Asia, Traveling

[AseanTrip-17] Angkor Wat dan Kejayaan Masa Silam

[10 Oktober 2010]

Sebelum matahari terbit, kami sudah siap di lobi guesthouse. Setelah pengalaman buruk dalam perjalanan Bangkok-Siem Reap di hari sebelumnya, rasa-rasanya berada di gueshouse ini membuat saya dan Pupu merasa aman. Orang-orangnya ramah dan dapat dipercaya. Pada pagi buta itu kami diperkenalkan dengan seorang supir tuk-tuk bernama Tina. Namanya feminin ya? Hehe… Tapi dia laki-laki kok.

Tentu misi kami pagi itu adalah berburu sunrise di Angkor Wat. Tuk-tuk melaju menembus dinginnya udara pagi. Sesampainya di loket, ternyata sudah berbaris rapi beberapa rombongan turis yang juga akan memasuki area Angkor Wat. Sebelum masuk, masing-masing pengunjung difoto terlebih dahulu untuk mendapatkan tiket masuk Ada beberapa pilihan tiket masuk ke komplek candi ini. Ada tiket untuk satu hari (20 USD), tiga hari (40 USD), dan 6 hari (60 USD).. Wisatawan yang memilih tiket lebih dari sehari biasanya mereka yang ingin mengeksplor Angkor Wat lebih jauh dengan bersepeda. Komplek candi ini memang terbilang sangat luas dan terdiri dari banyak candi berbeda.

One-day pass to Angkor Wat

Angkor Wat dibangun oleh Raja Suryavarman II pada pertengahan abad ke-12. Pembangunannya konon memakan waktu 30 tahun lamanya. Candi-candi di Angkor Wat ini ternyata merupakan perpaduan candi Hindu dan Buddha karena pada masa pemerintahan kerajaan saat itu sempat ada perubahan kepercayaan, agama Buddha menggantikan agama Hindu yang sebelumnya dianut oleh para raja disana.

Continue reading “[AseanTrip-17] Angkor Wat dan Kejayaan Masa Silam”

Asia, Traveling

[AseanTrip-16] (Hampir) Diculik Supir Tuk-tuk di Siem Reap

[Masih 9 Oktober 2010]

Kami memasuki Siem Reap ketika matahari sudah terbenam. Jujur saja saya tidak ada firasat buruk sampai supir taksi tiba-tiba menepi dan memberhentikan mobil. Dia kemudian berkata, “You can ride tuk-tuk from here.” Belum sempat saya berkata-kata, ia sudah membuka pintu dan mempersilakan kami keluar. Carrier di bagasi pun sudah dikeluarkan.

What do you mean? And the tuk-tuk is for free?” tanya saya penasaran.

Yes. The driver will drop you to the guesthouse.

Saya masih belum bisa berpikir. Saya dan Pupu saling berpandangan merasa ada yang tak beres dalam hal ini. Tanpa berkata-kata, taksi tadi sudah menghilang begitu saja. Jadilah kini tinggal kami dan para supir tuk-tuk. Sementara itu, turis Korea yang belum reservasi guesthouse pasrah mau diajak kemanapun oleh supir tuk-tuk.

Continue reading “[AseanTrip-16] (Hampir) Diculik Supir Tuk-tuk di Siem Reap”