Granada (4): Adiós!

IMG_1409.CR2
Chendra, saya, dan Mabel

Pagi itu, saya dan Chendra tersadar bahwa hari perpisahan dengan Granada akhirnya tiba juga. Kami mulai membereskan pakaian dan barang-barang bawaan kami untuk kemudian dimasukkan ke dalam ransel. Sambil beres-beres, saya melihat sekeliling paviliun Mabel, tempat kami menghabiskan tiga hari di Granada. Entah mengapa, dalam waktu singkat tersebut terasa banyak nostalgia di tiap sudut rumah Mabel itu, termasuk  ‘insiden’ jendela yang membuat Chendra harus dilarikan ke rumah sakit setempat. Bukan pengalaman yang menyenangkan memang, namun ada banyak hikmah dan pelajaran dari setiap kejadian.

Tok tok tok.

Mabel muncul dari balik pintu. Ia berkata bahwa jika kami sudah siap, kami bisa memberitahunya. Ia akan menunggu di lantai atas. Ya, seperti pada hari kedatangan, pada hari kepulangan pun Mabel akan mengantar kami ke terminal bis. Namun sebelum ke terminal, Mabel sejak kemarin sudah berencana untuk mengajak kami ke suatu tempat.

“You will see another point of view of Granada from the hill,” ujar Mabel.

Bukit yang dimaksud oleh Mabel bukanlah tempat yang banyak dikunjungi wisatawan. Orang lokal pun tidak banyak yang saya lihat berada di sana. Saat berkendara dengan Peugeout tua Mabel menuju bukit itu, kami tak banyak berpapasan dengan angkutan umum. Seingat saya hanya ada satu bis yang sempat saya lihat, itu pun rutenya tidak persis sampai bukit yang Mabel tuju. Karena saya lupa nama bukitnya, mari kita sepakati untuk menyebutnya Bukit Rahasia.

IMG_1404.CR2
Suasana di sekitar bukit
IMG_1403.CR2
Pesepeda gunung

Begitu mobil terparkir, kami segera turun dan berhadapan dengan teriknya matahari Granada. Entah berapa suhu udara hari itu, yang jelas pada dua hari sebelumnya, suhu berkisar pada 40 derajat celcius. Karena tempat itu terbilang sepi, kami bisa mendengar langkah-langkah kaki kami menimbulkan suara gesekan dengan pasir jalanan.

Setelah melewati sebuah bangunan yang nampaknya adalah gereja, barulah perlahan terlihat lanskap cantik Granada dari ketinggian. Di belakang gereja itu hanya ada tanah berpasir, rerumputan kering, serta sedikit tanaman. Tampak beberapa pesepeda melintas, melewati jalanan yang naik turun, dan tetap menikmati hari meskipun cuaca amat panas dan menyengat.

Mabel menunjuk ke suatu arah, membuat perhatian saya beralih dari para pesepeda tadi. “That’s Alhambra.”

IMG_1405.CR2
Melihat Alhambra lagi
IMG_1394.CR2
Menatap lanskap sebelum berpisah dengan Granada
IMG_1402.CR2
Pemandangan yang didominasi warna coklat dan putih

Ah ya, ternyata Alhambra juga terlihat cukup dekat dari bukit ini. Kemarin kami melihatnya dari Mirador de San Nicolás di kawasan Albaicin. Selain Alhambra, tentunya kami juga mendapat suguhan lanskap kota yang meskipun disesaki bangunan-bangunan yang berdempetan, tetap terlihat rapi dan teratur. Ditambah lagi latar langit biru dan pegunungan Sierra Nevada dari kejauhan yang melengkapi komposisi pemandangan dari tempat kami berdiri.

Menjelang siang, kami diantar Mabel menuju terminal bis. Kami bermaksud membeli tiket ke Cordoba langsung sebelum keberangkatan karena menurut Mabel jadwal bis ke kota tersebut cukup banyak. Begitu kami tiba di terminal, ternyata Mabel tak langsung meninggalkan kami. Ia ingin memastikan kami berdua mendapatkan tiket bis ke Cordoba.

IMG_1412
Kenang-kenangan dengan mobil kesayangan Mabel
IMG_1413.CR2
Perjalanan terakhir dengan mobil Mabel

Tiket bis dapat dibeli di mesin penjualan tiket. Saat kami cek, ternyata hanya tinggal sedikit kursi yang tersisa untuk waktu keberangkatan terdekat. Saya dan Chendra buru-buru melanjutkan proses pembelian tetapi ketika memasuki proses pembayaran, kami baru sadar kalau kami tak punya uang pecahan kecil yang cukup untuk melakukan transaksi.

Mabel membaca kebingungan kami. Ia pun sibuk menanyai orang-orang yang ada di sekitar, berharap mereka memiliki uang pecahan kecil untuk ditukarkan dengan uang kami. Kami pun melakukan hal yang sama. Beberapa menit kemudian, masalah terpecahkan dan untungnya kami masih bisa mendapatkan bis dengan jadwal yang kami inginkan.

Kami merasa tak bisa cukup berterima kasih atas semua kebaikan Mabel. Dengan usianya yang sudah 60-an, bagi kami Mabel layaknya orang tua kami selama di Granada. Ia menjemput dan mengantar kami, menemani kami ke rumah sakit, membuatkan jus spesial khas Granada, dan mengajak kami ke Bukit Rahasia. Perjalanan itu menjadi penutup yang manis dari kunjungan singkat saya dan Chendra ke Granada. Perjalanan itu juga sekaligus menjadi ucapan selamat jalan dari Mabel dan selamat tinggal dari kami.

Adiós!

1865143963390123180513

*semua foto adalah dokumentasi Chendra

Tulisan terkait:

Granada (1): Yang Tak Terduga

Granada (2): Oase di Albaicin

Granada (3): Mengagumi Alhambra

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s