Keheningan di Vyšehrad

Pemandangan dari tebing  Vyšehrad
Pemandangan dari tebing Vyšehrad

Charles Bridge bisa dibilang sudah menjadi ikon kota Praha, Ceko. Hampir setiap orang yang mengunjungi Praha akan menyempatkan untuk melintasi dan berfoto di jembatan bersejarah ini. Ditambah lagi pemandangan di sekitarnya juga indah: Sungai Vltava serta perbukitan dimana Prague Castle berada.  Namun bagi saya, tempat yang paling saya sukai di Praha adalah Vyšehrad, sebuah benteng yang terletak di perbukitan sepanjang sisi lain sungai Vltava.

Vyšehrad – yang berarti  kastil di ketinggian – dibangun pada abad-10, 70 tahun setelah pembangunan Prague Castle. Awalnya yang dibangun di dalam komplek ini adalah gereja dan benteng pos perdagangan.  Pada 1085, Vratislav II, seorang pangeran dari pendiri dinasti Přemyslid, membangun sebuah kastil di tempat ini. Vyšehrad menjadi kastil utama selama 40 tahun, namun kemudian penerus Vratislav II kembali ke Prague Castle. Oleh karenanya, saat ini pusat kota berada di sekitar kastil tersebut. Saat ini di Vyšehrad sendiri tidak banyak tanda-tanda adanya kastil megah. Namun ada sesuatu yang membuat saya jatuh cinta padanya.

Suasana musim gugur jelas terlihat dari dedaunan yang pasrah menjatuhkan dirinya ke tanah dan rerumputan sepanjang jalan. Saya dan Kiki (cerita sebelumnya di SINI) berjalan menjauhi stasiun metro Vyšehrad, melewati jalan setapak sampai tak lama kemudian kami berada di depan tembok-tembok dan terowongan yang merupakan sisa-sisa benteng yang masih bertahan hingga hari ini.

Kami melewati Rotunda of St Martin, sebuah bangunan tua berbentuk lingkaran yang tidak terlalu besar. Konon dulunya bangunan itu digunakan sebagai tempat penyimpanan bahan makanan. Saat itu kami berjalan beriringan dengan seorang pria berwajah Arab. Ia menyapa kami dengan ramah dan menanyakan asal negara kami. Ia bercerita bahwa anaknya juga kira-kira seusia kami dan bersekolah di Amerika. Ia merasa bangga saat ini anak muda, termasuk perempuan, bisa memiliki kesempatan yang lebih besar untuk bisa menuntut ilmu ke berbagai negara.

Mengetahui kami berasal dari Indonesia, ia kemudian juga menyampaikan kesannya terhadap Jakarta. Ia pernah berkunjung beberapa kali dan terlihat sekali ia tidak menyukai ibukota kita tercinta itu. Yah..saya juga tidak terlalu betah kok tinggal di Jakarta. Namun lama kelamaan si bapak ini agak mengganggu. Bukannya tidak suka mendapat kritik tentang negara sendiri, tapi…

“I don’t really like Indonesia. I have been to Kuala Lumpur and I think it is much better there.”

Iya sih Jakarta memang sumpek, macet,  tapi kalau dia sampai bilang tidak suka Indonesia…

“Have you been to any other places other than Jakarta?”

Ihh..ternyata dia belum kemana-mana. Pernah ke Bali tapi katanya kebanyakan bule dan dia protes juga (lah maunya apa sih ya..). Saya ingat saya pernah punya pengalaman yang tidak mengenakkan saat menuju Siem Reap, Kamboja, dari perbatasan Thailand. Tetapi saya tidak bilang saya tidak suka Kamboja. Di Siem Reap sendiri saya masih bertemu banyak orang baik dan bahkan saya menikmati Phnom Penh dan serba-serbinya, termasuk mengalami banjir juga.

Si bapak masih terus membanding-bandingkan Indonesia dengan negara tetangga. Saya dan Kiki berusaha menyudahi percakapan dengan sopan. Kami menjauh dan berfoto di depan rotunda, eh si bapak malah mengikuti kami dan menawarkan untuk mengambilkan gambar kami berdua. Memang butuh teman mengobrol sepertinya. Setelah itu ia masih saja mengajak ngobrol. Saya dan Kiki memperlambat langkah dan saat melewati pemakaman, kami berlama-lama di sana sampai akhirnya ia pamit dan mengucapkan sampai jumpa. Huff.. akhirnya. Bukan apa-apa, saya dan Kiki juga jadi tidak bebas kalau kemana-mana ada yang ngintil terus. Padahal kami juga kan mau foto-foto narsis dan berhenti sejenak kalau kami rasa ada yang menarik. Hehe..

This slideshow requires JavaScript.

Komplek benteng Vyšehrad menyimpan beberapa tempat bersejarah yang penting, di antaranya Basilica of St Peter and St Paul dan Vyšehrad Cemetery yang merupakan tempat peristirahatan tokoh-tokoh penting seperti seniman, komposer, penulis, serta tokoh-tokoh di bidang ilmu pengetahuan dan politik. Dibandingkan Charles Bridge yang hampir selalu ramai, komplek ini terbilang lebih sepi dan tenang. Di depan bagunan basilica, terdapat taman yang cukup luas disertai beberapa patung karya pemahat dari abad-19.

Berjalan terus menyusuri taman, saya pun hampir sampai di ujung tebing. Saya meniti langkah menaiki beberapa anak tangga demi melihat sungai Vltava yang mengalir membelah kota serta bangunan-bangunan yang seolah berbaris dalam ketinggian yang berbeda. Di tempat ini, saya hanya ingin duduk, memejamkan mata sejenak untuk kemudian kembali ke kenyataan dan menikmati setiap detail keindahan yang ada.

1865143963390123180513

Advertisements

3 Comments Add yours

  1. Orang kayak gitu tuh yg gue paling gak suka. Gak tau apa2 tapi udah berani komentar. Bawa pulang aja dia. Ajak ke kawasan timur atau pesisir barat Sumatera terus tinggal deh 😀

    Like

    1. Hehe.. Iya kitanya yang mesti pinter2 kalo ngobrol sama orang kayak gitu. 🙂

      Like

  2. sumpena says:

    Tempat yang indah…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s