Drama

Bagiku ini adalah drama, tetapi mungkin tidak bagi orang-orang Bawean. Awal Januari aku dan teman-teman Pengajar Muda (PM) Bawean hendak kembali ke Pulau Bawean karena masa libur sekolah telah usai. Sayang seribu sayang. Sudah seminggu belakangan kapal Bahari Express tak beroperasi. Hal ini tak lain karena cuaca yang sedang tidak bersahabat. Angin kencang dan gelombang tinggi mencapai empat meter.

Rabu, 11 Januari 2012, ada kapal feri bantuan yang sengaja transit di Pulau Bawean demi membawa ratusan penumpang yang tertahan di Gresik. Kapal itu berangkat dari Tanjung Perak dengan tujuan Sampit, Kalimantan. Namun hari itu, kapal bergerak dari Tanjung Perak ke Pelabuhan Gresik, untuk singgah di Bawean, dan kemudian ke Sampit.

Kami terus memantau informasi mengenai keberangkatan kapal ini. Hari itu, kabarnya penjualan tiket dibuka pukul 13.00. Namun karena calon penumpang sudah antre dari pagi, kemudian loket dibuka lebih awal. Kami pun tidak mendapatkan tiket.

Beberapa hari kami menunggu. Di hari-hari tersebut beberapa SMS berdatangan dari muridku dan orang Dusun Pinang Gunung.

“Apa kabar bu? Disini aku menunggu ibu, dan juga teman-temanku. Katanya ibu mau pulang. Dari Koma. balas ya bu pliiiiis” Itulah salah satu SMS dari muridku.

Barulah hari Sabtu (14/01) kami bisa ke Bawean lagi dengan Bahari Express yang sudah mendapat izin untuk beroperasi kembali. Menurut BMKG, cuaca sudah membaik dan memungkinkan untuk berlayar.

Orang Bawean setiap tahun merasakan hal ini. Cuaca buruk di bulan Desember sampai dengan Februari membuat kapal-kapal tak berani berlayar. Selain terhambatnya sarana transportasi bagi warga Bawean, hal ini juga memengaruhi distribusi barang dari Jawa. Setiap tahun Bawean dilanda krisis bahan bakar. Harga bensin bisa mencapai Rp15.000/liter, paling murah Rp10.000/liter. Belum lagi persediaan bahan makanan yang terus menipis jika tak ada kapal dalam jangka waktu lama. Nelayan tak banyak yang melaut karena taruhannya nyawa. Kalaupun ada ikan di pasar, maka harganya pasti sangat mahal. Begitulah kehidupan orang pulau, kurasa begitu juga yang terjadi di ribuan pulau kecil lainnya di Indonesia.

Aku pun membayangkan bahwa dusunku akan gelap gulita di malam hari. Karena listrik PLN belum masuk, maka dusunku sangat bergantung pada bahan bakar bensin dan solar untuk mesin genset maupun diesel. Duh…sungguh berat yang mereka lalui di musim-musim ini.

Di atas kapal menuju Bawean, banyak yang terlintas di pikiranku. Flashback. Dari mulai masa pelatihan IM, deployment, masa-masa di Dusun Pinang Gunung, Bawean, masa liburan singkat dengan keluarga, dan hari-hari menunggu kapal dengan PM lainnya. Dua yang terakhir, rasanya membuat hatiku agak berat. Rasanya aku masih rindu keluargaku. Dan rasanya aku masih ingin bersama teman-teman PM Bawean. Tak terasa kami akan berpisah lagi menuju desa masing-masing, bertugas dan insya Allah menanami kembali ladang kebaikan di sekolah masing-masing.

Kawan, rindu itu bukan sesuatu yang salah kan?

Saat aku menginjakkan kaki di Pulau Bawean lagi, perasaanku campur aduk. Awan hitam menggantung di langit, angin kencang, debur ombak menari-nari. Di titik ini rasanya aku kembali mengumpulkan semangatku. Meyakinkan bahwa ini adalah pilihanku dan selamanya aku tak akan pernah menyesal pernah menjadi salah seorang yang melunasi janji bangsa, walau hanya setahun mengajar.

Sesampainya di Dusun Pinang Gunung, keluarga angkatku menyambut dengan hangat. Dan saat itu kebetulan beberapa tetangga juga ada di rumah. Kami bersalaman. Dan tanpa kuduga, seorang nenek memelukku. Erat. Erat sekali. Ia meneteskan air mata. Ia berkata-kata dalam Bahasa Madura campur Bahasa Indonesia.

“Ibu guru… Alhamdulillah mareh balik kanna. Dari kemarin saya tako.. Angin besar, hujan deras. Berma ibu di Jawa tak ada kapal… Anak-anak disini menunggu Ibu…” (“Ibu guru… Alhamdulillah sudah kembali kesini. Dari kemarin saya takut. . Angin besar, hujan deras. Bagaimana ibu di Jawa tak ada kapal… Anak-anak disini menunggu Ibu…”)

Inikah rasanya diharapkan dan dirindukan? Susah payah aku menahan agar air mataku tak jatuh. Cukup sudah drama hari ini.

Bawean, 15 Januari 2012

*Repost dari https://indonesiamengajar.org/cerita-pm/maisya-farhati/drama, dipublikasikan pada 22 Januari 2012

Advertisements

7 Comments Add yours

  1. dani says:

    Hiks Mbak Icha… Ikutan sedih bacanya. Banyak banget ya yang belum tersentuh pembangunan dan infrastruktur di negara kita ini. T.T

    Liked by 2 people

    1. Maisya says:

      Iya, kalau inget pengalaman ini jadi pengin nangis lagi. Tapi sekarang aliran listrik PLN sudah menjangkau semakin banyak dusun walau blm semua. Alhamdulillah. Semoga semakin banyak perbaikan infrastruktur. 🙂

      Like

  2. Mengharu biru banget mbak :)) seneng dan campur aduk ya rasanya ditunggu dan dinanti :’)

    Like

    1. Maisya says:

      Iyaa.. Kadang orang lainlah yang menyadarkan kalau keberadaan kita cukup berarti buat mereka. Smg bisa menjadi penyemangat. 🙂

      Like

  3. Ety Abdoel says:

    Salam kenal Mba Maisya.
    Senang dan salut melihat ada anak muda yang mau repot-repot mengajar di daerah pulau, yang serba terbatas.
    Betapa susahnya hidup tanpa listrik, si sini padam beberapa jam saja, saya sudah menggerutu.
    Semoga ada jalan bagi kemajuan mereka yang tinggal di daerah 3T.

    Like

  4. Ira Agustina says:

    Sedih&terharu banget bacanyaa… 😥

    Like

  5. Waromukri says:

    Salam rindu dan salam kenal ibu guru.terimakasih untuk pengabdiannya selama di Bawean.semoga ilmu yang di tebar bermanfaat bagi kami semua.khususnya pulauku tercinta Bawean.semoga Bawean kedepan semakin maju amin.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s