Other Stories

Hamil dan Melahirkan di Masa Pandemi

Saat hamil 32 minggu

Beberapa pekan terakhir sebelum melahirkan, rumah sakit telah memberlakukan protokol kesehatan dengan ketat. Cek suhu tubuh sebelum masuk, physical distancing, dsb, termasuk dokter pun mengenakan APD saat memeriksa pasien. Kontrol ke rumah sakit rasanya menjadi saat yang mendebarkan. Kontrol yang seharusnya sepekan sekali, akhirnya agak dikurangi, selama pergerakan bayi di dalam perut masih aktif. Dalam periode tersebut, saya juga periksa ke bidan alih-alih ke rumah sakit untuk menghindari keramaian.



Prosedur saat persalinan dan melahirkan pun berbeda dari biasanya. Kini pendamping ibu melahirkan hanya boleh satu orang, lalu tidak boleh ada yang menjenguk ke rumah sakit pasca melahirkan (untuk ini, sebetulnya cukup melegakan karena ibu bisa fokus pemulihan alih-alih menerima tamu). Kami beruntung karena selain suami, doula masih diperbolehkan untuk mendampingi.

Jangan kaget, saat proses melahirkan, ibu wajib mengenakan masker. Eh, apa nggak pengap? Tentu tidak terlalu nyaman (catatan: perawat menyarankan memakai masker medis dibandingkan kain, karena lebih nyaman untuk bernapas). Tanpa masker pun, mengejan rasanya begitu menguras energi ya. Tapi, kepatuhan kita adalah wujud rasa empati terhadap dokter dan tenaga medis, sekaligus cara kita saling melindungi satu sama lain.

Sepulang dari rumah sakit, kami hanya mendapati rumah yang kosong. Tidak ada keluarga yang menyambut. Karena Covid-19, semua saling menjaga dari jauh. Namun, saya dan suami saling menguatkan, kamilah yang harus menciptakan kehangatan untuk anak kami, di tengah segala keterbatasan.

Masih ingat saat perjalanan pulang ke rumah membawa Kamila, kami berpikir, “Eh beneran ini kita sekarang ngurus bayi berdua aja?” πŸ˜‚ Sambil bercanda, saya pernah bilang, “Anggap aja melahirkan di luar negeri ya, nggak didampingi keluarga.”

Februari 2020, ketika Indonesia masih (merasa) aman dari covid-19, kami sempat mengikuti sesi perawatan bayi baru lahir. Materinya mulai dari IMD, menjemur bayi, sampai memandikannya. Saat di rumah sakit, kami juga izin masuk ke ruang bayi untuk memerhatikan perawat memandikan dan menggantikan popok. Intinya, belajar belajar belajar.

Oktober 2020, jalan pagi bersama K

Masa awal pasca melahirkan atau trimester keempat, berjalan penuh tantangan. Lelah fisik, ditambah emosi tidak stabil yang juga dikarenakan faktor hormonal. Menangis, merasa kebingungan, menjadi hal yang dilalui sehari-hari. Tetapi, blessing in disguise, di tengah waktu bertiga saja, kami menjadi semakin dekat dan belajar untuk saling memahami.

Hamil dan melahirkan di masa pandemi memang bukan saat terbaik untuk menyambut buah hati. Namun, percayalah bahwa ini adalah waktu terbaik yang Allah pilihkan untuk kita, sekaligus menyadarkan bahwa dengan izin-Nya, kita mampu melampaui batas yang sebelumnya tak pernah terpikirkan.

Suatu saat nanti, saat hari-hari kita tidak mudah, ingatlah bahwa kita pernah melalui masa ini. ❀️

8 thoughts on “Hamil dan Melahirkan di Masa Pandemi”

    1. Makasih, Mbak Adhya. Aamiin utk doanya. Hehe.. Skrg karena udah 6 bulan, bangun malemnya gak sebanyak pas baru lahir, Mbak. πŸ˜€
      Semoga Mbak Adhya dan keluarga sehat yaa. Aku dah lama gak blogwalking nihh huhu.. update blog sendiri aja udah jarang. :p Semoga bisa rutin lagi.

      Like

    1. Makasih ucapannya yaa, Mbak Bijo.. πŸ™‚
      Aku lahiran di salah satu RS di Jogja. Di Jogja sendiri terbilang cukup banyak dokter dan RS yang support gentle birth, Mbak.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s