Other Stories

Akhirnya punya asisten rumah tangga

Sebelum punya anak, memiliki asisten rumah tangga (ART) yang menginap di rumah tidak pernah masuk daftar kebutuhan kami. Kami pernah punya ART yang pulang-pergi, bekerja seminggu 2-3 kali. Mungkin hanya sekitar setahun, sisanya ya kami mengerjakan segala pekerjaan rumah berdua (catatan: baju yang perlu disetrika kami kirimkan ke jasa laundry terdekat haha..).

Pilihan memiliki asisten yang menginap mulai muncul ketika:
1) putri pertama kami lahir,
2) situasi sedang pandemi (tidak berani mempekerjakan asisten yang pulang pergi karena sulit mengontrol kegiatan di luar dan protokol kesehatannya).

Kami maju-mundur untuk memutuskan hal tersebut. Sampai dengan usia K tujuh bulan, dengan segala jungkir baliknya, kami masih sanggup mengelola kehidupan sehari-hari kami, yaitu bekerja dari rumah (WfH), mengurus bayi, dan melakukan pekerjaan domestik.

Ketika K mulai merangkak dan semakin aktif ke sana ke mari, kami mulai ketar-ketir. Sebelumnya, dia bisa anteng duduk sambil menemani saya bekerja, atau mau digendong sambil orang tuanya mengerjakan pekerjaan domestik. Kini, kalau menemaninya beraktivitas, ya hampir tidak bisa disambi apapun. Apa kabar masak? Apa kabar beres-beres rumah?

house chores
foto: pixabay.com/

Menjelang K berusia sembilan bulan, kami resmi memiliki ART yang menginap di rumah. Hal itu kami putuskan setelah diskusi internal keluarga kami (alias saya dan suami saja haha..) dan juga mengobrol dengan beberapa teman yang punya/pernah punya ART (cari dari mana, apakah memilih yang usianya muda atau senior, apa saja plus dan minusnya, dsb).

Pertimbangan dalam Mencari ART

Dalam perjalanan kami mencari ART, ada beberapa hal yang kemudian menjadi isu utama.

1. Apakah mencari asisten ke yayasan/agen atau melalui referensi orang yang dikenal?

Kalau ada referensi langsung dari keluarga atau teman, sebetulnya kami berharap lewat jalur ini saja. Tapi, mempertemukan supply dan demand asisten lewat jalur pribadi bukan perkara mudah. Sempat ada saudara yang bersedia bekerja, tapi jangka pendek saja. Kemudian ada kabar kalau dia sakit, akhirnya tidak jadi bekerja.

Sempat juga ada tetangga yang berbaik hati berbagi informasi bahwa ada kenalan temannya yang mau bekerja sebagai ART. Saya kontak via teks WhatsApp, namun responsnya lambat. Sewaktu bisa dihubungi via telepon, sinyalnya kurang bagus. Setelah itu, teks saya juga lama tak berbalas. Saya sampai bertanya-tanya, dia niat mau bekerja tidak ya? Intinya, ada kendala komunikasi kala itu.

Dari tetangga dan teman, saya pun dapat referensi yayasan penyalur ART. Saya hubungi keduanya. Yang satu, pas tidak berjodoh, karena si calon asisten kabarnya hanya mau mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, tidak mau mengasuh anak sama sekali.

Dari kontak lainnya, setelah proses komunikasi beberapa kali via teks dan telepon, akhirnya kami dapat ART yang mau bekerja. Mencari ART melalui pihak ketiga, memang relatif lebih lancar dan responsif dalam hal komunikasi.

Konsekuensinya, memang ada sejumlah uang yang harus dibayarkan untuk jasanya. Pengalaman kami kemarin, biaya yang harus kami bayarkan ke yayasan adalah Rp700.000. Sewaktu akad dengan yayasan, ada kontrak tertulis yang berisi hak dan kewajiban para pihak (termasuk hari libur untuk ART). Namun, menurut info si ibu pengelolanya, nanti tetap bisa dimusyawarahkan jika ada hal-hal yang perlu ditangani bersama.

Oh ya, terkait besaran gaji asisten, proses penawaran dan negosiasi juga melalui yayasannya ya. Kalau dibandingkan dengan gaji asisten melalui jalur pribadi, pada umumnya besarannya lebih tinggi. Namun biasanya, ART yang ditawarkan memang yang sudah punya pengalaman dan sudah mendapat pelatihan sebelumnya.

2. Berapa usia asisten yang akan bekerja dengan kami?
Setelah mengobrol dengan beberapa teman yang punya ART, secara umum memang ada perbedaan dari ART berusia muda dan yang sudah cukup senior. Misalnya, ART yang masih muda, biasanya belum banyak pengalaman (dan banyak yang tidak terlalu bisa memasak). Namun, ada yang lebih nyaman dengan ART muda karena lebih mudah dan menerima untuk belajar hal baru.

Di sisi lain, ART yang sudah cukup senior biasanya sudah cukup mahir dalam pekerjaan rumah dan sudah punya pengalaman dalam mengurus bayi/anak, misalnya. Namun, mungkin sebagian malah tidak mudah menerima informasi atau kebiasaan baru yang menjadi nilai di rumah kita.

Tentu itu hanya secara umum ya. Semua kembali ke pribadi masing-masing individu. Yang mudah tapi susah untuk belajar ya ada juga. Belum lagi kalau kecanduan sama gadget atau sukanya cek medsos terus. Hihi..

Kalau kami sendiri, waktu itu qadarullah yang siap kerja memang asisten yang usianya 40-an awal. Dari pengalaman kerja, selain di Indonesia, dia pernah bekerja beberapa tahun di Malaysia dan Brunei.

Bagi kami, salah satu nilai plus-nya juga adalah ART yang bisa memasak. Selain beres-beres dan bantu momong anak, jika ART bisa memasak, sangat membantu mengurangi pekerjaan kami. Bayangkan jika ART-nya tidak bisa masak, malah kami yang pusing memikirkan makan satu orang tambahan di rumah. :p Kalau misal memesan lewat Gojek/Grab terus, duhh.. bisa kebobolan nih dompet.

3. Bagaimana prosedur kesehatan selama pandemi?
Ketika masih proses mencapai kesepakatan dengan Yayasan dan ART, salah satu yang saya bahas adalah prosedur kesehatan sebelum dia masuk dan mulai bekerja di rumah. Saya memastikan dulu apakah calon ART tersebut bersedia melakukan tes swab/antigen sebelumnya. Tentu ini masuk pos pengeluaran saya. Waktu itu alhamdulillaah dari yayasannya yang menemani si Mbak ke RS sampai hasilnya keluar. Jadi saya menjemput Mbak setelah hasil tes keluar (dengan hasil negatif).

***

Begitulah serba-serbi punya ART di rumah. Bulan ini, terhitung sudah (atau baru?) empat bulan si Mbak bekerja di rumah. Secara keseluruhan, tentu sangat terbantu dengan keberadaannya. Meskipun demikian, bagi K, awalnya masih perlu waktu untuk penyesuaian. Dia masih lengket banget sama ibu dan ayahnya (yaa apalagi sejak lahir, dia bertigaan saja sama orang tuanya). Awalnya main bersama dengan durasi sebentar, lalu setelah satu-dua bulan, dia baru mau main lebih lama dan mau digendong Mbak. Hehe.. Lumayan lama kan ya.

20210523095926_IMG_6681
Mengajak K bermain di alam bebas

Meskipun sudah memiliki ART, prinsip kami adalah tetap menjadi pemeran utama dalam mengurus anak. Untuk pekerjaan rumah dan memasak, sebisa mungkin memberikan brief yang jelas untuk ART. Semua berproses, lama-lama, si Mbak juga sudah semakin paham kebiasaan dan ‘aturan’ di rumah dan keluarga kami. Bagi kami pun, tentu ada adaptasi juga dengan kebiasaan dan cara orang lain dalam mengerjakan berbagai tugas

Untuk pekerjaan rumah, secara umum si Mbak terbilang baik. Ada kekurangan di sana-sini, ya namanya juga manusia. Yang penting saya dan suami berusaha memberi tahu jika ada yang kurang pas atau perlu diperbaiki. Yaa ada saja kadang yang kurang sreg. Tapi, selama masih dalam batas yang bisa dikompromikan, kami kompromi saja. Ingat-ingat saja, cari ART itu tidak mudah. Hehe.. Belum kalau punya anak kecil, ganti ART berarti harus adaptasi dari awal lagi.

Bismillaah.. dengan segala naik turunnya, semoga hubungan kami senantiasa baik dan saling membantu dalam kebaikan.

Kalau teman-teman, punya pengalaman juga seputar ART?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s