Other Stories

Kamila

Kamila

Proses kelahiran Kamila kemarin akhirnya harus melalui tindakan induksi (dipacu) karena sampai usia kehamilan 41 minggu belum juga ada kontraksi. Berdasarkan rencana dengan dokter, akhirnya saya masuk RS dalam keadaan tidak mulas sama sekali. Mulai diberikan obat induksi Selasa sore, Kamila lahir Kamis pagi pada akhir April 2020. ⁣


⁣***

KILAS BALIK

Suatu hari pada bulan Agustus 2019⁣

Saya tidak bisa menggambarkan perasaan ketika akhirnya muncul dua garis merah di test pack pagi itu. Bahagia? Bersyukur? Tentu saja. Namun, terbiasa mendapati satu garis, rasanya saya tak ingin bereaksi berlebihan. Harus cek ke dokter dulu, pikir saya. ⁣

Waktu itu adalah tiga hari sebelum ulang tahun suami. Mungkin hasil test pack ini bisa menjadi kado ulang tahun untuknya tiga hari lagi. Namun, menunggu tiga hari? Rasanya saya sudah lupa bagaimana caranya menyimpan rahasia darinya. Hehe.. ⁣

Sebenarnya, ketika terlambat datang bulan, saya biasanya enggan memeriksakan diri dengan test pack. Alasannya: sudah terlalu sering patah hati. Jadi, terkadang saya pura-pura tidak peduli walau dalam hati tentu ada terbersit harap. Tetapi, saya punya alasan yang mungkin tidak terlalu melankolis dan dramatis tentang mengapa akhirnya saya melakukan tes pagi itu: saya sorenya mau ikut lomba bakiak dalam rangka 17-an dengan ibu-ibu RT! 😂⁣

Saya tergerak untuk mengambil satu-satunya sisa test pack di laci kamar dengan pikiran sederhana, kalau ternyata saya (qadarullah) hamil, saya akan membatalkan keikutsertaan dalam lomba tersebut. Alasannya, karena lomba itu cukup berisiko (iya iyaa.. ini lomba bakiak aja shay.. bukan bungy jumping. But still…).⁣

Singkat cerita, sore harinya, saya telah berbaring di ruang periksa dokter kandungan. Di depan saya, layar hasil USG menunjukkan kantong kehamilan yang telah terbentuk di dalam rahim. Lima minggu usianya.⁣

“Alhamdulillaah.. alhamdulillaah..” terdengar suara suami yang berdiri di samping dokter.⁣

Inilah cinta pertama kami, yang sebenarnya sudah tumbuh jauh sebelum ia hadir dan tumbuh di rahim ini.⁣

Kehamilan 37 minggu

***

KELAHIRAN

Alhamdulillaah meskipun dalam kondisi pandemi covid-19, selain didampingi suami, dokter mengizinkan untuk didampingi doula (Mbak Ari) pada proses persalinan dan melahirkan. Sampai dengan Rabu siang, rasanya masih santai. Masih duduk di gym ball, membaca buku, nonton TV, kemudian setelah Mbak Ari datang, saya masih sempat dipijat. Siang ke sore, saya baru merasakan kontraksi namun masih bisa rileks.⁣

Malam harinya, kontraksi mulai intens. Namun s.d. pukul 22.00, terpantau masih bukaan 2. Suami dan Mbak Ari mendampingi saya dan istirahat bergantian. Sedangkan saya hampir tidak bisa tidur sama sekali karena interval kontraksi semakin pendek. Sepanjang kontraksi, diingatkan terus untuk fokus ke napas. Pada saat yang sama, dalam hati, saya siap-siap mental dan belajar ikhlas jika harus melahirkan secara SC karena belum juga ada kemajuan signifikan setelah enam kali diberikan obat. Namun Mbak Ari mengingatkan untuk tetap optimis.⁣

Bagi saya dan suami, kehadiran doula sangatlah membantu. Apalagi ini proses melahirkan anak pertama, kami tidak ada pengalaman sama sekali dan tidak didampingi orang tua. Sampai saya bilang, “Kalau nggak ada Mbak Ari, mungkin selama kontraksi aku udah hilang arah.” 😂😂 Tentu semua dengan izin Allah.⁣

Jam 2 pagi, alhamdulillah sudah bukaan 3. Lalu jam 4.30 dicek lagi sudah bukaan 7. Sebelumnya, suami dan Mbak Ari sahur bergantian sambil terburu-buru dan segera shalat subuh karena antisipasi jika harus segera masuk kamar bersalin (waktu itu bulan Ramadan).⁣⁣
⁣⁣
Sekitar jam 5 saya masuk kamar bersalin dan alhamdulillah proses sampai bukaan lengkap cukup cepat. Sampai-sampai bidannya bilang, “Bu, kalau ternyata harus lahiran sama kami aja nggak apa-apa ya (semisal dokter belum datang).” ⁣⁣Tidak terbayang jika bukaan 8 ke 10 cukup lama karena rasanya si bayi sudah mendorong mau keluar.
⁣⁣
Ketika dokter datang, beliau menyapa, memberi semangat, dan masih sempat bercanda. “Gapapa ya santai aja,” ujarnya. Kemudian, “Makasih ya, Mbak, sudah mendampingi,” kata dokter kepada Mbak Ari. Dengan segala kehebohannya, pagi itu terasa begitu hangat.⁣⁣

Selamat datang di dunia, nak…

Percobaan mengejan ke sekian, akhirnya Kamila hadir dan rasanya legaaa sekali. Alhamdulillaah. Saya percaya, bagaimanapun prosesnya, perjalanan persalinan dan melahirkan setiap ibu sangat istimewa. Salut untuk para ibu dengan segala perjuangannya. ❤️⁣⁣
⁣⁣
Apresiasi juga untuk para doula yang dengan sabar dan penuh dedikasi mendampingi perjalanan hadirnya buah cinta ke dunia. Saya menyaksikan bahwa pekerjaan doula begitu menantang. Jam kerja yang tidak terprediksi, begitu pula dengan kondisi setiap persalinan dan mental ibu yang akan melahirkan. Butuh ekstra sabar dan tenang selama menjalankan tugas.⁣⁣
⁣⁣
Terima kasih untuk semua yang telah membantu, dokter dan para bidan yang sangat peduli dan bersahabat. Juga tentunya untuk suami siagaku, Chendra. Thanks for being there beside me. We made it. 💕

Yogyakarta, Mei 2020

2 thoughts on “Kamila”

  1. Hai Kamila, selamat datang ke dunia, semoga sehat2 selalu yaaa. Aku langsung jatuh cinta mendengar nama Kamila dan lihat alisnya yang lebat.

    Selamat ya Icha dan suami atas kelahiran Kamila. Ikut berbahagia untuk kalian. Semoga sehat2 selalu kalian sekeluarga.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s