Movies, Review

Reply 1988: Drama Korea yang Keluar Jalur

Pernahkan membaca buku atau menonton film/serial dan berakhir merasa sayang sama tokoh-tokohnya? Itulah yang saya rasakan setelah menonton Reply 1988, drama Korea (drakor) yang tayang perdana di TVN tahun 2016.

Meskipun saya bukan pecinta drakor garis keras, saya terkadang menonton jika ada rekomendasi drama yang bagus dan saat saya cukup punya waktu untuk menonton (karena keinginan untuk menonton tak selalu sejalan dengan tersedianya waktu dan energi ya, hehe..). Jadi, bisa dihitung sih judul drama yang sudah saya tonton.

Keluar Jalur

Bagi saya, Reply 1988 ini adalah drakor yang keluar jalur, tetapi dalam makna yang positif. Kalau selama ini kebanyakan drakor mengandung jalan cerita percintaan dengan bumbu balas dendam, perebutan posisi (dalam karier, bisnis, dsb), bahkan pembunuhan, alur cerita dan konflik yang ada dalam Reply 1988 justru terasa sangat realistis.

Reply 1988 bercerita tentang lima sahabat (Deoksun, Junghwan, Sunwoo, Taek, dan Dongryong) yang tinggal di Ssangmun-dong, Seoul, serta berbagai dinamika keluarga dan kehidupan bertetangga. Pengambilan latar cerita tahun 1988 juga menjadi keunikan tersendiri. Alih-alih melihat Seoul dan Korea yang modern seperti saat ini, kita disajikan gambaran masyarakat Korea dengan budaya kolektivisme dan kekerabatan yang kuat.

Pada episode pertama, misalnya, ada adegan saling kirim makanan antartetangga. Satu keluarga mengirim kepada tetangganya, lalu makanan tersebut langsung berbalas dengan lauk yang malam itu menjadi hidangan makan malam tetangganya tersebut. Begitu juga dengan tetangga lainnya. Yang diutus untuk mengirim makanan adalah anak-anaknya. Sampai suatu waktu anak-anak tersebut bertemu di jalan sambil membawa makanan, Junghwan berkata, “Kalau begini, kenapa kita tidak makan bersama saja?” ๐Ÿ˜‚

Modal Sosial

20 episode Reply 1988 rasanya tak henti-hentinya menyuguhkan drama keluarga, persahabatan, dan percintaan remaja, yang dibumbui komedi di sana-sini. Drama ini seakan mengingatkan kita bahwa masih banyak orang baik di sekitar kita. Hangatnya keluarga, perhatian sahabat, juga kebaikan tetangga, yang terkadang taken for granted, namun sebenarnya merupakan hal yang tak ternilai.

Ssangmun-dong

Kalau dipikir-pikir, sampai sekarang hubungan bertetangga yang cukup dekat mungkin masih menjadi modal sosial (social capital) yang kuat di masyarakat Asia (meskipun tentu beragam di setiap tempat). Betapa menyenangkannya punya tetangga yang begitu akrab dan saling menjaga. Sewaktu ayah Taek dirawat di rumah sakit, misalnya, para tetangga bergantian mengantar makanan dan menungguinya. Salah satu adegan lain yang menyentuh hati adalah ketika pada suatu malam Ibu Junghwan mengantarkan makanan kepada Ibu Deoksun, dan ternyata di dalam keranjangnya diselipkan uang untuk ongkos study tour Deoksun keesokan harinya.

Persahabatan dan Cinta Remaja

Lima Sahabat

Bagaimana dengan kisah cinta remajanya? Nah, ini juga cukup bikin penonton senyum-senyum gemas. Dari lima sahabat tersebut, Deoksun adalah satu-satunya perempuan. Bersahabat sejak kecil, rasanya di antara mereka sudah saling kenal dan tahu ‘aib’ masing-masing. Namun ternyata kebersamaan itu menumbuhkan rasa yang lebih dari sahabat. Cinta segitiga antara Deoksun dengan Junghwan dan Taek pun menjadi bumbu yang tak mudah ditebak (sayangnya di episode awal, saya tak sengaja membaca review yang mengandung spoiler ๐Ÿ™ˆ).

Persahabatan Deoksun dengan dua teman sekelasnya di sekolah, Miok dan Jihyun, juga menunjukkan hubungan tulus yang tanpa pretensi. Pada suatu waktu, keduanya mengunjungi rumah Deoksun yang sangat sederhana. Deoksun mengatakan bahwa ia sebenarnya malu mengajak teman ke rumahnya. Namun karena keduanya adalah sahabatnya, Deoksun merasa tidak perlu menutupi keadaan rumah dan keluarganya.

Banyak Tokoh

Tokoh dalam Reply 1988 cukup banyak, setidaknya tokoh yang tinggal di Ssangmun-dong seperti yang terdapat di posternya. Banyaknya tokoh tidak membuat cerita di drama ini tersesat dan tidak fokus. Justru buat saya, menjadi sebuah kekuatan ketika dengan banyaknya tokoh, alur cerita tetap terasa padu dan saling berkaitan. Pada setiap episode, cerita tidak berpusat pada lima sahabat saja, namun juga konflik yang dihadapi para orang tua dan anggota keluarga lainnya.

Tokoh orang tua di Reply 1988

Ala 1980-an

Oh ya, karena latarnya akhir tahun 1980-an, penonton akan menemukan sejumlah hal yang kontekstual dengan waktu tersebut. Misalnya dalam hal teknologi dan tren anak muda, kelihatannya walkman sedang sangat hype saat itu (saya juga masih merasakannya saat remaja di awal tahun 2000-an hehe..). Kaset juga menjadi benda yang umum dimiliki, termasuk sebagai alternatif hadiah untuk sesama teman.

Selain itu, ada juga lelucon-lelucon lokal yang berdasarkan program TV Korea kala itu atau obrolan seputar selebriti yang sedang hits pada masanya. Namun demikian, bagi saya hal itu tidak mengganggu kenikmatan menonton drama ini.

Dalam sejumlah episode, disisipkan berita-berita penting baik berita Korea maupun global. Episode pertama dibuka dengan berita Olimpiade Seoul 1988 yang ternyata menimbulkan banyak polemik di Korea sendiri. Latar olimpiade ini pun masuk ke dalam cerita, di mana Deoksun menjadi salah satu pembawa papan nama negara peserta olimpiade.

Beberapa berita lainnya yang menarik adalah perubahan aturan romanisasi huruf Korea (hangul) dan dibukanya Korean Demiliterized Zone (DMZ). Perbatasan Korea Selatan dan Korea Utara dibuka diikuti dengan dibukanya wisata dari Korea Utara oleh perusahaan Hyundai. Jadi ingat, tahun 2007 saya berkesempatan ke Korea Utara dari Korea Selatan juga dengan Hyundai Assan sebagai operatornya (ceritanya ada di SINI). Namun beberapa tahun setelahnya, karena konflik, perbatasan ditutup kembali.

***

 โ€œThe year was 1988, a time when it was chilly, but our hearts were fiery, a time when we didnโ€™t have much but peopleโ€™s hearts were warm.โ€

โ€“ Deok Sun

Tertawa, tersenyum, menangis, begitulah lika-liku menonton Reply 1988. Drama yang hangat, yang menunjukkan banyak sisi baik dari para tokohnya. Pada akhir cerita, tak heran jika kita merasa begitu dekat dan menyayangi mereka, juga merasakan kebahagiaan dari suatu sudut di kota Seoul bernama Ssangmun-dong. โค๏ธ

6 thoughts on “Reply 1988: Drama Korea yang Keluar Jalur”

  1. Setuju dengan pendapat Mbak bahwa drakor Reply 1988 ini (salah satu) drakor yang keluar jalur dari drakor pada umumnya yg lebih “kental” masalah percintaan.

    Sampai sekarang, menurut saya, Reply 1988 adalah salah satu drakor terbaik yg pernah saya tonton. Episode awal terasa membosankan. Akan tetapi episode-episode berikutnya mantap. Kangen sama keluarga Ssangmun-dong. Kangen sama nyonya Cheetah dan Kim Sajang, persahabatan anak-anak Ssangmun-dong, keonaran deok sun sama Bo Ra, dan tentunya kehangatan keluarga Ssangmun-dong.

    Pas nonton bagian akhir dari episode terakhir di mana satu per satu keluarga Ssangmun-dong pada pindah, saya merasa ada sesuatu yang kosong dan ada sesuatu yang hilang.

    Liked by 1 person

    1. Banyak yang bilang episode pertama membosankan. Tapi aku termasuk yang langsung klik sejak episode pertama sih hehe..
      Iya, endingnya kayak gak rela ya Ssangmun-dong berubah dan ditinggal para warganya. :”)

      Like

  2. Setuju! Drakor yang awal awal nonton, kek yang males karena asa jadul pisan, tapi pas berakhir galau karena ga rela.

    Banyak banget insight-nya, dan hangat sekali. Suka ditonton ulang kalau lagi rindu. :โ€™)

    Like

Leave a Reply to Ibnu Rafi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s