Mendamba Banda

REMPAH-REMPAH. Komoditi perdagangan yang saya kenal lewat pelajaran Sejarah. Sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, saya merasa tidak mendapat jawaban mengapa orang Belanda sampai repot-repot berlayar melintasi samudera demi rempah-rempah. Sebut saja pala dan cengkeh, dua dari sekian hasil bumi yang diincar oleh Belanda. Semasa kecil, saya mengenal keduanya karena di sekitar lingkungan sekolah saya ada pohon cengkeh, sedangkan pala saya kenal lewat jajanan di kantin sekolah (manisan pala). Apa yang spesial dari keduanya sampai-sampai bisa menyebabkan pertumpahan darah?

Seiring waktu, saya punya semakin banyak sumber informasi mengenai pertanyaan yang ada di kepala saya semasa SD dulu, salah satunya lewat film.

Akhir pekan lalu, saya dan teman-teman alumni Pengajar Muda di Jogja mendapat kesempatan nonton bareng film Banda The Dark Forgotten Trail. Sebelum menonton, saya sempat membaca beberapa artikel yang mengulas film ini. Saya pun semakin penasaran karena Banda adalah sebuah film dokumenter yang bercerita tentang Kepulauan Banda di Indonesia Timur.

Jika ada yang masih bingung mengenai letak kepulauan ini, semoga deskripsi singkat dari saya dapat cukup membantu. Secara administratif, Kepulauan Banda termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Maluku Tengah, provinsi Maluku. Kepulauan ini terdiri dari sepuluh pulau yang sebagiannya berpenghuni, sebagian lagi tidak. Letaknya tersebar di Laut Banda. Jika Anda berkesempatan menonton film Banda, pada pembukaannya pun dijelaskan mengenai pulau-pulaunya. Karena alasan sejarah, salah dua pulaunya kemudian dinamai Pulau Hatta dan Pulau Sjahrir. Ya, dahulu kala kepulauan ini memang menjadi tempat pengasingan beberapa tokoh nasional.

Saya rasa tidak banyak film dokumenter Indonesia yang masuk bioskop (atau saya yang kurang gaul?). Sejauh yang saya ingat, ini adalah film dokumenter pertama yang saya tonton di bioskop. Judul film ini kurang lebih menjelaskan isi filmnya: tentang Banda, sebuah jejak kelam yang terlupakan.

Mengapa disebut terlupakan? Dulu Banda adalah wilayah yang sangat penting untuk perdagangan rempah-rempah. Konon jalur perdagangan ini menandingi pentingnya jalur sutera yang membentang dari Cina ke Asia Tengah dan Eropa. Namun kini, popularitas Banda semakin meredup seiring dengan meredupnya geliat perdagangan komoditas pala.

Mengapa dianggap kelam? Hal ini terutama berkaitan dengan kehadiran Belanda di Pulau Banda. Sebelum Belanda datang, Banda sudah merupakan wilayah perdagangan. Kala itu, orang-orang Banda bertransaksi dengan para pedagang dari Tiongkok sampai Arab. Semua berdagang dengan adil dan damai. Kehadiran Belanda menciptakan konflik karena Belanda ingin memonopoli perdagangan rempah di sana. Timbullah berbagai pemberontakan, pembalasan, dan seterusnya, yang memakan banyak korban.

Film Banda sangat menarik karena selain memotret sejarah perdagangan rempah, film ini juga memotret sisi humanis dan budaya yang menjadi konsekuensi sejarah panjang kepulauan tersebut. Banda sebagai jalur perdagangan dan Banda sebagai tempat pengasingan membuat berbaurnya orang dari berbagai suku bangsa. Banda sudah multikultur sejak dulu. Meskipun pernah dihantam badai provokasi dan kebencian antar suku, kini Banda sudah menata diri lagi dalam keberagamannya.

Apresiasi patut diberikan kepada Jay Subiyakto sebagai sutradara dan Lifelike Pictures yang memproduksi film dokumenter ini. Ini adalah langkah yang berani dan bukti kepedulian akan sejarah bangsa.

Satu atau dua hal yang menurut saya dapat lebih baik lagi adalah dalam hal tata suara dan warna gambar. Saya memang bukan seorang ahli film, tetapi sebagai penonton, saya agak terganggu dengan musik yang terus berputar saat narasumber dan narator sedang berbicara. Mengenai warna, mungkin memang disengaja tone-nya dibuat gelap untuk menggambarkan Banda yang misterius dan Banda yang memiliki sejarah kelam. Pada awalnya, tone warna dan musik itu terasa dramatis sebagai pembukaan film, tetapi lama kelamaan malah membuat penyampaian pesan dari secara verbal dari film ini menjadi terganggu.

Seingat saya, setelah lebih dari setengah durasi film barulah muncul gambar yang lebih berwarna-warni saat menggambarkan wilayah Banda yang lebih luas. Sebetulnya film ini bisa menjadi salah satu promosi Banda sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya, hanya saja tone warna yang sebagian besar gelap jadi kurang merepresentasikan sisi lain yang menarik dari Banda.

Selebihnya, film berdurasi 93 menit ini adalah film yang sangat layak untuk ditonton. Psst… bagi penggemar Reza Rahadian, Anda mungkin akan cukup senang dengan ‘kehadiran’ Reza sebagai narator film ini.

Sebagai orang yang tertarik pada wisata sejarah, Pulau Buru dan Kepulauan Banda adalah dua dari sekian tempat yang penasaran ingin saya kunjungi. Semoga suatu saat kesampaian. 🙂

1865143963390123180513

Beberapa tulisan saya terkait rempah dan sejarah VOC:

Menyusuri Jejak VOC di Amsterdam (1)

Menyusuri Jejak VOC di Amsterdam (2)

Advertisements

2 Comments Add yours

  1. Jumal Ahmad says:

    Saya pengen banget nonton, belum ada kesempatan dan rizqi.

    Btw, banda dalam bahasa jawa berarti harta, mungkn krn tempat ini ladang harta di zamannya

    Like

  2. Dita says:

    duhhh belom nonton, mudah2an masih ada kesempatan 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s