Indonesia, Traveling

Menjelajah Glagah

Jalan kecil menuju Pantai Glagah itu dipenuhi kios di kanan kirinya. Ada yang menjual baju bertuliskan ‘Jogja’ atau ‘Glagah’, ada yang menjual buah-buahan, dan yang paling banyak adalah yang menjajakan makanan khas Glagah, yaitu undur-undur goreng krispi yang oleh para penjualnya ditulis dengan beragam: ada Kentucky undur-undur, Kentucki undur-undur, sampai Kentuchi undur-undur. Aneka penulisan itu cukup membuat saya dan Chendra terhibur sepanjang jalan kenangan itu.

Ini dia Kentuchi undur-undur :D
Ini dia Kentuchi undur-undur 😀 (foto: Chendra)
Ramainya Glagah di hari terakhir liburan sekolah (foto: Chendra)
Ramainya Glagah di hari terakhir liburan sekolah (foto: Chendra)

Continue reading “Menjelajah Glagah”

Advertisements
Indonesia, Traveling

Menyambangi Gili-gili di Lombok

Bercerita tentang Lombok rasanya kurang lengkap tanpa membicarakan gili (pulau kecil), pantai, dan keindahan bawah lautnya. Sebelumnya, saya sudah sering mendengar tentang Gili Trawangan, salah satu gili yang paling banyak dikunjungi turis serta paling banyak dinikmati pantainya. Namun pada kunjungan pertama ke saya ke Lombok, ternyata saya belum berkesempatan berjumpa dengan Gili Trawangan. Meskipun demikian, saya tak terlalu menyesal karena saya dan rombongan Travel Writers Gathering 2015 justru diajak menjelajahi gili-gili yang terbilang lebih sepi, bahkan serasa milik pribadi karena tidak ada turis lainnya di sana. 😀

Dari Mataram, kami bertolak menuju pelabuhan Tanjung Luar. Kalau dilihat di peta Pulau Lombok, maka kita akan menemukan pelabuhan ini terletak di bagian tenggara pulau. Kawasan Tanjung Luar juga merupakan pusat kesibukan untuk aktivitas jual beli ikan. Beragam hasil tangkapan laut ada di sana. Karena ikan-ikan yang dijual adalah hasil tangkapan laut langsung (belum melewati jalur distribusi yang panjang), maka harga jualnya pun cukup miring.

DSC00676
Pelabuhan Tanjung Luar
DSC00688
Keramba
DSC00691
“Hiduplah Indonesia Raya…”

Ditemani seorang pemandu lokal dan dua pemandu dari panitia, yaitu Pak Man dan Pak Hadi, kami memulai perjalanan dari Tanjung Luar. Di tengah laut, kami melintasi beberapa bangunan bambu yang ternyata merupakan keramba lobster. Terlihat sekelompok burung camar yang sedang bersantai di sana. Sebagian terlihat hendak terbang bertualang menikmati keindahan birunya laut Lombok. Selain keramba lobster, kami menemukan pemandangan unik di tengah laut. Bendera merah putih terlihat berkibar dengan gagahnya. Ternyata di sekeliling tiang bendera tersebut terhampar pasir putih yang menghubungkan dua pulau, yaitu Gili Maringkik dan Gili Kambing.  Hamparan pasir itu akan terlihat saat air sedang surut. Di sepanjang pasir itu terdapat pula jejeran tiang listrik sebagai sumber penerangan Gili Maringkik. Saat air tinggi, bagian bawah tiang listrik itu pun ikut terendam air laut.

Hari itu kami habiskan dengan island hopping dan snorkeling di beberapa spot menarik. Berikut cerita keseruannya.

Gili Sunut

Setelah beberapa lama di laut, kapal kami merapat di sebuah pulau tak berpenghuni. Kami begitu tak sabarnya ingin segera turun dari kapal dan bermain-main di pantai dan pasirnya yang putih. Dari kejauhan, saya melihat sisa-sisa bangunan yang menandakan dulunya area ini adalah area pemukiman. Saya dan beberapa teman berjalan ke sana, menyusuri pasir, bebatuan, dan ranting-ranting pohon yang mengering. Saya membayangkan bagaimanakah dulunya kehidupan di pulau ini? Begitu memasuki salah satu reruntuhan rumah, terbayang bahwa dulunya ada sebuah keluarga yang hidup dengan suka cita di sana. Temboknya masih kokoh di beberapa bagian, namun sudah tak berpintu dan berjendela.

Saya tidak memeroleh cerita yang pasti mengapa pulai ini kini tak lagi berpenghuni. Namun kebanyakan cerita menyebutkan bahwa penduduknya direlokasi dengan alasan sulitnya akses serta minimnya fasilitas umum di pulau ini. Entahlah.

Sisa waktu di Gili Sunut kami habiskan dengan menikmati keindahan pemandangan di sekelilingnya serta berfoto ria. Gradasi warna laut yang bertemu dengan biru langit rasanya takkan membuat saya bosan.

Pink Beach

Nama Pink Beach atau Pantai Pink tentu sudah familier di telinga kita. Ternyata Lombok memiliki banyak pantai dengan pasir berwarna merah muda, namun jika disebut Pantai Pink biasanya nama itu merujuk ke Pantai Tangsi. Warna pink pada pasirnya terbentuk karena butir-butir pasir aslinya yang berwarna putih bercampur dengan serpihan karang merah muda. Jadilah perpaduan itu memberikan warna pasir baru yang indah.

Siang itu kawasan Pantai Tangsi terlihat sepi. Warung-warung pun kebanyakan kosong tanpa penjual maupun pembeli. Sepinya aktivitas wisata di pantai ini tidak mengherankan karena Bandara Internasional Lombok baru saja dibuka kembali setelah ditutup selama seminggu lebih akibat aktivitas vulkanik Rinjani.  Mungkin dalam beberapa hari ke depan aktivitas di pantai ini baru akan kembali seperti semula.

Pak Man dan tim pemandu kami ternyata sudah menyiapkan bekal makan siang. Bekal itu diangkut dari kapal dan dibawa ke sebuah (mungkin satu-satunya) warung yang buka. Begitu perbekalan dibuka, rasanya lidah ini langsung menari-nari. Di atas meja sudah tersaji aneka menu boga bahari: ada sotong, ikan bakar, dan ikan kuah kuning. Kelezatan menu itu bertambah nikmat dengan kehadiran plecing kangkung khas Lombok yang rasanya menyegarkan.

Usai makan siang, kami berjalan-jalan ke bukit yang terletak tak jauh dari pantai. Ada beberapa rumah penduduk yang hidup sebagai nelayan dan juga beternak ayam dan kambing. Menikmati pantai pink dari ketinggian memberi kesan yang berbeda. Meresapi alam dalam diam selalu membuat saya begitu kecil dan mengagumi kebesaran Sang Pencipta.

Hujan sempat mampir di Pantai Tangsi siang itu. Kami yang sedang menikmati pemandangan dari bukit pun buru-buru mencari tempat berteduh. Syukurlah ada semacam saung kecil milik sepasang kakek dan nenek yang tinggal di sana. Sejenak kami duduk menanti hujan reda sementara sang kakek dan nenek menyantap makan siang dengan nikmat.  Keduanya pun menawari kami, namun kami hanya mengucapkan terima kasih karena kami sudah makan. Sepiring nasi dan lauk ikan laut nampak dinikmati dengan penuh syukur oleh keduanya.

Sebelum meninggalkan Pantai Tangsi, Pak Hadi mengajak kami menengok sebuah goa. Konon ini adalah goa yang dibangun oleh Jepang. Saat melihat goanya, sebenarnya saya enggan masuk. Dari luar sudah terlihat sampah plastik berserakan. Sayang sekali ya. Namun karena penasaran akhirnya saya masuk. Gelap dan pengap seketika menyeruak. Menurut Pak Hadi, warna pasir di dalam goa lebih bagus daripada pasir di luar sana. Saya sendiri tidak terlalu menyadari perbedaannya. Hehe.

 

Snorkeling

Ada dua lokasi snorkeling yang kami singgahi hari itu, yang pertama adalah Teluk Semangkok. Saat hendak menceburkan diri ke laut, saya baru tahu bahwa tidak ada fin atau kaki katak. Yah semoga saja arusnya tidak deras, pikir saya. Namun ternyata arus di Teluk Semangkok ini cukup kuat. Rasanya kok saya berenangnya nggak maju-maju ya. Huaaa… Tetapi lucunya ternyata tim pemandu membawa semacam rakit kecil. Satu orang duduk di atasnya sambil mendayung kemudian beberapa orang bergantian berpegangan ke bagian belakang rakit. Haha.. Singkat kata, kami mengambang sambil ditarik oleh rakit tersebut. Untuk sementara, kami pun tinggal berleha-leha menikmati kekayaan bawah laut Teluk Semangkok tanpa terlalu banyak mengeluarkan tenaga.

Sebelum hari beranjak terlalu sore, kami menuju lokasi snorkeling selanjutnya yang bernama Gili Petelu. Di sini, kami bisa snorkeling dengan lebih santai karena arusnya terbilang tenang. Lautnya juga tidak terlalu dalam dan di beberapa titik bahkan sebenarnya kaki kami bisa menyentuh dasarnya. Pada kondisi seperti ini justru kita harus lebih berhati-hati agar kaki kita tidak mengenai dan merusak terumbu karang.

 

Menikmati Sunset

Masih ingat bendera merah putih yang terlihat saat kami baru berangkat dari Tanjung Luar? Pada sore hari menjelang matahari terbenam, kapal kami singgah ke sana dan kini kami seolah menemukan daratan yang hilang. Sore itu laut sudah kembali surut dan kami dapat berjalan-jalan di pasirnya yang putih. Di barat sana, matahari tenggelam untuk menyapa kembali keesokan harinya.

Terima kasih untuk hari yang menyenangkan, Lombok. 🙂

1865143963390123180513

Indonesia, Traveling

Cerita Pulau Sebesi di CLARA Magazine

Sebulan yang lalu, saya dikenalkan via email oleh Tidar, salah seorang teman saya, kepada seorang staf redaksi majalah CLARA. Tidar merekomendasikan saya untuk menulis tentang Korea karena konon redaksi CLARA akan memuat liputan mengenai Korea. Kami pun berkenalan via email dan akan saling kontak dalam email thread berbeda. Karena belum dihubungi lagi, beberapa hari kemudian saya email staf redaksi tersebut (sebut saja namanya A) untuk menanyakan syarat penulisan. Ia mengabarkan bahwa untuk tulisan Korea sudah ada penulisnya dan malah meminta saya menulis tentang destinasi dalam negeri jika saya bisa. Saya memberi list tempat-tempat yang pernah saya kunjungi dan ia memilih Pulau Sebesi untuk dimuat di CLARA edisi Desember 2014.

Continue reading “Cerita Pulau Sebesi di CLARA Magazine”

Indonesia, Traveling

Yogyakarta: A Sweet Escape (1)

Saya empat tahun tinggal di Yogyakarta alias Jogja selama kuliah dan nggak pernah bosan untuk terus mengeksplor dan mengunjungi tempat-tempat baru (eh tempatnya sih udah lama ya, saya aja yang baru ke sana). Jogja itu komplit dari pegunungan sampai pantai, dari wisata sejarah sampai penampilan seni, dari makanan tradisional sampai makanan internasional.

Ada satu sih yang menyedihkan: jalanan yang semakin lama semakin dijejali kendaraan pribadi (pemerintah…tolong dong kuantitas dan kualitas fasilitas transportasi publiknya ditingkatkan lagi).

Anyway… Jogja is always a sweet escape, even when you do not need to escape from anything hehe… Jogja is a very nice place to stay (or to live if you want to).

Jadi sebenarnya ini mau ngomongin apa sih?

Continue reading “Yogyakarta: A Sweet Escape (1)”

Asia, Traveling

Mandi Lumpur di Boryeong Mud Festival

Bisa ditebak dari namanya, ‘mud’ alias lumpur berarti tak jauh dari kotor-kotoran. Awalnya saya berpikir, “Apa menariknya sih bermain lumpur?”. Saya mengetahui adanya Mud Festival 2007 ini dari salah seorang teman. “Ya ampun..masa lo nggak tahu, Cha? Bukannya itu terkenal ya? Itu salah satu festival terbesar di Korea yang diadain setahun sekali.” Saya pun mencari infonya di internet. Hasilnya: tetap tidak tertarik.

Continue reading “Mandi Lumpur di Boryeong Mud Festival”

Indonesia, Traveling

Kisah Pulau Mengkudu: ‘Berbincang’ dengan Kakek

Kilas balik. Suatu sore di bulan Agustus 2009. Ah ya…bahkan saya masih ingat tanggalnya: 19 Agustus 2009. Hari itu benar-benar tak terlupakan. Dan hari itu pula saya berniat untuk menuliskan segala sesuatu yang terjadi. Karena segala sesuatu itu adalah hal yang tidak biasa bagi saya.

Continue reading “Kisah Pulau Mengkudu: ‘Berbincang’ dengan Kakek”

Indonesia, Traveling

‘Tertipu’ di Koba

Agustus 2009

Padang ilalang, Pantai Penyak, dan Tugu Kota Koba

Pulau Bangka seakan-akan memiliki matahari sendiri yang membuat udara disana begitu panas. Dua motor sewaan melaju dari Pangkal Pinang menuju kota Koba, salah satu kota di Kabupaten Bangka Tengah. Koba dikenal dengan sebutan kota ikan. Saya juga tidak tahu kenapa, padahal setahu saya semua wilayah di Pulau Bangka kaya akan ikan. Makanan yang terkenal dari kota ini adalah Mie Koba, mie dengan campuran kuah ikan. Saya dan teman-teman tidak berniat mencobanya karena sudah ‘mabuk’ ikan.

Continue reading “‘Tertipu’ di Koba”

Indonesia, Traveling

Dari Malang ke Pulau Sempu

(Masih) Juli 2008

Selamat Datang di Malang!

Kota Malang kalau siang-siang ternyata panas juga ya. Makanya sewaktu melihat es teler Dempo, saya langsung ngiler… Lalu makan bakmi juga. Rasanya boleh lah, tapi juga tidak terlalu istimewa.

Oh ya, update news! Dara yang kemarin ketinggalan dan tak ikut ke Bromo, akhirnya menyusul ke Malang (baca jurnal sebelumnya di SINI). Dia naik kereta dari Jakarta. Ketika Dara datang, teman-temannya langsung komentar, “Waah…parah lo, Dar, temen lo dibiarin sendirian!” Saya sebagai korban hanya cengar-cengir.

Continue reading “Dari Malang ke Pulau Sempu”

Indonesia, Traveling

(Anggap saja) Bali dan Lombok

Ini bukan Bali, bukan pula Lombok. Rencana jalan-jalan ke luar Jawa pada Januari 2010 memang gagal, tetapi kemana pun…yang jelas kami hanyalah manusia-manusia yang butuh liburan dan hiburan. Setelah beberapa kali berganti rencana (sempat mau ke Dieng, Semarang, maupun rafting di Sunga Elo, Magelang), akhirnya Sabtu 23 Januari 2010 kami berangkat untuk misi “Pura-pura ke Bali dan Lombok” di Gunung Kidul, DIY. Kami yang dimaksud di sini adalah saya dan beberapa teman kantor di OIA UGM, sebut saja nama mereka Pupu, Kiki, Fitri, Timur, Heru, dan Mas Indra (itu memang nama mereka. haha..).

Continue reading “(Anggap saja) Bali dan Lombok”

Indonesia, Traveling

Kalau Saya Merindukan Pantai…

Kalau saya merindukan pantai, pastilah pantai-pantai di pulau Bangka menjadi yang paling saya rindukan. Dari beberapa pantai yang saya kunjungi selama saya di Bangka, ada satu nama yang selalu meninggalkan berjuta kenangan: Pesaren.

Pesaren bukanlah pantai wisata, setidaknya untuk saat ini. Meskipun pantainya indah, mungkin karena faktor lokasi yang cukup jauh dari pusat kota dan sarana transportasi yang belum memadai, pantai ini belum secara serius digarap oleh pemerintah setempat. Pesaren menjadi pantai yang akrab dengan saya karena pantai itu sangat dekat dengan pemukiman warga di mana saya dan teman-teman UGM melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) pada 2009 lalu.

Continue reading “Kalau Saya Merindukan Pantai…”