Other Stories

Internasionalisasi Pendidikan Tinggi

university-2119707_1920
Foto: Pixabay

Bukan hanya toko atau perusahaan yang bisa membuka cabang. Institusi pendidikan tinggi pun sudah lumrah memiliki cabang di negara lain. Dengan demikian, kita tak hanya mengenal perusahaan transnasional, namun juga lembaga pendidikan transnasional. Di negara-negera tetangga seperti Malaysia dan Singapura, terdapat sejumlah cabang dari universitas asing. Saya jadi ingat, ada beberapa teman yang berkuliah di negara tetangga namun kampusnya adalah kampus asal Eropa. Selain kedua negara tetangga, contoh lainnya adalah Tiongkok. Universitas-universitas asing berlomba memasuki pasar Tiongkok. Ya, bagaimanapun juga, pendidikan tinggi merupakan bagian dari sektor jasa yang tentu saja mencari pasar yang paling potensial.

Continue reading “Internasionalisasi Pendidikan Tinggi”

Advertisements
Other Stories

Kita dan Statistik Jasa

Sektor Jasa di Sekitar Kita

Beberapa tahun terakhir, aktivitas traveling atau wisata menjadi sesuatu yang sangat populer. Bersamaan dengan itu, bermunculan berbagai website dan aplikasi penjualan tiket berbagai moda transportasi (pesawat, kereta, bahkan bus) maupun pemesanan tempat menginap. Tanpa harus beranjak dari tempat duduk, tiket bisa dibeli, kamar hotel pun bisa dipesan. Semua beres. Ups, tunggu dulu. Kalau ada perlengkapan wisata yang belum lengkap, kita juga bisa membelinya secara online. Ketika akan berwisata ke daerah dingin dan membutuhkan jaket tebal, kita tinggal buka beberapa alternative marketplace dan membeli barang yang kita butuhkan. Dalam hitungan hari, barang yang kita pesan sudah ‘mendarat’ di rumah dengan diantar oleh petugas jasa ekspedisi. Sadar atau tidak, semua itu adalah kegiatan yang didukung oleh sektor jasa. Tentu masih banyak kegiatan sektor jasa lainnya, di antaranya jasa perbankan, konsultan, pendidikan, logistik, dan kesehatan.

dropshipping-3264486_1920
pixabay.com

Continue reading “Kita dan Statistik Jasa”

Other Stories

Kemudahan Layanan Keuangan Lewat Satu Gerbang

Sekitar sebelas tahun lalu, saya terkesima saat seorang teman membayar ongkos bus dengan menggunakan uang elektronik. Cukup pindai kartu di mesin dekat pintu masuk bus, mesin akan berbunyi pertanda transaksi pembayaran berhasil. Teman saya pun langsung duduk di bus dengan tenang. Sementara saya, setelah grasak-grusuk, barulah menemukan uang pecahan seribu won di dompet untuk membayar ongkos.

Pengalaman tersebut terjadi di sebuah bus di kota Daejeon, saat kali pertama saya menggunakan bus kota di Korea. Karena pengalaman itulah, saya kemudian membeli uang elektronik di salah satu convenient store untuk mempermudah berbagai transaksi. Kartu tersebut bisa digunakan baik untuk bus maupun kereta bawah tanah. Selain alasan kepraktisan, jika membayar menggunakan uang elektronik, tarifnya 10% lebih murah dibandingkan membayar tunai. Tentu ini menjadi insentif tersendiri bagi masyarakat sebagai konsumen.

Continue reading “Kemudahan Layanan Keuangan Lewat Satu Gerbang”

Other Stories

Opportunity Cost

Foto dari SINI
Foto dari SINI

Amelia Brand menatap lencana bertuliskan Edmund di sebuah planet baru. Ia siap memulai hidup baru bersama koloni yang ia bawa dari bumi.

Lampu bioskop menyala, tanda bahwa film Interstellar telah usai.

“Eh, BBM naik nanti jam nol-nol,” ujar seorang kawan yang semalam nonton bareng.

Seolah saya terlempar kembali ke bumi setelah bertualang ke galaksi lain.

Continue reading “Opportunity Cost”

Other Stories

Sssst… Rahasia!


Setujukah Anda bahwa hidup penuh rahasia?

John Maynard Keynes (1883-1946), seorang ekonom yang pemikirannya masih sangat berpengauh hingga kini, pernah mengalami kegagalan. Di awal kariernya, ia sangat ingin bekerja di Departemen Keuangan. Namun ternyata hasil tes seleksi hanya menempatkannya di peringkat kedua, bukan pertama, sehingga ia gagal bergabung dengan instansi bergengsi itu.

Apa boleh buat, kemudian ia menerima pekerjaan di India Office, satu-satunya pekerjaan domestik yang terbuka pada saat itu. Keynes bekerja di India Office untuk waktu yang singkat sebelum akhirnya ia menerima tawaran mengajar dari seorang professor ekonomi bernama Pigou. Pigou melihat Keynes sangat potensial sehingga ia rela membayar gaji Keynes dari kantong pribadinya, karena keterlibatan Keynes dalam kegiatan mengajar bukanlah atas kehendak universitas. Karena performa Keynes yang baik, di tahun selanjutnya Keynes resmi menjadi pengajar di King’s College in Cambridge, posisi yang ia jabat hingga akhir hayatnya.

Apakah cerita tersebut biasa saja? Bisa jadi cerita tersebut menjadi biasa jika kita hanya melihat dari sisi “what it is”. Namun, jika kita mencoba menyingkap sisi “what beyond”, maka ada suatu pelajaran berharga darinya.

Continue reading “Sssst… Rahasia!”

Other Stories

Oleh-oleh dari Ruma

Kepada Anda pemuda berbakat yang bersemangat melakukan perubahan untuk Indonesia yang lebih baik,

Melalui surat ini, saya mengundang Anda bergabung dengan gerakan social enterprise di Indonesia bersama Ruma. Apa itu Social Enterprise?

……..

Saya, bersama rekan lainnya, membuat sebuah organisasi dengan struktur social enterprise bernama Ruma, singkatan dari Rekan Usaha Mikro Anda. Social enterprise merupakan perusahaan yang memiliki misi sosial, bisa dijalankan untuk mencari profit ataupun tidak. Ruma merupakan social enterprise yang berdiri sebagai PT sehingga memiliki misi profit, tetapi tetap memiliki misi sosial untuk meningkatkan derajat, pendapatan, dan akses untuk masyarakat miskin melalui teknologi. Cara Ruma mencapai misi tersebut dengan mengajarkan para wirausaha mikro untuk berjualan menggunakan teknologi. Ruma mendapat keuntungan melalui cara bagi hasil dengan apa yang dihasilkan oleh Rekan Usaha, sebutan wirausaha mikro. Dengan adanya sistem profit melalui bagi hasil, Ruma dapat mencapai visi dan misinya serta menjaga kelangsungan perusahaan dengan mandiri.

–       Penggalan surat terbuka dari Aldi Haryopratomo (@aldi_h), CEO Ruma

***

Jumat, 6 Juli 2012, saya dan beberapa Pengajar Muda (@pengajarmuda) angkatan II hadir ke Open House Ruma. Sebagian orang mungkin sudah familiar dengan konsep social enterprise. Bagi yang baru tahu, setidaknya sudah ada sedikit gambaran dari penggalan surat terbuka di atas. Sebelum bertemu rekan-rekan di Ruma, saya sudah menengok website-nya. Menarik sekali. Sebagai mantan mahasiswa jurusan Ilmu Ekonomi, Ruma ini bagaikan gambaran konkret dari ide yang ada di kepala saya tetapi masih di awang-awang. Mungkin banyak yang punya ide serupa maupun mirip dengan Ruma, tapi tidak banyak anak muda yang berani mengimplementasikannya.

Continue reading “Oleh-oleh dari Ruma”