Daily Life

Hargai Privasi Orang Lain

KeyboardPrivacyButton650
foto dari SINI

I take privacy seriously.

Saat ini kita begitu familier dengan berbagai kanal komunikasi, salah satunya chat group, baik itu WhatsApp, Line, dan lainnya. Dari dulu saya merasa salah satu drawback dari WhatsApp adalah saat orang lain menambahkan nomor kita ke suatu grup, sistemnya tidak meminta konfirmasi kita terlebih dahulu apakah akan approve atau decline. Alih-alih sistem malah otomatis menambahkan kita ke grup.

Menyadari sistem yang tidak terkontrol, maka kesadaran orangnya pun diperlukan. Saya selalu berusaha menghargai privasi di dunia maya sebagaimana privasi orang di dunia nyata. Menurut saya (pendapat orang lain bisa jadi berbeda), nomor telepon seluler adalah salah satu informasi yang bersifat pribadi. Dalam kaitannya dengan grup, sudah selayaknya jika akan menambahkan nomor seseorang ke dalam grup, dijelaskan terlebih dahulu itu grup apa dan ditanyakan kesediaannya untuk masuk grup tersebut.

Sudah beberapa kali saya dimasukkan ke beberapa grup tanpa seizin saya dan saya pun tidak ada kepentingan untuk masuk grup tersebut. Saya bukan orang yang antisosial. Saya juga bergaul dan saya berkomunikasi dengan banyak orang. Tetapi semua ada sopan santunnya.

11960087_10152921213912396_8477382924823747183_n

Dan hari ini… yang bikin sebal adalah saya tiba-tiba dimasukkan ke grup bernama Flashpacker Indonesia. Walau saya suka traveling, belum tentu saya mau ikut semua grup yang berkaitan dengan traveling kan?

Ditambah lagi yang menambahkan saya ke grup tersebut adalah ORANG YANG TIDAK SAYA KENAL secara personal. Kami memang sama-sama tergabung di salah satu komunitas di Jogja, tetapi saya tidak mengenal dia secara personal, belum pernah berinteraksi, dan belum pernah bertemu.

How dare he added my number to an unknown group without my permission and without letting me know what the group is all about?

Ini bukan masalah kalau tidak mau bergabung ya tidak masalah.. monggo leave group. NO, IT’S NOT THAT SIMPLE! It’s about asking permission first.

Bayangkan pergaulan di dunia maya itu bagai pergaulan di dunia nyata. Saya membayangkannya kalau kita asal add orang lain ke grup, itu layaknya kita menarik seseorang ke kerumunan tanpa orang itu paham dia mau dibawa ke mana. Sampai ke kerumunan, orang itu dilempar ke tengah-tengah orang tak dikenal yang entah siapa, membahas apa, dan punya kepentingan apa.

Yuk belajar menghargai privasi.

1865143963390123180513

Advertisements

35 thoughts on “Hargai Privasi Orang Lain”

    1. Hehe.. Kalau milis bisa unsubsribe atau pilihan lainnya difilter ke satu folder. Jadinya kita gak bingung lihat inbox penuh.. Kalau inbos penuh gt malah jadi malas baca dan suka ada email yg kelewat ya. ๐Ÿ˜ฆ

      Like

  1. Itu ngeselin amat ya orgnya, pake good bye2 gitu hih!

    Iya sih, gak enaknya WA emang gitu. Tau2 bisa dichat sembarang org dan dimasukin grup. Tmn ada yg gakmau pake WA gara2 itu

    Like

    1. Iyaa itu kekurangannya. Tapi aku tetep pakai sih karena simple banget appsnya dan kebanyakan orang terdekat pakainya itu.. grup keluarga jg di situ. Hehe.. Kalau Line sebenernya grupnya enak.. cuma appsnya berat jg yaa dan kalau pakai internet kuota kayaknya boros. Terlalu banyak emot lucu hahaa..

      Like

  2. I feel you. Kdg di grup yg aku sadar kenapa hrs gabung (dulu) kayak grup kelas pas kuliah yg msh eksis dr 2012 pas awal wasap booming sampe skrg, eh tp skrg malah jrg ikt nimbrung di grup. Kayak obrolan ketinggalan jauh bgt, dah g ngerti ngomongin apaan.. sampe pernah aku leave grup. Eh diinvite lg, ga bilang2 lagi. Kan kesel ๐Ÿ˜€

    Like

    1. Nah itu diaa.. harusnya saat seseorang leave group itu jadi sinyal yaaa.. Apakah nggak sengaja leave atau memang pengen leave. Jadi harusnya ditanyain dulu sblm add lagi. ๐Ÿ˜€

      Like

  3. Sering banget mengalami ini. Seenaknya memasukkan disebuah grup. Makin ngeselinnya lagi kalo nomer telpon kita diberikan ke orang lain tanpa konfirmasi dulu ke kitanya. Dan ini di Indonesia menjadi hal yang biasa. Padahal kan nomer telpon itu privasi.

    Like

  4. aku setuju kalo nomor telepon itu privasi.
    kalo mau kasih nomer temen ke orang lain, biasanya aku ijin dulu ke temenku itu.
    tapi emang malesin sih ujug2 diinvite ke grup yang kita ga tau isinya. percakapannya pun kita ga bisa ngikutin. huft.

    Like

    1. Sama peh.. aku pun kalau ada si A nanya nomor hp di B misalnya, biasanya tanya dulu sama B apakah dia berkenan. Tapi kalau aku tahu orangnya memang kenal baik suka langsung share aja.

      Like

  5. Ya ampun.. Makasih sudah diingatkan Mbak. Saya belom pernah sih add orang sembarangan, tapi pernah sekali di add. Dan leave juga akhirnya. Permisinya itu emang yang penting.

    Like

    1. Jadi reminder juga untuk diri sendiri yaa.. Karena kita gak suka diperlakukan spt itu, kita pun hrs bisa menghargai orang lain dgn cara minta izin dulu kalau mau ngeadd. ๐Ÿ™‚

      Like

  6. Hmmm kalau menurut saya sih itu juga dari pihak WA nya juga mbak, soalnya kan seharusnya ada sistem yang membatasi interaksi antar akun yang belum saling terhubung layaknya dari media sosial lainnya.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s