What Pleasure Is

2008 lalu, sewaktu membaca buku “Eat, Pray, Love” karya seorang penulis Amerika, Elizabeth Gilbert, sampailah saya pada tuturannya tentang “pleasure”. Ini menarik.

Jika diartikan ke bahasa Indonesia, “pleasure” berarti kesenangan (kesenangan lho, bukan kebahagian which is ‘happiness’)

Bagian pertama buku ini bercerita tentang “Eat”, yaitu cerita perjalanannya di Italia. Perjalanan Liz ke Italia sebenarnya hanya punya dua alasan utama yang bisa dibilang sederhana. Pertama, ia ingin belajar dan berbicara bahasa Italia, yang menurutnya sangat indah (ini kali kedua saya baca buku dimana penulisnya datang ke Italia “hanya” karena jatuh cinta sama bahasanya). Kedua, dan merupakan pelengkap, ia ingin menikmati makanan-makanan (yang menurutnya) luar biasa di Italia.

Pada suatu waktu, Liz berpikir, “How I define pleasure?” dan “Do I really deserve it?

Lalu ada satu paragraf yang berbunyi:

“Generally speaking, though, Americans have an inability to relax into sheer pleasure. Ours is an entertainment seeking pleasure, but not necessarily a pleasure-seeking one. Americans spend billion to keep themselves amused with everything from porn to theme parks to wars, but that’s not exactly the same thing as quiet enjoyment. Americans work harder and longer and more stressful hours than anyone in the world today.

….

Of course we all inevitably work too hard, then we get burned out to have to spend the whole weekend in our pajamas, eating cereal straight out of the box and staring at the TV in a mild coma (which is the opposite of working, yes, but not exactly the same thing as pleasure). Americans don’t really know how to do nothing.”

Ketika Liz bertanya kepada salah seorang teman Italia-nya, apakah orang Italia menghadapi masalah semacam itu, temannya tertawa dan menjawab, “We are the masters of il bel far niente.”

Il bel far niente berarti “the beauty of doing nothing”.

Saya jadi berpikir, pernahkah kita menikmati dan membuat indah saat-saat ketika kita tidak melakukan sesuatu? Buat orang-orang yang ulet, rajin, dan pekerja keras, jangan marah dulu. Menurut saya, doing nothing di sini sekedar untuk menyegarkan diri kita aja, setelah kita melaksanakan kewajiban dan tanggung jawab kita. Atau mungkin ketika kita sudah merasa “buntu” dalam hidup kita dan mau keluar sebentar dari rutinitas yang membuat kita bosan. Saya rasa tidak ada salahnya. This is life and we have to enjoy it.

Itu dia masalahnya, “the beauty of doing nothing”. Apakah doing nothing itu udah bikin kita rileks atau malah hanya sekedar buang-buang waktu? Seperti orang Amrik di waktu weekend yang digambarkan oleh Liz dengan hanya bermalas-malasan di depan TV tapi sebenarnya itu nggak membuat mereka mendapatkan “pleasure”.

Tak lama setelah membaca buku itu, saya sakit dan “mendekam” di kamar kost saja. Awalnya saya bosan. Namun akhirnya saya menemukan “sesuatu” dalam diam itu. Saya menclok di atas kasur sambil memandang ke luar lewat jendela kamar. Serta merta banyak pikiran-pikiran sederhana tentang kehidupan yang muncul di kepala. Semacam kontemplasi? Mungkin. Dan saya menikmatinya. Beberapa hari itu saya juga mulai rajin menulis diary lagi, lebih banyak bercerita kepada diri sendiri sekaligus refleksi. That was simple, but as for me, I consider it as pleasure.

solitary walking

Atau…saat-saat ketika saya berjalan sendirian. Saya selalu menamakannya “my solitary walking”. Seperti suatu siang di musim dingin 2007, waktu saya sampai di terminal bus Cheonan, Korea, tetapi belum dijemput oleh kawan saya disana. Saya jalan-jalan saja di sekitar situ, duduk-istirahat, mengobrol dengan penduduk lokal, sampai masuk rumah makan dan menikmati makan siang sendirian. Doing nothing. Tapi saya menikmatinya. Rasa yang sama yang juga saya rasakan sewaktu solo backpacking beberapa waktu lalu. Rasa nyaman dan senang yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Doing nothing yang dimaksudkan Liz dalam situasinya, karena dia ke Italia tanpa niat melakukan suatu pekerjaan apapun, kecuali dua hal tadi, speaking and eating. Experiencing four months of pure pleasure.

Pada akhirnya, saya juga tahu sih, setiap orang punya definisi masing-masing mengenai pleasure. Juga Il bel far niente alias “the beauty of doing nothing”.

So, what is pleasure for you? 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s