Books, Review

Sembilan Buku di 2017 (Bagian 2)

Sesuai janji sebelumnya, ini adalah lanjutan dari review beberapa buku yang saya baca tahun 2017 lalu. Dimulai dari nomor 6 ya. Review lima buku sebelumnya bisa dibaca di SINI.

6. TED Talks (Chris Anderson, 2016) 

guide-to-public-speaking

(Review di bawah ini saya salin dari review saya di Instagram ya)

Sinopsis: I was interested in this book because so far I’ve inspired by various topics brought by TED Talks (and TEDx). As expected, I enjoyed reading this book very much. Stories, experiences, tips and insights about public speaking and TED Talks delivered by the person who has first-hand experience in TED Talks itself. I am sure Chris Anderson is a good story teller both in spoken and written medium of knowledge sharing.

I occasionally watch the videos mentioned in this book as well. Two of them are talks by Monica Lewinsky (The Price of Shame) and Richard Turere from Nairobi who gave speech about his invention. The first one got me reflect about public humiliation. The latter inspired me on how we can contribute to our community by our knowledge. You can find them on YouTube.

Indeed public speaking is very important to spread ideas for the better world and society. Just like TED Talks well known tagline: ideas worth spreading. :).

Additional info:

Didn’t know earlier that initially TED Talks was an annual conference until I read this book. TED stands for Technology, Entertainment and Design.

(+) Discuss the importance of public speaking and how it can make difference to our society.

(+) Discuss the step by step to prepare your public speaking in sequence. Not only technical ones, but also how to pick important issues to share to people based on our interests or expertise.

(+) Many practical examples from TED Talks cases and experiences.

(+) The author also included advice from experts from various fields who happened to give speech in TED Talks.

I found no flaws in this book. So enjoyable and I like it.

My rating: 5/5

Goodreads rating: 4.19/5

 

7. Dear Life (Alice Munroe, 2011)

51puKcR9w+L._SX325_BO1,204,203,200_

Sinopsis: Harus saya akui, saya mulai membaca buku ini sudah agak lama, namun tidak berhasil menyelesaikannya. I quit before finish. Saya sempat masih berharap akan melanjutkannya lagi (sampai saat ini masih berharap haha..), tapi entah kapan. Buku ini adalah kumpulan cerita pendek dengan tokoh-tokoh orang biasa dan keseharian yang biasa juga. Namun, pertemuan dan keterlibatan antar tokoh itu memunculkan konflik (yang juga sederhana, dalam artian biasa dihadapi dalam keseharian), tahap refleksi, pengambilan keputusan, dan penyelesaian. Begitu pola ceritanya. Misalnya, cerita tentang trauma masa kecil dan penyesalan yang tak kunjung usai. Beberapa cerita membahas hubungan percintaan dan pengkhianatan.

Alice Munroe sendiri adalah pemenang nobel sastra pada 2013 (dan itulah mengapa saya tertarik membeli buku ini pada 2014 lalu).

(+) Cerita-ceritanya berlatar waktu lampau dan banyak berlokasi di Kanada. Buat saya yang tertarik pada tempat-tempat baru, saya jadi suka googling, kota ini seperti apa sekarang, lokasinya di mana, dsb.

(-) Pada beberapa cerita, saya tersesat di dalamnya. Seperti ada koneksi yang hilang antara tokoh dan justifikasi dari keputusan atau langkah yang diambilnya. Terus tahu-tahu sudah ending saja. Menyisakan saya yang hanya berkomentar, “Oooh.. udahan nih ceritanya?”

My rating: 2.5/5

Goodreads rating: 3.74/5

 

8. A Hundred-Year Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared (Jonas Jonasson, 2009)

519PQc+9pKL._SY445_QL70_

Sinopsis: Komedi, satir, dan sejarah yang dikemas apik dalam sebuah novel. Saya sangat terhibur dan menikmati 400-an halaman buku ini. Sebenarnya, ini bukan tema novel  yang biasa saya baca. Buku ini sekaligus menjadi novel Swedia pertama yang saya baca (yang tentu sudah diterjemahkan haha.. kebetulan baca yang versi terjemahan bahasa Inggris). Daaan ternyata saya tidak kecewa sama sekali dengan pilihan buku ini.

Alurnya maju mundur, antara tahun 2005 dan awal 1900-an, dimulai sejak kelahiran tokoh utamanya, Allan Karlson, pada tahun 1905. Pada 2 Mei 2005, Allan akan ‘merayakan’ ulang tahunnya yang ke-100. Pesta tersebut telah disiapkan oleh direktur panti jompo tempat Alan tinggal dan bahkan akan dihadiri oleh walikota. Namun, alih-alih datang ke pestanya, Allan malah memutuskan untuk kabur lewat jendela kamarnya dan memulai petualangan yang tak terduga. Ia bertemu seorang pemuda yang menitipkan sebuah koper padanya. Karena koper itulah akhirnya Allan dikejar-kejar kawanan kriminal dan juga dikejar polisi.

Karakter Allan sangatlah unik. Dia sebenarnya bukan orang jahat, bahkan memiliki hati yang baik dan tidak mau merugikan dan membahayakan orang lain. Dalam beberapa kasus, ia terlihat oportunis, namun sebenarnya ia hanya bersikap jujur akan apa yang ia percaya. Allan tidak percaya dan tidak peduli pada politik, tetapi justru banyak persimpangan dalam hidupnya di mana ia kemudian terlibat dengan tookh politik dari berbagai negara yang sangat berpengaruh terhadap konstelasi politik dunia. Ia bertemu dan terlibat dalam hubungan dengan Franco (Spanyol), Truman (AS), Stalin (Rusia), Mao Tse-tung (Tiongkok), Charles de Gaulle (Prancis), dll. Yang mengagetkan adalah ternyata Indonesia menjadi salah satu latar tempat dalam film ini, lengkap dengan fenomena korupnya. Bukan hal yang menyenangkan, tetapi cukup relevan dan reflektif dengan kondisi saat ini.

(+) Jadi sekalian belajar sejarah karena timeline latar waktunya memang sesuai dengan sejarah (meskipun tentu detailnya banyak dikombinasikan dengan fiksi).

(-) Bagian alur mundur ke masa lalunya terlalu panjang pada beberapa bagian. Mungkin kalau bagian yang panjang itu dipisah jadi dua bab berbeda, pembaca jadi tidak terlalu bosan.

My rating: 5/5

Goodreads rating: 3.81/5

 

9. How Adam Smith Can Change Your Life (Russ Roberts, 2014)

26803329

Sinopsis: Buku ini merupakan penulisan kembali ide-ide Adam Smith dalam bukunya ‘The Theory of Moral Sentiment’ yang pertama kali diterbitkan tahun 1759. Alasan pertama saya tertarik pada buku ini adalah karena ide-ide Smith dari ‘The Theory of Moral Sentiment’ ini cukup jarang dibahas, tidak seperti The Wealth of Nations yang menempatkannya sebagai Bapak Kapitalisme.

Russ Roberts berusaha menuangkan isi ‘The Theory of Moral Sentiment’ dengan bahasa yang lebih mudah dipahami (tentu saya akan cukup pusing baca buku bahasa Inggris dengan gaya penulisan dan pemilihan kata ala abad 18 :p) disertai contoh-contoh yang relevan dengan kehidupan kita saat ini. Ternyata apa yang Smith bahas abad-18 lalu masih sesuai dan banyak kita dapati pada kehidupan sehari-hari.

Sesuai dengan judulnya, Smith tidak banyak membahas aspek politik dan ekonomi yang disertai berbagai teori, justru ia membahas perilaku manusia berdasarkan hasil pengamatan sosialnya. Roberts membagi pemikiran Adam Smith dalam beberapa bagian, di antaranya bagaimana mengenal diri kita sendiri, bagaimana kita menjadi bahagia, bagaimana kita tidak membodohi diri sendiri, sampai dengan bagaimana kita membuat dunia ini menjadi tempat yang lebih baik.

Salah satu hal menarik dari pemikiran Smith adalah ia membedakan (1) ‘to be loved’ and (2) ‘to be lovely’. Yang pertama, kita bisa membuat orang menyukai kita dengan berbagai cara, termasuk cara yang tidak jujur. Misalnya memanipulasi nilai atau portfolio supaya kita dianggap pintar dan intelek *eh*. Bisa juga kita korupsi dan menjadi kaya agar orang-orang segan kepada kita, To be loved is one thing, to be lovely is another. Yang kedua lah yang lebih penting. Dengan bersikap baik dan jujur (lovely), dengan sendirinya kita akan mendapat respek dari orang lain.

(+) Tentu sangat membantu untuk memahami pemikiran Adam Smith tanpa harus membaca langsung bukunya.

(-) Dalam beberapa bagian, penulis agak bertele-tele dalam membuat contoh kasus kekinian yang relevan dengan pemikiran Adam Smith.

My rating: 3/5

Goodreads rating: 3.9/5

 

Semoga tahun 2018 ini bisa lebih konsisten membaca buku. 🙂

Ada rekomedasi buku untuk dibaca tahun ini?

1865143963390123180513

Advertisements

9 thoughts on “Sembilan Buku di 2017 (Bagian 2)”

  1. Waah kebalikan, aku baca buku A Hundred-Year Old Man Who Climbed Out the Window and Disappeared susah banget nyelesainnya, walaupun seneng baca trivia sejarah tapi entah kenapa ceritanya buat aku ngebosenin bgt dan bikin males baca huhu. Some parts just drag on for too long, dan ada beberapa bagian yg menurut aku ga jelas arahnya ke mana. Tapi banyak jg ya yang suka sama buku ini, liat review2nya emang polarizing hehe.

    Like

    1. Iya, bener. Yang suka, suka banget. Yang nggak suka, nggak suka banget. 😀 Menurutku pas bagian flashback nya memang ada yang bertele-tele. Makanya mungkin kl dipecah2 babnya agak nolong ya. Hehe.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s