[AseanTrip-2] Sentosa di Kota Singa

28 September 2010.

Pagi itu saya terbangun di sebuah kamar berisikan empat kasur tingkat dan delapan orang backpacker. Setelah beberapa detik saya lalu sadar, “Oh iya..ini Singapura ya?” Saya beranjak menuju kamar mandi dan berwudhu. Seusai solat Subuh saya langsung ngacir menuju komputer yang sepagi itu belum occupied. Yeahhh..fesbukaaann… 😀

Tiba saat sarapan, di meja makan sudah ada pisang, roti tawar, butter, dan beraneka selai. Dipilih..dipilih.. Tak lupa saya juga membuat cokelat panas. Hmm..nikmatnya. Duduk manis di meja makan dan menikmati semuanya, serasa rumah sendiri. Semakin siang penghuni lain sudah makin banyak yang bangun dan bergabung di meja makan. Kami berbincang dan saling bertanya tentang rencana jalan-jalan hari itu. Saya bilang pagi ini saya mau ke Merlion di Clarke Quay yang bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Seorang bule Inggris menyarankan kepada saya, “Since you’re a moslem, why don’t you also go visiting a mosque here?” sambil menunjukkan suatu tempat di peta. Saya ngangguk-ngangguk. Ya sekalian solat juga nanti. Makasih ya, bule..

Saya dan Pupu sudah mandi dan siap berangkat. Ini hari pertama mengeksplor kota dan kaki masih sehat segar bugar. Buat Pupu, ini bukan kali pertama ia ke Singapura, jadi ia sudah lumayan hapal rute-rute tempat wisata termasuk Clarke Quay. Dari hostel, kami ke jalan utama melewati Central Shopping Mal ke arah sungai. Di pinggir sungai, berjejer bangunan-bangunan tempo dulu yang masih sangat terawat, kebanyakan sih restoran. Di sisi lain, terlihat pula gedung-gedung tinggi yang amat modern. Tempo dulu dan masa kini tampak sangat rukun dan teratur. Sebenarnya kami berpenampilan turis: bawa tas, pake sunglasses, dan menenteng peta. Namun entah mengapa ada saja orang yang bertanya pada kami, baik jalan maupun di mana stasiun MRT berada. Karena kami sudah cukup bekal dengan membaca peta, jadilah kami bisa menjawab pertanyaan orang-orang. Errr..tampang kami seperti orang lokal kali ya?

Kami melewati jembatan dan terlihat Gedung Parlemen Singapura. Halamannya dibiarkan terbuka begitu saja dengan rerumputan yang rapi terawat. Lalu kami berbelok ke kanan dan melintasi bangunan-bangunan bergaya Eropa, salah satunya The Arts House at The Old Parliament. Berjalan di negara sekaligus kota Singapura adalah hal yang menyenangkan. Kendaraan teratur, trotoar luas, jalanan bersih, dan udara segar karena tak ada polusi dari bus macam Kopata di Jogja atau Kopaja di Jakarta yang seharusnya sudah dimuseumkan. Tahu sendiri kan asapnya berwarna hitam pekat? Hiii…

dari kiri atas (searah jarum jam): Gedung Parlemen; The Arts House at The Old Parliament; Gedung tinggi dan bangunan tua di sekitar sungai

Kami terus berjalan dan melewati Asian Civilisation Museum. Di sepanjang jalannya dipenuhi umbul-umbul “Sumatra. Isle of Gold”. Wah kok nemu kayak gini malah di Singapura ya? Apa kabar museum di Indonesia? *retoris*. Saya dan Pupu berfoto ria di sekitar museum. Lalu kami mengintip untuk mengetahui berapa entrance fee nya. Oh ternyata 8 SGD (sekitar Rp53.120). Kami pun mengurungkan niat untuk masuk dan berlalu pergi *sigh*.

Sejarah Merlion

dari atas (searah jarum jam): 1) berfoto dgn latar belakang Esplanade; 2) Pupu, Freda, dan saya setelah makan siang; 3) Pupu dan Merlion;

Setelah berbelok dan singgah di sana-sini, kami sampai di Patung Merlion yang menjadi icon Singapura. Jadi ceritanya zaman dahulu kala Singapura dikenal dengan nama Temasek atau Sea Town dan merupakan pusat perdagangan yang super sibuk, sama halnya seperti sekarang. Pada akhir abad-4, wilayah ini dihancurkan dan kemudian ditemukan kembali pada abad-11 oleh Pangeran Sang Nila Utama dari kerajaan Sriwijaya. Pada pendaratannya, ia melihat sebuah makhluk buruk rupa yang ternyata adalah seekor singa. Sejak saat itulah ia menyebut pulau ini sebagai “Singapura”, diambil dari Bahasa Sansekerta yang berarti Kota Singa. Jadi patung Merlion merupakan simbol dari tubuh ikan yang mewakili Temasek di masa lalu, dan juga kepala singa yang melatarbelakangi kisah penemuan kembali di abad-11.

Suasana di sekitar patung Merlion ramai sekali jadi kalau mau foto harap antre yaaa… Di sana terdapat patung kecil dan juga besar, tinggal pilih. Eh tapi kayaknya itu bukan pilihan, kalau bisa sih dua-duanya. Hehe.. Apalagi yang gede, belum afdol rasanya kalau belum foto di sana. Di tengah keramaian itu, kami juga berpapasan dengan segerombol anak SMP yang kelihatan sekali mereka adalah orang Indonesia. Mereka berkumpul serombongan beserta guru-guru yang heboh membawa toa. Waduh…hebat ya anak jaman sekarang study tour ke Singapura…saya dulu cuman ke Taman Mini *curhat*.

Esplanade letaknya berseberangan dengan Patung Merlion. Iseng-iseng kami masuk ke sana. Gedung megah itu adalah sebuah Concert Hall yang menampilkan berbagai performance lintas negara dan budaya. Katanya sih terdiri dari 1600 seats. Dilihat di siang hari, bangunan ini memang megah. Namun teman saya menyayangkan mengapa saya tidak ke sana di malam hari saja karena suasana Clarke Quay dan gedung ini terlihat lebih indah dan wow… Hmm..ya…moga kapan-kapan saya ke sana lagi.

Reuni Pertama

Saya janjian bertemu Freda siang itu. Ia adalah teman saya sewaktu pertukaran pelajar di Korea tahun 2007 lalu. Karena itu adalah hari kerja, jam makan siang menjadi waktu pilihan untuk bertemu. Dengan MRT, saya dan Pupu menuju stasiun Tanjong Pagar karena kantor Freda berada tak jauh dari stasiun itu. Wah…memang hampir semua orang berubah ya. Dan saya pikir-pikir, tiga tahun itu lumayan lama. Dulu kami masih kecil dan culun. Dulu Freda termasuk tomboy dengan celana jeans, kaos, dan rambut yang selalu pendek. Tapi sekarang ia sudah menjelma (kayak siluman aja) menjadi seorang wanita karier yang sangat feminin. Hehe… Kata Freda saya juga berubah jadi kurusan (emang setelah dilihat-lihat, dulu saya lebih gemuk :p).

Kami makan siang di foodcourt sebuah mal dekat kantor Freda (Btw, sepertinya hampir semua gedung di Singapore itu shopping mal ya..hehehe..). Kata Freda, di sana ada makanan halal. Saya memesan nasi dan chicken curry seharga 4 SGD (Rp26.560). Saya tidak membeli minum karena masih ada bekal hasil ngambil dari dispenser hostel, hehe… Oiya, porsi makanan yg saya pesan tadi lumayan jumbo lho. Selain nasinya banyak, awalnya saya kaget kenapa kok ayamnya dikasih dua potong. Saya takut aja disuruh bayar dobel. Eh ternyata memang satu porsi banyaknya segitu.. *senang dan riang*

Berburu Tiket ke Melaka

Golden Mile Complex. Itulah tempat yang disarankan Jacky untuk kami mencari tiket bus ke Melaka, Malaysia. Kalau dilihat di peta sih, letaknya hampir di ujung sebelah utara. Ketika ditanya lokasi ini, Freda malah geleng-geleng, “I think nobody goes there” katanya datar. Berhubung nggak ada referensi lain, ya mau nggak mau saya ke sana aja, mempersiapkan untuk keberangkatan ke Melaka esok harinya.

Ternyata tempatnya memang jauh dari keramaian Singapura. Golden Mile Complex adalah gedung yang terdiri dari beberapa lantai, yang di bagian depannya dipenuhi ruko-ruko berbagai biro perjalanan. Sedangkan kalau mau masuk ke bagian dalam isinya toko-toko yang penjualnya adalah orang India dan menjual berbagai macam barang yang baunya khas India juga. Selain itu, di sekitar biro perjalanan juga banyak tempat penukaran uang yang juga dimiliki oleh orang India. Tapi mereka tidak memiliki ruangan sendiri melainkan hanya di kotak-kotak kecil yang lebih mirip podium buat ceramah. Ah kelihatannya kurang kredibel ya sebagai tempat menukar uang.

Hampir semua biro perjalanan menawarkan harga yang sama untuk kelas dan tujuan yang sama. Kalaupun ada perbedaan harga, biasanya hanya beda tipis. Yang kemudian menjadi pertimbangan adalah jam keberangkatan dan jenis busnya, ada bus double decker dan ada yang biasa. Kalau soal kenyamanan sih di sana memang standarnya sangat nyaman. Satu bus biasanya berisi 26 seat dengan arrangement 2-1 di tiap barisnya (dua seat di kanan, satu seat di kiri). Seat-nya cukup besar dan space untuk kaki cukup luas. Bus ini bahkan lebih nyaman dari pesawat Air Asia yang bikin kaki mentok. Hahaha…

Sore-sore di Bugis Street dan Arab Street

dari atas (searah jarum jam): Interior Masjid Sultan; early dinner; Arab Street dan Masjid Sultan tampak luar

Kali ini kami tidak naik MRT melainkan naik bus hasil bertanya pada staf di tempat kami membeli tiket bus ke Melaka. Ternyata naik bus di dalam kota agak membingungkan karena tidak ada keterangan sedang berhenti di bus stop mana. Kalaupun merujuk ke peta, hal ini juga agak tidak membantu mengingat jalan di SIngapura cukup panjang. Misalnya kami mau berhenti di Beach Street, nah Beach Street itu membentang panjang sehingga kalau turun di satu sudut jalan itu, bisa saja sebenarnya masih jauh ke tujuan kita sebenarnya. Setelah kelewatan beberapa halte, akhirnya kami turun dari bus dan ujung-ujungnya naik MRT :p

Kami berjalan-jalan di Bugis Street di mana juga terdapat shopping mal dan restoran. Tapi kami hanya lewat dan melihat-lihat. Lanjut ke Arab Street, akhirnya kami menemukan Masjid Sultan di kawasan yang bernama Kampong Glam. Masjid ini tidak terlalu besar namun merupakan yang paling bersejarah di Singapura. Tahun 1924 Sultan Hussain mulai membangun masjid ini di sebelah istananya. Empat tahun kemudian (1928) masjid ini selesai dibangun dan tetap berdiri hingga sekarang dengan beberapa perbaikan pada 1960 dan 1993.

Sebelum meninggalkan kawasan ini dan menuju Sentosa Island, kami memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Hmm..early dinner. Pupu mengajak saya makan di The Banquet, foodcourt dengan banyak makanan halal dan harga terjangkau. Foodcourt ini ada di beberapa pusat perbelanjaan, namun kebetulan yang terdekat dengan Arab Street berada di lantai satu Raffles Hospital, rumah sakit yang menurut saya lebih mirip hotel (dari luar). Kami memesan mie bakso seharga 3.8 SGD (Rp.25.232) sedangkan air mineral sudah beli sebelumnya di convenient store. Rasa makanannya enak..ditambah sang penjual adalah seorang berjilbab yang sangat ramah.

Songs of the Sea di Sentosa Island

Sebenarnya kalau mau mengeksplor Sentosa Island lebih jauh, bisa habis satu hari sendiri, apalagi kalau jalan-jalan ke Universal Studio. Ehm..tapi belum kepikiran buat ke Universal Studio mengingat dan menimbang tiket masuknya yang cukup mahal. Tiket masuk untuk orang dewasa adalah 66 SGD (Rp438.240) pada hari kerja dan 72 SGD (Rp478.080) pada akhir pekan. Di Sentosa, kami hanya berniat menyaksikan pertunjukan Songs of The Sea yang kata Pupu sih very worth to see.

Sentosa Island bisa dicapai dengan MRT dan turun di stasiun terakhir North-East Line yaitu di Harbour Front. Wilayah transit sebelum ke Sentosa Island dikenal dengan sebutan Vivo City. Setelah mengikuti papan petunjuk jalan, kami sampai di loket penjualan tiket untuk ke Sentosa Island. Harga tiket masuk ke Sentosa Island dan pertunjukan Songs of The Sea totalnya adalah 13 SGD. Dari Vivo City, kami menyeberang dengan naik Sentosa Express (sudah termasuk dalam harga tiket). Kereta ini akan melewati tiga pemberhentian, Songs of The Sea berada di pemberhentian yang terakhir.

Tiap harinya, ada dua kali pertunjukan Songs of The Sea yaitu pada pukul 18.30 dam 20.00. Saya memilih pertunjukan di jam pertama. Agar bisa leluasa memilih tempat duduk, sebaiknya datang lebih awal. Karena untuk masuknya masih perlu antre lagi dan biasanya beberapa menit sebelum pertunjukan tempat duduk sudah penuh.

Pertunjukan dibuka dengan penampilan anak-anak yang menyanyikan lagu daerah berbahasa Melayu, China, India, dan Inggris, yang menunjukkan keanekaragaman di Singapura. Awalnya saya pikir agak membosankan. Tapi memang itu bukan inti pertunjukan. Yang menakjubkan adalah dancing fountain (kalo diterjemahkan jadi air mancur yang menari, hehe..) yang efek pencahayaannya super keren. Ditambah animasi yang muncul di tengah air mancur tersebut, yang menjadi bagian dari cerita. Wah it was beyond my imagination! Dari sisi alur cerita memang tidak terlalu spesial, namun saya kagum akan ide kreatif sarat teknologi itu. Ckckck… Harusnya Indonesia juga bisa bikin. Apalagi Indonesia terdiri dari beragam suku dengan cerita rakyat yang berbeda-beda.

Kemegahan Songs of The Sea

Seusai menonton Songs of The Sea, saya dan Pupu menelusuri arena lain di Sentosa Island, dari mulai patung Merlion terbesar, Lake of Dreams, sampai foto-foto di depan Universal Studio dan toko-toko souvenir. Hehe..

Pengeluaran hari-2:

Local transport: dirapel di hari ke tiga (menggunakan EZ-Link Card)

Hostel: 29 SGD

Lunch: 4 SGD

Air mineral: 0.8 SGD

Dinner: 3.8 SGD

Sentosa: 13 SGD

Total: 50.6 SGD

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Senangnya menemukan satu lagi travelblogger yang jalan-jalan ke Asia Tenggara :D. Kalau masuk ke Sentosa-nya aja, tanpa nonton Songs of The Sea, berapa SGD ya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s