Berpuasa pada Musim Panas

DSC00256wm
Suasana Ramadhan di Belanda, musim panas 2014. Just like another day.

Berpuasa bukanlah persoalan di mana dan siapa yang berpuasa lebih lama. Tentu saja bukan. Tetapi pastinya ada cerita tersendiri dalam menjalankan puasa di perantauan, dengan cuaca yang panas, waktu puasa yang lebih lama dari biasanya, ditambah lagi berpuasa di tengah masyarakat dengan mayoritas tidak beragama islam.

Bagi kita yang tinggal di Indonesia, waktu dari azan Subuh sampai dengan azan Magrib biasanya berkisar antara 13 – 14 jam sepanjang tahun (mungkin hanya berbeda beberapa menit saja setiap tahunnya). Beriklim tropis dengan dua musim setahun, lama berpuasa di Indonesia tidak begitu terpengaruh oleh bulan dan musim. Hal ini berbeda ketika kita tinggal di negara empat musim. Pada musim dingin, waktu malam lebih panjang, sedangkan pada musim panas waktu siang yang lebih panjang. Pengalaman pertama saya berpuasa di negara empat musim adalah saat mengikuti pertukaran pelajar ke Korea saat S1 dulu. Namun, kebetulan saat itu bulan Ramadan bertepatan dengan musim gugur sehingga lama berpuasa bisa dibilang hampir sama dengan saat di Indonesia.

Alhamdulillah dua tahun lalu saya mendapat kesempatan lagi berpuasa di perantauan. Kali ini adalah di Belanda dan pas sekali Ramadan bertepatan dengan musim panas. Wah, tentu ini menjadi tantangan tersendiri sekaligus ladang untuk belajar bersabar dalam beribadah. Kali ini tidak tanggung-tanggung, puasa Ramadan di Belanda lamanya adalah sekitar 19-20 jam setiap harinya. Subuh sekitar pukul 03.00 dan berbuka puasa sekitar pukul 22.00. Sebenarnya ini belum seberapa. Negara-negara yang letaknya lebih di utara lagi menjalankan puasa lebih lama.

 

Respons dari Teman-teman

Beberapa tetangga seasrama sudah mengetahui tentang puasa, sebagian lagi belum. Oleh karenanya, ketika mereka bertanya, saya harus siap menjelaskan tentang puasa kepada mereka.

“How long do you have to fast?”

“Aren’t you hungry and thirsty?”

“How can you do all your daily activities without eating all day?”

Biasanya saya menjelaskan bahwa saat Ramadan tetap ada waktu makan, yaitu saat sahur dan berbuka. Oleh karenanya saya optimalkan memenuhi kebutuhan energi lewat dua waktu tersebut. Kalau dibilang haus, lapar, dan lemas, ya terkadang terasa juga sih di tengah puasa. Tapi itulah esensinya berpuasa. Lewat rasa lapar dan haus, insya Allah kita bisa mensyukuri nikmat yang Allah berikan selama ini sekaligus belajar untuk berempati kepada sesama. Mereka pun mengangguk-angguk tetapi terkadang tetap bertanya, “But are you okay?” Saya hanya nyengir saja. Hehe.. “Yes, I am. Don’t worry.”

Saya sangat menghargai teman-teman saya yang amat baik dan menghormati  saya yang sedang berpuasa. Biasanya, sekitar pukul 20.00 saya sudah menuju dapur untuk memasak dan untuk persiapan buka puasa. Saat itu, banyak di antara tetangga kamar yang sedang makan malam di ruang makan yang letaknya di sebelah dapur. Kalau saya lewat, mereka pasti bilang, “Hi Icha, sorry we’re having dinner in advance.” Saya sendiri tidak merasa ada masalah dengan itu karena mereka hanya makan sebagaimana biasa. Terkadang ada teman yang makan malamnya agak terlambat dan kami bisa makan malam bersama. Hehe.

Ada juga yang sekadar penasaran dengan menu berbuka saya. “Icha, what’s for your breakfasting today?” Errr… Ya saya mah masaknya gitu-gitu aja. Haha. Kalau lagi males masak biasanya patungan saja sama teman-teman Indonesia buat beli ribs halal legendaris di Groningen: Babylon. Nyammm… (Terus makan ribsnya tetep lah pakai nasi. Namanya juga orang Indonesia. :p)

 

Tantangan dalam Menjalankan Kegiatan Sehari-hari

Bulan Ramadan dua tahun lalu bertepatan dengan kegentingan saya dalam finalisasi sekaligus mengumpulkan hasil akhir tesis. Pada bulan itu juga, saya dag dig dug menanti jadwal ujian tesis. Sehari-hari saya habiskan dengan mereview dan belajar untuk persiapan ujian. Dengan jadwal solat (dan tentunya jadwal puasa, berbuka, dan sahur) yang cukup tidak biasa untuk saya, adaptasi tentu sangat diperlukan.

Kira-kira jadwalnya seperti ini (dimulai dari persiapan berbuka puasa):

20.00 – 21.00      Memasak

21.00 – 22.00      Persiapan buka puasa, seperti beresin piring, menata makanan, dll.

Menunggu berbuka dengan tadarus dan kegiatan lain (kalau ada)

22.00 – 23.00      Berbuka puasa dan solat Magrib

23.00 – 00.00      Bebaaas (bisa tadarus, berselancar internet, baca buku, dll). Intinya sih nungguin Isya. Haha… (Omg, jam segini belum masuk waktu Isya…)

00.00 – 00.30      Solat Isya dan tarawih

00.30                       Kalau perut sudah berasa agak lowong, yaudah makan lagi saja sekalian sahur. Biar bisa cepetan tidur. :p

01.00                       Kalau habis tarawih masih kenyang, mungkin nunggu sampai jam 1 malam untuk melihat beberapa kemungkinan. Kalau memang tidak bisa makan besar, berarti makan camilan-camilan saja atau minum Energen (Iyaa.. saya punya stok energen dong!).

01.15/01.30          Tidur

04.00                     Bangun untuk solat Subuh (karena jarang bisa bangun pada awal waktu Subuh sekitar jam 3). Kalau mau solat pas awal waktu Subuh, yaitu sekitar jam 3 pagi, harus gak tidur dulu sejak buka puasa supaya nggak kebablaslan tidurnya -_-“). FYI, matahari terbit sekitar jam 05.00.

04.15                     Habis solat, bobo cantik lagi… (masih zombie)

07.00/08.00       Bangun dan mulai beraktivitas. Bisa belajar di kamar atau ke perpustakaan (tentunya disisipi kegiatan yang menghibur supaya tidak stress. Haha).

Huaaa.. Agak nggak normal sih jadwalnya kalau dibandingkan dengan saat berpuasa di Indonesia. Perbedaan waktu ini menyebabkan berbagai jadwal juga jadi harus menyesuaikan. Ya jadwal makan, ya jadwal tidur. Pada awalnya masih belum terbiasa ya habis Tarawih kok langsung sahur. Haha. Tapi apa hendak dikata, dijalani saja.

Hal yang semoga tidak terjadi adalah kebablasan tidur pas nunggu buka puasa sampai Subuh. Nah lho. Berarti nggak sempat buka puasa dan nggak sempat sahur juga. *nangis di pojokan* Hal ini mungkin saja terjadi karena buka puasa kan baru jam 22.00, sementara mungkin seharian sudah capek berkegiatan di kampus. Jadi sebelum waktu Magrib sudah tidur dan baru terbangun dini hari yang mana sudah masuk Subuh. Kebayang dong harus puasa nonstop dua hari.

 

Toleransi dan Bersyukur

Belakangan ini (terutama sejak media sosial sangat populer), selalu saja setiap tahunnya ada polemik berkaitan dengan puasa, terutama persoalan:

yang tidak berpuasa harus menghormati yang berpuasa

atau

yang berpuasa harus menghormati yang tidak berpuasa?

Please guys, membahas siapa yg seharusnya menghormati siapa dalam berpuasa is so yesterday! *lelahnya lebih lelah daripada puasa 20 jam*

Idealnya, jika semua orang memulai untuk bersikap toleran dari diri sendiri, tidak perlu lah meminta-minta dihormati. Apakah itu utopis?

When we respect others, others will respect us back.

(Kalaupun orang itu kemudian tidak menghargai kita, setidaknya kita sudah melakukan hal baik)

Pengalaman menjalani bulan Ramadan di perantauan yang mayoritas bukan muslim, pada kenyataannya sama sekali tidak mengganggu puasa saya. Lapar dan haus itu pasti. Tetapi apakah saya jadi ingin berbuka puasa ketika melihat orang-orang makan di depan saya? Kantin di kampus tetap buka, restoran di sekitar saya tetap beroperasi seperti biasa. Tetapi jika kita sudah berniat puasa, komitmen kita adalah menjaga puasa kita sampai dengan waktu Magrib tiba. Orang-orang yang berseliweran makan dan minum di sekitar saya itu layaknya iklan Indomie, sirup Marjan, dan lain sebagainya, yang selalu muncul di berbagai stasiun televisi di Indonesia. 😀

DSC00255wm
Tidak terlalu sulit mencari masakan Indonesia di Belanda

Selama berpuasa di Belanda, saya selalu berusaha melihat banyak hal dari sisi positif. Meskipun harus berpuasa lebih lama, saya bersyukur bahwa di Belanda mencari bahan makanan halal terbilang relatif mudah (misalnya dibandingkan dengan saat di Korea dulu) karena di Belanda memang cukup banyak imigran muslim dari Turki dan Maroko. Selain itu, bahan masakan Indonesia juga mudah ditemukan mengingat secara historis hubungan Indonesia – Belanda sudah sangat panjang. Orang-orang Belanda sendiri sangat suka masakan Indonesia.

Hal lainnya yang membuat saya bersyukur, kebetulan di Groningen banyak mahasiswa muslim dari Indonesia. Ketika Ramadan tiba, jadwal tadarus bersama dan kajian agama menjadi lebih sering. Jika jadwalnya tidak berbenturan dengan agenda di kampus, saya selalu menyempatkan bergabung. Alhamdulillah, selain mendapat ilmu baru, rasanya seperti pulang kampung karena bisa berkumpul dengan saudara sesama muslim di perantauan. Silaturahim di antara kami pun kian erat.Alhamdulillah.

 

Tips Berpuasa pada Musim Panas

Jujur saja saya tidak punya tips khusus untuk hal ini. Kalau dipikir-pikir saat di Indonesia, kok rasanya pesimis ya saya bisa puasa sampai 20 jam. Hehe.. Tetapi ketika sudah dijalani, semua terasa menyenangkan dan baik-baik saja. Tidak ada lapar yang bikin saya lemas sampai tidak bisa bangun, misalnya. Mungkin karena saya juga banyak kegiatan, waktu pun tidak terlalu terasa.

Beberapa hal ini bisa dicoba untuk dilakukan:

  1. Saat kita berpuasa, usahakan kita memiliki kegiatan-kegiatan yang positif. Selain melakukan kegiatan rutin (misalnya bekerja dan kuliah), cobalah melakukan hal lainnya. Setelah pulang kuliah bisa kita jadwalkan untuk proyek tertentu, misalnya membuat satu tulisan/artikel setiap hari atau setiap tiga hari atau menghabiskan berapa buku selama Ramadan. Bagi yang hobi fotografi, bisa juga mengabadikan momen-momen Ramadan di kota tempat kita tinggal (biasanya di setiap kota ada komunitas muslim lintas negara). Intinya, lakukan hal-hal yang kita sukai dan bermanfaat.
  2. Hikmahnya berpuasa lebih lama, kita punya lebih banyak waktu untuk tadarus dan memelajari Alquran pada sore hari. Jadi, manfaatkanlah kesempatan tersebut (biasanya setiap orang punya target sendiri untuk khatam Alquran).
  3. Karena internet di negara maju kecepatannya luar biasa, kita bisa memanfaatkannya untuk mencari berbagai artikel atau mengikuti kajian agama dengan streaming Youtube. Kalau perlu, unduhlah semuanya untuk dokumentasi kita. Hehe.
  4. Hal yang juga sangat penting, jaga asupan gizi kita selama Ramadan. Berhubung waktu antara berbuka puasa dengan sahur sangat pendek, makanlah makanan bergizi dan juga dalam jumlah yang tidak berlebihan (jangan kalap saat buka puasa). Kebanyakan makan kan juga tidak baik untuk pencernaan kita. Jangan lupa makan sayur dan buah-buahan juga ya.

***

Meskipun berpuasa di Belanda sangat jauh berbeda dengan di Indonesia, alhamdulillah tidak ada kendala berarti yang saya hadapi. Kalau dipikir-pikir, berpuasa di Indonesia itu banyak sekali lho ‘fasilitas’-nya. Dari mulai penjual takjil yang berlimpah (sangat membantu untuk yang tidak selalu sempat memasak sendiri), masjid di mana-mana, sampai banyaknya acara televisi yang tiba-tiba banyak memakai kemasan islami. Tak ketinggalan rumah makan juga harus tutup atau setidaknya ditutup tirai pada siang hari, konon sebagai bentuk toleransi dan demi menghormati kita yang berpuasa.

Berpuasa di negara dengan penduduk mayoritas nonmuslim rasanya seperti berpuasa dalam keheningan. Ya, keheningan di antara kegaduhan di luar sana. Tetapi, justru dalam keheningan itu saya merasakan bahwa puasa yang saya jalani hanyalah antara saya dan Sang Pencipta. Keheningan yang membuat saya harus menemukan sendiri makna berpuasa tanpa berbagai aksesori yang terlihat dari luar. Kebanyakan orang tidak tahu kalau saya berpuasa. Mereka tetap beraktivitas seperti biasa tanpa saya perlu repot-repot merasa tidak dihargai.

Kira-kira demikianlah cerita saya tentang pengalaman berpuasa pada musim panas. Yang mau berbagi cerita, ditunggu di kolom komentar ya.

Selamat berpuasa dan menjalankan ibadah bulan Ramadan bagi teman-teman muslim di manapun berada. 🙂

1865143963390123180513

 

Advertisements

21 Comments Add yours

  1. Dita says:

    sampe lelah aku baca beritanya kak, semuanya ngeshare dan menambahkan opini yang menurut mereka paling benar. Duh mau sampai kapan sih debat terus tentang hal kayak gini :/

    Like

    1. Maisya says:

      Iya. Belakangan ini opini apapun emang jadi semacam harus banget disampaikan di media sosial. Kalau ada yg gak setuju, panjang deh komen2annya. 😀
      Padahal menurutku setiap orang udah punya kecenderungan opini yg terbentuk dari pengalaman dan informasi yg didapat saat ini maupun masa lalu (halah, ribet amat). Jadi..mau debat sampai panjang jg, mereka tetap pada opini masing2 kok. Hehe..

      Liked by 1 person

  2. omnduut says:

    Trus lebarannya gimana Cha? 🙂 Apakah di Groningen asa masjid besar atau harus ke kota sebelah? Aku liat di youtube yg puasanya lebih lama. Salut bener. Cocok juga kali ya yang serius banget diet hehe

    Like

    1. Maisya says:

      Ada dua masjid di Groningen (masjid maroko dan masjid turki), tapi gak cukup buat menampung semua muslim yg mau solat idul fitri. Lha mahasiswa muslim Indonesia aja udah segambreng. Haha. Jd kami semua gabung solat di lapangan. Alhamdulillah lancar dan khidmat. Seru jg liat setiap negara punya outfit khas masing2. Yg Turki laki2nya pada pakai gamis, Indonesia baju koko dan batik, yg dari Afrika (entah negara apa ya) bajunya gonjreng2 banget. Hehe. *malah bahas baju*

      Like

  3. Ifa says:

    Halo mbak Icha,
    Salam kenal ya…Sy senang bgt dg istilah puasa dalam hening Di tulisan Ini…:-)

    Baca jadwalnya mbak Icha sedikit beda dg sy krn saya milih nunggu subuh baru Bobok Jd tidurnya bs langsung lbh lama 🙂 Trus kl siang atau sore mulai ngantuk jalan2 keliling kampus Cari fresh air deh hehehe…lumayan pengganti espresso Hahahaha

    Sedikit sharing dr saya😄

    Salam
    Ifa @ Amsterdam

    Like

    1. Maisya says:

      Halo Mbak Ifa. Terima kasih ya sudah berkunjung dan baca tulisan ini. Gimana kabar di Amsterdam, Mbak? Hehe.. Smg puasa dalam keheningannya lancar ya.
      Makasih sharingnya, Mbak. Eh iya, saya juga kadang bablasin sampai Subuh sih kalau lg kuat melek. Terus besoknya bangun siang aja. Hehe. Cuma kadang kalau pengen dapet mood nulis suka gak bisa mulai siang2. 😀

      Like

  4. denaldd says:

    Aku tahun kemaren masih keteteran atur jadwal antara buka dan sahur. Tapi tahun ini sudah mulai tahu polanya. Kalau aku niat bangun buat sahur, berarti buka puasa langsung makan besar lalu sholat maghrib lalu tidur. Nanti jam 2 bangun sahur makan buah, sholat isya, taraweh sekalian subuh. Kalau niat ga bangun sahur berarti pas buka makan buah dulu, sholat maghrib dan sekitar jam 11 baru makan besar, jam 12 sholat isya dan taraweh, jam 1 tidur, jam 4 subuh. Aku kalau sahur sejak bertahun2 sudah terbiasa makan buah saja, ga bisa makan lengkap perutku ga kuat, dan aku ngerasanya lebih segar ke badan kalau sahur eksklusif buah.

    Liked by 1 person

    1. Maisya says:

      Nah..iya Mbak, emang harus penyesuaian banget ya. Apalagi karena jadwalnya gak spt di Indonesia, pola setiap orang pun bisa jadi berbeda.
      Sama sih.. aku juga gak bisa sahur makan banyak2. Tp skrg ini masih makan nasi sih. Hehe.
      Selamat berpuasa ya Mbak Deni. Tahun depan dan depannya lagi makin geser yaa jadwalnya. Nanti bakalan dapet puasa pas musim semi. 😉

      Like

  5. Lorraine says:

    Aku salut ke orang yang puasa di negara 4 musim selagi musim panas Icha. Menarik sekali tulisan kamu: puasa di Belanda lebih kushuk karena vertikal, hanya di antara kamu dan sang pencipta.

    Like

    1. Maisya says:

      Makasih, Mbak Yoyen. 🙂 Wah dulu juga pas di Indonesia mana kebayang puasa selama itu. Tapi syukurlah pas dijalani ternyata gak seberat yg dipikirkan. Dan betul, Mbak, puasa memang ibadah vertikal. Di Belanda berhubung orang pada gak ngurusin ibadah orang, jadi malah terbebas dari hiruk pikuk dan aneka perdebatan. Hehe.

      Like

  6. Mira says:

    heheh alhamdulillah pernah ngalamin puasa yang almost 20 jam itu di eropa. Kesannya berat, tapi ternyata gak seberat yang dibayangkan 😀

    Like

    1. Maisya says:

      Iyaaa. Alhamdulillah yaa bisa enjoy aja dan gak ada kendala berarti. Pengalaman yg berharga. 🙂

      Like

  7. rosaamalia says:

    Hai mb maisya, salam kenal:)

    Setuju mb, kdg klo dipikir sesuatu kok kyknya susah bgt. Tp begtu dijalanin bisa kok. The power of positive thinking kali ya 🙂

    Liked by 1 person

    1. Maisya says:

      Iya.. Same thing goes to many other cases ya. Kalau dipikir doang gak kebayang bisa ngejalaninnya. Memang harus dimulai. Hehe.. *nyambung gak nyambung sambungin aja*
      Salam kenal juga. 🙂

      Like

  8. winnymarlina says:

    salu dengan jadwal puasa disana magribnya aja jam 11 ya mbak

    Like

    1. Maisya says:

      Maghrib sekitar jam 10, Winny. Hehe..

      Like

  9. nerissarahadian says:

    Salam kenal, kak 🙂
    suka banget baca pengalaman tentang menjalankan ibadah di luar negeri khususnya di Eropa, dan emang benar yaa mungkin karena para lokal ga suka ngurusin tentang ibadah kita jadi ibadahnya lebih khusyuk :’)
    dulu aku pernah puasa ied adha saat student exchange di England, tapi karena waktu itu udah masuk winter, jadi cuma 9 jam aja puasanya, masih ga kebayang rasanya 20 jam berpuasa :”)

    Like

    1. Maisya says:

      Halo Nerissa! Salam kenal juga ya. 🙂
      Makasih sudah mampir. Wah puasa pas winter yaa.. Jadi inget aku juga sempat bayar utang puasa sewaktu musim dingin. Berasa di’korting’ waktu puasanya. Hehe. 😀

      Like

  10. naelil says:

    Wah keren Mba sharingnya. Pasti sesuatu banget ya berpuasa di negeri yang mayoritasnya non-muslim. 🙂

    Like

    1. Maisya says:

      Alhamdulillah. Pengalaman yg berharga. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s