Teşekkür

DSC09365n
Salah satu menara Masjid Sultanahmet, Istanbul.

Kebaikan itu universal.

Taksi yang kami tumpangi dari Taksim sudah memasuki area Sultanahmet, Istanbul, Turki. Di sana terdapat banyak pilihan akomodasi untuk para wisatawan, dari hotel mewah sampai hostel bagi para backpacker. Banyak pula restoran dan toko souvenir yang menambah suasana touristy di sekitarnya.

Daerah Sultanahmet terdiri dari banyak jalan dan gang sempit, sebagian hanya bisa dilewati satu mobil saja. Wajar jika saat memberikan alamat hotel dimana kami akan tinggal, sang supir taksi tidak mengetahui persis lokasinya. Namun, sebagaimana yang saya baca di salah satu panduan wisata di internet, biasanya supir taksi di Istanbul berinisiatif untuk menelepon hotelnya untuk memeroleh info dan petunjuk jalan yang lebih rinci. Setelah melihat deretan angka di lembaran reservasi hotel yang saya sodorkan padanya, ia langsung menelepon hotel. Berbicara dalam bahasa Turki, ia menyebutkan alamat kemudian manggut-manggut. Nampaknya persoalan jalan sudah beres, pikir saya.

***

Seorang pria usia 30-an menyambut kami saat taksi kami berhenti di sebuah gang kecil. Dengan sigap ia meraih ransel saya yang terlihat berat (dan memang berat) dan membawakannya. Itulah pertemuan pertama kami dengan Salih, sang pemilik dan pengelola Konut Wooden House, sebuah penginapan kecil di sudut Sultanahmet. Sesuai namanya, bangunan bercat abu-abu itu terbuat dari kayu. Salih bercerita bahwa rumah ini dahulunya merupakan tempat tinggal keluarganya. Namun seiring dengan ramainya daerah Sultanahmet oleh wisatawan, keluarganya memutuskan pindah ke daerah lain yang lebih sepi dan menjadikan rumah tersebut tempat singgah bagi para pengelana.

“Here’s your room.” katanya sambil mempersilakan kami masuk ke satu-satunya kamar di lantai pertama. Beberapa kamar lainnya ada di lantai dua, entah berapa kamar. Di ruang tamu yang terletak di depan kamar kami, tersedia berbagai macam camilan manis ala Turki atau lebih dikenal dengan Turkish Delight. Semua itu bisa dicicipi gratis, termasuk berbagai minuman sachet seperti kopi, cokelat, dan teh.

Malam harinya, sebelum kami tidur, Salih mengundang kami untuk sahur bersama keesokan harinya. Ya, kami memang tiba di Istanbul sehari sebelum memasuki tanggal 1 Ramadhan. Kami mengiyakan tawaran Salih namun saya lupa bertanya berapa harga paket sahurnya karena itu tidak ada dalam website dan paket menginap kami. Ya sudahlah, besok saja tanyanya, pikir saya.

***

Sister…sahoor, sister!” terdengar suara ketukan pintu di luar sana. Saya yang masih setengah sadar berusaha membuka mata. Saat kesadaran saya sudah penuh, saya baru ingat kalau saya sedang berada di Istanbul, bukan Groningen, Belanda, tempat studi dan tinggal saya saat itu. Dan…oh ya…pasti yang memanggil itu adalah Salih.

Ruang tamu sudah disulap menjadi ruang makan yang terdiri dari dua meja besar dan beberapa kursi. Selain Salih, Demet – seorang wanita cantik yang sedikit pendiam – juga membantu mengelola Konut. Ia sibuk menata makanan. Ada lagi seorang temannya yang berambut pirang. Setelah berkenalan, kami baru tahu bahwa ia bernama Aisha.

Suasana sahur cukup ramai karena Salih juga mengundang beberapa temannya untuk sahur bersama. Selain itu, ada dua tamu Konut lain yang juga muslim. Saat kami duduk, di hadapan kami sudah tersaji berbagai penganan sebagai menu sahur. Ada telur dadar, sosis, daging asap, keju, serta aneka sayuran segar tanpa dimasak seperti tomat, zaitun, dan timun. Tanpa nasi? Ya, tanpa nasi. Kan bukan di Indonesia hehehe… Tapi jujur saja, menu itu sudah membuat saya kenyang. Soal rasa sih, yaaa.. jangan berharap penuh bumbu seperti di Indonesia. Hehe… Semuanya plain tapi tentu menyehatkan. Namun sampai saat ini, saya belum terbiasa memakan zaitun banyak-banyak karena rasanya yang cukup asam bagi lidah saya.

Sambil menikmati santapan sahur, kami berbincang satu sama lain. Terkadang mereka bercakap-cakap dan bercanda dalam Bahasa Turki kemudian Salih menerjemahkan untuk saya dan Mbak Ami. Saya mafhum karena seringkali kita punya candaan ‘lokal’ atau candaan yang lebih lucu jika dibawakan dalam bahasa ibu. Seusai makan, saya berpikir untuk mengabadikan momen sahur pertama saya di Istanbul. Saya kemudian bergegas ke kamar mengambil tongkat narsis alias tongsis yang sedang populer itu hehe…

Dan…jepret!! Selfie sahur pertama di Istanbul sebagai berikut. 😀 Semuanya antusias dan terpukau dengan benda yang satu ini.

Sahur hari pertama di Istanbul.
Sahur hari pertama di Istanbul.

Berpuasa di Istanbul, Turki, pada musim panas itu berlangsung selama kurang lebih 17 jam. Yah dapat ‘korting’ dua jam dibandingkan jika berpuasa di Belanda yang berlangsung selama 19 jam. Hehe… Secara umum saya tidak menemui kendala apa-apa selama berpuasa meskipun seharian jalan-jalan membelah kota Istanbul. Alhamdulillah. Malamnya saya juga ikut sholat Tarawih di masjid dekat Konut bersama dengan Demet dan Aisha. Teduh sekali rasanya bisa beribadah bersama dan mendapat sapaan ramah dari ibu-ibu di masjid meskipun kami tidak mengenal satu sama lain.

Tiga hari berturut-turut kami sahur bersama Salih dan keluarga besar Konut. Pertanyaan saya pada hari sebelumnya terjawab sudah. Sahur ini gratis. Bagi Salih, berbagi makanan sahur ini adalah tambahan ladang kebaikan. “We’re Muslim… of course sharing is a good deed. In addition, Turkish people love to host guests.” katanya bangga. Ya, keramahan orang Turki memang tak sekali – dua kali saja saya alami. Pengalaman berkesan lainnya saya dapatkan ketika saya mendapatkan secangkir teh dari seorang supir bis di kota Kayseri.

Pada sahur terakhir, saya menemukan ruang tamu Konut kosong. Ternyata, meja dan kursi makan semuanya sudah dipindahkan ke halaman rumah. Uhm..tepatnya dipindahkan ke tengah jalan karena Konut tak punya halaman. Langit dan semilir angin Istanbul menjadi saksi kebersamaan kami. Kami merasa dianggap keluarga oleh manusia-manusia yang baru mengenal kami tak lebih dari tiga hari lalu.

We want to make it special. It is your last day here, we hope you enjoy it.” ucap Salih.

Teşekkür. Terima kasih.

1865143963390123180513

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. adhyasahib says:

    Alhamdulillah, berkah dibulan ramadhan ya,,baik banget pak salih itu,,

    Like

    1. Iya mbak.. Alhamdulillah. Kayaknya orang Turki emang ramah2 dan senang menjamu tamu. 🙂

      Like

  2. fafa says:

    Islam memang mempersatukan…:-)

    Like

    1. Iya. Alhamdulillah. 🙂
      Tapi seringkali kebaikan juga tidak berbatas agama, negara, suku bangsa, dll.

      Like

  3. bhellabhello says:

    Kak ichaaa, ngebaca ini membuat aku rindu orang2 Turki yg hospitable & so sweet bangeeet :”)

    Like

    1. Iya Bhel.. negara yg satu itu ngangenin ya.

      Liked by 1 person

  4. n1ngtyas says:

    penginapannya recommended banget ya kayaknya

    Like

    1. maisya says:

      Sebenarnya penginapannya biasa aja.. nyaman dan bersih tapi ya nggak istimewa. Yang bikin istimewa itu hospitality-nya mbak. 🙂

      Like

  5. Pyan Amin says:

    nice story…

    Like

    1. maisya says:

      Terima kasih. 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s