Traveling: Sendiri atau Rame-rame?

Sebagian orang memutuskan tidak jadi traveling saat tidak ada teman barengan. Saya sendiri justru agak kebalikannya, tidak akan memaksakan bergabung ke suatu kelompok yang saya belum terlalu kenal/cocok demi bisa ikut pergi ke suatu tempat. Eh kedua kalimat di atas itu kebalikan bukan sih? Hahaha… Yaudah, anggap saja iya ya. *maksa* Salah dua (bukan salah…

Osaka 360 Derajat (bagian 2)

Tempozan Ferris Wheel Seumur-umur saya naik ferris wheel atau kincir sepertinya hanya di Dufan dan di pasar malam saja deh. Jadi mumpung gratisan saya mau banget melihat Osaka dari ketinggian. Tempozan ferris wheel ini letaknya satu area dengan dermaga pemberangkatan Cruise Ship Santa Marina. Tetapi gara-gara terlalu lama antre Tsutenkaku Tower (cerita sebelumnya di SINI),…

Osaka 360 Derajat (bagian 1)

Suhunya 360 derajat? Jelas bukan lah. Walaupun musim panas di Jepang tahun ini konon sampai memakan korban jiwa, alhamdulillah saya bertahan dihantam sinar mentari yang sangat panas dan suhu yang setiap harinya mendekati 40 derajat celcius. Lalu 360 derajat itu apa? Oke, oke..sabar dulu. Nanti kita akan sampai ke cerita itu. 😀 Hari kedua Osaka,…

Ngabuburit di Kobe

Yah…yang ngabuburit sih cuma saya sama Raras aja. Orang Jepang juga nggak nyadar kali ya kalau lagi bulan puasa. Sore itu kami sampai di Kobe pukul 17.30. Ternyata cukup 30 menit saja dari Osaka (cerita sebelumnya di SINI). Karena sedang musim panas, matahari masih bersinar terang dan kami masih bisa jalan-jalan. Tujuan utama kami sebenarnya mau…

Antara Saya dan Koper: Benci Tapi Rindu

(Tulisan ini sebetulnya sebagai upaya membayar utang menulis, menyambung tulisan sebelumnya tentang perjalanan di Kyoto. Oh ya, masih ada janji yang belum terlunasi juga menyambung cerita backpacking Sumatera. Aaarghh..banyak utang!) *** Saya tenggelam di tengah keramaian stasiun subway Karasima-oike di Kyoto. Tenggelam sambil menggeret koper, menggendong ransel, serta menggenggam peta. Koper yang saya bawa pun…

Kyoto Imperial Palace

Jumat pagi di awal bulan Juli, saya terbangun saat kolega saya pamit meninggalkan hotel untuk menuju Kansai International Airport. Saya juga akan check out dari Kyoto Okura Hotel hari itu, tetapi saya sudah berniat mengunjungi salah satu tempat wisata di Kyoto sebelum berangkat menuju Osaka di siang harinya. Saya akan mengunjungi teman saya, Raras, yang…

Lost in Chinese Garden

Singapura bukanlah destinasi wisata favorit saya. Namun ketika ada ekstra satu hari setelah bekerja di sana, tentu saya tak ingin menyia-nyiakannya. Setelah beberapa malam menginap di hotel ‘spektakuler’ (cerita sebelumnya di SINI), Sabtu sore setelah pekerjaan selesai, saya turun kasta dengan menginap di backpacker hostel di daerah Lavender. Saya sebelumnya sudah berencana untuk ke suatu…

Mahal Tak (Selalu) Berarti Nyaman

Selama melakukan perjalanan, saya pernah menginap di hotel bintang lima, hotel biasa-biasa saja, backpacker hostel, berkemah di tengah hutan, berkemah di pinggir pantai, sampai tidur di masjid. Menginap di hotel berbintang tentunya karena ada sponsor, baik saat kuliah maupun bekerja. Dari pengalaman itu, saya merasakan bahwa harga tak selalu mencerminkan kenyamanan. Bisa jadi definisi ‘nyaman’…

Menjadi (Woman) Solo Backpacker

Why solo backpacking? If you ask me, my answer will be simply because I don’t always have traveling mate, backpacking mate or whatever you call it. I have no one to go with. Namun kemudian saya bisa balik bertanya. “Being solo backpacker, why not?” Memang betul, di lingkungan sekitar kita mungkin hal semacam ini bukan…