Indonesia, Traveling

Mendadak ke Museum

Tampak depan Gedung Pameran Temporer Sonobudoyo

Menjelang akhir pekan kemarin, saya kepikiran mau cari lokasi jalan pagi selain sekitaran rumah. Tujuannya, tentu karena saya butuh refreshing dari suasana yang itu-itu saja. 😄 Kepikiran lah ke sekitar Alun-alun Utara Jogja, mengingat kalau di Alun-alun Selatan alias Alkid kan biasanya cukup ramai orang berolahraga dan berjualan.

Karena satu dan lain hal (di antaranya karena harus mampir ke suatu tempat dan ban mobil bocor huhu..), kami sampai tujuan lebih siang dari yang direncanakan. Tapi ya sudahlah.. si Ibu nggak mau rugi dong, tetap harus ada aktivitas jalan kaki. Hehe..

Sewaktu kami jalan ke arah utara menuju titik nol, dikarenakan sudah cukup panas, kami bermaksud berteduh sebentar di depan Gedung Pameran Temporer Museum Sonobudoyo. Petugasnya terlihat senang ada pengunjung yang datang dan kami malah jadi ngobrol. Dari petugas tersebut, kami jadi tahu bahwa sedang ada pameran Harmoni Cina – Jawa dalam Seni Pertunjukan di gedung tersebut (bukan di gedung utama museumnya).

“Di dalam nggak ada pengunjung, Mbak, sepi…” katanya.

Saya dan Chendra saling menatap (tsaah..) dan memberi sinyal bahwa kami sepakat untuk masuk. Nggak perlu bayar shay.. gratis tis tis. Kalau masuk museum utama pun bayarnya Rp3000 saja (per orang, bukan buat se-RT lho ya hehee..).

Sebagaimana di banyak tempat umum lainnya, sebelum masuk, kami dicek suhu terlebih dahulu. Di dekat pintu masuk juga disediakan hand sanitizer. Meskipun suatu saat pandemi ini selesai, semoga saja kebiasaan hidup bersih dan higienis ini selalu terbawa sampai seterusnya dan menjadi standar di tempat umum ya.


Anyway, ini jadi kali pertama kami ke museum setelah pandemi. Rasanya dag dig dug, semacam ada sebuah sensasi, “Omg.. ini kayak lagi traveling ke mana gitu.. padahal ya cuma berapa kilometer dari rumah.” Haha…😆 Serius sih, kayak ada perasaan lagi ngajak anak bayi bertualang. Terakhir dia diajak jalan jauh tuh pas masih di perut soalnya (dan waktu itu juga diajak keliling museum).

Selain ada berbagai koleksi wayang, ada juga koleksi pakaian untuk pertunjukan dan berbagai karakter pertunjukan (termasuk barongsai). Walau biasanya saya suka banget membaca keterangan dan cerita di museum, kemarin banyak yang saya lihat sekilas saja karena nggak mau berlama-lama di sana. Tetap ada perasaan nggak tenang berada di tempat umum walaupun sepi, apalagi itu bukan ruangan terbuka ya.

Anak bayi ikutan mengamati wayang dengan serius

Kalau saya amati, petugas-petugasnya juga kelihatan senang kedatangan pengunjung. Kebayang ya, biasanya pekerjaannya menuntut banyak interaksi dengan orang, eh sekarang tempat-tempat wisata sedang sepi. Di dalam gedung pun ada petugas yang siap sedia kalau kita mau tanya-tanya. Kami sempat ngobrol-ngobrol tentang wayang potehi (yang belum pernah saya saksikan) dan juga asal koleksi pemeran ini yang ternyata dari sebuah museum di Jawa Timur (hmm.. lupa namanya).

Semoga pandemi ini segera mereda dan kita bisa jalan-jalan lagi ya.

Sehat-sehat ya, semuanya. Senang bisa berbagi sedikit cerita lagi setelah beberapa lama absen. Hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s