Nostalgia Dieng

Sudah cukup lama saya ingin ke Dieng (lagi). Kali pertama saya ke sana adalah tahun 2010 (baca: Menembus Dinginnya Dieng). Saya penasaran, seperti apa ya Dieng sekarang?

Dulu saya dan seorang teman pergi ke Dieng dengan modal nekad dan benar-benar dadakan. Kami naik travel dari Jogja sampai Wonosobo dan lanjut dengan kendaraan umum. Itu pun kami baru mendapat travel pada malam sebelumnya, karena kebanyakan travel sudah penuh untuk keberangkatan paling pagi esoknya.

img_0349
Trip terakhir dengan mobil kesayangan, Si Tejo (sekarang mobilnya sudah dijual), foto: Chendra

Barulah pada Oktober lalu kesampaian juga saya road trip ke Dieng bersama Chendra dengan kendaraan pribadi. Semua ada seninya masing-masing. Naik kendaraan umum itu seru karena kita bertemu dan berbagi kendaraan dengan orang-orang tak dikenal. Terkadang ada pengalaman menyenangkan, namun sebaliknya kalau sedang apes, ada saja yang membuat kesal. Kalau membawa kendaraan pribadi, serunya adalah saat memilih rute dan mempersiapkan amunisi di jalan.

Memilih Penginapan

Tidak lama sebelum ke Dieng, teman saya yang baru dari sana memberikan saya kontak penginapan di Dieng yang menurutnya layak direkomendasikan. Tetapi saya juga tetap berselancar di dunia maya untuk mencari alternatif lainnya. Sayangnya, setelah beberapa tahun berselang sejak kali terakhir saya ke Dieng, usaha penginapan di sana tidak banyak berubah. Saya tidak masalah dengan homestay kecil milik warga lokal. Hanya saja, sayang sekali belum banyak yang memanfaatkan promosi online. Saat saya cari di internet, informasi penginapan masih minim dan foto pun seadanya. Tidak banyak info tentang rate kamar dan fasilitas yang biasanya menjadi pertimbangan wisatawan. Jika ingin tahu info lebih lanjut, harus menghubungi nomor kontaknya. Repot juga ya. Itu pun responnya cukup lama.

Saya kemudian memutuskan menghubungi nomor kontak yang diberikan teman dan memutuskan memesan penginapannya. Namanya Cahaya Homestay. Kelebihan homestay ini adalah berlokasi di pinggir Telaga Cebong dengan akses jendela kamar yang juga menghadap telaga tersebut. Satu hal penting yang menjadi pertimbangan dalam memilih penginapan adalah saya ingin ada air panasnya. Hehe.. belajar dari pengalaman sih. Dulu sewaktu ke Dieng, tidak terbayang Dieng dinginnya seperti apa sehingga dengan santainya saya memilih kamar tanpa fasilitas air panas. Nah ternyata airnya super dingin seperti es. Mau wudhu saja jadi deg-degan, apalagi mandi. ๐Ÿ˜€

whatsapp-image-2017-02-21-at-13-28-311
Drinking coffee with this view (padahal cuma kopi instan yang beli di warung sebelah penginapan :p)

Dengan fasilitas kamar mandi dalam (tanpa sarapan), harga per malam di homestay tersebut adalah Rp300.000. Tidak mahal memang. Namun kalau dibandingkan dengan macam-macam budget hotel dengan fasilitas lebih baik di kota lain, tentu harga ini kurang kompetitif. Hehe. Hal lain yang harus diperhatikan jika datang ke penginapan di Dieng, tidak semua penginapan memiliki petugas atau pemilik yang stand by 24 jam, atau setidaknya stand by pada waktu check in. Saya sampai di sana sekitar pukul 12 siang dan menemukan homestay tersebut kosong. Saya menghubungi kontak homestay tersebut, namun karena kendala sinyal, telepon pun putus-nyambung. Setelah menunggu hampir satu jam, saya baru bisa masuk ke kamar. Fiuhh.

Ya sudahlah. Sepertinya standar pelayanannya memang tidak terlalu bisa diharapkan. Tapi kekecewaan tersebut terbayar dengan pemandangan dari jendela kamar yang cantik dan menenangkan.

Dieng: Dulu dan Sekarang

Cukup banyak yang berubah di Dieng jika dibandingkan dengan kunjungan saya sebelumnya. Selain lebih ramai wisatawan (dan lebih banyak spot foto buatan untuk menarik hati para instagram-er :p), perubahan bisa dilihat juga pada pembangunan infrastruktur dan fasilitas tempat wisata. Ramaianya wisatawan membuat para pedagang dan pembuat kerajinan dan oleh-oleh terkena imbas positif. Fasilitas yang lebih baik dan berbagai pilihan objek wisata juga membantu para wisatawan. Di satu sisi, tentu ini adalah hal yang baik. Hanya saja, jika tidak diikuti dengan kesadaran wisatawan dalam menjaga lingkungan, ramainya berbagai tempat wisata bisa menjadi bumerang untuk diri kita sendiri.

img_20161030_054239
Puncak Sikunir bagaikan pasar :O
img_20161030_061445_hdr
Sarapan kentang Dieng

Saya terkenang suatu pagi di Puncak Sikunir tujuh tahun lalu. Magisnya matahari terbit dapat dinikmati dalam keheningan. Betapa kagetnya saya ketika mendaki Sikunir Oktober lalu, mau naik saja antre. Apalagi sesudah sampai puncak, ratusan manusia berdesakan demi memotret dan dipotret dengan latar matahari yang baru muncul malu-malu. Belum lagi mereka yang begitu โ€˜nikmatโ€™-nya merokok dan menebar asap sana-sini. Kalau diibaratkan, seperti suasana menunggu kereta commuter di Jakarta dan sekitarnya (itu pun di stasiun saat ini sudah ada larangan merokok). Saya jadi tidak betah berlama-lama di atas dan menanti saat-saat yang tepat untuk turun. Tetapi karena sepertinya antrean tak kunjung berkurang (dan malah bertambah terus), saya dan Chendra memutuskan ikut bergabung dalam antrean turun yang mengular.

Turun dari Sikunir, banyak sekali penjual makanan yang kami temui di bawah, tepatnya di poin awal pendakian. Makanan yang dijual beragam, tapi kebanyakan menjual soto, gorengan, dan kentang rebus. Kentang rebusnya unik, kentang kecil-kecil yang direbus dengan kulitnya di air gula. Jadi saat dimakan, rasanya manis (bahkan sedikit terlalu manis untuk saya). Saya cukup kaget melihat ramainya area ini, karena dulu jalan ini sangatlahย sepi. Telaga Cebong pun kini ramai oleh orang-orang yang kemping. Dieng memang sudah banyak berubah.

whatsapp-image-2017-02-21-at-13-28-31-1
Hujan di Telaga Warna

Selain ke Puncak Sikunir, kami juga mampir ke Telaga Cebong, Telaga Warna, dan Kawah Sikidang. Banyaknyaย aneka gimmick di tempat-tempat wisata seperti tulisan-tulisan atau tanda love untuk berfoto, kadang membuat foto lanskap menjadi sedikit terganggu. Yang paling banyak saya temukan adalah di Kawah Sikidang, sampai akhirnya saya juga jadi iseng ikutan berfoto pada tanda ‘love’ diย pinggir jalan yang dilewati. Baru jepret-jepret sebentar, kemudian didekati oleh seorang pemuda yang memberitahukan bahwa foto di situ bayar. Hahaha. Ternyata eh ternyataโ€ฆ No such thing as a free picture!

Turun dari Dieng ke Wonosobo, kami mampir lagi di Telaga Menjer. Danau ini terletak di daerah bernama Garung. Nah kalau di sini sejak dulu memang lebih sepi dibandingkan di Dieng. Yang saya suka, ada perahu motor yang bisa membawa pengunjung berkeliling telaga. Telaga Menjer ini dikelilingi perbukitan, jadi vitamin buat mata juga lihat yang segar-segar. Rasanya, Telaga Menjer memang yang paling cocok untuk bernostalgia perjalanan saya yang dulu.

 

*Info tambahan: sewaktu sedang beres-beres, saya menemukan beberapa karcis retribusi Dieng. Berikut infonya ya. Satu karcis ada yang bisa digunakan untuk masuk beberapa tempat.

  1. Karcis masuk Kawasan Lembah Dieng, Kawasan Dataran Tinggi Dieng, dan Dieng Plateau Theater Rp10.000.
  2. Karcis masuk Batu Pandang Ratapan Angin (tempat melihat Telaga Warna dari ketinggian) Rp10.000
  3. Karcis masuk Wisata Sunrise Gunung Sikunir, Telaga Cebong, dan Curug Sikarim Rp10.000.
  4. Karcisย masuk Kawah Sikidang dan Candi Arjuna Rp15.000
  5. Parkir roda empat di Kawah Sikidang Rp5.000
  6. Karcis masuk Telaga Menjer Rp3.000.

 

1865143963390123180513

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. mysukmana says:

    saya jg lama g k dieng..kangen org2nya

    Like

    1. Maisya says:

      Waktu pertama ke sana juga banyak hal berkesan tentang orang-orangnya yang sangat bersahabat. ๐Ÿ™‚

      Like

  2. dixiezetha says:

    Ya ampun, itu Puncak Sikunir bisa serame itu? Rata2 tempat2 di Indonesia kalo lagi naik daun jadi kebanjiran wisatawan ya, sayang banget banyak yang ga jaga kebersihan/lingkungan. Sedih sih, padahal Dieng bagus banget ya kalo liat fotonya (penasaran, soalnya belum pernah ke sana hehe)

    Like

    1. Maisya says:

      Iya rame banget, Dixie. Waktu itu kebetulan memang ke sananya pas akhir pekan sih. Tapi mungkin hari biasa pun lebih ramai dibandingkan dulu. Hehe. Serasa gak ada tempat bergerak lagi di Sikunir. ๐Ÿ˜€
      Tips kalau mau ke sana pas hari kerja aja.

      Like

  3. Emeraldine says:

    Baca artikel ini jadi pengen ke dieng. Saya belum pernah kesana tapi mungkin saya akan suka dieng yang dulu hehe. Tempat yang tenang untuk me-refresh otak hehehe.

    Like

    1. Maisya says:

      Dieng masih worth visiting kok. Hehe.. Karena di satu area ada berbagai macam spot wisata yang bisa dikunjungi. Selain wisata alam (danau, gunung, kawah) ada juga wisata sejarh (candi dan peninggalan lainnya). TInggal pemilihan waktu yang tepat kali ya. Saat liburan pasti penuh. ๐Ÿ™‚

      Like

  4. Duh, nemu tulisan ini jadi kangen Dieng.

    Hai, Mbak Maisya, salam kenal dari blogger nyubi ๐Ÿ™‚

    Like

  5. Septi says:

    Salam kenal mba maisua
    Saya jg mau ke dieng ke homestay cahaya juga
    Apakah Bisa di share nomor tlp pengelola homestay nya?

    Like

    1. Maisya says:

      Bisa kontak Mas Afton 082220415415. Selamat liburan. ๐Ÿ™‚

      Like

  6. Wah puncaknya bisa ramai begitu ya, medannya sulit nggak ya mbak jadi pingin kesana deh.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s