[AseanTrip-1] Terbang Ke Singapura

27 September 2010

Tiket pesawat sudah di tangan. Saya berangkat  pukul 18.30 dengan pesawat Air Asia Jakarta-Singapura. Pagi harinya, saya mendapat pesan singkat dari Pupu, “Mbak, aku ketinggalan pesawat!” Saya dan Pupu memang rencananya bertemu di Singapura, karena saya berangkat dari Jakarta sedangkan Pupu berangkat dari Jogja. Jadwal penerbangan kami berbeda.

Sebenarnya, Pupu juga sudah memiliki tiket dengan penerbangan yang sama dengan saya, yaitu dari Jakarta. Namun kemudian ia berubah pikiran dan membeli tiket langsung dari Jogja agar ia tak perlu repot terbang ke Jakarta dulu. Namun apa hendak dikata, pesawat ke Singapura sudah siap terbang ketika Pupu baru selesai dengan urusan imigrasi di Bandara Adi Sucipto pagi itu. Maka kembalilah ke rencana semula dan Pupu harus terbang ke Jakarta terlebih dahulu.

Kami bertemu di bandara Soekarno-Hatta sore harinya. Backpack sudah nemplok di punggung dan tubuh kami yang memang tidak terlalu tinggi jadi terlihat tenggelam, hahaha.. Kami saling memandang agak-agak tak percaya, “Akhirnya hari ini datang juga ya…hehehe..” kami pun tertawa lalu dalam hati berdoa semoga perjalanan ini baik-baik saja sampai kami kembali ke tanah air.

Tiket pesawat Air Asia untuk hari itu saya dapatkan dengan harga Rp224.000 nett (termasuk biaya bagasi 15kg dan asuransi). Karena Air Asia adalah low cost carrier, kalau mau pesan makan harus bayar lagi. Saya dan Pupu jelas-jelas ogah dan memilih sebelumnya makan di KFC bandara, pesan menu yang paling murah. Hehe..

Pesawat kami delayed sampai pukul 19.00. Di pesawat, tempat duduk saya dan Pupu terletak berjauhan. Karena saya tidak mengantuk, saya memilih membaca majalah. Sementara itu, yang duduk di sebelah saya adalah sepasang suami istri yang memesan makanan dan baunya sampai tercium dan bikin saya agak lapar. Sebenarnya menunya biasa saja sih, chicken curry with rice. Dan tebak harganya berapa? Rp60.000 untuk porsi yang (menurut saya) kurang mengenyangkan. Haha.. Nggak jadi laper deh! :p

Btw, saya senang membaca majalah Air Asia. Dibandingkan dengan majalah di pesawat-pesawat mahal, majalah ini rasanya lebih akrab dan dekat dengan pembaca. Bahasanya formal tapi santai, serasa baca majalah Reader’s Digest. Setelah beberapa lama membaca majalah, saya mengantuk dan itu baru sekitar setengah jam sebelum mendarat. Duh..kebiasaan deh ngantuk pas mau landing. Akhirnya saya merem juga…

Pukul 21.30 kami mendarat di Changi Airport Singapura. Lama perjalanan Jakarta-Singapura adalah 1,5 jam namun ada selisih waktu satu jam antara Singapura dengan Jakarta (di Jakarta masih pukul 20.30). Memang aneh sih, mengingat secara geografis Jakarta dan Singapura semestinya masih dalam satu zona waktu, begitu pula Malaysia. Namun kedua negara itu waktunya satu jam lebih cepat. Ada yang bilang supaya mereka lebih rajin dan bangun lebih pagi. Hehe.. Saya kurang tahu penjelasan yang lebih akurat. Ada pendapat juga supaya pasar modal mereka buka lebih cepat. Entahlah, ada yang tahu?

Memasuki bandara, lemes juga melihat antrean imigrasi yang ramai dan super panjang. Ternyata banyak juga penerbangan yang baru sampai malam-malam begini. Ditambah saya juga seperinya sedang kurang hoki karena antre di barisan yang entah mengapa orang-orangnya pada bikin lama. Yang lain udah maju berapa orang, antrean saya masih belum bergerak. Akhirnya jam sepuluh lewat saya baru melewati meja imigrasi dan segera menuju terminal MRT (Mass Rapid Transit) dengan mengikuti petunjuk arah yang tersedia. Terminalnya masih di dalam bandara, tinggal turun menggunakan eskalator saja. Saya dan Pupu masing-masing sudah memegang itinerary yang juga terdapat petunjuk untuk sampai ke hostel tempat kami menginap, yaitu River City Inn. Kami sudah mendapat contekan dari website-nya mengenai how to get there from Changi Airport. Sebenarnya kalau nggak mau mikir sih bisa naik taksi. Berhubung kami traveler miskin kayaknya mikir seribu kali kalau mau naek taksi. Haha… Lagipula menggunakan MRT sudah nyaman dan mudah.

River City Inn from outside is just another building.

Kami turun di stasiun Clarke Quay. Karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 23.00, eskalator sudah mati. OMG, dari stasiun kami naik ke jembatan penyeberangan dengan berjalan kaki ditambah punggung udah keberatan sama backpack (ya harap maklum dong, katanya backpacker..haha..). Setelah menyeberang, kami masih harus berjalan beberapa ratus meter. Pas ketemu Hong Kong Road, rasanya pengen bersorak-sorai..di situlah hostel kami berada. Kami mencari bangunan bercat kuning. Ternyata di bawahnya adalah ruko-ruko nggak jelas yang udah gelap. Dan ternyata (lagi), hostelnya ada di lantai EMPAT. Gubrak!! Kami naik tangga lagi dengan agak putus asa. Tapi begitu sampai di lantai empat…wahhh…senangnya melihat hostel kami. Tempatnya minimalis, nyaman, dan homey. Kami disambut oleh Jacky yang malam itu bertugas sebagai resepsionis. Sambil mengurus administrasi, Jacky membawakan kami masing-masing segelas air dingin. Alhamdulillah.. Glek..glek..glek.. Langsung habis seketika. Saya langsung betah tinggal di sana. Hehe..

Tangga menuju hostel
Footwears are not allowed inside hostel

Akomodasi di Singapura terbilang mahal dibandingkan di negara-negara Asean lainnya. Oleh karena itu, Pupu sengaja memesan dormitory hostel sebagai tempat kami menginap. Jadi kami tidak menginap di private room melainkan dalam satu kamar bersama beberapa backpacker lain. Kamar yang saya huni kapasitasnya delapan orang dengan empat tempat tidur tingkat. Memang berasa di asrama ya..hehe.. Masing-masing tamu memiliki loker sendiri jadi keamanan sangat terjaga (asalkan tidak lupa mengunci ya…). Di samping tiap tempat tidur terdapat lampu baca dan stop kontak. Tujuannya tak lain supaya kita masih bisa membaca meskipun tamu lain sudah tidur dan lampu utama sudah dimatikan.

Setelah kami menaruh backpack di kamar, Jacky mengajak kami berkeliling untuk melihat fasilitas umum di hostel tersebut. Pertama ada living room untuk duduk-duduk dan menonton TV dan membaca buku yang tersedia di perpustakaan mini. Ada pula dining room yang menyatu dengan pantry. Di sana tamu bisa duduk-duduk sambil makan, minum, dan ngobrol-ngobrol dengan tamu lainnya. Di pantry disediakan teh, kopi, dan cokelat yang bisa diseduh kapan saja. Nah ini dia favorit saya selama menginap di sini: cokelat panas! Hehe.. Terdapat pula air di dispenser yang membuat saya bisa irit dan tidak perlu membeli air mineral setiap saat. Oh iya, tamu-tamu dilarang manja lho di sini, karena semua cucian piring dan gelas harap cuci sendiri di tempat yang telah disediakan. Memang berasa rumah sendiri ya…

Dining room and pantry: my fave corner at the hostel

Setelah mandi, saya kelaparan dan menyeduh pop mie yang sengaja saya bawa untuk persediaan. Saya duduk dan berkumpul dengan beberapa backpacker lain di meja makan. Mereka berasal dari Filipina dan China. Kami mengobrol ngalor ngidul dan si orang China itu tak bosan-bosan mempromosikan barang-barang elektronik buatan China. Dia sampai bawa katalognya segala lho! Emang salesman kayaknya. Hehe.. Tapi dia baik dan ramah banget (memang berjiwa marketer :p). Saya melihat ada dua komputer yang bisa digunakan untuk internetan gratis tapi masih occupied. Besok pagi aja deh update statusnya..hehe.. ;D

Tidur dulu ya.. Sampai jumpa besok. Hoahm…

*Pengeluaran hari 1: 

MRT ke hostel: dirapel hari ketiga karena saya menggunakan MRT Card

Biaya hostel/malam: 29 SGD

Advertisements

One Comment Add yours

  1. Aldila Kurnia says:

    Hai Kak Maisya,
    Aku rencana mau traveling ke Singapura dengan Airasia jam 18.30. Yang aku mau tanya, apa pada jam 21.30 tiket MRT masih bisa kita beli? kalau masih, gimana ya cara belinya?
    Terimakasih 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s