Marriage Isn’t For You

“To all who are reading this article—married, almost married, single, or even the sworn bachelor or bachelorette—I want you to know that marriage isn’t for you. No true relationship of love is for you. Love is about the person you love.”

A worth-reading article. And I like this line: ” I strongly recommend that best friends fall in love.” 😉

Seth Adam Smith

Having been married only a year and a half, I’ve recently come to the conclusion that marriage isn’t for me.

Now before you start making assumptions, keep reading.

I met my wife in high school when we were 15 years old. We were friends for ten years until…until we decided no longer wanted to be just friends. 🙂 I strongly recommend that best friends fall in love. Good times will be had by all.

Nevertheless, falling in love with my best friend did not prevent me from having certain fears and anxieties about getting married. The nearer Kim and I approached the decision to marry, the more I was filled with a paralyzing fear. Was I ready? Was I making the right choice? Was Kim the right person to marry? Would she make me happy?

Then, one fateful night, I shared these thoughts and concerns with my dad.

Perhaps each…

View original post 594 more words

Advertisements

6 Comments Add yours

  1. onits says:

    hmmm itu artikel yg nulis cowo. emang cowo musti baca quote itu.

    tapi cewe? no, jangan berpikir kayak gitu. cewe justru harus berpikir bahwa marriage is for myself. banyak cewe “kehilangan dirinya” dalam pernikahan, karena… cewe justru dari awal otomatis terjun bebas, penuh pengabdian, untuk the person she loves.

    tapi banyak cowo gak peduli. persis seperti jalan pemikiran si penulis blog ini. udah bagus dia mau menyadari betapa lovingnya istrinya.

    just sharing.. from so many stories. #tempatcurhat

    Like

    1. hehe..thank you, mbak onit. iya yaa..berdasarkan curhatan juga emang dengan sendirinya cewek akan lebih banyak compromise (misalnya soal karir dan ngurus anak2). tapi itu emang pilihan dan semoga kalau dua2nya sama2 berpikir ingin membahagiakan satu sama lain, nggak ada salah satu yg lebih diutamakan. 🙂

      pas baca ini, aku juga nggak sepenuhnya mikir bahwa menikah itu untuk orang lain dan sama sekali nggak mikirin kebahagiaan sendiri. ya kalau gt mah jomblo aja udah cukup. hihi..

      Like

  2. Lorraine says:

    Aku baru liat ini Cha. Setuju dengan Onits, untuk lelaki ini perlu dibaca tapi sebaliknya untuk perempuan yang setelah nikah kehilangan dirinya sih ngga 🙂

    Untuk aku pribadi yang udah 18 tahun menikah: perkawinan itu untuk aku & suami. Aku nikah karena memang mau hidup bersama dia, menua bersama sambil berbagi suka duka. Augustus lalu aku berbagi tentang pernikahan http://chezlorraine.wordpress.com/2013/08/27/on-being-married/

    Mengenai falling in love with your best friend, ngga pernah tuh Cha 🙂 Setelah jadi pasangan, suamiku baru jadi temen baik.

    Like

    1. Huaaaa..thanks for sharing, mbak yoyen.. Karena belum menikah jadinya belum bisa banyak komen. But indeed I’ll keep it in mind. 🙂

      Like

    2. Mbak, aku jadi inget pernah baca buku yang judulnya The Heart Inside the Heart. https://maisyafarhati.wordpress.com/2012/09/23/the-heart-inside-the-heart/ what do you think?

      Like

      1. Lorraine says:

        Hmm, barusan baca link kamu diatas.

        Ngga setuju dengan being happily married is a challenge. You ought to be happy with yourself first menurutku, married or not. Dan lagi happiness is a choice. Sebaiknya hindari tergantung secara emosional kepasangan, kalo ada apa-apa dengan pasangan, jadi sendiri lagi susah survivenya.

        Ngga setuju juga dengan: kalo ada problem dengan perkawinan curhatnya sama orang yang udah nikah. Justru sesama orang menikah malah kebanyakan justifying problem dalam pernikahan, reaksi mereka diantara iya dan ngga. Kalo curhatnya sama yang single & cerai kan lebih banyak variasi sudut pandang.

        Aku setuju dengan kamu yang lebih baik ngga mau dibayarin terus selama pacaran. Kenapa juga musti begini kalo siperempuan bisa bayar sendiri? Dan memang Cha, kans untuk diungkit-ungkit misalnya putus hubungan itu ada.

        Yang ini setuju: pantang aku bilang kata cerai. Kalo terlalu sering jadi kebiasaan dan berkurang artinya. Misalnya suatu saat bilang cerai & sipasangan mengiyakan, kaget lah kita 😉

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s