Other Stories

Ramadhan di Rantau: Suka Duka di Negeri Sakura

Surprise!

Sebelum beranjak ke Malta, cerita Ramadhan di Rantau kali ini akan singgah dulu ke Negeri Sakura. Ya, kali ini saya ngobrol-ngobrol dengan seorang teman yang sudah lebih dari sepuluh tahun tinggal di Jepang. Gibran (30) memulai perjalanannya di Jepang pada 2006 ketika ia mendapatkan beasiswa Monbukagakusho (beasiswa pemerintah Jepang) untuk studi jenjang D3. Masih dengan beasiswa, ia melanjutkan studi sampai dengan jenjang S2. Kini Gibran sudah bekerja dan berkeluarga di sana. Ia tinggal di kota Fuji bersama istrinya, Sofya, dan putrinya Hana. Sofya merupakan peraih beasiswa yang sama dengan Gibran dan kini bekerja di bidang suplemen kesehatan.

Gibran 03
Gibran dan keluarga kecilnya (foto: dok. pribadi)

***

Yasunori (2007) menyebutkan bahwa jumlah muslim di Jepang mulai tumbuh dengan cepat pada pertengahan1980-an. Pasa masa tersebut, banyak pemuda dari negara-negara muslim seperti Pakistan, Bangladesh, dan Iran yang datang ke Jepang sebagai pekerja di sektor industri kecil dan pabrik-pabrik. Sampai saat ini, kesadaran orang Jepang terhadap islam dan hal-hal yang ramah muslim sedikit banyak dipengaruhi oleh interaksi dengan muslim pendatang. Pada salah satu program TV Ramadhan yang saya tonton baru-baru ini, seorang pemilik restoran halal menyebutkan bahwa awalnya ia mengetahui konsep halal dari teman muslimnya. Kala itu, teman muslimnya sering merasa kesulitan untuk menemukan makanan halal. Akhinya, ia malah mendapat ide untuk mempelajari hal-hal seputar makanan halal dan membuka restoran halal.

Tak mengherankan juga melihat beberapa tahun belakangan, Jepang menjadi salah satu negara yang fokus menggarap sektor wisata yang ramah muslim (dikenal dengan istilah muslim-friendly tourism atau halal tourism). Semakin banyaknya restoran halal, hotel ramah muslim, serta tempat ibadah (mushala) di tempat-tempat publik menjadi bukti nyata keseriusan Jepang. Bahkan Jepang memiliki satu satu bagian khusus untuk muslim guide dalam website Japan National Tourism Organization (JNTO).

Terlepas dari itu, bagi muslim pendatang, bertahun-tahun hidup menetap di Jepang tentu menghadirkan tantangan tersendiri. Saya mengobrol dengan Gibran seputar pengalamannya hidup di Jepang.

 

Assalamu’alaikum, Bran. Apa kabar?

Wa’alaikumsalam. Alhamdulillaah baik. Sehat semua sekeluarga.

Alhamdulillaah.. Sekarang kegiatan sehari-hari di Jepang apa aja?

Kegiatan sehari-hari, kerja di perusahaan jepang TERUMO. Bagian R&D Catheter Development. TERUMO ini perusahaan alat kesehatan di Jepang, dulu mulainya dari (produksi) termometer air raksa terus ke suntikan, dan ada juga alat pompa darah untuk operasi. Mulai 30 tahun lalu melebarkan sayap ke dunia pembuluh darah jantung, sekarang ngerjain salah satu alat untuk pembuluh darah jantung itu, namanya kateter.

Nah, kalau weekend, gantian ngurusin rumah supaya istri punya me-time sendiri. Sabtu biasanya anter Hana les piano, terus belanja mingguan, anter Sofya dan Hana sana-sini.

Gibran di Jepang sejak kuliah kan? Sekarang sudah berapa tahun ya berarti?

Dulu pertama dateng 2006. Lulus dari IC (MAN Insan Cendekia Serpong – pen), sempet ‘nyemplung’ kuliah di Informatika ITB enam bulan. Setelah itu alhamdulillah dapat beasiswa Monbukagakusho Diploma-3.

2006-2007 sekolah bahasa Jepang.

2007-2010 diploma-3 Mekatronika (mesin campur elektro).

2011-2012 ekstensi Strata-1 Medical Engineering.

2012-2014 Strata-2 Medical Engineering.

2014 mulai kerja di TERUMO.

Jadi totalnya 12 tahun lah.

Selama 12 tahun tersebut, Gibran sudah pernah tinggal di beberapa kota. Sejauh ini, di mana tempat tinggal yang paling nyaman? Kenapa?

Sekolah bahasa di Tokyo, D3 di Pulau Yuge, Prefektur Ehime, kemudian S1 sampai S2 di Chiba, lalu kerja di Shizuoka. Masing-masing punya kekhasannya sendiri sih. Jadi kalo disuruh kasih ranking, akan sulit hehehe…

Tokyo besar dan padat, tapi segala kebutuhan mudah didapat. Masjid banyak, makanan halal ada di mana-mana, transportasi juga gampang. Mau cari komunitas apa pun ada. Tapi, saking padatnya, kadang capek sendiri, di kereta berdesakan terus. Yaaa 11-12 sama angkot Bekasi laah. Haha…

Nah, waktu D3 di Pulau Yuge, itu bagaimana kondisinya? Adakah tantangan menjadi muslim di sana?

Kalau di pulau, ini lebih seru lagi. Pulau kecil, penduduknya kurang dari 5000 orang. Kalau berkendara dengan sepeda, dua jam cukup untuk muterin pulaunya. Waktu tinggal di sana, muslimnya cuma delapan orang. Satu orang Indonesia, satu orang Maroko, dan enam dari Malaysia. Tahun kedua, dua orang wisuda, tinggal enam. Tahun ketiga, tiga orang wisuda, tinggal tiga. Biasanya kita pesan daging halal di internet dan dirapel untuk sebulan.

Hehe.. seru banget. Yang muslim itu mahasiswa semua ya berarti.

Iya.

Sebagai seorang muslim, bagaimana adaptasi waktu pertama pindah dan tinggal di Jepang?

Sempet stres juga. Tapi bukan karena agama sebetulnya, lebih karena kendala bahasa, Cha. Namanya manusia, makhluk sosial.. kalau nggak bisa komunikasi, rasanya itu waaah hahaha… Tahun pertama di Tokyo banyak teman Indonesia. Begitu ke Yuge, ‘nyemplung’ sendirian.

Kalau untuk menjalankan ibadah sehari-hari malah lancar aja ya Bran?

Paling pas puasa aja, apalagi kalau pas musim panas. Jamnya lama, siangnya terik juga.

Udah ngerasain puasa pas musim apa aja?

Alhamdulillah udah semua. Pas musim panas kayak gini waktu Subuh jam 2.38 dan Maghrib jam 18.53. Kalau musim dingin, Subuh sekitar jam 5 pagi dan Magrib sekitar jam 5 sore (atau kurang). Oh iya, di sini banyak yang amazed juga sama teknologi jadwal shalat di ponsel.

Iya ya.. dulu juga suka ada yang nanya, “Gimana bisa tahu harus shalat jam berapa?” Gitu..

Iya.. ada yang mengira kita mesti (selalu) liat matahari (untuk tahu waktu shalat). Hehe…

Bagaimana tanggapan orang-orang sekitar selama Gibran menjalankan ibadah, misalnya shalat dan puasa?

Hmmm mereka banyak yang amazed, nggak percaya kalau kita mau repot-repot shalat, bahkan puasa. Apalagi harus bangun sahur jam 2, terus tidur lagi. Ada juga yang menyayangkan, puasa nggak sehat karena makan jam 2 pagi buta, terus tidur lagi. Hehe..

Tapi kalau untuk shalat, di kampus atau tempat kerja tetap diberi ruang untuk beribadah?

Kalo ini, gue selalu ngomong sama sekitar dan mereka sangat respek. Mereka akan bantu sebisa mereka, baik waktu di lab, sekolah, maupun tempat kerja.

Selama 12 tahun di sana, apakah islam semakin dikenal oleh masyarakat sekitar? Adakah perubahan yang dirasakan dalam kehidupan sehari-hari?

Iya, Cha. Islam semakin banyak muncul di Jepang, dari masjid, label halal, restoran halal, wisata halal, wisata medis halal, dan sebagainya. Berita yang berbau teroris juga masuk kok, berita ISIS misalnya. Tapi sejauh ini nggak ada dampak langsung (dalam sikap mereka).

Oh ya, tempat shalat pun mulai banyak muncul di tempat-tempat umum, seperti bandara, stasiun, dan shopping mall.

Alhamdulillaah jadi relatif memudahkan aktivitas sehari-hari ya.

Yup.

Balik ke topik Ramadhan ya... Ceritakan dong pengalaman paling menarik atau berkesan selama Ramadhan di sana.

Waaah apa yaaa. Ada malah pas Idul Fitri. Pernah idul fitri tapi tetep ngantor. Jadi, ambil cuti setengah hari, shalat Id, terus ngantor lagi, hahaha… Pas Ramadhan, kerja di kantor juga tetep full, nggak ada istilah jam kerja dipendekin. Dulu kalau sekolah (di Indonesia), jamnya jadi pendek kan? Di sini mah lancar jaya. Lembur juga tancap gas terus hahaha…

Tapi, pernah juga kok benar-benar merasakan perayaan Idul Fitri, karena tiap tahun kan beda harinya, kadang pas hari libur. Kalau bukan hari libur, suka ribet ngatur cutinya. Apalagi waktu awal-awal kerja, masih cecunguk kan, jadi jadwalnya diatur orang hahaha.. Kalau sekarang udah bisa atur jadwal ‘seenaknya’.

Kalau pas dapat kesempatan merayakan Idul Fitri, biasanya shalat di mana?

Biasanya dibela-belain ke Tokyo, mampir ke KBRI, biar ngerasain ramenya Idul Fitri ala Indonesia dan bisa ketemu orang-orang Indonesia. Selain ada makanan, bisa ngumpul sama banyak temen. Bagaimanapun, rasanya beda ngerasain Idul Fitri bareng komunitas negara lain dibandingin ketemu komunitas Indonesia.

Nah, ngomong-ngomong tentang komunitas Indonesia, untuk yang muslim ada kegiatan rutin apa aja di sana?

Di Jepang banyak Cha, tapi di tempat gue malah nggak ada. Termasuk ‘sendirian’ di sini. Sekarang tinggal di kota Fuji, Prefektur Shizuoka. Di kota terdekat ada sih, tapi gue yang jarang ngikutin karena jauh. Yaa kalo mau nyetir sejam-an bisa sih, tapi badanya yang nggak kuat. Hehe…

16195619_10154168779786643_5883535829080197187_n
Liburan musim dingin (foto: dok. pribadi)

Sekarang kan udah berkeluarga ya, Bran, dan sudah punya anak. Gimana cara ngenalin tentang puasa Ramadhan ke anak, terutama di tengah perbedaan agama dan budaya di sana?

Sebetulnya dia masih nggak “ngeh”, dia cuma tahunya, papanya nggak boleh makan minum hahaha… Sekarang baru ngajarin Hana tentang shalat dan ngajarin kalau kita muslim dan dia beda (agamanya) sama temen-temen Jepang-nya, tapi sama dengan kakek nenek dan eyangnya di Indonesia. Ngasih tahu juga bahwa kita orang Indonesia dan temen-temennya orang Jepang.

Setelah sekian lama tinggal di Jepang, pasti udah banyak ya tantangan yang dihadapi. Tapi, terlepas dari itu semua, hal apa yang paling Gibran syukuri selama tinggal di sana?

Hmm.. sekarang ini bersyukur banget bisa bareng sama keluarga. Dulu awal nikah kami LDR, waktu Hana lahir pun bertiga LDR (long-distance relationship). Alhamdulillaah akhirnya bisa bareng setelah usia Hana 2,5 tahun. Pas ada kerjaan, pas ada pemasukan cukup, pas Hana juga punya temen-temen di daycare-nya, jadi nggak ngerasa sendirian.

16649521_10154320155116643_6281028639873092980_n
Hana (keempat dari kiri), putri Gibran, pada salah satu kegiatan di daycare-nya. (foto: dok. pribadi)

Kalau hal yang disyukuri selama hidup di sana sebagai muslim apa, Bran? Mungkin ada hal-hal yang malah nggak dirasakan sebelumnya di Indonesia.

Jadi muslim di Jepang ini benar-benar diuji secara iman. Di sini nggak ada yang ngingetin shalat, ngingetin puasa, ngaji, dan sebagainya. Jadi semua harus kesadaran sendiri. Kita nggak shalat pun nggak ada yang peduli. Ramadhan gini mau makan di restoran pun nggak ada yang nyinyir. Jadi betul-betul ngerasain kalau agama itu urusan manusia dengan Sang Pencipta, bener-bener ngerjainnya ikhlas dan bukan karena paksaan tetangga, orang tua, atau yang lain.

Makasih ya, Bran, buat waktu dan sharing pengalamannya.

signature

Advertisements

6 thoughts on “Ramadhan di Rantau: Suka Duka di Negeri Sakura”

  1. Terharu banget sama paragraf terakhir:
    “Jadi muslim di Jepang ini benar-benar diuji secara iman. Di sini nggak ada yang ngingetin shalat, ngingetin puasa, ngaji, dan sebagainya. Jadi semua harus kesadaran sendiri. Kita nggak shalat pun nggak ada yang peduli. Ramadhan gini mau makan di restoran pun nggak ada yang nyinyir. Jadi betul-betul ngerasain kalau agama itu urusan manusia dengan Sang Pencipta, bener-bener ngerjainnya ikhlas dan bukan karena paksaan tetangga, orang tua, atau yang lain”
    Terus jadi ingat anakku Yasmin yang sudah 2 bulan di Hiroshima, ikut program AFS.
    Cerita tentang Ramadan dan sholatnya hampir sama. Betapa mereka sangat respek dan juga ‘amaze” tentang puasa.
    Jadi terinspirasi mau tulis artikel yang sama… ^^
    Terima kasih telah menginspirasi ya, Maisya…

    Liked by 2 people

    1. Senang sekali mendengarnya, Mbak. Insya Allah banyak hikmah dari merantau di sana. Makin mandiri dan makin dewasa dalam menghadapi perbedaan. Salam kenal ya, Mbak Rosanna. Terima kasih sudah mampir. 🙂

      Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s