Eurotrip, Traveling

Traveling: Sendiri atau Rame-rame?

Sebagian orang memutuskan tidak jadi traveling saat tidak ada teman barengan. Saya sendiri justru agak kebalikannya, tidak akan memaksakan bergabung ke suatu kelompok yang saya belum terlalu kenal/cocok demi bisa ikut pergi ke suatu tempat.

Eh kedua kalimat di atas itu kebalikan bukan sih? Hahahaโ€ฆ Yaudah, anggap saja iya ya. *maksa*

Salah dua (bukan salah satu) perjalanan favorit saya adalah backpacking Asia Tenggara bersama Pupu (2010) dan solo backpacking ke Sumatra (2012). Berdasarkan pengalaman, ternyata saya lebih menikmati jalan-jalan sendiri atau dalam kelompok yang amat kecil alias dua orang saja (kalau sudah menikah nanti berduanya bisa sama suami dong ya. Hahaโ€ฆ asiiik..).

Continue reading “Traveling: Sendiri atau Rame-rame?”

Advertisements
Asia, Traveling

Osaka 360 Derajat (bagian 2)

Tempozan Ferris Wheel

Seumur-umur saya naik ferris wheel atau kincir sepertinya hanya di Dufan dan di pasar malam saja deh. Jadi mumpung gratisan saya mau banget melihat Osaka dari ketinggian. Tempozan ferris wheel ini letaknya satu area dengan dermaga pemberangkatan Cruise Ship Santa Marina. Tetapi gara-gara terlalu lama antre Tsutenkaku Tower (cerita sebelumnya di SINI), akhirnya rencana berkapal pesiar ala Syahrini (eh Syahrini sih naik jet pribadi ya?!) pun gagal. Sebenarnya masih ada waktu 15 menit sampai pemberangkatan terakhir. Namun berhubung saya pasti harus sambil membaca peta saat mencari lokasinya, saya pesimis pas sampai sana masih terkejar.

Penampakan Tempozan Ferris Wheel
Penampakan Tempozan Ferris Wheel

Continue reading “Osaka 360 Derajat (bagian 2)”

Asia, Traveling

Osaka 360 Derajat (bagian 1)

Suhunya 360 derajat? Jelas bukan lah. Walaupun musim panas di Jepang tahun ini konon sampai memakan korban jiwa, alhamdulillah saya bertahan dihantam sinar mentari yang sangat panas dan suhu yang setiap harinya mendekati 40 derajat celcius.

Lalu 360 derajat itu apa? Oke, oke..sabar dulu. Nanti kita akan sampai ke cerita itu. ๐Ÿ˜€

Hari kedua Osaka, saya menjadi solo traveler lagi karena Sabtu itu Raras harus pergi bekerja demi sesuap sushi dan segenggam berlian. ย Hari kedua di Osaka namun menjadi hari pertama bagi saya untuk mengeksplor kota ini sebab hari sebelumnya saya hanya numpang istirahat.

Continue reading “Osaka 360 Derajat (bagian 1)”

Asia, Traveling

Ngabuburit di Kobe

Yah…yang ngabuburit sih cuma saya sama Raras aja. Orang Jepang juga nggak nyadar kali ya kalau lagi bulan puasa.

Sore itu kami sampai di Kobe pukul 17.30. Ternyata cukup 30 menit saja dari Osaka (cerita sebelumnya diย SINI). Karena sedang musim panas, matahari masih bersinar terang dan kami masih bisa jalan-jalan. Tujuan utama kami sebenarnya mau berbuka puasa di Masjid Kobe dan malamnya nongkrong cantik di Kobe Port yang katanya indah banget kalau malam hari. Namun sebelum menuju masjid, kami lewat dulu di sebuah kuil yang jujur saja saya bahkan saat itu tidak bertanya nama kuilnya apa. Haha… Yasudah lah, habis banyak banget kuil di Jepang dan kuil itu sepertinya juga bukan kuil termegah di Kobe.

Continue reading “Ngabuburit di Kobe”

Asia, Traveling

Antara Saya dan Koper: Benci Tapi Rindu

(Tulisan ini sebetulnya sebagai upaya membayar utang menulis, menyambung tulisan sebelumnya tentang perjalanan di Kyoto. Oh ya, masih ada janji yang belum terlunasi juga menyambung cerita backpacking Sumatera. Aaarghh..banyak utang!)

***

Saya tenggelam di tengah keramaian stasiun subway Karasima-oike di Kyoto. Tenggelam sambil menggeret koper, menggendong ransel, serta menggenggam peta. Koper yang saya bawa pun bukan koper kecil yang biasanya saya bawa saat ada perjalanan dinas, namun koper yang lebih besar karena meeting kali ini memakan waktu sampai seminggu (dan ditambah belanja oleh-oleh juga :p).

Continue reading “Antara Saya dan Koper: Benci Tapi Rindu”

Asia, Traveling

Kyoto Imperial Palace

Jumat pagi di awal bulan Juli, saya terbangun saat kolega saya pamit meninggalkan hotel untuk menuju Kansai International Airport. Saya juga akan check out dari Kyoto Okura Hotel hari itu, tetapi saya sudah berniat mengunjungi salah satu tempat wisata di Kyoto sebelum berangkat menuju Osaka di siang harinya. Saya akan mengunjungi teman saya, Raras, yang sebelumnya berkuliah di Osaka dan kini bekerja di sana.

Setelah mandi, saya berselancar lagi di internet demi memutuskan akan pergi ke mana pagi itu. Maklum, hari-hari sebelumnya saya disibukkan oleh pekerjaan. Kalaupun ada waktu luang, maka saya berjalan-jalan dan berpartisipasi dalam reality show Uang Kaget. Haha.. (baca ceritanya di SINI)

Continue reading “Kyoto Imperial Palace”

Asia, Traveling

Lost in Chinese Garden

Singapura bukanlah destinasi wisata favorit saya. Namun ketika ada ekstra satu hari setelah bekerja di sana, tentu saya tak ingin menyia-nyiakannya.

Setelah beberapa malam menginap di hotel ‘spektakuler’ (cerita sebelumnya di SINI), Sabtu sore setelah pekerjaan selesai, saya turun kasta dengan menginap di backpacker hostel di daerah Lavender. Saya sebelumnya sudah berencana untuk ke suatu tempat di hari Minggu.

Chinese Garden.

Itulah tujuan saya. Awalnya saya browsing di section ‘nature & wildlife’ di website Your Singapore. Sampailah saya di halaman tentang Chinese Garden. Setelah membaca penjelasan singkat, saya memutuskan untuk ke sana. Chinese Garden ini tempatnya asri dan cocok untuk jogging (sayangnya ada larangan bersepeda). Jadi bisa berolahraga sekaligus menikmati keindahan arsitektur yang sarat akan budaya China. Yang perlu dicatat juga, tidak ada biaya masuk alias gratis. ๐Ÿ˜€

Continue reading “Lost in Chinese Garden”

Asia, Traveling

Mahal Tak (Selalu) Berarti Nyaman

Selama melakukan perjalanan, saya pernah menginap di hotel bintang lima, hotel biasa-biasa saja, backpacker hostel, berkemah di tengah hutan, berkemah di pinggir pantai, sampai tidur di masjid. Menginap di hotel berbintang tentunya karena ada sponsor, baik saat kuliah maupun bekerja. Dari pengalaman itu, saya merasakan bahwa harga tak selalu mencerminkan kenyamanan. Bisa jadi definisi ‘nyaman’ juga memang berbeda bagi setiap orang. Bukankah begitu?

Tempat yang Nyaman Buat Saya Adalah…

Continue reading “Mahal Tak (Selalu) Berarti Nyaman”

Indonesia, Traveling

Menjadi (Woman) Solo Backpacker

Why solo backpacking? If you ask me, my answer will be simply because I donโ€™t always have traveling mate, backpacking mate or whatever you call it. I have no one to go with.

Namun kemudian saya bisa balik bertanya. โ€œBeing solo backpacker, why not?โ€ Memang betul, di lingkungan sekitar kita mungkin hal semacam ini bukan merupakan hal yang biasa. Bisa jadi dianggap aneh atau nyeleneh, bahkan seperti orang kurang kerjaan. Buat saya pribadi, saya melakukan solo backpacking bukan untuk sok keren atau menjadi orang yang anti mainstream.

Continue reading “Menjadi (Woman) Solo Backpacker”