Movies, Review

Disconnect (2013)

“A hard-working lawyer, attached to his cell phone, can’t find the time to communicate with his family. A couple is drawn into a dangerous situation when their secrets are exposed online. A widowed ex-cop struggles to raise a mischievous son who cyber-bullies a classmate. An ambitious journalist sees a career-making story in a teen that performs on an adult-only site. They are strangers, neighbors and colleagues and their stories collide in this riveting dramatic thriller about ordinary people struggling to connect in today’s wired world.”

(http://www.disconnectthemovie.com/)

Hampir setiap hari atau bahkan setiap hari kita tersambung internet. Pagi-pagi sambil sarapan, menikmati perjalanan ke kantor, atau kapanpun saat sedang luang rasanya jari-jari ini tidak bisa tidak menyentuh berbagai tombol aplikasi online di ponsel kita. Ada yang bilang teknologi itu mendekatkan yang jauh, namun bisa juga justru menjauhkan yang dekat. Internet, khususnya, memberikan banyak kemudahan untuk beraktivitas dan berkomunikasi. Namun jika kita tidak menggunakannya dengan bijak, internet bisa jadi merugikan dan membahayakan.

Continue reading “Disconnect (2013)”

Advertisements
Movies, Review

Bauran Rasa dalam Tabula Rasa

Pernahkah kamu punya mimpi namun tersandung banyak kendala?

Setelah sekian lama absen dari dunia per-bioskop-an, film pertama yang saya tonton adalah Tabula Rasa. Kalau sekadar mendengar judulnya, jujur saja saya tidak bisa menebak genre filmnya. Film cinta-cintaan kah? Waktu itu saya malas googling. Lalu suami saya, Chendra, bilang ada film Indonesia  yang bagus yang bercerita tentang masakan padang. Eh, jangan-jangan Tabula Rasa itu ya? Kami pun kemudian berselancar ke situs 21cineplex. And yes, it matches!

***

Adalah Hans (Jimmy Kobogau), pemuda dari Serui, Papua, yang bermimpi menjadi pemain bola handal. Selain bermain bola, dalam kesehariannya ia membantu sebagai seorang juru masak di panti tempatnya dibesarkan.

“Mama tara senang kah lihat saya jadi pemain bola yang berhasil? Di Jakarta nanti saya akan jadi orang hebat,” ujar Hans di malam perpisahan itu kepada Mama, ibu asuh yang membesarkannya di Panti Asuhan di Serui.

Continue reading “Bauran Rasa dalam Tabula Rasa”

Books, Review

Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali

PAT dari dekat sekali.2Setelah membaca beberapa karya Pramoedya Ananta Toer, saya memang semakin penasaran dengan pribadi penulis yang satu ini. Memang, sebelumnya saya sudah pernah membaca beberapa literatur mengenai penulis yang pernah bertahun-tahun dipenjara tanpa proses pengadilan ini. Namun melihat buku yang ditulis oleh adiknya sendiri, saya pun tertarik untuk membacanya lebih lanjut.

“Saya merasa…sayalah ‘keranjang sampah Mas Pram’ untuk hal-hal yang tidak dapat, tidak tepat, atau tidak pantas dikemukakannya kepada orang lain.” begitu tulis Koesalah. Buku ini merupakan kumpulan catatan harian Koesalah mengenai Pram (panggilan akrab Pramoedya) yang terbagi menjadi tiga bagian, yaitu tahun 1981-1986, 1987-1992, dan 1992-2006. Jadi Anda jangan membayangkan sebuah biografi yang kaku dan terdiri dari paragraf-paragraf panjang yang sistematis mengenai riwayat hidup Pram. Catatan harian Koesalah kebanyakan terdiri dari dialog-dialog dengan Pram ataupun cerita singkat mengenai pribadi dan kehidupan sehari-harinya.

Continue reading “Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali”

Books, Review

Tetralogi Buru: Rumah Kaca

rumah kacaKejutan!!
Itulah yang akan terasa pada lembar-lembar awal buku terakhir dari Tetralogi Buru. Apakah gerangan kejutan itu?

Setelah tiga episode sebelumnya cerita terpusat pada seorang Minke sebagai tokoh sudut pandang orang pertama, di buku ke-4 ini Pram menghadirkan sosok Pangemanann (dengan dua “n”) sebagai tokoh pencerita. Pangemanann sendiri pernah hadir dalam bagian akhir buku “Jejak Langkah”. Ia adalah seorang pejabat kepolisian yang mengabdi pada Gubermen Hindia Belanda.

Tokoh ini digambarkan sebagai orang yang gamang. Pada dasarnya, ia adalah seorang yang baik, seorang Menado yang mendapat pendidikan Eropa dan dibesarkan oleh orang tua angkat asal Eropa pula. Ia menghormati kebebasan dan tak suka penindasan. Sebagai pribadi, ia pun menghormati dan mengagumi seorang Pribumi bernama Minke yang telah membawa banyak perubahan pada semangat pergerakan melawan kolonialisme. Namun, pengabdiannya pada Gubermen ternyata membawanya pada suatu tugas dilematis yang kemudian mengubahnya bagai seorang iblis kejam yang tak pernah mengizinkan Pribumi maju seiring dengan zaman dan pemikiran yang semakin modern.

Continue reading “Tetralogi Buru: Rumah Kaca”

Books, Review

Tetralogi Buru: Jejak Langkah

jejak-langkah

“Sudah lama aku dengar dan aku baca ada suatu negeri di mana semua orang sama di depan Hukum. Tidak seperti di Hindia ini. Kata dongeng itu juga: negeri itu memashurkan, menjunjung dan memuliakan kebebasan, persamaan, dan pesaudaraan. Aku ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan.”

(Pramoedya Ananta Toer)

Akhirnya setelah melewati waktu yang cukup melelahkan, saya selesai juga membaca buku ketiga dari Tetralogi Buru: Jejak Langkah. Mengapa saya bilang lelah, karena selain bukunya yang lebih tebal (700-an halaman), semakin banyak tokoh yang muncul dalam buku ini, juga konflik dan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan sejarah, yang untuk memahaminya harus runtut dan sistematis.

Continue reading “Tetralogi Buru: Jejak Langkah”

Books, Review

Tetralogi Buru: Anak Semua Bangsa

anaksemuabangsa“Semua yang terjadi di kolong langit adalah urusan setiap orang yang berpikir” (Pramoedya Ananta Toer)

Anak Semua Bangsa adalah episode kedua dari Tetralogi Buru. Di awal cerita – yang merupakan lanjutan dari buku sebelumnya – saya sudah hanyut dan banjir air mata mengetahui kelanjutan nasib Minke, Annelies, dan keluarganya yang diperlakukan tidak adil oleh Belanda. Jika dalam buku pertamanya, Bumi Manusia, cerita lebih fokus pada masalah pribadi dan pencarian jati diri seorang Minke, maka di buku kedua ini metamorfosis dirinya begitu terasa.

Konflik muncul ketika sahabat Minke, Jean Marais, memintanya menulis dalam bahasanya sendiri, Bahasa Melayu. Entah mengapa Minke merasa bahasa itu lebih rendah daripada Bahasa Belanda dan bahasa asing lainnya. Konflik batin belum berhenti karena Minke terusik oleh kata-kata seorang jurnalis bernama Kommer yang mendakwanya tidak mengenal bangsa sendiri. Minke marah, namun juga tak kuasa mengelak akan kebenaran kata-kata Kommer tersebut. Ya, Minke mungkin tak banyak mengenal bangsanya sendiri. Selama ini ia hidup nyaman sebagai putra seorang bupati dan tak terlalu peduli akan kehidupan rakyat kelas bawah. Kalaupun ia pernah menentang Belanda, selama ini ia lakukan semata-mata untuk membela pribadinya sendiri.

Continue reading “Tetralogi Buru: Anak Semua Bangsa”

Books, Review

Tetralogi Buru: Bumi Manusia

bumi-manusia

“Kita kalah, Ma,” bisikku.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Telah lebih dari lima tahun setelah saya menutup laman terakhir dari buku yang merupakan bagian pertama dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer ini. Sebuah perasaan yang saat itu muncul adalah: saya ingin segera melanjutkan membaca buku berikutnya.

Ada bagian dari hidup ini yang kita tak bisa terlepas darinya. Dialah SEJARAH. Kisah ini berlatar akhir tahun 1800-an, ketika Belanda masih berkuasa di atas negeri kita. Adalah Minke, seorang pribumi Hindia yang berkesempatan mengenyam pendidikan ala Belanda. Ia adalah anak seorang bupati yang sama sekali tak bercita-cita menjadi bupati seperti yang diimpikan kebanyakan anak seorang petinggi pribumi. Hasil didikan Belanda telah membuatnya berpikir bebas dan merasa terkekang oleh tradisinya sendiri, tradisi Jawa yang menurutnya banyak merendahkan harkat manusia itu sendiri, karena orang harus bersujud-sujud kepada orang lain yang pangkat dan derajatnya lebih tinggi.

Continue reading “Tetralogi Buru: Bumi Manusia”

Movies, Review

Tanah Surga…Katanya

foto pinjam dari SINI
foto pinjam dari SINI

Saya baru saja menonton film ‘Tanah Surga…Katanya’. Sukses berurai air mata. Film tentang kehidupan di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia ini mengangkat isu-isu sosial, ekonomi, dan drama keluarga. Ditambah cukup banyak bagian dari film itu yang mengingatkan saya akan Bawean, dari mulai ruang kelas yang disekat papan, anak-anak yang lebih familiar dengan Malaysia daripada Indonesia (jadi ingat murid-murid saya lebih banyak yang punya baju kesebelasan Malaysia yang kuning ngejreng, hanya satu anak yang punya baju kesebelasan Indonesia dengan nama punggung Bachdim hehe..), para orang tua yang bekerja di Malaysia, dan lainnya.

Others, Review

[Video] Take Me Home – US

Oke, selingan dulu ya di sela-sela belajar buat ujian.

Saya tadi pagi nggak sengaja sampai di video lagu ‘Take Me Home’ yang dinyanyikan oleh duo US, pasangan suami-istri Carissa dan Michael. Lirik dan video klipnya menyentuh deh (apa sayanya aja yang gampang mellow ya).  God bless long-distance couples. Be stong. :”)

Ada salah satu komentar di video ini:

This song always brings me to tears because it describes exactly what every military couple goes through. Having the female in the military made it all the more relatable for me because I’m in the Marines and my boyfriend isn’t.

To all those military couples out there:

-Those serving: Thank you for your service.

-Those waiting at home: Thank you for your sacrifice

Continue reading “[Video] Take Me Home – US”