[AseanTrip18] Mendadak ke Phnom Penh

10 Oktober 2010

Sebetulnya saya dan Pupu memang sudah merencanakan ke Phnom Penh. Kenapa disebut mendadak? Karena keberangkatan kesana lebih cepat dari rencana awal kami.

Siang itu, di perjalanan pulang dari Angkor Wat, Tina, sang supir tuk-tuk memberi tahu kami lokasi sebuah gedung kesenian. Katanya kalau malam hari disana ada pertunjukan tari tradisional Cambodia, Apsara Dance. Tina bersedia mengantarkan kalau kami mau kesana, tanpa perlu membayar lagi untuk sewa tuk-tuknya. Kami berterima kasih kepada Tina dan akan memikirkannya kemudian.

Saya dan Pupu lalu mencari makan siang. Saya masih belum bisa menemukan makanan Cambodia yang menarik hati. Akhirnya pilihan kembali ke roti yang ada di convenient store, begitu pula dengan Pupu (Saya tahu makan itu penting, apalagi tubuh harus fit saat di perjalanan. Tapi sungguh saya tidak selera. Jangan ditiru ya!).

Sesampainya di guesthouse, kami masih bisa leyeh-leyeh. Karena ingin online, kami turun ke lobi dan mampir ke warnet. Disana ada Prum Phal, sang manajer. Dia sangat ramah dan suka mengobrol. Dia mungkin jarang melihat wanita berjilbab dan belum banyak tahu tentang muslim dan orang Indonesia. Makanya dia antusias sekali tanya ini-itu kepada saya dan Pupu.

Bersama Phrum Phal (yang diam-diam naksir Pupu :p)

Malam sebelumnya, saya sempat online juga dan menulis status di Facebook. Intinya saya curhat tentang kejadian di Poipet Border sampai dengan Siem Reap. Nah kebetulan teman saya, Yoga, juga sedang melakukan backpacking trip. Rute kami saling berkebalikan. Saya mulai dari Singapura dan Malaysia, sedangkan trip Yoga berakhir di Malaysia. Yoga sudah melewati Siem Reap sebelumnya dan juga punya pengalaman sama yang tidak mengenakkan.

Siang itu kami chatting via YM. Waaah…tumpah ruah deh semua cerita tentang betapa ‘sampah’ nya para penipu itu. “Gara-gara itu gw ga lama-lama Cha di Cambodia. Udah males. Abis dari Angkor Wat gw langsung cabut meninggalkan Siem Reap.” Kira-kira begitu katanya. Dan…*tring!* Saya jadi ada ide. Saya juga kayaknya udah nggak mau ngapa-ngapain di Siem Reap. Gimana kalau hari ini langsung cabut ke Phnom Penh (PP) ya?

Waktu saya tanya Pupu, dia langsung setuju. Akhirnya kami langsung berburu bus ke PP. Di sekitar guesthouse memang banyak travel agent yang menawarkan bus dengan berbagai rute. Setelah membanding-bandingkan harga dan mencocokkan jadwal, kami dapat bus yang kami inginkan. Harga tiketnya 7 USD. Dan pihak agen bus akan menyediakan mobil jemputan ke guesthouse untuk kemudian menuju ke terminal busnya. Siiiip! Saya pun langsung SMS Nary, teman saya yang tinggal di PP. Saya dan Nary dulu satu program bareng saat pertukaran pelajar di Korea tahun 2007.

Kami dijemput sekitar jam 5 sore. Siang itu juga setelah dapat kepastian soal bus, kami check out. Kami sebelumnya sudah minta izin pihak guesthouse bahwa kalau dapat bus, kami tidak akan perpanjang untuk malam ini. Untungnya mereka baik hati!

Di minivan yang menjemput ke guesthouse, kami berkenalan dengan beberapa backpacker lain. Semuanya juga akan naik bus menuju PP. Ada dua orang dari China dan ada seorang gadis dengan wajah campuran yang unik. Saya sampai tidak bisa menebak dia berasal dari mana. Dia kemudian tersenyum, “I am half American and Japanese.” Katanya dia sudah beberapa bulan ini menjadi volunteer dalam program sebuah NGO di PP. Karena sedang ada waktu luang, ia menyempatkan jalan-jalan ke Siem Reap. Ia bertanya dimana saya dan Pupu akan menginap di Phnom Penh. Lalu tanpa diminta, ia mengambil peta dari tasnya dan menunjukkan daerah tempat hostel yang sudah saya pesan. Waaah…terima kasih!

Walaupun penuh penumpang, bus Siem Reap – PP itu cukup nyaman. Hanya saja sang supir memutar DVD lagu-lagu lokal (beserta video klipnya yang menurut saya jadul sekali) dengan volume yang keras. Mau protes tapi malas. Ya sudahlah terima saja. Berhubung hari sudah gelap, saya tidak terlalu memerhatikan jalanan di luar sana. Kelihatannya sepi-sepi saja. Saya dan Pupu lalu larut mendengarkan musik di HP masing-masing.

Sekitar jam 8 malam, bus berhenti di sebuah komplek rumah makan. Lagi-lagi saya bingung mau makan apa. Mencium bau makanannya saya malah mual. Saya pun pamit masuk bus terlebih dahulu sedangkan Pupu masih melihat-lihat pilihan makanan. Untunglah masih ada persiapan roti di tas. (Apaaa?? Makan roti lagiii?? Ya! Silakan protes!)

Waktu menunjukkan jam 11 lewat. Perlahan semakin banyak terlihat cahaya lampu dan bangunan-bangunan. Hmm..saya rasa ini sudah masuk kota Phnom Penh. Jam setengah 12 malam bus berhenti di depan kantor agen bus tersebut yang terletak di Night Market/Old Market dekat sungai Mekong. Waktu saya lihat HP, OMG…tak ada sinyal! Bagaimana caranya mau menghubungi Nary? Apakah dia menunggu saya?

Dalam kegelapan malam, saya dan Pupu agak linglung. Hostel yang kami tuju letaknya memang bukan di sekitar Sungai Mekong, tempat dimana kebanyakan hostel berada. Mungkin pilihannya naik tuk-tuk ya. Atau kami berjalan kaki saja cari-cari hostel sekitar Sungai Mekong. Saat kami celingak-celinguk, tiba-tiba seseorang keluar dari mobil berwarna hitam. “Icha!” panggilnya. Sungguh langit malam serasa langsung cerah. Suara itu adalah suara Nary. Dia datang bersama seorang temannya, katanya dari tadi menunggu dan mencari saya tapi tak kunjung terlihat.

Saya dan Pupu mendarat di mobil mewah itu. Iya, mobil temannya Nary itu mewah sekali. Entah mobil apa, saya bukan pemerhati merek dan jenis mobil. Yang jelas, sebagai backpacker kere, saya langsung merasa ‘naik kelas’. Hehehe…

Guesthouse yang dituju bernama ‘Spring Guesthouse’ di #34 Street 11, Sangkat Boeng Prolet (ribet ya namanya? Hehe..). Saya dan Pupu belum memesan kamar, hanya sekedar browsing di internet dan mencatat alamatnya. Sesampainya disana, untunglah masih banyak kamar yang kosong. Sayangnya…kamar terletak di lantai 3 dan tentu hanya tersedia tangga. Langsung terbayang tubuh lemas ini menggendong carrier ke lantai 3. “We can help you carry your bags,” kata petugas hostel. *sujud syukur*

AC kamar menyala, kasur empuk menyambut. Sempurna sudah hasrat untuk melepas lelah perjalanan malam ini. Saya tengok kamar mandi, bersih dan nyaman. Selesai mandi, saya dan Pupu menonton TV. Mantap! Kamar dengan tarif 10 USD per malam itu menyediakan fasilitas AC, kamar mandi dalam, dan TV kabel. Rasanya malam itu masih mau nonton film-film di HBO. Saya dan Pupu baru terlelap sekitar pukul dua dini hari.

Pengeluaran 10 Oktober

Tiket Angkor Wat 20 USD

Tuk-tuk (12 USD dibagi dua) 6 USD

Hostel (6 USD dibagi berdua) 3 USD

Roti 0.6 USD

Internet 1 USD

Bus SR – PP 7 USD

Total 37.6 USD (Rp346.000)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s