Other Stories, Review

Mudik: Dulu dan Sekarang

Setelah menikah, tujuan mudik jadi semakin banyak. Kalau biasanya mudik ‘hanya’ seputar keluarga Mama atau Papa (keduanya di Jawa Barat tetapi beda kota), semenjak menikah, tujuan mudik bertambah keluarga Ibu dan Bapak mertua yang mana ada di Jawa Barat, DIY, dan Jawa Timur. Wah, makin panjang saja daftar tujuan yang dikunjungi. Alhamdulillaah..

Lho, belum juga bulan puasa, kok udah bahas mudik? 😀

Continue reading “Mudik: Dulu dan Sekarang”

Books, Review

The Life-Changing Magic of Tidying Up

WhatsApp Image 2018-02-15 at 14.54.50

First of all, I am actually not a person who often reads self-help books. However, I must say that I really like this book by Marie Kondo. The word ‘life-changing’ on its title is not an exaggeration I guess. Our mindset, our confidence, our motivation to work, and so on, somehow starts from our house condition. I’ve read another book titled ‘Happiness Project’ and it considers decluttering as the first step to happiness as well. And yes.. I agree.

I know.. the reviews here are quite polarized, from those who really like it to those who have no idea or just simply can not relate to what the author has written on the book. I totally understand. 😀 But here I want to summarize what I think about the book.

Continue reading “The Life-Changing Magic of Tidying Up”

Books, Review

Sembilan Buku di 2017 (Bagian 1)

Hanya sembilan?

Mungkin angka ini terbilang sedikit ya dibandingkan teman-teman lain yang hobi baca buku. Hehe. Saya memang nggak bisa baca buku cepet-cepet dan butuh suasana yang kondusif untuk baca. Jadi ya bacanya pelan-pelan, menyempatkan di sela-sela aktivitas. Kalau lagi traveling, malah saya bakalan serius baca. Biasanya, saat perjalanan di kereta atau pesawat, malah menjadi waktu yang pas untuk baca tanpa disela pekerjaan. Berhubung tahun ini nggak banyak melakukan perjalanan jauh, jadi yaa begitulah. *alasan yang dibuat-buat* :p

Continue reading “Sembilan Buku di 2017 (Bagian 1)”

Movies, Review

Sebulan Pengabdi Setan

Sudah lebih dari 30 hari dan ‘Pengabdi Setan’ masih tayang di bioskop. *tepuk tangan* Kalau diingat-ingat, kali terakhir saya nonton film horor di bioskop itu tahun 2011 atau 2012. Waktu itu nonton Insidious. Itu pun sebetulnya hanya karena ikutan nonton bareng beberapa teman. Nah, kalau terakhir nonton film horor Indonesia… itu lebih lama lagi. Film ‘Bangsal 13’ itu tahun berapa ya?  Hehe. Oh… 2004 (habis googling), berarti sudah lebih dari sepuluh tahun. Maklum laaah.. film horor Indonesia beberapa tahun belakangan identik dengan horor berbalut adegan vulgar. Seolah-olah, hal vulgar menjadi satu-satunya yang dianggap bisa menarik perhatian penonton, bukan cerita yang digarap serius maupun aktor dan aktris dengan kemampuan akting yang baik.

Continue reading “Sebulan Pengabdi Setan”

Movies, Review

Mendamba Banda

REMPAH-REMPAH. Komoditi perdagangan yang saya kenal lewat pelajaran Sejarah. Sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, saya merasa tidak mendapat jawaban mengapa orang Belanda sampai repot-repot berlayar melintasi samudera demi rempah-rempah. Sebut saja pala dan cengkeh, dua dari sekian hasil bumi yang diincar oleh Belanda. Semasa kecil, saya mengenal keduanya karena di sekitar lingkungan sekolah saya ada pohon cengkeh, sedangkan pala saya kenal lewat jajanan di kantin sekolah (manisan pala). Apa yang spesial dari keduanya sampai-sampai bisa menyebabkan pertumpahan darah?

Seiring waktu, saya punya semakin banyak sumber informasi mengenai pertanyaan yang ada di kepala saya semasa SD dulu, salah satunya lewat film.

Continue reading “Mendamba Banda”

Movies, Review

Mari Ber-Ziarah

Tepuk tangan penonton memenuhi salah satu ruang bioskop Empire XXI Yogyakarta begitu film yang diputar berakhir.  Muncullah di layar nama-nama pemeran dalam film tersebut: Mbah Ponco Sutiyem sebagai Mbah Sri, Rukman Rosadi sebagai Prapto, dan sederetan nama lain, yang umumnya bukan merupakan aktor dan aktris kondang. Dari deretan nama tersebut, ada pula nama Hanung Bramantyo yang menjadi cameo pada salah satu adegan.

Film tersebut adalah ‘Ziarah’, karya sutradara muda BW Purbanegara. Continue reading “Mari Ber-Ziarah”

Books, Review

The Year of The Runaways

Other than Economics-related textbook, not so many books I read last year. One of those few books I read was The Year of The Runaways by Sunjeev Sahota that I bought from Book Depository. Lucky me, last year I got US$ 80 (or 85, I forgot) voucher from Google for participating in their survey (to be exact, it was giving them feedback on bahasa Indonesia translation in their feature). I spent most of the value of the voucher for buying books online. 😀

Continue reading “The Year of The Runaways”

Books, Review

Perjalanan ‘The Traveling Students’

Menghela napas dulu ah.

Jadi ceritanya buku ‘The Traveling Students’ diilhami oleh banyak teman di sekitar yang bertanya,

“Gimana sih caranya bisa ikutan pertukaran pelajar dan konferensi mahasiswa di luar negeri?”

“Susah nggak sih adaptasi di lingkungan baru?”

“Gimana kalau nggak bisa bahasanya?”

dan lain sebagainya.

Continue reading “Perjalanan ‘The Traveling Students’”

Movies, Review

Potret Perempuan dalam ‘Siti’

Setelah beberapa kali ketinggalan screening film Siti di Jogja, akhirnya saya sempat menonton di bioskop Taman Ismail Marzuki, Jakarta, pada akhir pekan lalu. Buat saya, Siti bukanlah film yang akan dilupakan begitu saja. Penokohannya kuat, konfliknya intens dan menguras emosi. Mungkin terlebih karena saya perempuan, selama menonton film ini saya jadi membayangkan kalau saya ada di posisi Siti. That’s tough.

Continue reading “Potret Perempuan dalam ‘Siti’”