Tetralogi Buru: Jejak Langkah

jejak-langkah

“Sudah lama aku dengar dan aku baca ada suatu negeri di mana semua orang sama di depan Hukum. Tidak seperti di Hindia ini. Kata dongeng itu juga: negeri itu memashurkan, menjunjung dan memuliakan kebebasan, persamaan, dan pesaudaraan. Aku ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan.”

(Pramoedya Ananta Toer)

Akhirnya setelah melewati waktu yang cukup melelahkan, saya selesai juga membaca buku ketiga dari Tetralogi Buru: Jejak Langkah. Mengapa saya bilang lelah, karena selain bukunya yang lebih tebal (700-an halaman), semakin banyak tokoh yang muncul dalam buku ini, juga konflik dan kejadian-kejadian yang berkaitan dengan sejarah, yang untuk memahaminya harus runtut dan sistematis.

Minke akhirnya tiba di Betawi, meninggalkan segala kenangan di Surabaya (juga Wonokromo dan kampong halamannya) dan sosok-sosok yang sangat berarti dalam hidupnya. Ia ingin memulai hidup baru dan menuntut ilmu di sekolah dokter. Namun dalam perjalanannya, semua bukannya tanpa rintangan. Ia juga bergelut dengan batinnya, akankah ia menjadi dokter yang ujung-ujungnya mengabdi pada Gubermen dan kepentingan Nederland, atau menjadi manusia bebas. Bebas untuk tidak menjadi budak kolonial dan bebas untuk memajukan bangsanya.

Buku ketiga ini menceritakan Minke dalam fase selanjutnya: pengorganisasian dan perlawanan. Pertemuan Minke dengan banyak orang yang dahulu pernah menggugah hati dan pikirannya (Nyai Ontosoroh, Jean Marais, Kommer, Ter Haar, dll) ternyata sangat membekas. Di Betawi, Minke bertemu dengan lebih banyak manusia dengan watak yang berbeda, dari yang sarat akan pengaruh kolonial sampai seorang Dokter Jawa yang usianya sudah lanjut namun masih berkoar-koar dengan semangatnya untuk mengajak kaum muda terpelajar pada satu hal penting untuk melawan penjajah: Organisasi.

Meski sarat akan deskripsi dan dialog mengenai sejarah dan seluk beluk pergerakan, Pram tetap bisa menyeimbangkannya dengan kisah kehidupan pribadi Minke. Kehidupan cintanya, juga keluarganya. Pertemuan Minke dengan sang Bunda misalnya, selalu saja menghadirkan suasana tersendiri. Betapa mereka berdua saling menyayangi namun begitu jauh dipisahkan oleh zaman dan pemahaman masing-masing.

Sampai novel ketiga yang saya baca, saya menyimpulkan bahwa Pram tak mengikuti aturan alur cerita tentang klimaks dan penyelesaian. Mungkin juga karena ini adalah novel tetralogi, maka permasalahan, klimaks, dan penyelesaian bisa muncul kapan saja. Namun satu yang penting, Pram selalu bisa mengakhiri bukunya dengan adegan dan dialog sederhana, tidak cengeng dan tidak dibuat-buat, namun sangat menyentuh dan manusiawi. Again…two thumbs up!

1865143963390123180513

Advertisements

5 Comments Add yours

  1. winnymarch says:

    keren gk sih bukunya itu?

    Like

    1. bagus win.. highly recommended. menurutku sih wajib baca buat anak2 muda.

      Like

      1. winnymarch says:

        iya nih harus buru nin dlu dah

        Like

  2. JNYnita says:

    Jd inget setelah lulus mau baca buku2nya Pram.. 🙂

    Like

    1. sekarang udah lulus belum? hehe..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s