Wartawan

Awak EQ, 2008
Awak EQ, 2008

Saya ingat hari itu, suatu hari di pertengahan September 2005. Saya dan beberapa anggota Redaksi Badan Penerbitan dan Pers Mahasiswa EQuilibrium (EQ) lain yang masih berstatus magang, duduk di bawah pohon rindang di kampus Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM. Kami terkesima mendengarkan penuturan Mas Erik yang kala itu menjabat sebagai Pemimpin Redaksi (Pemred). Bicaranya berapi-api dan sungguh meyakinkan, memantapkan kami semua bahwa kami tak salah memilih Divisi Redaksi sebagai tempat kami belajar dan berkarya nantinya.

“Kalian tahu apa syarat utama seorang jurnalis?” tanyanya menantang para anak magang.

Satu per satu kami memberanikan diri menjawab. Berbagai jawaban pun berhamburan. Saya sendiri tidak ingat apa saja jawaban itu, yang jelas tidak ada satupun di antara kami yang menjawab dengan tepat sesuai ekspektasinya.

“Syarat utama seorang jurnalis adalah VITALITAS!” ungkapnya mantap.

Saya rasa, saat itu saya belum mengerti betul definisi vitalitas dalam konteks seorang jurnalis (selanjutnya kita sebut wartawan). Dari penjelasan Mas Erik, saya hanya berusaha menangkap dan mengartikan sendiri kata itu. Toh banyak kata yang tak perlu kita cari definisnya, cukup dipahami lalu dijalani.

Saya sedang membaca buku “Vademekum Wartawan” dari penerbit KPG (1997) ketika saya menemukan kata penting itu (vitalitas) dan saya kembali teringat kejadian tiga setengah tahun lalu. Memang, rasanya agak terlambat jika saya baru membaca buku ini beberapa hari lalu. Sejujurnya, saya sudah lama mengetahui tentang buku ini, hanya saja belum ada kesempatan membaca dan terlanjur lupa. Sewaktu minggu lalu iseng melihat-lihat buku di perpustakaan EQ, saya menemukannya dan langsung ingin melahapnya habis, hehe… (makasih Mas Ferdy buat bukunya).

Dalam “Vademekum Wartawan” sendiri, memang tidak dijelaskan definisi dari kata vitalitas tersebut. Namun pembaca disuguhkan beberapa contoh yang menunjukkan bagaimana seorang wartawan yang memiliki vitalitas. Intinya, vitalitas sebagai syarat utama wartawan tangguh adalah mengerjakan yang biasa-biasa saja dengan cara yang luar biasa.

Saya sangat terkesan membaca contoh tulisan yang berisi pengalaman salah seorang wartawan Kompas mengikuti Arthur Zich, wartawan National Geographic (AS) yang kala itu ditugaskan menulis dengan tema “The Potrait of Java”, sekitar Agustus-September 1984.

Perjalanan bersama Arthur Zich keliling Jawa sungguh menginspirasi dan membuka pandangan baru mengenai cara kerja seorang wartawan yang handal. Ia bekerja secara sistematis. Sebelum memulai reportase, ia telah terlebih dahulu mengurus segala administrasi dan perizinan, serta mencari informasi selengkap-lengkapnya dan melobi narasumber yang akan dimintai keterangan, seperti para ilmuwan dan menteri. Sedangkan narasumber lain (yang tidak memerlukan berbagai izin dan birokrasi) ia kembangkan seiring dengan kebutuhan di lapangan.

Di lapangan, Arthur Zich bekerja dengan sangat cekatan dan berpikir jauh ke depan. Ia bahkan telah memikirkan lead seperti apa yang akan mengawali tulisannya. Karena menulis tentang Jawa, maka salah satu isu penting yang dikemukakan adalah mengenai kepadatan penduduk dan berbagai problematikanya. Ide yang saat itu tercetus di kepala Arthur ialah memulai tulisan dengan menceritakan bagaimana sibuk dan meriahnya sebuah keluarga di jawa menyambut kelahiran sang bayi. Begitu leadtentang hadirnya bayi tersebut selesai, dilanjutkan dengan problematika berikut, yakni bayi-bayi terlempar ke Jawa , sebuah pulau dengan 1001 persoalan, dan seterusnya… Agar lebih menjiwai, Arthur tak mau menulis proses kelahiran tersebut dengan sumber dari pihak kedua. Ia ingin melihat dan merasakan sendiri berada di tengah situasi penting tersebut. Namun, setelah beberapa hari tinggal di suatu desa dan menanyakan apakah ada ibu yang akan melahirkan, ia tak juga menemukan orangnya. Mungkin belum jodoh, akhirnya ia putar otak dan mencari ide tentang lead menarik lainnya.

Sepanjang proses wawancara dengan berbagai narasumber, wartawan Kompas yang mendampinginya menemukan bahwa proses wawancara bagi Arthur bukanlah sekadar bertemu dan merekam kata-kata narasumber, melainkan memanfaatkan seluruh proses. Ia mencermati baik-baik bagaimana proses menemui orang tersebut, bagaimana ekspresinya, dll. Bisa jadi terkadang ia tahu bahwa pertanyaan yang ia ajukan agak sensitif dan mungkin tidak akan dijawab. Namun ia tetap menanyakannya dan mendapat informasi meskipun hanya sekadar reaksi raut wajah narasumber tersebut. Dalam mencari informasi, ia bertanya kepada sebanyak-banyaknya orang bukan dengan maksud memasukkan seluruhnya ke dalam tulisan, melainkan agar ia mendapatkan suatu gambaran umum dan informasi yang lebih akurat dan tidak bias.

Dari cerita wartawan Kompas tersebut, saya dibuat kagum bukan hanya pada Arthur Zich, tetapi juga pada wartawan Kompas itu sendiri. Mengapa? Karena, tanpa kemampuan menulis yang baik, pengalaman berharga itu takkan bisa dibagi dan dinikmati oleh orang lain. Membaca pengalaman tersebut, saya pun berkaca pada diri sendiri dan mengingat-ingat rangkaian reportase yang pernah saya jalani hingga detik ini. Rasanya saya masih harus banyak belajar. Dan kita memang tak boleh berhenti untuk belajar dan kemudian membagi pengetahuan dan pengalaman kita untuk orang lain. Menulis adalah salah satu caranya.

 

 *Tulisan ini saya ambil dari arsip blog lama saya di Multiply dengan tanggal posting 26 Januari 2009. Waktu kuliah S1 dulu saya pengen jadi jurnalis, uhm..sekarang juga masih pengen sih. hehe.. 🙂

1865143963390123180513

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s