Kabar dari Bawean

foto dokumentasi pribadi, diambil pada Juni 2011
foto dokumentasi pribadi, diambil pada Juni 2011

Mungkinkah terjadi perubahan jika tidak ada yang mau turun tangan langsung? -Anies Baswedan

Saat mendapatkan sinyal internet, Ano, Pengajar Muda (PM) angkatan VI (Indonesia Mengajar) biasanya menyempatkan mengirim kabar dari Pinang Gunung, Bawean. Dusun Pinang Gunung adalah lokasi SDN 4 Telukjatidawang,Β sekolah tempat saya mengajar pada 2011-2012 lalu. Ano adalah PM ketiga yang bertugas di sana. Sebelumnya ada Ade Novia (2012-2013) yang kini juga telah purna tugas.

Foto-foto yang Ano kirimkan melalui whatsapp setidaknya sedikit mengobati kerinduan saya. Berbagai kabar baik dan kemajuan juga tentu membuat saya turut bahagia dan bangga.

Sinyal Internet

Internet? Ya ampun… Jangankan mimpi di Pinang Gunung ada internet, saat saya di sana, sinyal untuk SMS dan telepon saja sulitnya minta ampun. Di rumah orang tua angkat saya, misalnya, hanya ada titik-titik tertentu di mana saya bisa memeroleh sinyal. Salah satunya adalah di dinding kayu dapur. Biasanya HP saya ditaruh di sana beberapa saat (dengan catatan tidak boleh digeser sana-sini karena sinyal tidak stabil) barulah sedikit sinyal muncul. Kalau mau menelepon atau menerima telepon harus dengan mode loudspeaker atau menggunakan headset agar HP tetap dalam posisi yang sama. Kalaupun akhirnya kita tersambung dengan nomor yang kita tuju, kita perlu banyak bersabar karena suara yang tidak jelas, putus-putus, dan lainnya (hihi… Chendra — sekarang suami — sudah teruji usaha dan kesabarannya selama setahun saya di Bawean).

Sebenarnya di kecamatan Tambak saat itu sudah ada menara BTS, namun karena daerah Bawean yang berbukit-bukit jadilah sinyal telepon seluler tidak merata. Jika kita ada di posisi yang cukup tinggi dan tidak terhalang gunung dan bukit, barulah sinyal bisa cukup lancar.

IMG-20140129-WA0000
Pak Nur pejuang tangguh (foto: Ano)

Rupanya persoalan ini diakali oleh kepala sekolah saya, Pak Nursyahid, dengan cara memasang modem internet di atas pohon yang ada di depan sekolah saya. Wahhh… usaha yang patut diacungi jempol. Pasalnya pohon itu terbilang cukup tinggi. Namun hal itu beliau lakukan untuk memudahkan masuknya informasi ke Pinang Gunung. Kini guru-guru juga bisa mengakses internet dari sekolah. Semoga bisa dimanfaatkan dengan baik.

Pembangunan Taman Kanak-Kanak (TK)

Cukup banyak anak usia 4-5 tahun yang sudah suka bermain dan belajar namun belum cukup usia untuk masuk sekolah dasar. Oleh karenanya beberapa dari mereka rajin datang ke sekolah dan bergabung belajar dengan kelas satu karena tidak ada TK. Kalau kata orang tuanya, sekadar ikut-ikutan saja daripada main di luar. Kan lumayan di sekolah bisa ikut-ikut menyanyi, menggambar ataupun belajar baca-tulis.

Masalahnya, bagaimanapun materi yang semestinya mereka peroleh belum sama dengan anak SD. Dan karena mereka belum secara resmi ikut sekolah, tak jarang mereka keluar-masuk kelas, bolak-balik jajan, dan lainnya. Tentu ini cukup mengganggu siswa kelas 1 yang sedang belajar. Akhirnya, saat ada ruang kecil untuk perpustakaan (ruang yang dimaksud adalah seperempat ruang kelas normal), saya memisahkan anak-anak usia prasekolah di sana. Saya dan guru-guru lain bolak-balik mengajar di kelas SD dan anak-anak prasekolah, bergantian jika sedang ada jam kosong. Mereka juga biasanya main ke rumah pada sore hari untuk menggambar, mewarnai, atau minta dibacakan cerita.

Pak Nur sudah sejak lama bermimpi bisa mendirikan PAUD atau TK di Pinang Gunung. Ia kemudian menggerakkan warga untuk bersama-sama membangun ruang kelas sebagai tempat belajar anak-anak prasekolah. Beginilah saat semua orang punya kemauan untuk turun tangan.

IMG-20140209-WA0000
warga membangun ruang kelas dari kayu (foto: Ano)

Hal ini mengingatkan saya akan hal serupa yang terjadi hampir tiga tahun lalu. Dahulu bahkan sekolah ini hanya punya satu lokal kelas sedangkan yang lainnya adalah bangunan dari kayu. Karena kayu sudah rapuh, bangunan itu diratakan dengan tanah kemudian dibangun kembali. Semua pihak, baik itu warga, kepala sekolah, guru, dan siswa ikut terlibat dalam pembangunannya. Cerita selengkapnya dapat dibaca di SINI.

02

1

3

Saya (dan kita semua harus) selalu yakin bahwa kata ‘optimis’ belum punah dari negeri kita. Bahwa di banyak sudut di republik ini banyak orang yang sedang bekerja bersama. Mereka tidak menunggu dibantu, mereka mulai membangun dengan apa yang mereka punya.

Setelah beberapa tahun, secara bertahap sekolah saya mendapatkan bantuan dari pemerintah untuk membangun lokal kelas baru. Kini ‘sudah’ ada tiga. πŸ™‚

IMG-20140129-WA0019
Foto: Putri (yang sedang site visit ke Bawean). Ia adalah rekan PM yang dulu sama-sama bertugas di Bawean. Kini ia menjadi Training Manager di Indonesia Mengajar.

1865143963390123180513

Advertisements

10 Comments Add yours

  1. buzzerbeezz says:

    Nice Cha. Terharu deh aku..

    Like

    1. Thanks Ari. πŸ™‚

      Like

  2. yusmei says:

    Jadi teringat pas KKN di Gunung Kidul beberapa tahun lalu cha. Saat itu kami mahasiswa KKN cuma bermodal sedikit bahan bangunan dan menyemangati mereka, akhirnya jadi juga bangunan musola yang besar. Penduduk mau bergotong royong dan urunan bahan bangunan.
    Nice post cha πŸ™‚

    Like

    1. Seru ya mengenang saat2 KKN. Dan bener bgt, yang terpenting menggerakkan alih2 kita yg melakukan semuanya. πŸ™‚

      Like

  3. Keren banget perkembangannya ya kak maisya! ^^

    sepakat dgn kutipan pak anies baswedan.
    untuk mendapat perubahan, kita harus turun tangan πŸ™‚

    Like

  4. Iya alhamdulillah, Ina.. Semoga terus ada kemajuan. πŸ™‚

    Like

  5. Lorraine says:

    Angkat topi aku untuk para sukarelawan di bawean! Bagus ya akhirnya dibangun 3 lokal. Pendidikan itu memang penting, membuka pintu-pintu yang selama ini masih tertutup untuk mereka yang tinggal didaerah seperti Bawean ini. Semoga programnya semakin sukses Icha.

    btw: Aku suka foto yang pertama; ijo royo-royo.

    Like

    1. Iya mbak.. Sekolah ini didirikan pada tahun 1987 tanpa ada satu gedung yang layak. Terus bertahan dan baru ada satu ruang kelas permanen pada 2008. Cukup lama yaa.. Jadi adanya tiga ruang kelas itu baru bertahap pada periode 2008-2013. Aku selalu salut sama kepala sekolah dan guru2 yg ngajar di sana. Guru2 terkadang juga datang dan pergi, namun kepala sekolah bertahan dari tahun 1994.
      Beliau pernah diliput The Jakarta Post.
      http://www.thejakartapost.com/news/2005/08/29/teaching-bawean-island-requires-rare-dedication.html

      Like

    2. Btw terima kasih doanya, Mbak Yoyen. Hehe..
      Iyaa.. emang ajaib deh Bawean..padi hijau berdampingan dengan pasir pantai. Aku baru lihat di samping pantai langsung sawah gitu mbak.
      Ini ada foto2 lanskap Bawean kalau mau lihat. πŸ™‚
      https://www.facebook.com/maisya.farhati/media_set?set=a.10150217918177396.316280.576712395&type=3

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s