Books, Review

A Thousand Splendid Suns

Saya belum banyak membaca novel berlatar Timur Tengah. Namun dari beberapa yang saya baca, novel-novel tersebut adalah kisah-kisah yang menyentuh, mengiris hati, dan membuat saya menitikkan air mata. Tipikal kisah yang sedih ini bisa jadi dilatarbelakangi oleh banyaknya konflik dan krisis yang terjadi di kawasan itu, di antaranya di bidang politik, ekonomi, budaya, agama, dan antar etnis.

Continue reading “A Thousand Splendid Suns”

Advertisement
Books, Review

the HEART inside the HEART

Di sampul bukunya tertulis: (1) Susahnya menyatukan dua hati, lalu (2) Apa yang perlu diketahui wanita sebelum menikah, selingkuh, atau bercerai.

Wuuzzz..agak ngeri juga ya deskripsi bukunya. Hehe… Tapi temen saya yang sudah membacanya bilang bagus. Jadilah saya tertarik untuk ikutan baca di beberapa hari waktu saya break skripsi 2010 lalu (haha..jauh amat larinya ke buku beginian).

Jujur saja, saya suka malas membaca buku motivasi maupun psikologi. Entah mengapa, pas baca buku semacam itu saya suka merasa kebanyakan isinya common sense, menggurui, dan ujung-ujungnya balik lagi ke diri sendiri. Makanya saya lebih suka baca novel, biografi, dan buku traveling, hehe..

Continue reading “the HEART inside the HEART”

Books, Review

Kisah Persaudaraan dari ‘Selimut Debu’

Setelah 2 minggu di waktu-waktu senggang membaca buku ‘Selimut Debu’ karya Agustinus Wibowo, akhirnya siang ini selesai juga. Mungkin ada yang sudah pernah baca?

Wahhh..selama membaca saya benar-benar terbawa ke debu-debu Afghanistan di musim panas sampai menggigil di perbukitan Afghanistan saat musim dingin. Ada rasa deg-degan, ada penasaran, ada haru, ada jengkel, ada bahagia, semua campur aduk mengikuti perjalanan sang penulis yang luar biasa.

Namun ternyata di bagian akhirlah saya meneteskan air mata. Di bab ‘Tashakor’, dimana sang penulis mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang telah membantunya untuk kuat dan bertahan selama perjalanan, terutama orang-orang Afghanistan yang dalam segala keterbatasannya sangat memuliakan tamu. Untuk karpet usang sebagai alas tidur, untuk teh hijau hangat, untuk nasi palao(qabuli), dan lainnya.

Yak rust didi dost, digar ruz didi baradar. Hari pertama kaulihat teman, hari berikutnya yang kaulihat adalah saudara.

Saya merasa bahwa bab akhir ini adalah rangkuman dan sebuah refleksi perjalanan. Refleksi bahwa di dunia ini — di atas perang yang berkecamuk sekalipun — masih ada satu hal bernama kemanusiaan dan kasih sayang, terlepas dari perbedaan suku bangsa, negara, paham, agama, dan sebagianya, yang seringkali mengotak-kotakkan umat manusia dan membuat kita terperangkap dalam berbagai prasangka.

Kisah perjalanan yang sungguh luar biasa!

*bersiap menuju buku selanjutnya: ‘Garis Batas’

Cheers,

Books, Review

Cerita Kami di ‘Indonesia Mengajar 2’

“Setahun Mengajar Seumur Hidup Menginspirasi” – Anies Baswedan

Setahun ternyata berlalu begitu cepat. Setahun yang penuh hikmah. Senang, sedih, kecewa, takut, semua rasa yang penuh pelajaran dan mengajarkan kami keikhlasan dan ketulusan.

Cerita kami — 72 Pengajar Muda angkatan II — selama setahun terangkum dalam buku ini: ‘Indonesia Mengajar 2’. Cerita dalam buku ini dibagi menjadi empat bagian, yaitu ‘Cinta dan Pengabdian’, ‘Cerita Anak-Anak Kami’, ‘Memupuk Optimisme’, dan ‘Buah Manis dari Usaha’.

Continue reading “Cerita Kami di ‘Indonesia Mengajar 2’”