Lombok Bukan Cabe

Saya teringat sebuah kaus oblong milik suami yang tersimpan rapi di lemarinya. Kaus hitam dengan gambar cabe merah itu bertuliskan ‘Lombok bukan cabe’, sebuah oleh-oleh saat ibu mertua dinas ke Lombok. Meskipun di Jawa kata lombok berarti cabe, namun nama pulau Lombok di provinsi Nusa Tenggara Barat memang tidak ada hubungannya dengan cabe.

“Lombok itu berasal dari kata lomboq (baca: lumbu) yang berarti lurus,” kata Riyal, pemandu kami di Desa Sembalun, Lombok Timur. Melalui Wikipedia, saya mencari tahu lebih lanjut tentang asal nama Lombok yang ternyata tertuang dalam kitab Negara Kertagama. Kata Lombok ditulis berdampingan dengan kata ‘sasak’ yang merupakan nama suku asli Lombok. Lombok Sasak Mirah Adhi, begitu yang tertulis dalam kitab karya Mpu Prapanca tersebut.

Dalam tradisi lisan warga setempat kata sasak dipercaya berasal dari kata ‘sa’-saq’ yang artinya yang satu. Kemudian Lombok berasal dari kata ‘lomboq’ yang artinya lurus. Maka jika digabung kata Sa’ Saq Lomboq artinya sesuatu yang lurus. Banyak juga yang menerjemahkannya sebagai jalan yang lurus. (Wikipedia)

Demikianlah saya berharap bahwa perjalanan pertama saya ke Lombok ini adalah sesuatu yang lurus yang membawa suatu kebaikan.

***

Perjumpaan pertama saya dengan Lombok mungkin terlalu larut. Karena penerbangan yang tertunda selama dua jam dari Yogyakarta, saya dan kawan baru saya Pungky baru menginjakkan kaki di Bandara Internasional Lombok Praya pada pukul 22.00 WITA. Kala itu bandara sudah sepi, toko-toko di dalamnya pun sudah tutup.

Saya dan Pungky adalah dua dari sepuluh peserta yang akan mengikuti Travel Writers Gathering yang diselenggarakan oleh Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) Nusa Tenggara Barat. Sambil menunggu pihak panitia yang menjemput, kami duduk di sekitar area pintu keluar bandara. Terdengar obrolan orang-orang setempat dengan bahasa yang masih asing di telinga. Mereka berbicara dalam bahasa Sasak.

Sejak dahulu saya mengenal bandara, stasiun, maupun terminal bis sebagai tempat yang membahagiakan sekaligus melankolis. Tempat-tempat itu telah sejak lama menjadi saksi banyak perjumpaan maupun perpisahan. Berbicara tentang perjumpaan, saya pun rasanya tak sabar ingin bertemu dengan rekan-rekan peserta lainnya. Mereka ada yang berasal dari Jakarta, Bandung, Batam, dan Sumbawa. Hampir semuanya sudah berada di hotel karena jadwal kedatangan mereka lebih awal.

Malam itu kami dijemput oleh Pak Man. Selama perjalanan dari Praya menuju Mataram, Pak Man banyak bercerita tentang Lombok. Ternyata Pungky pun baru kali pertama mengunjungi Lombok sehingga kami berdua khusyuk mendengarkan cerita Pak Man. Beberapa hal yang diceritakan di antaranya tentang macam-macam bahasa Sasak dan tradisi kawin culik suku Sasak. Sambil bercanda, Pak Man sempat menyebutkan bahwa mungkin inilah satu-satunya penculikan di dunia yang tujuannya untuk kebaikan.

Dalam tradisi Sasak, jika seorang wanita dan pria lajang sudah saling menyukai, mereka akan bersepakat mengenai waktu penculikan. Rencana ini bersifat sangat rahasia karena jika ada yang tahu, dikhawatirkan ada pihak lain yang berusaha menggagalkan rencana (misalnya pria lain yang mengincar wanita tersebut). Oleh karenanya, penculikan biasanya dilakukan pada malam hari. Saat diculik, wanita tersebut tinggal bersama keluarga pria atau calon suaminya. Barulah setelah itu keluarga pria mendatangi keluarga wanita untuk mengabarkan bahwa anaknya diculik dan mengutarakan maksud melamar.

Tak terasa kami hampir memasuki Mataram. “Nanti makan malamnya ayam taliwang ya, Mbak.” ujar Pak Man. Saya dan Pungky mengiyakan. Apapun akan kami terima saja karena sudah selarut itu dan kami kelaparan. Apalagi mendengar menu ayam taliwang yang merupakan makanan khas Lombok, tentu kami semakin bersemangat. Ayam taliwang adalah ayam kampung utuh yang digoreng atau dibakar dan diberi bumbu pedas berbahan utama cabe merah. Biasanya ayam taliwang disajikan bersama plecing kangkung yang juga merupakan makanan khas Lombok.

Sesampainya di warung makan, Pak Man langsung memesan dua porsi ayam untuk kami. Saya dan Pungky mengusulkan agar memesan satu porsi saja, khawatir masing-masing dari kami tidak bisa menghabiskan satu ekor ayam utuh.

“Yakin? Ayamnya nggak besar lho,” kata ibu penjual. Namun kami keukeuh memesan satu untuk berdua saja.

Begitu ayam taliwang disajikan…

Jpeg
Ayam taliwang dan kawan-kawannya

Ternyata memang kecil ya ayamnya. Hehehe… Kami baru tahu bahwa ayam kampung yang dimasak untuk membuat ayam taliwang adalah yang berumur tiga sampai lima bulan. Karena melihat gambar di kertas menu, kami salah paham menyangka ayam utuhnya berukuran besar. Sepertinya pemilik warung hanya asal ambil foto dari Google. 😀 Kami pun kemudian setuju untuk memesan satu porsi lagi.

Nama Taliwang sebenarnya berasal dari nama salah satu kampung di Mataram, yaitu Karang Taliwang. Kampung ini berada di wilayah kecamatan Cakranegara. “Kampungnya hanya di belakang sana, Mbak. Dekat kok,” ujar Pak Man sambil tangannya menunjuk ke arah belakang warung. Saya dan Pungky memberi anggukan.

Tak banyak percakapan yang keluar saat prosesi makan malam itu. Nampaknya kami sama-sama menghayati. Saya juga hanya sempat mengambil sedikit gambar menggunakan ponsel dengan pencahayaan yang minim. Sesekali Pak Man memberikan penjelasan ini-itu mengenai sajian yang ada di hadapan kami. Ada nasi, ayam taliwang, plecing kangkung, sambal beberuk terong, serta dua macam sambal cocolan ayam yaitu pedas dan manis. Sebagai orang Sunda, saya merasa sangat cocok dengan salah satu sajian khas Lombok ini. Pasalnya, rasa pedasnya mengingatkan saya akan kampung halaman. It feels like home.

Hari-hari berikutnya di Lombok, saya dan tim Travel Writers Gathering 2015 bertualang dari pantai sampai ke gunung. Tak lupa jelajah kota Mataram di sela-selanya. Selain itu, yang tidak terlewatkan adalah wisata kuliner. Saya menemukan bahwa kebanyakan makanan di Lombok memang tak jauh dari yang pedas-pedas. Meskipun Lombok bukanlah cabe, namun nampaknya Lombok tak bisa dipisahkan dengan cabe. 😀

Ps. Keseruan bertualang bersama tim Travel Writers Gathering 2015 akan diceritakan dalam tulisan selanjutnya ya. ;)

#twgathering2015 #holidayisLombokSumbawa

1865143963390123180513

 

Advertisements

20 Comments Add yours

  1. kusnanto says:

    nah , sedari kecil pengertian lombok di jawa ya cabe , bahasa jawa lombok, bahasa indonesianya cabe, pokoknya yang pedas itu,ditunggu foto-foto eksotis nya(pulau lombok ) maksudnya…

    Like

    1. maisya says:

      Siaaaap… 😀

      Like

  2. Dita says:

    Aku lebih suka nasi balap puyung daripada ayam taliwang, pedesnya nendang!! Btw kayaknya seru banget acara TWgathering. Ditunggu cerita selanjutnya 😀

    Like

    1. maisya says:

      Kemarin nyobain juga nasi balap puyung Inaq Esun. Enak sih.. tapi kok menurutku nggak terlalu istimewa ya dit. Beda selera kali ya. Hehe.. Aku lebih suka ayam bakar bunda rarang. Enyak bgt itu..

      Like

  3. Ema kaktus says:

    Thanks mbak Icha udah dtang ke Lombok….smg bs ktmu dilain ksempatan ya..:)

    Like

    1. maisya says:

      Makasih juga ya, Mbak Ema… Sampai jumpa di lain kesempatan. 🙂

      Like

  4. adventurose says:

    Seneng bisa ketemu, kenal, dan jalan bareng Icha kemaren… Moga bisa ketemu lagi ya 🙂
    Semua kuliner Lombok aku sukaaaa… 🙂

    Like

    1. maisya says:

      Amin…Sayang kemarin ketemunya bentar ya, Mbak Dian. Samaaa.. aku juga jadi pemakan segala di sana haha..

      Like

  5. ahhh aku suka banget ayam taliwang, tp suka gak tahan kalau kepala nya juga disajikan di piring :))

    Like

    1. maisya says:

      Nah itu dia mbak.. Haha.. Aku pun nggak suka kepala ayam (dan ceker), ngeliatnya bikin membayangkan ayam pas masih hidup. Ewwhh.. Kemarin pas makan ayam taliwang pura2 nggak liat aja deh. :p

      Like

  6. Itu kawin culik bisa aja ya mbak ._. kalau aku sama raisa hidup disana, pasti aku udah nyulik raisa dari SD mbak biar aku bisa nikahin dia 😀

    Eh, itu ayam taliwang :’ aku penasaran 😀 kata temenku pedes banget yaaa. aku mau nyoba, mumpung di Jogja ada juga :3

    Like

    1. maisya says:

      Hahaa.. bisa aja. 😀
      Di Jogja di mana ya ayam taliwang yg enak? Kalau udah coba, nanti minta rekomendasinya ya hehe..

      Like

      1. Hihihi :p wkwkw

        di jalan kaliurang mbak. tapi belum nyoba. besok kalau udah nyoba, pasti di rekomend deh mbak 😀 cuma kalau kata temenku ya itu, pedes banget kayak oseng mercon ._.

        Like

  7. indrijuwono says:

    Aahhh, masakan lombok itu, pedes, nagih terus, laluuuu kepedesaaannnn.
    Trus nambah nasi deh.
    Aku jadi kepengin ayam taliwang lagi nihhh…

    Like

    1. maisya says:

      Iyaa.. kalau gitu makannya jadi nggak selesai2 mbak karena pengen nambah terus hehe.. 😀 Aku mau hunting ayam taliwang di sini ah. Sama gak ya kayak di Lombok.

      Like

  8. seneng banget akhirnya ketemu teh icha di lombok ^_^

    kuliner lombok pokoke juara banget! cocok buat orang sunda mah 🙂

    Like

  9. Asop says:

    Wuiiiih saya ingat Lombok dan MAtaram ingatnya ayam taliwang. 😀

    Like

  10. Nyobain sate rembige ngak di lombok ????

    Like

    1. maisya says:

      Belum nyobain, kak cumi.. Kami nyobain sate bulayak aja. Hehe.. Kami juga makan cumi, tapi nggak lebay. 😀

      Like

  11. jonathanbayu says:

    lombok bukan cabe, apalagi cabe-cabean hahaha
    sayang gabisa ngerasain bagaimana enaknya ayam taliwang hehe orang vege susahnya itu 😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s