Sebelum punya anak, memiliki asisten rumah tangga (ART) yang menginap di rumah tidak pernah masuk daftar kebutuhan kami. Kami pernah punya ART yang pulang-pergi, bekerja seminggu 2-3 kali. Mungkin hanya sekitar setahun, sisanya ya kami mengerjakan segala pekerjaan rumah berdua (catatan: baju yang perlu disetrika kami kirimkan ke jasa laundry terdekat haha..).
Pilihan memiliki asisten yang menginap mulai muncul ketika:
1) putri pertama kami lahir,
2) situasi sedang pandemi (tidak berani mempekerjakan asisten yang pulang pergi karena sulit mengontrol kegiatan di luar dan protokol kesehatannya).
Kami maju-mundur untuk memutuskan hal tersebut. Sampai dengan usia K tujuh bulan, dengan segala jungkir baliknya, kami masih sanggup mengelola kehidupan sehari-hari kami, yaitu bekerja dari rumah (WfH), mengurus bayi, dan melakukan pekerjaan domestik.
Mendadak ke Museum

Menjelang akhir pekan kemarin, saya kepikiran mau cari lokasi jalan pagi selain sekitaran rumah. Tujuannya, tentu karena saya butuh refreshing dari suasana yang itu-itu saja. 😄 Kepikiran lah ke sekitar Alun-alun Utara Jogja, mengingat kalau di Alun-alun Selatan alias Alkid kan biasanya cukup ramai orang berolahraga dan berjualan.
Karena satu dan lain hal (di antaranya karena harus mampir ke suatu tempat dan ban mobil bocor huhu..), kami sampai tujuan lebih siang dari yang direncanakan. Tapi ya sudahlah.. si Ibu nggak mau rugi dong, tetap harus ada aktivitas jalan kaki. Hehe..
Sewaktu kami jalan ke arah utara menuju titik nol, dikarenakan sudah cukup panas, kami bermaksud berteduh sebentar di depan Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo. Petugasnya terlihat senang ada pengunjung yang datang dan kami malah jadi ngobrol. Dari petugas tersebut, kami jadi tahu bahwa sedang ada pameran Harmoni Cina – Jawa dalam Seni Pertunjukan di gedung tersebut (bukan di gedung utama museumnya).
Apa Kabar Selama Pandemi?
Sempat galau waktu cuti melahirkan mau selesai beberapa bulan lalu. Rencana sebelumnya, K akan dititipkan di day care dekat kantor selama saya bekerja. Tapi dengan kondisi pandemi, tentu daycare langsung dicoret dari rencana (kebanyakan daycare tutup, tapi ada juga beberapa yang sudah kembali buka). Saya dan suami juga belum mantap untuk punya asisten rumah tangga (ART) di rumah, jadi ya semua dikerjakan berdua.

Alhamdulillah.. kabar baik datang pada akhir Juni lalu. Meskipun kantor saya sudah mulai menerapkan bekerja di kantor lagi dengan sistem shift, ibu hamil dan ibu yang punya anak kecil boleh tetap bekerja dari rumah. ❤ Jadilah selama empat bulanan ini, kegiatan di rumah aja makin heboh dengan saya dan suami yang work from home (WFH) sambil mengasuh bayi. Semoga bisa cerita tentang up and down WFH with baby di tulisan terpisah ya.
Hamil dan Melahirkan di Masa Pandemi
Beberapa pekan terakhir sebelum melahirkan, rumah sakit telah memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat. Cek suhu tubuh sebelum masuk, physical distancing, dsb, termasuk dokter pun mengenakan APD saat memeriksa pasien. Kontrol ke rumah sakit rasanya menjadi saat yang mendebarkan. Kontrol yang seharusnya sepekan sekali, akhirnya agak dikurangi, selama pergerakan bayi di dalam perut masih aktif. Dalam periode tersebut, saya juga periksa ke bidan alih-alih ke rumah sakit untuk menghindari keramaian.
Sudah Bahagia?
“Waah udah bahagia ya, sekarang udah punya anak.”
Beberapa kali kami mendapat komentar yang kurang lebih sama. Kami percaya, tidak ada maksud yang tidak baik dari kalimat tersebut.
Alhamdulillaah.. sebelum dikaruniai anak pun kami berusaha untuk senantiasa bersyukur dengan apa yang Allah berikan, karena sejatinya rezeki itu berbagai macam bentuknya.
Alhamdulillah dikaruniakan kesehatan, pasangan yang baik, keluarga yang suportif, pekerjaan, waktu luang untuk melakukan hal-hal yang semoga bermanfaat, dan masih banyak lagi.
Reply 1988: Drama Korea yang Keluar Jalur

Pernahkan membaca buku atau menonton film/serial dan berakhir merasa sayang sama tokoh-tokohnya? Itulah yang saya rasakan setelah menonton Reply 1988, drama Korea (drakor) yang tayang perdana di TVN tahun 2016.
Meskipun saya bukan pecinta drakor garis keras, saya terkadang menonton jika ada rekomendasi drama yang bagus dan saat saya cukup punya waktu untuk menonton (karena keinginan untuk menonton tak selalu sejalan dengan tersedianya waktu dan energi ya, hehe..). Jadi, bisa dihitung sih judul drama yang sudah saya tonton.
Continue reading “Reply 1988: Drama Korea yang Keluar Jalur”Kamila

Proses kelahiran Kamila kemarin akhirnya harus melalui tindakan induksi karena sampai usia kehamilan 41 minggu belum juga ada kontraksi. Berdasarkan rencana dengan dokter, akhirnya saya masuk RS dalam keadaan tidak mulas sama sekali. Mulai diberikan obat induksi Selasa sore, Kamila lahir Kamis pagi pada suatu hari di bulan April 2020.
Liburan Naik Kereta Api (tut tut tuuut….)
Adakah yang merencanakan liburan awal tahun ini?
Selain lebaran, akhir dan awal tahun adalah masa-masa liburan high season di Indonesia. Sebetulnya, saya termasuk yang memilih traveling pada low season dengan alasan harga tiket dan akomodasi yang tidak terlalu mahal, serta tujuan wisata yang tidak terlalu ramai. Namun, ada kalanya terpaksa traveling pada saat high season karena menyesuaikan dengan aktivitas pekerjaan atau jadwal teman/anggota keluarga lainnya.
Continue reading “Liburan Naik Kereta Api (tut tut tuuut….)”
Marriage Story (2019)
Rasanya, deskripsi Netflix tentang film ini – a marriage coming apart and a family staying together – amatlah sesuai. Sebagian orang mungkin merasa frustasi menonton film ini. Sebagian mungkin bosan. Hal ini dikarenakan begitu banyak rentetan dialog (termasuk argumen) di dalamnya. Jujur saja, ini memang bukan film yang menghibur, namun bagi saya pribadi, banyak pelajaran di dalamnya.
Marriage Story bercerita tentang sepasang suami-istri Charlie (Adam Driver) dan Nicole (Scarlett Johansson) serta anak semata wayang mereka, Henry. Jika hanya menonton trailer di bawah ini, kita mungkin akan mengira ini adalah kisah cinta romantis. Namun, nyatanya, narasi manis dari Charlie tentang Nicole dan sebaliknya, adalah usaha dari konselor pernikahan mereka agar keduanya dapat mengingat kembali alasan mereka saling mencintai dan melihat sisi positif dari masing-masing. Sayangnya, hal itu tidak terjadi.
Bebas (2019)
Aaah… Rasanya masih tersisa rasa bahagia seusai menonton film Bebas. Seperti biasa, saya lebih tergerak ke bioskop saat ada film Indonesia yang bikin penasaran. Kali ini, pilihan jatuh ke film Bebas. Apalagi ini adalah produksi Miles Film dan disutradarai Riri Riza, sehingga saya menaruh kepercayaan tersendiri.
Bebas merupakan adaptasi dari film Korea berjudul Sunny. Karena saya belum menonton Sunny, maka saya tidak punya perbandingan apapun di kepala. Sekilas, mungkin film ini terlihat seperti kisah persahabatan anak muda biasa: yang gaul, punya geng, populer, dan punya pengaruh di sekolah. Tetapi, Bebas lebih dari itu. Dalam film ini beriringan dua lini waktu yang berbeda, yaitu Geng Bebas saat SMA dan tokoh-tokoh geng tersebut versi dewasa, di mana masing-masing menjalani kehidupan yang berbeda. Ada Kris, Vina, Jessica, Gina, Jojo, dan Suci.