Kehidupan sebagai Muslim di Korea

Saya pernah mendengar beberapa orang berkomentar kira-kira seperti ini, “Yah… gitu deh, kalau udah kelamaan tinggal di luar negeri (yang bukan mayoritas muslim – pen) lama-lama bisa jadi liberal.”

Pertama, perlu dijelaskan liberal yang dimaksud itu seperti apa.

Kedua, sebenarnya saya tidak bermaksud membahas tentang liberal, moderat, maupun konservatif. Islam adalah islam (baca: Don’t Call Me a Moderate Muslim).  Melalui tulisan ini, saya sekadar ingin menceritakan pengalaman saya di Korea sebagai seorang muslim. Perjalanan setiap orang itu unik dan berbeda antara satu dan lainnya. Dalam perjalanan itu pula ada proses belajar, berpikir, dan pengalaman langsung yang tak tergantikan oleh sekadar teori. Bagi saya sendiri, rasa toleransi dan memahami memang seringkali hadir dan tumbuh  ketika kita berada di tempat di mana kita bukanlah mayoritas. Sayangnya, terkadang rasa toleransi dan memahami lintas  agama (interfaith understanding) itu sering disalahartikan menjadi liberal, entah maksudnya liberal yang bagaimana.

Bersama mahasiswa Malaysia dan Korea
Bersama mahasiswa Malaysia dan Korea

Tinggal di Indonesia sejak lahir – di mana penduduknya mayoritas muslim – selama ini membuat saya take anything for granted. Dari mulai makanan yang (mayoritas) halal, masjid dan mushala yang mudah ditemukan (kecuali di daerah-daerah tertentu yang memang bukan mayoritas muslim), jam istirahat kuliah dan kerja yang sesuai dengan waktu solat, dan lainnya. Rasa-rasanya kehidupan sudah mendukung aktivitas ibadah kita sehari-hari. Bahkan saat bulan Ramadhan, kebanyakan restoran tutup pada siang hari atau setidaknya menutup display makanannya dengan tirai untuk menghargai muslim yang sedang berpuasa. Lihat, begitu mudahnya hidup kita sebagai muslim.

Awal tahun 2007, waktu itu usia saya baru menginjak kepada dua. Iya, dulu saya masih muda dan masih lucu-lucunya. Sekarang pun masih kok. Itu adalah kali pertama saya pergi meninggalkan tanah air dan merantau ke negara asal kimchi. Korea dulu belum sepopuler sekarang dan saya juga bukan penggila drama dan artis Korea. Jadi selain dari berselancar di internet tentang kota dan universitas yang akan saya tuju, yaitu Daejeon dan Daejeon University, saya tidak banyak tahu tentang Korea.

Jadi Pusat Perhatian di Bis

Sebagai newbie di kota Daejeon, alangkah senangnya saya ketika teman-teman Korea saya mengajak jalan-jalan ke downtown. Di sana terdapat pertokoan, kafe dan restoran, serta pasar. Pokoknya saya senang akan melihat keramaian karena selama ini baru mengenal area kampus dan asrama yang lokasinya di perbukitan.

Untuk menuju downtown, kami naik bis dari depan kampus. Waktu itu saya masih membayar ongkos bis dengan uang tunai karena belum punya kartu transportasi. Kartu ini semacam e-money membuat perjalanan lebih mudah karena tinggal tap kartunya saja di tempat yang sudah disediakan, jadi tidak perlu repot-repot mencari uang pecahan kecil setiap naik bis.

Pada awalnya, di bis hanya ada saya dan beberapa teman, kemudian penumpang terus bertambah di beberapa halte selanjutnya. Saat mulai ramai, saya mulai merasa tidak nyaman. Bukan apa-apa, saya merasa banyak mata tertuju kepada saya. “Ah, mungkin saya ge-er,” hibur saya pada diri sendiri. Tetapi orang-orang itu memang benar-benar menatap ke arah saya. Lama-lama saya tersadar, mungkin penampilan saya yang memakai jilbablah yang mengundang perhatian mereka.

Saya risih dan sedikit sebal karena kejadian itu. Saat saya menyampaikan kepada salah satu teman saya, Lee Bo-Ra, dia bilang mereka mungkin tidak bermaksud buruk. Karena tidak banyak muslim yang ada di Daejeon kala itu, penampilan saya mungkin membuat mereka penasaran. Itu saja. Saya pun berusaha untuk tidak mengambil hati.

Semakin lama, saya sudah semakin terbiasa menjadi ‘berbeda’ di tengah masyarakat Korea yang mayoritas beragama Buddha dan Kristen, serta banyak pula yang tidak beragama. Rasa penasaran mereka muncul karena ketidaktahuan. Jika mereka bertanya, saya pun tidak segan untuk menjelaskan, apalagi setelah beberapa bulan, saya juga bisa berbahasa Korea meskipun hanya percakapan yang sederhana.

Suatu hari, dalam perjalanan pulang dari tempat saya internship pada musim panas, saya mempersilakan seorang ajumma (panggilan yang setara dengan ‘ibu’, bukan ibu kandung) menempati tempat duduk saya. Waktu itu saya sedang naik bis menuju asrama. Ajumma itu pun berterima kasih dan kemudian duduk. Saya berdiri di bis dan dikagetkan oleh seorang ajumma lain yang memegang jilbab saya.

Saat saya berbalik ke arahnya, bukannya merasa bersalah, ia malah tersenyum dan bertanya, “Indo?”

Saya menggeleng, “Bukan Indo, tapi Indonesia. In-do-ne-sia,” saya ulang agar ajumma itu mendengar dengan jelas. Indo adalah sebutan orang Korea untuk India.

“Bukan Indo? Oh.. Hindu?” tanyanya lagi sambil menunjuk jilbab saya.

“Bukan. Saya muslim. Agama saya islam. I-sel-lam,” saya berusaha mengeja dengan ejaan Korea: 이슬람.

“예쁘다,” katanya, yang berarti cantik. Ia memuji jilbab yang saya kenakan.

Dari situ saya lebih bisa berpikiran positif. Saat mereka memerhatikan dan menatap saya, bukan berarti mereka membenci. Saya hanya sedikit asing di mata mereka.

Pada waktu berbeda, segerombol anak SMP pernah memanggil-manggil saya, “Arab.. Arab!” Saya hanya menengok dan tersenyum. Terkadang saya juga prihatin sih pada pengetahuan umum orang Korea. 😀

Solat di sela-sela kuliah

Berbeda dengan saat di Indonesia, jadwal kuliah di Daejeon University (dan mungkin di kampus Korea lainnya) tidak memperhitungkan waktu solat. Saat kuliah di UGM setidaknya kami mendapat jeda perkuliahan pada waktu solat zuhur, ashar, dan maghrib. Pada saat berkuliah di Daejeon, saya dan beberapa teman muslim harus meminta izin di tengah perkuliahan untuk pamit solat beberapa menit.

Berada di negara dengan empat musim juga membuat waktu solat cukup berbeda antara pada satu musim dan musim lainnya. Misalnya saja, saat musim dingin matahari terbenam lebih awal sedangkan pada musim panas, matahari baru tenggelam sekitar pukul 8 malam. Hal ini menyebabkan tidak ada kisaran waktu pasti untuk meminta izin solat saat kuliah.

Setelah mendapat izin untuk meninggalkan kelas sesaat, persoalan selanjutnya adalah menemukan tempat untuk solat. Karena tidak ada mushala atau tempat khusus, kami meminta izin kepada kantor internasional untuk dapat solat di suatu ruangan yang tak terpakai di kampus. Kami bisa saja solat di asrama tetapi jaraknya cukup jauh dan akan memakan waktu. Kami pasrah diberi ruangan apapun di kampus asalkan bersih dan layak untuk digunakan solat. Untunglah kami kemudian diizinkan solat di suatu sudut di Student Lounge yang tidak terlalu ramai. Ketika di Student Lounge ada beberapa mahasiswa yang belajar, biasanya mereka menatap kami sambil heran. Mungkin dalam pikiran mereka, “Itu gerakan-gerakan apa ya?” Hehe.

Kamu tidak minum soju?

Saat berada di tengah mayoritas masyarakat yang bukan muslim, saya harus sudah jelas dari awal mengenai kebiasaan-kebiasaan (baca: kewajiban) saya sebagai seorang muslim, termasuk perihal makan dan minum.  Sebut saja tentang tidak makan daging babi, hanya memakan daging yang disembelih sesuai dengan ketentuan islam (oleh karenanya saya memilih makan sayur dan protein yang aman seperti tahu, telur, dan ikan), dan tidak meminum minuman beralkohol. Memang pada awalnya kebiasaan-kebiasaan ini mengundang banyak pertanyaan.

“Hah? Kamu tidak minum alkohol?” Mereka kaget saya belum pernah (dan tidak akan) mabuk-mabukan.

“Kamu tidak makan babi? Kenapa? Padahal enak lho…” apalagi Korea punya sajian babi istimewa yang bernama samgyeopsal.

Beruntung karena saya banyak memiliki teman yang dapat memahami kondisi saya. Jika ada menu makanan yang tidak saya ketahui, mereka akan mengecek dulu apakah makanan itu mengandung babi atau daging lainnya. Jika sedang pergi bersama saya, misalnya, mereka sering ‘berkorban’ untuk mencari restoran di mana saya bisa makan atau setidaknya memilih menu-menu yang nondaging. Saya juga tidak keenakan sih dengan sikap mereka, saya sering mempersilakan mereka makan apa saja yang mereka mau dan nanti saya akan mencari makanan sendiri. Namun biasanya mereka yang meminta saya untuk makan bersama saja.

Vegetarian bibimbap adalah salah satu menu yang bisa kami makan. :D
Vegetarian bibimbap adalah salah satu menu yang bisa kami makan. 😀
Makan malam perpisahan bersama teman dan dosen. Tentu mereka meminum soju. :D
Makan malam perpisahan bersama teman dan dosen.

Dalam hal minum-minum pun, mereka memahami bahwa saya tidak minum minuman beralkohol.  Seperti diketahui, Korea terkenal dengan soju, yaitu arak yang berbahan dasar beras. Kadar alkohol dalam soju beragam dari 20 – 45%. Teman-teman bahkan dosen-dosen saya sering minum soju setelah makan. Soju bagaikan teh botol yang hampir selalu ada di setiap restoran. Sementara itu, saya cukup senang dengan meminum air putih, apalagi restoran Korea biasanya menyediakan air putih gratis yang bebas diisi ulang. Berbeda dengan restoran di Indonesia yang biasanya menjual air mineral kemasan.

Berpuasa

Ramadhan yang saya jalani di Korea bertepatan dengan musim gugur. Kabar baiknya, waktu solat pada musim ini hampir sama dengan di Indonesia sehingga untuk puasa pun kurang lebih waktunya sama, yaitu sekitar 14 jam. Waktu itu saya tidak membayangkan bagaimana kalau harus menjalani puasa pada musim panas (tujuh tahun kemudian saya merasakan berpuasa pada musim panas saat tinggal di Belanda). Muslim yang tinggal di negara empat musim harus selalu beradaptasi dengan perbedaan waktu setiap musimnya.

Untuk sahur, saya terkadang makan roti atau memanaskan makanan dari kantin asrama yang saya bawa ke kamar pada malam sebelumnya (cerita mengenai pengalaman sahur juga saya ceritakan di buku The Traveling Students). Jika saya hanya punya nasi, saya sudah senang bisa makan nasi dengan kim atau lembaran rumput laut kering ala Korea (di Jepang dikenal dengan sebutan nori).

Bisa dibilang ibadah puasa selama di Daejeon berjalan dengan lancar meskipun bukan tanpa tantangan. Saya dan beberapa teman juga sempat mampir untuk ikut pengajian Ramadhan di Islamic Center Daejeon (ceritanya pernah saya tulis di SINI) dan berbuka puasa bersama muslimah di sana yang kebanyakan berasal dari Timur Tengah, India, dan Pakistan. Senang sekali bisa makan daging dengan kuah kari buatan muslimah Pakistan. Maklum, saya jarang makan daging selama di Korea. Hehe.

Salah satu pengalaman unik adalah ketika saya menginap di rumah teman Korea saya, yaitu Su-jin Onni (onni adalah panggilan untuk kakak perempuan). Saya diundang tinggal di rumahnya selama akhir pekan untuk merayakan Chuseok atau thanksgiving-nya Korea. Su-jin onni memasak ikan dan lauk lezat lainnya untuk berbuka puasa dan menyiapkan makanan untuk sahur meskipun ia tidak ikut bangun sahur malam harinya.

Baca juga: Chae-hun Belajar Bahasa Arab

Pada perayaan Chuseok, ada tradisi berziarah ke makam keluarga. Su-jin Onni dan keluarganya akan pergi ke luar kota untuk berziarah dan mengunjungi keluarga di sana. Pagi itu, saat kami bersiap-siap, tiba-tiba ayahnya mengagetkan saya.

“Icha, kamu belum makan ya?” tanyanya.

“Sudah. Tadi saya sudah makan,” jawab saya. Maksud saya adalah makan sahur.

“Tapi pagi ini belum makan kan?” tanyanya lagi.

“Saya puasa.”

“Kamu harus makan. Nanti di desa kita akan berjalan kaki menuju makam, kamu harus ada tenaga,” kira-kira begitulah ucapan ayah Su-jin onni yang bersikeras menyuruh saya makan.

“Terima kasih. Saya kuat kok,” saya meyakinkan.

“Kalau kamu tidak mau makan, kita tidak jadi pergi,” ancamnya. Lho, kok jadi seperti ancaman kepada anak kecil yang susah makan ya? Hehe.

Tampaknya ia belum memahami tentang konsep berpuasa. Untunglah Su-jin Onni membantu menjelaskan. Saya tahu itu adalah wujud perhatian dan kekhawatiran orang tua kepada anaknya. Apalagi saat itu mungkin saya dianggap seperti adik kecil karena usia saya terpaut enam tahun dari Onni. Tetapi jika diingat-ingat lagi, lucu juga kami saling meyakinkan seperti orang berkelahi. Akhirnya ayahnya melunak dan membiarkan saya tetap berpuasa. Selama perjalanan, ia masih bertanya apakah saya haus dan lapar. 😀

***

travelingleavesyou_____
Foto: blog

Setelah saya kembali ke Indonesia, saya menjadi tersadarkan bahwa kita hidup dalam masyarakat yang begitu heterogen. Oleh karenanya, saya berusaha menghargai perbedaan yang ada. Dengan teman-teman yang tidak seagama pun, saya menghormati kebiasaan atau ajaran yang berbeda dengan apa yang saya anut. Ketika kita memberi ruang kepada orang beragama lain untuk melakukan ibadah dan menjalankan ajarannya, bukan lantas kita menjadi penganut agama itu kan? Saya selalu teringat banyak sekali orang baik di luar sana yang tetap menghargai saya walau saya berbeda dan tetap mendukung dan memberi ruang kepada saya dalam menjalankan ibadah. Alhamdulillah.

Setahun di Korea adalah pengalaman yang memperkaya diri saya baik sebagai seorang Indonesia, pelajar, dan muslim. Saya belajar untuk bisa menempatkan diri, mandiri, menghargai perbedaan, namun tetap memegang prinsip. Saya juga belajar untuk tidak berprasangka. Banyak kejadian yang mengajarkan kepada saya bahwa kebaikan itu bersifat universal, melintasi warna kulit, suku, agama, bahasa, dan sebagainya.

Siapa bilang tinggal di luar negeri itu enak? Justru meninggalkan Indonesia berarti meninggalkan zona nyaman. Tetapi merantau seringkali memberikan banyak hikmah dan mengajarkan makna rindu akan rumah. Merantau adalah perjalanan pulang. 🙂

Ps. Insya Allah saya juga akan menuliskan pengalaman sebagai muslim di Belanda.

1865143963390123180513

Advertisements

30 Comments Add yours

  1. Bagus tulisan km. Pengalamannya bisa menambah rasa tenggang rasa dan menghargai budaya- agama yg berbeda. Saya lahir dan dibesarkan di Indonesia sebagai org Katolik, jd tau rasanya menjadi penduduk minoritas. setelah tinggal di negara barat, saya banyak ktm temen Indo muslim yg complain susah nyari mesjid, nyari makanan halal. Tp justru teman2 itu yg setelah balik ke Indo Pikirannya jd terbuka, lbh bisa menghargai perbedaan krn tau rasanya menjadi kelompok minoritas.

    Like

    1. Maisya says:

      Salam kenal, Mbak Clara. Makasih sudah mampir dan baca tulisan ini.
      Iya, dengan merantau kita jadi belajar banyak hal. 🙂

      Liked by 1 person

  2. Elisa says:

    Jadi minum soju itu emang benar-benar budaya di sana ya, nggak dibuat-buat, soalnya selalu liat di drama Korea. Tapi bahkan habis makan juga minum soju…., kirain kalau hang out aja sama teman2. Ngomong2 itu wadah bibimbapnya besar banget! 😀

    Like

    1. Maisya says:

      Iya bener.. Emang sering banget minum soju, udah kayak minum es teh. Huehehe.. Makanya kadang suka males kalo di kampus abis jam makan siang. Orang2 mulutnya pada bau alkohol, termasuk dosennya jg. -_-” Bibimbab yg itu emang jumbo mangkuknya.. kadang ukurannya normal kok. 😀

      Like

  3. denaldd says:

    Sukaaa Icha dengan tulisanmu ini. Entah kenapa jadi haru, karena punya pengalaman dituding ini itu sejak di Belanda oleh mereka yang di Indonesia. Tapi ya sudahlah, orang hanya mengukur dari luarnya saja, yang menjalani kan aku. Jadi terpikir juga menuliskan pengalamanku, sebenarnya sudah pernah menulis beberapa hal tentang toleransi, tapi terpisah2.

    Liked by 1 person

    1. Maisya says:

      Iya, Mbak Deni.. Berasa mengalami juga ya? 🙂 Makanya aku bilang pengalaman itu kan sifatnya personal bgt ya.. Kadang kita gak mengerti keadaan orang lain karena gak mengalami sendiri dan jadinya malah berprasangka. Smg kita bisa terus belajar. Insya Allah. 🙂
      Semangat Mbak Deni.

      Liked by 1 person

  4. naelil16 says:

    Aih jadi pengin ke Korea. Apalagi semenjak demen nonton dramanya. Haha. Oh ya Kak, mau tanya dong… selain soal keheranan lihat orang berjilbab, mayoritas orang Korea itu rasis nggak sih? Soalnya itu yang saya dengar. Apalagi dengan yang kulitnya lebih gelap dari mereka. Nuhun.

    Like

    1. Maisya says:

      Iya.. drama Korea itu salah satu hal yg bikin pariwisata maju lho, soalnya jadi pada penasaran. Hehe.
      Selama di sana sih aku gak terlalu merasakan rasisme ya. Misalnya di tempat umum kayak bis atau pas belanja di pasar, aku tetep diperlakukan spt orang pada umumnya. Tp kadang kalau nanya jalan atau mau tanya sesuatu sama orang gak dikenal, ada aja yg kelihatan sungkan gt, biasanya krn mereka takut diajak ngomong bahasa Inggris.

      Like

  5. adhyasahib says:

    wah nice post mbak Icha, tulisannya menarik sekali, mbak icha punya pengalaman yang luar biasa, suka bacanya dari awal sampai akhir 🙂

    Liked by 1 person

    1. Maisya says:

      Makasih, Mbak Adhya. Semoga bermanfaat tulisannya. 🙂

      Like

  6. Dita says:

    ah keren tulisannya cha, nanti aku mau share di FB dehh biar org2 yang berpikir sempit gitu lebih terbuka. Enak aja main tuding liberal gara2 tinggal di LN *lohh jadi emosi* x)))

    oiya jd inget waktu ngetrip sm orang Korea, dia sampe keheranan dan gak percaya kalo aku gak minum alkohol. Trus penasaran gitu dia sampe nanya2…emang ga pengen nyoba ya, enak lho hahaha

    Like

    1. Maisya says:

      Makasih, DIt.. Hehe.. Hati2 emosi. Kata Rangga, kalau emosi mengalahkan logika, blablabla.. *road to AADC 2* :p
      Iya, orang2 yang belum familier dengan islam biasanya heran sama hal kayak gt. Dulu jadi tertantang juga buat jelasin ke mereka dan malah jd belajar agama lagi. 🙂

      Like

  7. enjang muslih says:

    Tulisan yg bagus, bukan cuma tulisannya tp content dan pesannya

    Like

    1. Maisya says:

      Makasih, Mang Enjang, sudah berkunjung dan baca artikelnya. Semoga bermanfaat. 🙂

      Like

  8. Chikupunya says:

    11-12 pengalamannya Cha :D. Sangat wajar kalau orang yang belum pernah menjadi minoritas berpikiran demikian, soalnya belum pernah ngalamin gimana rasanya. Mungkin saja ada orang yang melihat kasus dimana seseorang jadi berubah drastis sebelum dan sesudah di LN, sehingga ada kekhawatiran dan ketakutan kalau SEMUA orang yang pernah di LN jadi berubah “liberal” (*walaupun definisi liberalnya debate-able :D).

    Juga sangat wajar kalau sesuatu yang gak biasa dianggap “aneh”. Termasuk saat aku baru tahu seputar “vegetarianism” di Taiwan, yang jauh lebih strict daripada ketentuan makanan halal. Enaknya, kalo pas di Taiwan ada orang yang nanya kenapa Muslim makanannya begini begitu, aku ngejelasinnya lebih gampang karena bisa pake analoginya penganut Budha yang vegetarian. Tinggal pintar-pintarnya aja mengomunikasikan tentang hal tersebut.

    Kemampuan adaptasi dan skill komunikasi yang elegan + gak emosional perlu lebih sering ditempa ni. hehehe…

    PS: Buku Traveling student-nya sudah takterima siang ini, taksabar untuk segera membaca :D. Many thanks yaaaa

    Liked by 1 person

    1. Maisya says:

      Huaa.. Iya, Mbak Chiku. Mungkin ada beberapa kasus begitu ya. Meskipun kita sebenarnya tdk tahu perjalanan hidup seseorang yg membuat orang itu berubah (lah diem di Indonesia aja orang bisa berubah kok :D).
      Waah aku br tahu lho ttg macam2 vegetarian di Taiwan. Bener ya, komunikasi sangat penting utk memberikan pengertian.
      Selamat membaca bukunya ya, Mbak Chiku. 🙂

      Liked by 1 person

  9. mysukmana says:

    fotonya mbak maisya ke.iatan kalao masih ABG dan lugu banget..2007 ya mbak..

    Like

    1. Maisya says:

      Wahahaha… Duhh iyaa tuh muka lugu dan pipi tembem. :p
      Bener… itu tahun 2007, mas.

      Like

  10. Hmmm, nice share, mbak. Menambah wawasan akan kehidupan muslim di negeri mayoritas non muslim

    Like

    1. Maisya says:

      Makasih, Mas. Senang kalau bisa bermanfaat. 🙂

      Like

  11. Arindiar Kusuma Cahayani says:

    Terimakasih, Mbak pengalamannya sangat bermanfaat. Aku mau tanya nih, Mbak, bagaimana untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Maksud saya, tidak bersentuhan dengan yang bukan mahram? Bagaimana respon orang Korea sana? Memungkinkah untuk tidak bersentuhan?

    Like

    1. Maisya says:

      Halo! Maaf ya baru merespon komentarnya.
      Memungkinkan kok tidak bersentuhan dengan lawan jenis, yang penting komunikasikan di awal dan diberi penjelasan. Biasanya kalau sudah tahu alasannya, mereka bisa paham. 🙂

      Like

      1. Arindiar Kusuma Cahayani says:

        Hihi begitu makasih Mbak.
        Oiya, ada 2 pertanyaan lagi nih mbak boleh kan? 😀
        Apakah ‘susah’ untuk menemukan makanan halal? tips dong mbak untuk mudah menemukan makanan halal disana dan mengetahui apakah itu halal atau tidak?
        lalu, apakah pakaian muslimah (gamis dan jilbab menutup dada/lebar) akan dipermasalahkan?

        in syaa Allaah saya akan study abroad kesana untuk program magister. mohon doanya!^^ terimakasih mbak.

        Like

      2. Maisya says:

        Sebenarnya tergantung tinggal di kota mana ya. Hehe. Kalau di Seoul relatif lebih mudah mencari bahan makanan halal karena lebih banyak ekspat muslim dibandingkan di kota lainnya. Kalau beli makanan jadi, memang agak sulit memastikan halal.
        Semoga sukses persiapan S2-nya. 🙂

        Like

  12. Triyoga AP says:

    Sudah lama gak ngeblog, kembali kunjungan ke beberapa blog temen lama. 🙂 Jadi sekarang sudah netep di Indonesia atau malah kerja kembali ke Korea? Kayaknya ketinggalan banget info. hehe. .

    Like

    1. Maisya says:

      Halo! Apa kabar Mas? Hehe.. saya juga sudah lama nih gak ngeblog. 😀
      Sekarang sudah stay di Indonesia. Tapi ya siapa tahu ada rezeki buat sekolah lagi. Insya Allah. 🙂

      Liked by 1 person

      1. Triyoga AP says:

        Halo halo. Hehe. . Sama nih mba. Udah mentok otak. Wkwkwkw Sekarang stay dimana nih? Amiin. Semoga bisa tercapai. Cobain LPDP mba. 🙂

        Like

  13. sukma says:

    Kakak kesana kuliah apa ko cuma setahun. Apa belajar bicara bhs korea disana cepat ?
    Keren yaa

    Like

  14. intan says:

    ka mai, selama tinggal di korea pernah ngga makan ayam selain ketika bulan romadhon bersama komunitas muslim disana?

    Like

  15. Kikin says:

    ka, kuliah dimana di korea nya?

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s