Other Stories

Bahasa yang Serupa Tapi Tak Sama

Kali pertama punya teman orang Malaysia adalah sewaktu pertukaran pelajar di Korea 2007 lalu. Sebelumnya sudah pernah dengar sih orang berbicara bahasa Melayu. Kedengarannya hampir sama dengan Bahasa Indonesia, tapi akhirannya banyak pake huruf “e” istead of “a”.

Saya kira hanya itu perbedaannya.

Continue reading “Bahasa yang Serupa Tapi Tak Sama”

Asia, Traveling

[AseanTrip-9] Penang dan Sahabat Lama

3 Oktober 2010.

Selamat pagi Penaaaang…

Sebelum berangkat jalan-jalan seputar George Town, saya dan Pupu menikmati sarapan yang disediakan di hostel. Menu roti tawar dan butter rasanya menjadi standar sarapan di kebanyakan budget hostel. Disajikan segelas orange juice, rasanya sarapan tersebut sudah cukup lengkap. Selain itu, disediakan pula teh dan kopi yang bebas dipilih oleh tamu hostel.

Breakfast

Untuk jalan-jalan di Singapura, Malaysia, dan Thailand, buku Claudia Kaunang (terbitan Bentang) yang berjudul “Rp2 Juta Keliling Thailand, Malaysia, & Singapura,” menjadi salah satu panduan utama kami. Untuk di Penang sendiri, disebutkan bahwa terdapat Central Area Transit (CAT), yaitu “hop on – hop off bus” gratis yang disediakan untuk para wisatawan. Tentu saja ini sangat memudahkan karena rute bus tersebut akan melewati spot wisata yang terletak di pusat kota.

Continue reading “[AseanTrip-9] Penang dan Sahabat Lama”

Asia, Traveling

[AseanTrip-8] Menuju Pulau Pinang

[2 Oktober 2010]

Enam jam perjalanan kami tempuh dari Kuala Lumpur ke Penang, semuanya lewat jalan tol. Di kiri-kanan kami dipenuhi pemandangan yang hampir sama: perkebunan sawit. Memang tidak salah kalau Malaysia disebut-sebut sebagai salah satu penghasil kelapa sawit terbesar dunia (data menunjukkan, nomor satunya adalah Indonesia). Entah playlist di hp saya sudah berulang berapa kali, saya mulai bosan. Untungnya bus yang saya tumpangi sangat nyaman dengan seat 2-1 di setiap barisnya (harga tiket bus yang ditawarkan berbagai agen bus rata-rata RM 30-an).

Selama di perjalanan, saya juga ber-SMS dengan teman Malaysia saya bernama Kenneth, atau biasa dipanggil Ken. Saya sudah mengabarinya bahwa saya akan berkunjung ke Penang. Ia tinggal di sana dan kini bekerja di salah satu kantor akuntan publik terkemuka. Ia sibuk, tapi ia masih sempat mengirim SMS panjang berisi “how to get there”, yang dimaksud di sini adalah bagaimana menuju Hutton Lodge, sebuah budget hotel tempat saya dan Pupu akan menginap, dari terminal bus Sungai Nibong.

Penang adalah sebuah pulau yang terpisah dari daratan Malaysia bagian barat. Sebagian penduduk lokal menyebutnya Pulau Pinang. Tulisan serupa juga ditemukan di beberapa papan reklame maupun papan nama toko di pinggir jalan. Menuju Penang, kami tidak perlu menyeberang lautan dengan ferry karena sudah ada jembatan yang konon panjangnya 13,5 km. Sambil disuguhi pemandangan laut yang indah, rasanya sedikitpun tak membosankan.

Continue reading “[AseanTrip-8] Menuju Pulau Pinang”

Asia, Traveling

[AseanTrip-7] Kuala Lumpur in a Rush

[1 Oktober 2010]

Menjelang jam 12 siang, sampailah saya di Bukit Bintang, Kuala Lumpur. Di sanalah saya dan Pupu akan menginap untuk satu malam. Sebelumnya, bus dari Melaka tiba di terminal Bukit Jalil (mengingatkan pada pertandingan AFF melawan Malaysia ya? Hehe..), lalu dari Bukit Jalil kami naik bus Rapid KL dan disambung naik MRT.

The Explorer 😀

Secara umum, transportasi umum di KL dibagi menjadi beberapa jalur utama dan masing-masing jalur itu dilayani oleh operator transportasi yang berbeda. Kalau lihat di peta transportasinya, maka akan ada beberapa warna berbeda yang menunjukkan masing-masing operatornya. Kalau dari segi kebersihan dan jumlah armada sih tidak masalah. Hanya saja, adanya operator yang berbeda ini menyebabkan jika mau pindah jalur, penumpang harus berjalan cukup jauh. Dan walaupun jaraknya dekat, kalau pindah jalur penumpang harus membayar lagi, tidak terintegrasi seperti MRT di Singapura. Trans Jakarta saja kalau ganti jalur tidak perlu bayar lagi kan ya? (sekali-kali bangga sama Jakarta)

Continue reading “[AseanTrip-7] Kuala Lumpur in a Rush”

Asia, Traveling

[AseanTrip-6] Pagi yang Singkat di Melaka

[1 Oktober 2010]

Pagi yang tidak terlalu cerah, namun tidak pula mendung. Jam 7 tepat saya dan Pupu sudah di ruang makan menikmati pisang, banana cake, dan kopi panas. Banana cake adalah salah satu hal yang spesial dari guesthouse ini. Dibuat oleh istri Raymond, Mani, banana cake itu tampilannya memang biasa saja. Tapi rasanya? Hmm..enyaaak.. Tak mengherankan sewaktu saya membaca kertas-kertas kesan & pesan dari para tamu (ditempel di pintu kulkas), banyak dari mereka yang terkesan oleh banana cake buatan Mani. Saya dan Pupu tak terkecuali.

Backpack kami sudah siap sedia di kursi ruang TV. Begitu selesai makan, kami tak langsung meninggalkan tempat itu. Raymond dan Mani nampaknya belum bangun sehingga kami tak punya kesempatan untuk berpamitan langsung. Kami pun menulis pesan untuk keduanya, sama seperti yang dilakukan tamu-tamu sebelumnya. Dari semua yang ditulis, bisa dirangkum bahwa mereka sangat betah dan merasa nyaman tinggal di giuesthouse ini. Bahkan ada yang menulis bahwa tempat ini memberikan paradigma baru tentang apa yang disebut guesthouse. Bukan sekedar hubungan antara pemilik dan penyewa kamar, namun labih dari itu, seperti keluarga dan rumah sendiri. I can’t agree more.

Continue reading “[AseanTrip-6] Pagi yang Singkat di Melaka”

Asia, Traveling

[AseanTrip-4] Melaka dan Teras Terindah

(Masih tanggal 29 September 2010)

Kami tak sempat makan siang di Singapura, bahkan tak sempat pula membeli bekal untuk dimakan di bus. Menyedihkan. Kami kelaparan…

Tiba-tiba wajah Pupu sumringah. “Mbak Icha, ada roti tawar lho di tasku. Untung aja ibuku nyuruh bawa buat jaga-jaga. Terus ada ikan asin juga nih,” kata Pupu sambil merogoh daily backpack nya. Kami lalu menghitung-hitung apakah kiranya roti itu masih layak makan. Roti itu dibeli hari Senin, dan itu hari Rabu. Seharusnya sih masih layak. Dilihat-lihat juga belum berjamur. Hihihi.. Lalu kami makan siang alakadarnya namun luar biasa nikmat. Duh saya lupa itu ikan asin jenis apa ya, enak banget. Malah setelah makan roti campur ikan asin, ikan asinnya kami gadoin, udah macem ngemil keripik gitu. Hahaha.. Semoga orang-orang sekitar tidak terganggu dan hidungnya tidak cukup sensitif untuk mencium bau ikan asin ;p.

Continue reading “[AseanTrip-4] Melaka dan Teras Terindah”