pulang setelah sekian lama, namun sedih juga mengingat kami pulang karena orang tua sakit.

Karena kali pertama perjalanan jauh dengan K, deg-degan juga, bisa nggak ya dia anteng duduk di car seat? Ribet nggak ya di jalan? Maklum, untuk kedua orang tuanya, ini pun kali pertama melakukan perjalanan darat yang terbilang jauh dengan anak. Saat itu usia K baru menginjak 17 bulan.

Keberangkatan
Dini hari itu, K diboyong dari kasur ke mobil setelah sebelumnya saya susui dulu pada tengah malam. Harapannya, ia bisa tidur dengan nyenyak di perjalanan.

Alhamdulillaah perjalanan tidak seribet yang dibayangkan. Walau ternyata ia terbangun saat dipindahkan ke mobil, ia tidak rewel. Di awal perjalanan, ia asyik memandang ke luar lewat jendela, melihat lampu-lampu kendaraan, ada truk, bus, dan sebagainya. Tak lama, ia tertidur.

Persoalan makan juga awalnya menjadi salah satu yang saya khawatirkan. Namun, ternyata cukup lancar. Pagi hari, kami berhenti di tempat peristirahatan untuk menyantap bekal nasi dan lauk yang sudah kami bawa dari rumah. Sebelumnya, K sudah keburu lapar dan menghabiskan hampir satu porsi roti.

IMG-20211231-WA0027
Bawa sepeda agar K ada kegiatan yang menghibur selama di Bekasi

Selama perjalanan, sesekali saya pindah ke belakang untuk menyusui, kadang sekalian menunggu berhenti di rest area agar lebih tenang dan aman (karena saat menyusui harus lepas seat belt dan car seat). Setelah itu, ia diposisikan kembali di car seat.

Apakah K anteng terus sepanjang duduk di car seat? Tentu tidak! 😄 Kadang dikit-dikit merengek, “Mimik.. mimik..” mungkin karena dia bosan atau mengantuk saja. Ibu dan ayahnya harus kuat mental dan sabar menenangkan, tanpa harus selalu mengikuti rengekannya. Biasanya, kemudian dia tertidur. Kalau mood bagus, dia anteng dan takjub melihat berbagai kendaraan di sekitarnya.

Adaptasi
Kami amati, dalam perjalanan darat maupun selama di Bekasi, K banyak beradaptasi dan belajar hal baru. Dari yang awalnya menangis dan tidak nyaman saat ketemu orang banyak, sampai lama-lama mulai cukup santai di tengah keluarga besar (apalagi di Jogja biasanya hanya berempat dengan Ibu, Ayah, dan Mbak). Di perjalanan juga dia jadi belajar self-soothing karena mau merajuk atau nangis kejer pun, dia tetap harus duduk di car seat.

Sewaktu di Bekasi, saya hanya mengambil cuti tiga hari. Sisanya, saya tetap bekerja dari rumah alias WfH. Hari-hari awal di sana, sungguh bukan hari yang mudah. K sering rewel karena belum terbiasa di tempat baru. Kalau didekati orang dan diajak berinteraksi, ia masih suka menangis dan mencari ibunya. Maunya sama Ibu terus, padahal ibunya juga mau kerja.

Ditambah lagi, ayahnya sering tidak di rumah karena bergantian menemani Eyang yang sedang dirawat di rumah sakit. Rasanya dari pagi sampai malam, badan saya remuk. Physically and emotionally drained menemani K yang mood-nya sedang kurang baik.

PXL_20211009_100832529
Bersepeda di komplek rumah Eyang

Saat kali pertama ke rumah Enin dan Aki, misalnya, ia tiba-tiba nangis kejer dan memeluk Ibu. Kami butuh menenangkannya dulu ke kamar, berpelukan bertiga saja. Lalu setelah menyusu, ia merasa lebih nyaman. Barulah ia berani keluar lagi dan berinteraksi dengan Enin, Aki, dan juga om tantenya. Ia juga bermain bareng sepupu yang seumuran.

Terlepas betapa melelahkannya hari-hari itu, setiap harinya saya juga selalu ngajak ngobrol dan berterima kasih sama K. “Makasih ya, K, sudah berusaha sabar.. Makasih K sudah beradaptasi pelan-pelan.. K hebat!”

Yang Tertinggal

Kepulangan kami ke Bekasi kemarin banyak menorehkan pengalaman dan hikmah. Dua minggu setelah kedatangan kami, Bapak (mertua) berpulang. Innalillahi wainnailaihiroji’un. Bapak meninggal di hari Jumat, hari yang mulia. Semoga Allah mengampuni segala dosa beliau, melapangkan kuburnya, serta menempatkannya di tempat terbaik.

Selain doa, tentu ada rasa sedih dan kehilangan yang mengiringi kepergian Bapak. Namun, kami bersyukur Allah memberikan kesempatan kepada kami, terutama anak-anaknya, untuk mendampingi Bapak di hari-hari terakhirnya. Semoga menjadi amal kebaikan dan bakti kami untuk orang tua.

***

Sekembalinya kami ke Jogja, kami sering mengulang cerita dan berbagai kejadian saat di Bekasi. K sekarang ingat nama-nama anggota keluarga yang ia temui, juga momen-momen yang berkesan untuknya. Sepulang dari Bekasi pula, kosakata K banyak bertambah. Masya Allah. Pas banget sedang masa sensitifnya dengan banyak hal baru, khususnya aspek bahasa dan sosial. Mungkin baginya, bagaikan masuk ke dunia baru dengan lebih banyak tokoh dan petualangan. Dengan segala keterbatasan saat pandemi, semoga K tetap bisa belajar banyak dari sekitarnya.

Epilog

Belakangan K suka tiba-tiba bilang, “Eyang Iman.. sakit.. bobo.. capek..”

Waktu awal mendengarnya, hati ini tiba-tiba rasanya, “Nyesss..” Ada sedih, ada haru. Ayah dan ibunya biasanya terus ngajak K berdoa buat Eyang.

K juga dikasih lihat foto dan video sama Eyang waktu K masih bayi. Sekarang dia sering mengulang cerita waktu dia digendong Eyang sampai ketiduran. :”)

PXL_20211019_224504266

Sungguh, pada waktunya nanti, kita semua akan pulang. Perjalanan pulang kemarin rasanya menjadi intisari dan pengingat untuk mensyukuri dan menyayangi keluarga, berbakti kepada orang tua, serta terus berbuat kebaikan untuk bekal pulang nanti.

signature

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s