Books, Review

Sembilan Buku di 2017 (Bagian 1)

Hanya sembilan?

Mungkin angka ini terbilang sedikit ya dibandingkan teman-teman lain yang hobi baca buku. Hehe. Saya memang nggak bisa baca buku cepet-cepet dan butuh suasana yang kondusif untuk baca. Jadi ya bacanya pelan-pelan, menyempatkan di sela-sela aktivitas. Kalau lagi traveling, malah saya bakalan serius baca. Biasanya, saat perjalanan di kereta atau pesawat, malah menjadi waktu yang pas untuk baca tanpa disela pekerjaan. Berhubung tahun ini nggak banyak melakukan perjalanan jauh, jadi yaa begitulah. *alasan yang dibuat-buat* :p

Tahun ini saya berkesempatan membaca beberapa buku yang cukup beragam, ada fiksi dan nonfiksi, yang nonfiksi pun genrenya macam-macam. Dengan mencoba baca buku di luar zona nyaman (alias yang itu-itu terus genrenya), saya jadi mengeksplorasi banyak hal baru lewat buku-buku ini.

Berikut buku-buku dan review singkatnya.

  1. The Year of The Runaways (Sunjeev Sahota, 2015)

51OTLR8aQuL._SY445_QL70_

Sinopsis: Tiga pemuda India dipertemukan di Inggris dalam perjalanan mengadu nasib. Ada yang datang secara ilegal tanpa dokumen apapun (Toshi), ada yang datang dengan visa pelajar (Avtar), ada pula yang cukup ‘beruntung’ karena mendapatkan seorang istri kontrak berkewarganegaraan Inggris sehingga secara hukum ia dapat memeroleh visa Inggris setelah beberapa waktu tertentu (Randeep). Mereka tinggal di satu rumah, bekerja serabutan sebagai pekerja kelas bawah di Sheffield. Masing-masing memiliki kisah hidup sendiri. Cerita juga melibatkan Narinder, istri kontrak Randeep yang merupakan warga negara Inggris keturunan India. Keputusan menikah dengan Randeep membuatnya harus lari dari mantan tunangannya dan tak memberi kabar kepada keluarganya. Narinder punya alasan sendiri mengapa ia mau menikah dengan Randeep.

(+) Kalau mau happy ending dan lebih dramatis, sebenarnya saya berharap ada ending yang indah (cenderung fairytale). Tapi, ending cerita yang sangat realistis ternyata membuat saya semakin suka buku ini, seakan refleksi bahwa “yaaah… beginilah hidup”. Kita punya masa lalu, ada hal yang mungkin tidak sesuai harapan, tapi kita harus move on.

(+) Jadi tahu bagaimana kehidupan para imigran gelap di negara maju. Meskipun secara hukum tidak bisa dibenarkan, tapi kalau lihat lebih dekat, memang banyak sekali PR-nya, terutama kondisi ekonomi dan sosial di negara asalnya.

(-) Pada awal cerita terasa agak bertele-tele, mungkin karena masih belum paham arah ceritanya, karena alurnya maju – mundur.

(-) Cukup banyak istilah Bahasa Panjabi yang dibiarkan begitu saja (tidak diterjemahkan), sehingga kadang harus cek Google Translate demi paham konteks ceritanya.

Pas saya lagi rajin, saya pernah nulis reviewnya di SINI.

Award: Short-listed for the Man Booker Prize 2015
Goodreads rate:  3.85/5

2. The Namesake (Jhumpa Lahiri, 2003) 

51VBERSCRBL

Ini karena faktor kebetulan ya.. saya beli dua buku berlatar budaya India dan kebetulan juga ceritanya sama-sama tentang orang yang merantau. Kalau buku sebelumnya merantau ke Inggris, yang ini tokohnya merantau ke Amerika Serikat. Sewaktu saya baca bukunya, saya baru tahu bahwa The Namesake ini sudah diadaptasi ke dalam film dengan judul yang sama. Saya pun harus menahan diri untuk tidak menonton filmnya sampai saya selesai baca buku. Hehe.

Sinopsis: Konflik utama dari buku ini adalah pencarian jati diri seorang pemuda bernama Gogol, generasi kedua dalam keluarganya yang hijrah dari India ke Amerika. Gogol bukanlah nama yang lazim – baik di India maupun di Amerika – dan ia merasa tidak nyaman dengan nama tersebut. Ayah Gogol bercerita bahwa nama itu diambil dari nama salah seorang penulis favoritnya, Nikolai Gogol (penulis asal Rusia). Gogol tidak sepenuhnya bisa menerima alasan itu. Namun, sebenarnya sang ayah punya rahasia penting dan bersifat pribadi, yang ia rahasiakan dari anaknya.

“That’s the thing about books. They let you travel without moving your feet.”
― Jhumpa LahiriThe Namesake

(+) Menyampaikan aspirasi kehidupan imigran dari negera berkembang di negara maju. Berbeda dengan The Year of The Runaways, imigran dalam cerita ini adalah imigran terpelajar (ayah Gogol adalah seorang dosen dan peneliti). Mereka berusaha membaur dengan warga lokal, namun tak bisa sepenuhnya. Hal ini menjadi tantangan karena nilai-nilai budaya yang dianggap penting oleh generasi pertama, tidak selalu mendapat tempat yang sama dalam perspektif generasi kedua yang terpapar budaya lokal sejak kecil.

Goodreads rate:  3.96/5

3. Happy Little Soul (Retno Hening Palupi @retnohening, 2017) 

34875703

Sinopsis: Buat para follower @retnohening di media sosial Instagram, pasti tidak asing lagi dengan si ceriwis nan lucu, Kirana. Buku ini bercerita tentang lika-liku Retno Hening, atau biasa dipanggil Ibuk, dalam membesarkan putrinya, Kirana. Saya follow cerita Kirana di Instagram sejak 1,5 tahun lalu, waktu dia masih berumur 2,5 tahun. Saya dibuat kagum oleh Kirana yang kecil-kecil tapi empatinya tinggi sekali. Dia juga sangat sopan dengan selalu mengucapkan “terima kasih”, “maaf”, dan “tolong”, tiga kata ‘sakti’ dalam kehidupan sosial kita. Tentulah Kirana tidak tiba-tiba menjadi anak baik seperti ini. Ada sosok ibu luar biasa yang mendidiknya. Dalam buku ini, Ibuk Retno Hening berbagi tanpa terasa menggurui.

“Bersyukurlah, Ibu. Allah memercayakan malaikat kecil dari surga untuk menjadi teman hidup kita, teman bermain, teman berbagi, teman beribadah, teman yang hanya pada wajahnyalah kita temukan ketenangan dan kekuatan.”

— Retno Hening Palupi

(+) Bahasanya sederhana dan mudah dicerna.

(+) Disertai ilustrasi yang lucu dan menggemaskan.

(-) Ada repetisi di beberapa bagian buku.

Goodreads rate:  4.46/5

4. Aruna dan Lidahnya (Laksmi Pamuntjak, 2014)

23492847

Tidak ada motivasi khusus saat memilih buku ini selain karena saya suka buku Laksmi sebelumnya yang berjudul Amba. Ternyata, Aruna dan Lidahnya adalah karya Laksmi yang berbeda. Dilihat dari segi tema, tentu saja berbeda. Dari gaya bercerita dan gaya Bahasa pun demikian.

Sinopsis: Aruna adalah seorang epidemiologist (ahli wabah) yang ditugaskan mengunjungi beberapa wilayah di Indonesia untuk menyelidiki kasus flu burung. Dalam perjalanan tersebut, ia ditemani teman sekantor yang menurutnya agak annoying, yaitu Farish. Dan secara tidak resmi, ada dua ‘penyusup’ yang ikut dalam perjalanan ini, yaitu Bono, seorang chef, dan juga Nadezhda, seorang penulis kuliner dan gaya hidup. Keduanya ikut dengan tujuan wisata kuliner, sementara Aruna bekerja dan tentu ikut wisata kuliner juga. Interaksi mereka mengalir seputar (tentu saja) kuliner, padangan hidup, dan diselipi kritik-kritik sosial. Dalam perjalanan ini, Aruna juga menemukan beberapa kejanggalan dalam kasus flu burung yang ia selidiki.

(+) Menambah khasanah tentang kekayaan kuliner di Indonesia. Sambil membaca, sambil membayangkan makanannya. Sluuurp. Bagian kuliner menjadi cerita yang saya tunggu-tunggu.

(-) Sepertinya novel ini jadi kurang fokus, mau membahas kuliner tapi tetap mau disisipi dengan kasus konspirasi, atau malah sebaliknya.. Mau cerita politik dan konspirasi, tapi kebablasan bahas kuliner. Namun pada ahirnya saya melihat bahwa semua hal di luar cerita kulinernya seakan hanya bumbu pelengkap saja.

Goodreads rate:  3.2/5

5. Andy Noya (Robert Adhi Ksp, 2015)  

26024655

Sinopsis: Host Kick Andy ini ternyata telah melewati lika-liku hidup yang terjal sebelum menjadi seorang jurnalis yang kita kenal di layar kaca. Masa kecil dan kondisi keluarga dengan berbagai keterbatasan telah banyak menempa dirinya. Hidup serba pas-pasan, berpindah-pindah tempat tinggal, berganti pengasuhan (ibu dan ayahnya sempat hidup terpisah), menjadi bagian dari kisahnya. Keluarga Andy yang merupakan campuran Belanda juga membuatnya terlihat berbeda secara fisik sehingga ia sempat menjadi bulan-bulanan teman sepermainannya.

Buku ini bagus dibaca siapa saja, terlebih oleh para calon jurnalis atau yang tertarik pada dunia jurnalistik karena Andy banyak bercerita tentang perjalanan karirnya di bidang ini, termasuk pengalamannya bekerja di berbagai media cetak dan elektronik. Keteguhan membela prinsip, keberanian menyampaikan fakta, dan kedisiplinan sebagai seorang jurnalis patut diacungi jempol.

(+) Buku ini dituturkan dengan bahasa yang formal namun tetap disisipi humor sehingga kadang kita bisa ikut menertawakan kepedihan atau ketidakberuntungan Andy dalam kesehariannya. Meskipun bukan otobiografi, penggunaan kata ganti orang pertama sebagai pencerita membuat kita serasa diceritakan langsung oleh Andy.

(-) Saat bercerita tentang karir di dunia jurnalistik, banyak sekali cerita yang terpusat pada tokoh Surya Paloh. Mungkin bagi sebagian orang, bagian ini agak membosankan. Hehe.

Goodreads rate:  4.29/5

Share juga dong, buku apa yang paling berkesan tahun ini buat teman-teman? 🙂

1865143963390123180513

Ps. bersambung ke review selanjutnya ya. Ada buku TED Talks, The 100-Year Old Man, dan dua buku lainnya.

Advertisements

5 thoughts on “Sembilan Buku di 2017 (Bagian 1)”

  1. Mbak Ichaa, numpang mampir yaa, abisnya ngomongin buku sih, ehehe.

    Buku favoritku tahun ini, bukunya Leila S. Chudori yang Laut Bercerita.
    Ya sebetulnya karna emang aku selalu suka buku yg berlatar belakang kejadian 1965 dan 1998 sih.
    Nanti coba kureview deh di blog ku tentang bukunya. Mampir juga ya nanti, Mbak #promosi 😀

    Liked by 1 person

    1. Wah, itu masuk wish list aku juga. Tapi malah kelupaan mau beli pas Harbolnas Gramedia kemarin. Hehe.. Aku juga suka cerita-cerita berlatar 1965 dan 1998. Nggak semua orang mau (dan berani) dan bisa menarasikan kejadia-kejadian pada masa itu ya. Sebelumnya baca ‘Pulang’ juga suka.
      Ditunggu ya, Jeng, reviewnya. Nanti aku mampir. 😉

      Like

    1. Aku juga beli buku ini karena tertarik sama budaya India dan berbagai problematikanya. Hmm.. kalau film India ada sih yang suka. Makin ke sini makin banyak kan film India yang bukan cinta-cintaan aja, tapi mengangkat isu sosial. Hehe.

      Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s