Amba: Cinta, Sejarah, dan Puisi

AmbaSinopsis

Tahun 2006: Amba pergi ke Pulau Buru. Ia mencari seorang yang dikasihinya, yang memberinya seorang anak di luar nikah.

Laki-laki itu Bhisma, dokter lulusan Leipzig, JermanTimur, yang hilang karena ditangkap pemerintah Orde Baru dan dibuang ke Pulau Buru. Ketika kamp tahanan politik itu dibubarkan dan para tapol dipulangkan, Bhisma tetap tak kembali.

Novel berlatar sejarah ini mengisahkan cinta dan hidup Amba, anak seorang guru di sebuah kota kecil Jawa Tengah. “Aku dibesarkan di Kadipura. Aku tumbuh dalam keluarga pembaca kitab-kitab tua.” Tapi ia meninggalkan kotanya.

Di Kediri ia bertemu Bhisma. Percintaan mereka terputus dengan tiba-tiba di sekitar Peristiwa G30S di Yogyakarta. Dalam sebuah serbuan, Bhisma hilang selama-lamanya. Baru di Pulau Buru, Amba tahu kenapa Bhisma tak kembali. Dan mati.

***

Judulnya singkat saja: Amba.

Kali pertama saya mengetahui novel ini adalah dari kicauan Goenawan Mohamad (@gmgm) di media sosial twitter. Belakangan saya tahu bahwa beliau merupakan bagian dari tim “Buru Tujuh” yang ikut bersama sang penulis, Laksmi Pamuntjak, ke Pulau Buru pada 2006 untuk memelajari seluk beluk dan kehidupan sosial pulau bekas lokasi tahanan politik (tapol) tahun 1970-an tersebut.

Nama Pulau Buru menjadi daya tarik tersendiri bagi saya. Bisa jadi itu menjadi faktor utama yang membuat saya penasaran dengan novel ini. Bagaimana kehidupan di Pulau Buru saat penahanan terjadi? Apa yang dialami para tapol selama di sana? Memang sudah ada beberapa buku yang ditulis oleh mantan tapol mengenai Pulau Buru, namun membaca kisah fiksi tentu memberi rasa tersendiri.

Dan ekspektasi saya tak terlalu tinggi, karena di novel ini Laksmi menceritakan Pulau Buru dan kehidupan para tahanannya dengan cara yang jujur, yang memanusiakan manusia. Di dalamnya ada kesulitan, kerja keras, kemarahan, kerinduan, dan bagaimana mereka tetap belajar untuk dapat tertawa dalam situasi serumit apapun.

Novel ini sekaligus menjadi pengingat bagi kita yang lupa atau hampir lupa akan salah satu fase tak terlupakan dalam republik ini: pasca kejadian G30S/PKI. Bagi saya, terkadang menjadi kabur antara kebenaran sebuah paham: komunis, sosialis, kapitalis, atau apapun itu. Semua hidup dalam ketidaksempurnaan. Dan begitu menyedihkan saat manusia saling menyerang karena paham, atau bahkan hanya praduga.

Banyak dari tapol Pulau Buru yang bahkan tak terlibat sama sekali dalam gerakan komunisme saat itu. Mereka hanya berada pada tempat dan waktu yang salah.

***

Amba adalah perpaduan kisah cinta, sejarah politik, dan kisah kolosal (meminjam istilah Dee Lestari dalam testimoninya mengenai buku ini). Mengapa kolosal? Karena tokoh-tokohnya terinspirasi dari tokoh Mahabharata yang legendaris itu. Meskipun tidak sama persis, namun karakter tokoh-tokoh dalam novel ini kurang lebih sejalan dengan kisah aslinya.

Sesuai judulnya, tentu Amba adalah tokoh utama dalam novel ini. Ia adalah sosok perempuan yang cerdas, suka membaca, dan menyukai sastra. Ia pemalu namun dalam diamnya ia sebenarnya kritis, banyak pikiran yang bergejolak tentang dunia luar yang ada di sekitarnya.

Ada tiga pria ada dalam lingkaran cinta Amba: Salwa, Bhisma, dan Adalhard. Laksmi Pamuntjak memberi kekuatan tersendiri kepada karakter masing-masing tokoh tersebut. Mereka mencintai dengan caranya masing-masing. Hal itu membuat saya sebagai pembaca mengagumi ketiganya.

***

Untuk menulis, seseorang perlu (baca: harus) membaca.

Saya terpukau melihat daftar buku yang dibaca Laksmi Pamuntjak untuk menulis novel ‘Amba’, novel yang akan menjadi salah satu best novel of all time versi saya (sejajar dengan ‘Tetralogi Buru’ karya Pramoedya Ananta Toer dan ‘Ronggeng Dukuh Paruk’ karya Ahmad Tohari).

995758_10151484074947396_974143388_n

Ini hanya sebagian saja, masih banyak daftar bacaan lainnya. Belum lagi dia datang sendiri ke Buru untuk memeroleh informasi dan mendapat gambaran keadaan pulau tersebut, juga melakukan wawancara dan mendengarkan penuturan para mantan tahanan politik tentang pengalaman selama di Buru.

This book is worth reading.
1865143963390123180513

*Baca salah satu wawancara dengan Laksmi Pamuntjak di tautan INI.

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. ayanapunya says:

    novel yang keren. tapi aku kurang sreg sama tokoh Bhisma-nya

    Like

    1. Wah kenapa, mbak? 🙂
      Dibandingkan sosok Salwa dan Adalhard, dia emang beda sih hehe..

      Like

      1. ayanapunya says:

        Mungkin karena dia ngambil amba dari salwa. Trus juga dia terlalu bnyak ngomong. Hihi

        Like

      2. Hehe.. Kalau yang sifatnya sederhana, penyayang, dan mengayomi itu memang Salwa dan Adalhard ya. Bhisma itu sulit ditebak. Tapi yang bikin kagum sama Bhisma adalah kepekaannya sebagai dokter selama ia di Buru.

        Like

      3. ayanapunya says:

        Yup! Setujuu 🙂

        Like

  2. teguh says:

    Pengin beli beberapa buku yang harus dibaca, tapi pengin beli textbook kedokteran juga.. 😦

    semoga ada duit lebih buat beli..

    Like

    1. Memang itulah dilemanya ya, guh. Hehe.. Tidak ada cara lain selain menyisihkan uang. Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. 😀

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s