Mengintip Kyoto (1)

Beginilah kalau jalan-jalannya hanya di sela-sela pekerjaan, saya  hanya bisa mengintip Kyoto sedikit-sedikit. Jadi harap maklum kalau cerita ke Kyoto ini hanya hasil pengalaman singkat saya selama beberapa hari pada awal Juli lalu.

Saya dan beberapa kolega dari Indonesia tiba di Kansai International Airport setelah menempuh perjalanan 6.5 jam dari Singapura. Bandara ini merupakan bandara internasional terdekat untuk menuju Osaka, Kyoto dan kota-kota sekitarnya seperti Kobe dan Nara. Jika menggunakan pesawat yang mendarat di Narita, kita dapat melanjutkan perjalanan ke Kyoto dengan bus atau kereta (sepertinya ada juga penerbangan domestik, tetapi saya belum pernah cek).

Kyoto merupakan kota yang modern namun juga masih sangat kental dengan nuansa tradisional. Kota ini pernah menjadi ibukota Jepang selama lebih dari seratus tahun. Hingga saat ini, Kyoto masih menyimpan ribuan tempat ibadah, baik itu kuil Budha maupun Shinto. Selain itu, di Kyoto terkenal pula area Gion dan geisha-nya (akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya).

Meeting yang saya hadiri di Kyoto berjalan selama empat hari, dari Senin sampai dengan Kamis. Karena saya tiba di Kyoto pada Minggu siang, setelah makan siang dan selonjoran sebentar di hotel, saya sempat berjalan-jalan sebentar.

Flea Market

Saya saat itu menginap di Kyoto Okura Hotel yang berseberangan dengan Kyoto City Hall. Bangunan tua itu berdiri indah dan masih terawat. Saya cukup beruntung karena sepertinya setiap hari Minggu di depan balai kota ini terdapat flea market alias pasar barang-barang bekas. Keramaian flea market terlihat dari kamar saya di lantai 16. Sebagai pecinta barang-barang bagus dan murah meriah, tentu saja saya merasa terpanggil untuk ke sana. Haha..

Kyotp City Hall. Cari terjemahan bahasa Indonesianya. :)
Kyoto City Hall. Coba cari terjemahan bahasa Indonesianya. 🙂
???????????????????????????????
Ayo dipilih..dipilih..
Sepeda berbaris rapi.
Sepeda berbaris rapi.

Ternyata…suhu di luar siang itu sangat panas. Sayangnya saya lupa membawa sunglasses sehingga saya sibuk memicingkan mata. Udara yang amat panas dan matahari yang terik ternyata bukan milik hari itu saja. Bahkan pada hari-hari berikutnya saya dengar suhu udara di Kyoto hampir mencapai 40 derajat celcius! Begini kali ya rasanya yang pada umrah pas panas-panas di Arab Saudi.

Pengorbanan berpanas-panas ria siang itu membuahkan hasil: saya mendapatkan sebuah cardigan lucu warna coklat seharga 400 yen (Rp40.000) dan tempat gantungan kunci dari kayu seharga 700 yen (Rp70.000). Yeaayy!

Berbaur di Keramaian

Keberuntungan kedua adalah karena hotel tempat saya menginap berada di kawasan yang cukup strategis. Selain berhadapan dengan city hall, Kyoto Okura Hotel terletak tak jauh dari komplek belanja Teramachi serta berbagai restoran dan pertokoan sepanjang jalan, termasuk dua mal yang cukup besar yaitu Takashimaya dan Marui. Saya ke Takashimaya sih hanya untuk menukarkan dolar ke yen, kalau belanja saya belum mampu. :p

Teramachi Shopping Complex. Saya lebih suka suasana tempat belanja seperti ini ketimbang mal.
Teramachi Shopping Complex. Saya lebih suka suasana tempat belanja seperti ini ketimbang mal.
Ibu dan anak
Ibu dan anak
Nikmatnya es krim di sore yang panas. :)
Nikmatnya es krim di sore yang panas. 🙂

Jalan-jalan ke pusat keramaian, yang selalu menarik perhatian saya adalah orang-orangnya, dari mulai penampilan, cara berjalan, cara berinteraksi, dan sebagainya. Payung cukup mendominasi pemandangan selama musim panas. Kalau kita di Indonesia kebanyakan hanya mengeluarkan payung saat musim hujan tiba, di Jepang payung pun menjadi andalan saat musim panas untuk melindungi diri dari sinar matahari sekaligus untuk kepentingan fashion sepertinya hehe… Payung di Jepang itu memang luar biasa lucu dan warna-warni sehingga saya tergoda untuk membeli beberapa sebagai oleh-oleh. Apalagi ukurannya kecil dan mudah dibawa-bawa.

“Tapi nggak yakin, Cha, itu payungnya tahan banting buat angin musim hujan di Indonesia. Hehe…” kata salah seorang kolega saya.

Betul juga sih, payung-payung tersebut sepertinya memang didesain untuk musim panas. Dan kebanyakan payung terbuat dari bahan yang melindungi dari sinar UV. Jadi ini judulnya memang payung cantik, bukan payung untuk hujan badai. Begitu pentingnya payung untuk mereka di musim panas, sampai-sampai kalau bersepeda pun mereka tetap payungan. Ada yang dipegang, ada pula yang payungnya sudah diikatkan ke sepeda. 😀

Oh ya, saat berjalan-jalan sore itu, saya juga terkesan dengan budaya tertib orang Jepang. Waktu itu kebetulan sedang ada semacam kampanye di salah satu sudut jalan. Entah kampanye untuk pemilihan apa, saya kurang paham. Dua orang yang berkampanye berada di atas sebuah mobil van dengan atap terbuka yang diparkir di pinggir jalan. Sedangkan para audiensnya berdiri rapi mendengarkan di seberang jalan tersebut. Mereka mendengarkan dengan khidmat disertai tatapan kagum, anggukan, dan sesekali bertepuk tangan.

Kampanye
Kampanye

Para audiens ini sebeneranya berdiri di trotoar sehingga ruang untuk pejalan kaki menjadi lebih sempit. Namun mereka patuh pada garis yang sudah ditentukan, tidak ada yang saling mendorong dan mengganggu pejalan kaki. Parapejalan kaki juga tidak boleh tiba-tiba berhenti untuk mendengarkan kampanye  di jalur pejalan karena akan menghambat pejalan kaki lainnya. Orang-orang dan petugas yang ada di area tersebut tak bosan-bosan saling mengingatkan dengan cara yang santun agar setiap orang dapat tertib. Huhu.. bikin iri banget ya. Semoga kita juga bisa mengajarkan anak-anak kita tentang perlunya tertib di tempat umum.

(bersambung)

 

Cheers,

1865143963390123180513

Advertisements

8 Comments Add yours

  1. @endahya says:

    Kyoto di Jepang ini kalau ga salah seperti Yogya di Indonesia ya mbak, kota yg pernah jadi ibu kota negara (kalau ga salah), hehe.
    Ditunggu kelanjutan ceritanya 🙂

    Like

    1. Betul, Endah… Aku juga berpikir demikian. 🙂

      Like

  2. Di prasasti Kyoto City Hall ada terjemahan bahasa Indonesia-nya: Kantor Walikota Kyoto

    Kereeen 🙂

    Like

  3. mysukmana says:

    wah keren kok bisa sampe sana sih mbak..di deplu ya 😀 (ngasal..) :D.. klo inget gantungan kunci jadi inget ketika dikasih temen dari jepang aseekk

    Like

    1. oh pernah dapet oleh2 gantungan kunci yaa hehe.. nggak, aku bukan di kemenlu, tapi memang sering kerja bareng mereka juga. 😀

      Like

  4. nyonyasepatu says:

    pas browsing tentang jepang ehh ketemu blog kamu heheh 🙂

    Like

    1. Hehe… Wah Mbak Noni ‘nyasar’ ke sini.. Ada rencana mau ke Jepang kah? 🙂

      Like

      1. nyonyasepatu says:

        rencana pasti selalu ada Mai, kemana2 itu mah rencananya hahahaha.

        Kemaren si Matt ngotot pengen ke Jepang kalo mba bisa cuti jadi lagi liat2 deh ini, baca2 blog hehe

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s