Movies, Review

Bebas (2019)

1568023604-image
Foto: Miles Production

Aaah… Rasanya masih tersisa rasa bahagia seusai menonton film Bebas. Seperti biasa, saya lebih tergerak ke bioskop saat ada film Indonesia yang bikin penasaran. Kali ini, pilihan jatuh ke film Bebas. Apalagi ini adalah produksi Miles Film dan disutradarai Riri Riza, sehingga saya menaruh kepercayaan tersendiri.

Bebas merupakan adaptasi dari film Korea berjudul Sunny. Karena saya belum menonton Sunny, maka saya tidak punya perbandingan apapun di kepala. Sekilas, mungkin film ini terlihat seperti kisah persahabatan anak muda biasa: yang gaul, punya geng, populer, dan punya pengaruh di sekolah. Tetapi, Bebas lebih dari itu. Dalam film ini beriringan dua lini waktu yang berbeda, yaitu Geng Bebas saat SMA dan tokoh-tokoh geng tersebut versi dewasa, di mana masing-masing menjalani kehidupan yang berbeda. Ada Kris, Vina, Jessica, Gina, Jojo, dan Suci.

Film Bebas terasa realistis karena seiring waktu banyak sekali yang mungkin berubah: diri kita sendiri, keluarga, kondisi finansial, kesehatan, dan sebagainya, yang memengaruhi hidup kita secara keseluruhan dan bagaimana kita menjalaninya. Film ini menyadarkan bahwa terkadang (atau seringkali?) seiring bertambahnya usia kita (yang esensinya sih semakin berkurang ya), semakin banyak pertimbangan dan ketakutan dalam diri kita. Dan ketika kita melihat kembali ke masa lalu, hey… ternyata dulu kita punya cita-cita ini dan itu, dulu kita pernah memimpikan sesuatu dan merasa punya keberanian untuk mewujudkannya.

Ketika kita dewasa, bisa jadi kita menjalani peran baru dan punya prioritas yang berbeda. Tapi, sejatinya, kita tetap bisa menjaga nilai-nilai yang kita percayai dan menjalani berbagai peran (sebagai anak, istri, ibu, pekerja, pengusaha, dsb) tanpa kehilangan jati diri kita.

Di luar jalan cerita inti dari persahabatan Geng Bebas, terselip sejumlah kritik sosial yang relevan dengan situasi Indonesia masa kini maupun masa lalu sesuai latar film ini. Saya pikir, hal ini memberikan sentuhan dan konteks yang khas bagi sebuah film adaptasi. Sebut saja tokoh kakak Vina (lupa namanya siapa) yang dulunya aktivis pada masa Orde Baru, namun kemudian menjadi seorang yang korup dan lupa pada idealisme masa mudanya.

Menonton film ini juga rasanya sekaligus nostalgia, misalnya kembali ke masa ketika bahasa G masih nge-trend di kalangan kawula muda. Ngegertigi kagan? πŸ˜‚πŸ˜‚

Daaan… lagu-lagu yang dipilih untuk film ini cukup mewakili zamannya. Dari mulai ‘Bidadari’-nya Andre Hehanusa, ‘Kujelang Hari’ dari Denada (sebelum dia terjun ke musik dangdut, pemirsa! πŸ˜„), dan tentunya ada lagu ‘Bebas’ dari Iwa K — masa kejayaan musik rap di Indonesia sepertinya. Selain itu, ada Dewa 19, Kahitna, Chrisye, dan lainnya yang makin membuat nostalgia makin sempurna.

Tentunya, film ini sangat bisa dinikmati karena akting yang mumpuni dari para aktornya, baik versi muda maupun versi dewasa. Akting Marsha Timothy (Vina dewasa) dan Sheryl Sheinafia (Kris muda) tak perlu diragukan lah ya. Sebelumnya, saya pernah menonton Galih Ratna dan Sheryl memerankannya dengan baik. Pemain-pemain lainnya di antaranya ada Indy Barends, Widi Mulia, Susan Bachtiar, dan Baim Wong. Nah, untuk Baim Wong, nggak nyangka sih dia aktingnya bagus dan menghayati banget perannya. Sepertinya, pesinetron kalau dikasih kesempatan main film bagus, bakalan jauh berkembang ya. πŸ˜ƒΒ Para aktor mudanya juga cukup bersinar, khususnya yang menurut saya cukup menonjol adalah pemeran Vina (Maizura), Jojo (Baskara Mahendra) dan Jessica (Agatha Pricilla). Sebagai kejutan, banyak juga pemain yang ngetop di era 90-an dan awal 2000-an dan penampilan khusus dari sejumlah aktor kawakan (hint: ada Reza Rahadian :p).

Kalau ada kesempatan menonton ulang film ini, 100% saya tidak akan menolak. Sentuhan humor di film ini porsinya pas, ada pula bagian menyentuh yang tidak berlebihan. Film Bebas membuat saya sebagai penonton merasa senang namun juga membawa pulang sebuah perenungan yang berarti.

Sudah tinggalkan
Tinggalkan saja semua persoalan waktu kita sejenak
Tuk membebaskan pikiran
Dan biarkan
Biarkan terbang tinggi sampai melayang jauh menembus awan

(Bebas – Iwa K)

signature

 

2 thoughts on “Bebas (2019)”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s